
Gladys masih tertidur pulas di kamar Ryuga. Yosep hanya berdiri di samping tempat tidurnya memandang Gladys.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarnya, "Aden! Makanannya sudah siap!" Saprol berteriak memanggil Ryuga.
Lalu Ryuga tersadar dari lamunannya. Entah mengapa setiap kali melihat Gladys, Ryuga sangat kasihan dan seperti ada energi Zerocity, Evolter, dan Veda di saat bersamaan tapi itu lebih gelap serta pekat.
Energi itu seperti dicipta bukan diserap dari sekeliling alam atau terkumpul dari wadah energi Veda.
Energi itu tercipta dari penderitaan Gladys selama 3 tahun disiksa oleh Zaka, Zaki, Yunita dan Amrun.
Makanya Ryuga terus menatap Gladys tanpa berkedip, hanya ingin mengobati rasa penasarannya saja akan Gladys yang memiliki 3 jenis energi yang sama sekali tidak berbenturan di dalam tubuhnya.
Ryuga ke taman atas, karena dapurnya memang berada di atas, lantai rooftop sekaligus dapur, taman, dan tempat menerima tamu.
Agito tidak merubah sama sekali rumah ini. Agito tidak ingin menghapus kenangan tentang Yosep dalam rumah ini. Rumah ini juga dibuat dengan bahan yang tidak diketemukan dibumi. Meski sudah 63 tahun, rumah ini tetap seperti sedia kala seperti pertama kali dibangun.
Saprol juga sangat senang mengurus rumah ini, jadi dia tidak perlu bekerja keras, paling hanya mengepel lantai dan menyapu serta membersihkan debu.
"Mang, ayo makan!" ajak Ryuga.
Saprol langsung duduk, tanpa malu-malu.W93Warisan Yosep adalah ini, selalu memanusiakan manusia pada setiap karyawan dan bawahannya. Tidak ada tuan dan bawahan, yang ada mitra saja.
Saprol sudah paham, Ryuga juga sangat senangk, "Aden tumben pulang. Sudah lama gak pulang. Aku turut berduka cita atas tuan Agito dan Nyonya Vera yang hilang, den."
Ryuha hanya tersenyum tipis sambil makan, dia tak mau menjawab. Kabar hilangnya Agito dan Vera ternyata sampai ke kampungnya.
"Mang, aku bawa teman wanitaku. Itu bukan calon istriku, dia hanya teman yang baru bertemu dia masih syok dan mungkin luka dalam karena di lempar preman. Untung saja aku lewat dan berhasil menyelamatkannya, tidak sampai mengenai tiang listrik," jelas Ryuga.
"Ya, den. Tapi kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?" Saprol memberi pendapat.
"Sudah, tapi dia juga memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis. 50% mungkin hanya bisa disembuhkan olehku," jawab Ryuga tersenyum tipis. "Oh, ya. Nanti mamang jangan dekat-dekat ke kamarku, takut penyakitnya menular. Jangan biarkan siapapun mendekat ke rumah juga untuk saat ini. Jika mamang takut sementara ini, mamang pulang ke rumah mamang saja dahulu."
"Ba-baik, den." Saprol ketakutan lalu memberesi piring dan membersihkannya secepat mungkin. Begitu selesai Saprol langsung pamit dan pulang.
"Aku harus mencobanya, Eternal Field!"
Ryuga membuat kubah pelindung untuk menutupi semua bagian rumahnya. Takut energi yang tak dikenal itu keluar dari dalam tubuh Gladys dan mengancam warga.
__ADS_1
Ryuga kekenyangan, akhirnya mengantuk dan tertidur lelap di taman.
***
Keesokan paginya.
[Selamat juragan mendapatkan Rp.1.440.000 karena berkedip sebanyak 28.800 kali dalam 24 jam. Evolt sudah mentransfer uang tersebut ke dalam saldo sistem]
"Kyaaak!" Gladys tiba-tiba berteriak karena dia berada di kamar cukup mewah dan bukan berada di gudang rumahnya yang dijadikan tempat tidur Gladys.
Ryuga langsung kaget bangun, lalu berlari menuruni tangga, walau ad lift di rumah kakeknya tersebut.
Ryuga membuka pintu kamarnya dengan rasa khawatir, "Ada apa?"
Gladys menutupi tubuhnya dengan selimut dan beringsut, dia pikir Ryuga telah menodainya. Padahal pakaiannya masih utuh.
Gladys tertunduk dan menangis, "Kamu juga jahat dan sudah menodaiku."
"Kamu-"
"Hai, diam!" Ryuga langsung membekap mulut Gladys dan tatapan mata mereka saling berpandangan. Muka Ryuga dan muka Gladys cukup dekat hanya berjarak 10 cm.
Detak jantung mereka berdetak kencang dan pipi mereka berdua merah, karena tersipu malu. "Kamu itu sama saja seperti teman-temanku. Selalu menghakimi dulu baru sadar."
Ryuga melepaskan bekapannya dari mulut Gladys dan melanjutkan, "Kamu memang cantik dan imut. Aku memang pernah melakukan perbuatan hina, tapi dulu dan aku takan pernah mengulanginya lagi. Aku yang menyelamatkanmu sewaktu kamu dilempar oleh preman-preman itu. Jika kamu ingin bekerja, maka aku akan mengantarmu. Saat ini kamu jauh dari keluargamu, di Indramayu."
"Indramayu?!" Gladys tersentak kaget, matanya melebar. Bagaimana tidak, dia bisa sejauh ini sedangkan semalam ia masih berada di Tangerang Selatan. "A-apa kamu Divya?"
"Ya," jawab Ryuga singkat.
"Bisakah kau ...." Gladys tertunduk malu lalu terdiam membuat Ryuga penasaran.
"Apa? Menjadikanmu Divya?"
"Ya, biar aku tidak ditindas lagi oleh keluargaku. Terutama kedua kakakku, kamu melihatnya bukan semalam?" Gladys menangis sejadinya, dan tak sadar memeluk Ryuga.
Kondisi Gladys hampir sama dengan Filza, tapi ia menemukan fakta dan bisa mendekatkannya pada Zaka juga Zaki untuk menangkapnya.
__ADS_1
"Aku bisa menjadikanmu Divya. Dunia bawah mungkin sudah tahu tentang diriku yang bisa membuat orang non Divya menjadi Divya. Tapi saat ini portal sudah tidak ada lagi yang terbuka, apalagi level gold. Aku tidak bisa membantu." Ryuga menunduk pasrah.
Mendengar kata portal mata Gladys memutih hanya sklera matanya saja yang terlihat. "Aku bisa membuat portal level apapun. Tapi ..."
Tangan kanan Gladys langsung menarik mata kanan Ryuga, keluar siluet mata berbentuk roda api, "Aku membutuhkan ini!" suara Gladys seperti dua suara menjadi satu dan begitu serak.
Ryuga memegangi mata kanannya dan tidak terjadi apa-apa serta masih utuh, tapi kemampuan mata roda apinya telah hilang.
Siluet mata itu dimasukan ke dalam kening Gladys, lalu kondisinya seperti biasa, seperti Gladys dikendalikan oleh orang lain atau jiwa lain.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ryuga khawatir pada Gladys.
Ia hanya menggeleng pelan, seperti tak mampu bicara. "Jika kamu lelah, istirahat saja. Aku akan membantumu, aku janji. Nanti aku akan ke Restoran milikmu dan meminta izin jika kamu sakit. Regeneration Cyborg!"
Ryuga memegang tangan Gladys dan mengalirkan energi penyembuh untuk memulihkan stamina dan kesehatannya.
Tiba-tiba Gladys histeris dan ketakutan, "Dia datang lagi! Dia datang lagi! Dia sudah mengambil haknya!"
"Siapa yang datang? Hak apa?" Ryuga tambah bingung.
Kemudian melanjutkan, "Sudah, aku akan melindungimu. Jika kamu sudah sehat, mandilah. Kita akan ke restoran. Mungkin kedua orang tuamu mencarimu."
"Tidak, aku tidak mau bekerja. Aku tidak mau pulang. Aku mau bersamamu saja." Gladys masih histeris dan memeluk Ryuga sangat erat.
"Ya, aku tidak akan membawamu pulang. Kamu aman disini." Ryuga mengelus lembut rambut Gladys.
Nama: Rany Citra Pratama
Umur: 20 tahun
Level Divya: 8 Demigod
Kuasa: Swordmanship
Kemampuan bersenjata: Pedang (Red Claw/Nodachi)
__ADS_1