
TIGA HARI SEBELUM PENYERANGAN
"tuan dewa kuharap keluargamu semua di pindahkan kekediaman nona di sana lebih aman. "
"memangnya sekuat apa mereka, hingga harus seperti ini tolong jelaskan lusy"
"tuan aku hanya di perintah menjaga keluarga aditama tidak untuk menjelaskan, nona melarang ku. dia hanya meminta itu"
"hahhh kau selalu saja lusy lakukanlah apa pun itu asal baik aku akan pergi mengurus sesuatu"
" tuan apa kau sudah melakukan yang di katakan nona dalam surat itu, apa kau ingat apa yang dikatakannya. aku bisa saja bertaruh nyawa melindungi mu karena nona memintanya tapi setelah kematian ku seandainya musuh tidak mati dan kau masih berhadapan dengannya dan terjadi sesuatu padamu, tapi tuan bisa selamat tolong katakan pada nona bahwa aku sudah melakukan semuanya sesuai perintahnya kumohon tuan.
"lusy apa yang kau katakan ria tak mengizinkanmu mati jadi kau tak boleh mati mengerti".
."ya aku sudah berlatih begitu keras selama ini dan aku juga mengerti bahwa musuhku bukan manusia biasa".
jelas dewa yang merasakan sakit di hatinya ketika lusy mengatakan itu. dia juga tidak tau apa yang harus di katakan kepada Ria jika lusy mati karenanya.
"tuan kuharap kau berjanji padaku, agar aku tidak terganggu sat penyerangan tiba. permohonan lusy yang begitu tulus kepada dewa di penuhi emosi kesedihan yang mendalam karena nona nya juga belum kembali ini sudah setahun yang nona nya katakan kepada lusy
" lusy aku aku aku tak tau harus apa yang ku katakan pada ria jika kau mati tapi aku berjanji aku akan melakukan semua hal yang aku bisa agar kita bisa melalui semua ini. jadi tak perlu seperti itu" jasa dewa yang begitu gusar
__ADS_1
" baiklah tuan aku percaya padamu" ucap lusy
yang begitu berat karena bayangan Ria yang muncul di benaknya yang selalu mengatakan
"aku belum mengizinkanmu mati''
kata kata itu terus terngiang di telinganya tapi di sisi lain hawa dingin kematian begitu terasa pada dirinya, itu yang membuat lusy mengatakan permohonan kepada dewa.
SATU MINGGU SEBELUM PENYERANGAN
di kafe Ria sedang duduk berhadapan dengan davis, " davis sepertinya aku tidak akan kesini lagi karena aku akan melakukan sesuatu yang sangat sulit" ucap lusy dengan tatapan nanar dan kosong
"maksudmu apa lusy apa kau akan pergi meninggalkan aku, hal sulit apa yang kau lakukan hingga kau takkan bertemu kembali denganku, atau itu hanya alasanmu karena kau tak suka dekat denganku selama ini. "
sambil memalingkan wajah dan mengusap air matanya yang mulai menetes.
"iya tapi tolong jelaskan lah lusy jangan menggantung seperti ini aku tak bisa seperti ini. "
davis dengan wajah merah mencoba meminta penjelasan
" sudah itu saja dulu davis yang perlu kau tau aku pergi dulu"
__ADS_1
lalu bangkit dari duduknya dan pergi tapi ketika sudah sedikit melewati davis pergelangan tangan tercekat karena davis mencengkeramnya begitu keras lalu menarik lusy hingga ter mundur lalu davis memutar lusy hinga kini lusy terduduk di meja, dan kini kedua tangan davis mengunci pergerakan lusy dengan memegang kedua sisi meja.
lalu hal yang tak pernah terpikirkan adalah, ketika davis merapatkan bibirnya dengan bibir lusy dengan cepat hingga lusy tak menyadarinya.
lusy yang sedikit terkejut melebarkan matanya tapi detik berikutnya dia memejamkan matanya lalu membuka bibirnya agar davis bisa melakukannya dengan sempurna. dan benar saja tautan bibir itu kini mulai menghangat dan tampa sadar tangan lusy melingkar di leher davis menariknya lebih dalam untuk terus menautkan bibir mereka agar tidak lepas.
davis yang mendapatkan perlakuan seperti itu semakin bergejolak dan mulai sedikit lepas kendali. Tangannya kini memegang pinggang ramping lusy lalu tangan satunya meremas pantat lusy terdengar suara erangan halus ketika davis melakukannya.
tapi itu tak bertahan lama karena air mata lusy menjatuhi. hingga membuat davis melepaskan tautan bibir itu tapi lusy masih terpejam dan masih membuka bibirnya yang merah dah indah membuat sisi monster siapa saja bangkit.
lusy menangis karena bahagia di saat seperti ini davis melakukan sesuatu yang biasa di lakukan seorang lelaki pada wanitanya. lusy bahagia dan bersedih karena dia tidak tau kapan bisa melakukannya lagi bersama davis.
"lusy maafkan aku melakukannya aku tak bermaksud itu semua murni dorongan dari hatiku aku tak mengerti, memang beberapa waktu ini aku sering mencari sesuatu apa yang dilakukan seorang lelaki dan wanita ketika bersama tapi aku benar tak tau aku bisa melakukannya maaf lusy....
cup... tapi lusy menciumnya kembali kali ini lusy lebih intens dari sebelumnya hinga membuat davis ter mundur dan terduduk di kursi, lalu lusy melepaskannya karena merasakan tonjolan yang mengganjal diantara tengah kedua pahanya. tapi lusy yang nakal tidak bangkit malah sengaja menggeseknya dengan cara me maju mundurkan bokongnya.
"lu... lu... lusy kau sungguh menyiksanya dan ini masih di kafe bisakah kau menghentikannya"
lusy sedikit memerah dan mulai turun dari atas davis menunduk kemudian duduk di kursi depan davis karena berhadapan.
"lusy sekarang katakan padaku dengan jelas dan jujur ku mohon. jangan pergi tampa penjelasan, kau telah mengajarkanku menjadi seorang lelaki buang bertanggung jawab dan lebih bermartabat di hadapan wanita tak seperti dulu yang begitu begok dan polos"
__ADS_1
"lusy tersenyum davis aku tak tau jika dirimu bisa melakukannya. dari mana kau mempelajarinya apa dirimu menonton film biru ya. "
"i i i itu tidak benar lusy tidak aku tak tau menau masalah seperti itu itu hanya reflek ku saja jadi lupakanlah. jawab davis yang memerah