System Pemandu Kehidupan

System Pemandu Kehidupan
BAB 37


__ADS_3

tepat pukul 18.00 lusy masih sibuk memilih baju dia membongkar semua lemari pakaiannya. di kamarnya begitu berantakan bajunya berserakan di mana mana, lusy tidak tau harus mengenakan pakaian seperti apa untuk bertemu dengan davis, hinga akhirnya dia menyerah dan terlentang di tempat tidurnya kemudian teringat.


"apa yang aku lakukan aku hanya ingin berjalan jalan dengan davis bukan ingin berkencan dengan kekasih, mengapa aku sesibuk ini, oh takdir sepertinya permainan mu mulai di mainkan kepadaku. "


tepat pukul 7 malam lusy sudah ada di depan kafe dan davis sudah berdiri di depan kafe sejak 1 jam yang lalu.


" apa aku terlambat davis. " lusy


" titidak lusy itu aku yang terlalu cepat saja. "


ucap davis yang terperangah melihat kecantikan lusy yang mengenakan baju berwarna merah selutut menunjukkan betis yang putih mulus jenjang dan itu membuat sisi monster akan bangkit, tapi berbeda dengan davis seperti bersikap biasa saja.


" ayo apa kau sudah memikirkan tempat yang bagus" ucap ria


"tentu saja aku sudah menentukan semoga kau menyukainya dan pasti menyukainya"


mereka berjalan jalan mengunjungi wahana permainan (pasar malam), menaiki perahu malam di danau tepat pukul 11 malam mobil mereka menuju ke jalan sepi di pinggiran jalannya pohon yang begitu rapat tapi lusy masih tenang karena hatinya mengatakan ini baik baik saja dan lusy membaca pikiran davis tak menemukan sesuatu yang jahat.


dan mereka berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang di samping kanan dan kiri adalah jurang dan tepat di tepinya ada tempat duduk dan satu lampu menyinari nya


" ayo duduk di sana lusy dan kau akan tau apa saja yang bisa kau lihat." ucap davis membujuk


" tentu ayo duduk. " singkat lusy


lalu mereka duduk berdua di kursi yang tersedia dari sana bisa melihat seluruh kota dan melihat gemerlap lampu yang indah seperti melihat ribuan bintang.


"lusy apa kau tak dingin dengan pakaianmu itu" ucap davis sambil mengambil lilitan jaketnya di pinggangnya.


" ya sedikit tapi tak masalah untukku. " melihat jaket yang di kenakan oleh davis. lusy sempat berfikir akan di berikan kepadanya.


" emmm maaf aku pikir kau akan berpakaian seperti biasa jadi aku membawamu ke mari dan aku hanya membawa satu jaket. " ucap davis


" tak apa. . . kenakan saja agar dirimu tak kedinginan." dengan rasa kecewa karena davis tak peka sebagai seorang lelaki


waktu terus berlalu hingga tak tau mengapa kantuk menyerang lusy. " davis bisakah aku berbaring sebentar"


"tentu ke marilah biarlah pahaku menjadi bantal mu"


lusy berbaring pikirannya berkecamuk.


"sebenarnya davis ini kenapa ya tadi dia tidak peka sekarang dia begitu peka dengan memberikan pahanya sebagai bantal" hingga akhirnya lusy tertidur.

__ADS_1


detik berganti menit dan davis yang melihat lusy segera melepas jaketnya dan menyelimuti lusy.


"tidurlah sepertinya dirimu begitu banyak memikirkan seseorang. "


menit berganti jam dan lusy mulai menyadari bahwa hawa semakin dingin jadi dia menyadarkan dirinya dari tidurnya.


" emmm davis apa aku terlalu lama tertidur" lusy dengan suara serak yang menggoda kejantanan lelaki.


" tidak lusy kau baru sebentar tertidur, tidurlah kembali aku akan menemani mu. "


" tidak davis aku sudah tak mengantuk"


sembari melepas jaket yang di berikan davis


".mengapa kau melepas jaket mu ini sangat dingin".


menyandang kan jaket pada tubuh davis.


wajah mereka begitu dekat dan davis sedikit terguncang hatinya karena baru pertama kali dekat dengan seorang wanita dan ini begitu dekat jika sedikit lagi davis memajukan wajahnya maka pasti akan terjadi sesuatu.


"emmmm lulu....lusy kakaka.... kau tak perlu kembalikan kau bisa kenakan kembali jaketnya"


lusy menoleh dan kini mata mereka bertemu bibir mereka begitu dekat nafas hangat davis yang segar begitu menyeruak di wajah lusy membuatnya memejamkan mata dan membuka sedikit bibirnya.


" davis lebih baik pulang saja sepertinya malam sebentar lagi akan berganti pagi dan ini sudah terlalu dingin ayo kembali"


lusy pergi dahulu tampa menunggu davis yang masih belum juga tersadar


setelah beberapa jam perjalanan lusy mengantar davis kembali ke kafe sesuai permintaan davis, dan lusy memutuskan pulang karena kini suasananya sedang panas walau cuaca dingin.


dikamar davis masih tak tidur dia masih mencari posisi tidur yang nyaman karena setiap kali memejamkan matanya maka bayangan bibir lusy yang menawan akan muncul dan itu menyebabkan juniornya bangkit dari ketenangannya dan meronta-ronta " apa yang sebenarnya yang terjadi padamu junior mengapa kau bangkit apa kau menemukan pasanganmu. "


di kamar lusy berbeda, lusy mengumpat begitu kesal mengatai semua yang keluar dari kepalanya dia tak habis pikir mengapa ada seorang lelaki seperti davis yang begitu polosnya melihat wanita menyerahkan diri kepadanya bukan di respon tapi malah di abaikan dasar lelaki tidak peka... aaaaaaa....... teriak dari lusy


"selamat pagi nona malam tadi aku mendapatkan sebuah panggilan jika ada seorang petarung dari negara tetangga yang mendengar tentangmu dan ingin menantang mu malam ini di "Colosseum" apakah dirimu mau menerimanya nona" ucap lisan menyambut pagi nona nya.


" aku tak mau bertarung dengan orang yang lemah yang terlalu mudah mati"


ucap lusy cuek karena suasana hatinya masih buruk.


" ini berbeda nona tersebar berita bahwa dia bisa menggunakan kekuatan lain hingga musuhnya tak dapat menyentuh dirinya. bahkan pernah sekali dia melakukan sentilan kepada lawannya dan itu membuat lawannya langsung terkapar mati. " jelas lishan

__ADS_1


tapi orang yang di beritahukan malah biasa saja dan asik makan dengan rakus.


" duduk dan makanlah nanti dia juga akan mati pastikan taruhannya menarik mengerti"


"itu baik lah nona pasrahkan saja itu padaku" mulai duduk dan makan.


di dalam arena pertarungan lusy memandang musuhnya. mungkin lebih tepatnya sedang scan musuhnya, lusy memang melihat musuhnya memiliki kekuatan dalam yang murni jika lusy hanya melawan dengan fisik maka dia akan terluka walau musuh terkalahkan dan itu akan lama. lalu tercetus sebuah ide di otaknya. " hehehe ijinkan aku mencobanya sekali nona mungkin dia bisa berguna nanti daripada aku bunuh. "


" gadis muda apa benar dirimu yang di sebut dewi kematian oleh para setiap petarung. "


" entahlah pak tua aku juga tak mengerti mengapa mereka menyebutku dewi kematian tapi ya aku orang nya"


" kali ini gelar itu akan akau lepaskan darimu dan kau akan menjadi budak ku selamanya. "


" hah kau terlalu percaya diri pak tua mengapa kau tak langsung saja bertarung dan jika kalah bersujud dan memohon lah untuk jadi bawahan ku demi nyawamu itu.


" kau begitu kasar gadis muda jangan salahkan akau jika membuatmu cacat malam ini" mulai melakukan gerakan penyerangan kepada lusy


pertarungan pun terjadi saling adu jurus kekuatan fisik di lakukan hingga pak tua yang merasa jika terus begini akan kalah mulai mengalirkan kekuatan dalamnya ke seluruh tubuh. kembali melakukan serangan. begitupun lusy yang tak mau kalah mulai mengalirkan juga energi dalamnya melakukan pertahanan dan serangan.


disisi lain para penonton bingung ada apa dengan pak tua itu mengapa hanya diam saja dan lusy hanya duduk di lantai bersila sambil tersenyum..


hingga detik berikutnya pak tua itu menyemburkan darahnya dari mulutnya, wajahnya mulai pucat dan keringat mengalir deras.


sebenarnya lusy sejak awal sudah menjatuhkan ilusi kepada musuhnya sehingga musuh tak menyadari. lusy menyerang jiwa musuhnya membawanya ke medan ilusi untuk bertarung sehingga raganya mematung di arena dah jiwanya di dalam dunia ilusi yang di buat lusy.


sama seperti yang di lakukan ria kepada jhon dulu di awal..


" bagai mana pak tua kau sudah kalah sebelum bertarung kau masih ingin melanjutkannya"


"ini aku tadi bertarung denganmu bagai mana kau bisa mengatakan aku tak bertarung. "


" hey pak tua kau pulang saja sudah sedari tadi kami hanya melihatmu mematung di arena tampa bergerak dan kau tiba tiba muntah darah jika kau tak ingin bertarung pergilah kau menggangu dewi kematian saja" ucap salah satu penonton yang dulu juga pernah bertarung dengan lusy


"iiit itu tidak mungkin" masih tak percaya


"jadi menyerah saja pak tua aku aku yakin kau tak akan sanggup lagi bertarung jadi memohon lah padaku menjadi bawahan ku jadi malaikat maut tak perlu datang padamu sekarang" lusy


memang benar apa yang di katakan lusi dia tidak akan menang karena lusy masih mengunci jiwanya lusy tinggal menariknya kembali dan selesai sudah hidup pak tua ini


" aku mengaku kalah dan memohon jadikan aku bawahan mu nona. aku bersumpah akan setia sampai mati"

__ADS_1


dheeeeeerrrrrrrrr. suara petir


sumpah seorang pendekar adalah mutlak bahkan alam pun menjadi saksinya


__ADS_2