
"apa kau masih sanggup bertarung aku masih tak mengeluarkan kemampuanku. apa kau masih mau bertarung hidup dan mati, atau pulang dan berlatih lah lagi dengan gurumu itu"
ucap lusy yang mengingatkan jika di tangkap dengan benar.
" itu aku...... tidak aku masih mau bertarung dan taruhan itu masih berlaku
di pulau terpencil
" dasar lusy dia mempermainkan seseorang terlalu parah hingga menjatuhkan mentalnya" ucap ria melalui kemampuan ciptaannya
"sayang memang lusy sedang melakukan apa. "
ucap dewa yang mendengar
" dia sedang bertarung di arena pertarungan, melawan musuh yang tak sebanding dengannya. dan kini lawannya itu sedang di permainkan olehnya.
jelas Ria kepada dewa
" memang dasar orang orang mu yang terlalu di luar akal saja menurutku sayang, terlebih lusy aku sampai tak habis pikir dengannya itu"
jelas dewa jujur
" kau saja yang tak mampu mengendalikannya hubby, sebenarnya jika diasah jika itu lusy dan Dani yang lebih hebat Dani. tapi karena sudah faktor usia nya aku lebih nyaman memberikan semua ke pada lusy, dan juga karena lusy satu frekuensi denganku"
jelas ria yang hanya di tanggapi anggukan.
lalu ria melakukan telepati kepada lusy
" jangan bunuh dia, dia orang benar yang sedang mencari jati diri, selesaikan dengan cepat lalu pergi suatu saat dia akan datang lagi biar aku yang menentukannya"
ucap ria
di tempat lusy, lusy sempat terkejut dengan suara ria di pikirannya,
" aku mengerti nona, sesuai perintah mu nona"
lalu lusy maju perlahan mendekati orang itu
orang itu yang melihat lusy bergerak segera saja melakukan persiapan pertahanan dan serangan kemudian lusi semakin cepat. cepat dan semakin cepat dan tidak di duga dua jarinya sudah menotok aliran darahnya hingga membuatnya mati sesaat mungkin 1 menit.
lusy pun pergi meninggalkannya begitu saja meninggalkan orang itu lalu turun dari arena,
__ADS_1
" nona kau tak membunuhnya"
tanya lisan kepada lusy.
"nona yang memintanya jadi tak ada alasan lagi untukku" jelasnya
" aih benarkah nona di mana nona besar biarkan aku bertemu dengannya dan bersujud di depannya. karena berkat dirinya aku di pertemukan denganmu nona. "
" nona tidak di sini dia mengunakan telepati tadi"
" seberapa hebat nona besar Hingga mampu melihat nona bertarung dan mengirim telepati dari jauh"
penasaran lisan
" jika di dunia ini mungkin nona sang absolute"
kini lusy pulang kekediaman di jalan lisan mulai banyak bertanya tentang Ria dan lusy menjawab dengan singkat saja.
sampai di rumah lusy langsung di sambut tua li di depan pintu.
" nona"
ucapnya begitu hormat walau dirinya terbilang tua
" benar nona ini tentang keluarga andreas nona, apa aku sampaikan di sini saja atau di dalam nona"
" ayo kedalam saja dan duduklah di ruang makan aku mau memasak dan temani aku makan setelah itu baru katakan semuanya, apakah begitu tidak masalah tua Li. "
" tidak masalah nona, apa pun itu selama dirimu yang berbicara maka aku akan melakukannya sesuai dengan perkataan mu"
" bagus jika begitu ayo, menggunakan energinya lusy berkata dengan lembut, untuk kalian semua bisa ikut makan juga jika mau aku akan memasak banyak jangan sungkan lagi kepadaku"
itu di tujukan kepada seluruh orang orangnya yang menyebar di sekitar kediaman.
kurang lebih 1 jam lusy berkutat dengan peralatan dapur, suara air, suara aduan antara dua benda, aroma wangi. itu terdengar mengiringi penantian semua orang yang sudah menunggu dengan menelan ludah mereka. sudah tidak tahan. walau sebenarnya mereka bisa tidak makan dan tidur selama 1 minggu penuh
" kalian semua mari makan di meja ini semua sama tidak ada kedudukan yang lebih tinggi atau rendah jadi bersikaplah seperti sesama, tapi jangan berbicara ketika makan itu aturan nona dan aku mengikutinya jadi kalian pun juga mengerti."
semuanya serempak menganggukkan kepala dan berkata MENGERTI, acara makan pun di mulai semuanya makan tampa malu tampa ada rasa sungkan atau sebagainya jika kurang dia akan menambah tidak perlu menunggu lusy begitu pun lusy dia bersikap biasa saja. setelah kurang lebih 45 menit semua piring di meja kosong bahkan bekas lemak pun bersih. dan satu persatu kembali pada posisi mereka, tinggallah lusy lisan dan tua Li yang kemudian beralih ke ruang keluarga.
" jadi katakan lah tua Li sekarang aku akan mendengarkannya " lusy
__ADS_1
" setelah aku melakukan penyelidikan sesuai dengan perintah mu. keluarga andreas ini di pimpin oleh seorang tua bernama lukman andreas yang memiliki perusahaan cukup besar di jalankan oleh menantu laki lakinya dan memiliki seorang cucu laki laki bernama davis andreas. yang sudah keluar dari rumah kurang lebih 4 tahun mengubah namanya andreas davis di negara j ini dan beberapa hari yang lalu di jemput secara paksa untuk melakukan pernikahan dengan keluarga anton dengan tujuan memperluas perusahaan keluarga andreas. dan saat ini cucunya sedang di hukum di kurung di rumah dan tak izinkan keluar tampa izin dari lukman andreas ini. itu info dan data yang saya dapat sendiri di negara A nona. "
" hmmm lengkap dan padat aku suka dengan kerjamu tua Li biar aku katakan kepada nona nanti agar kau mendapatkan kemampuan yang lebih bagus lagi. "
" itu.... aku sudah merasa cukup dengan ini nona, aku merasa tak pantas menerima apapun dari nona besar."
" kau tak tau nona ku tua Li dia itu berbeda pilihanmu mengikutinya takkan menimbulkan penyesalan meski harus mati"
"aku ikut saja apa katamu nona"
pasrah tua Li
" bagus dan untukmu lisan aku ingin kau pergi ke negara k di sana kau bisa membantu asisten ku memimpin perusahaan. tapi hati hati dia suka memperlakukan orang baru apa lagi laki laki"
" nona tak bisakah aku selalu denganmu walau aku tak berguna terlalu banyak tapi..."
" lisan jika kau tak suka tak apa aku akan mencari yang lain saja. tapi asistenku begitu cantik dan anggun dia baik dan jomblo aku melihatmu sepertinya cocok. "
"nona kapan aku ke negara k, katakan saja aku sudah siap berangkat walau ini berat harus jauh darimu aku akan mematuhi perintah mu nona"
" lisan kurasa kau tadi menolaknya "
suara tua Li menggoda.
" itu.... itu.... itu... tidak benar itu perintah maka itu... harus aku patuhi itu benar kan nona.
" apa kau sudah memutuskannya lisan"
ucap lusy sambil mengangguk angguk sedangkan tua Li tertawa pelan
" aku sudah putuskan nona, tapi apakah dirimu tak merasa berat tampa keberadaan ku nona. "
"tidak" singkat lusy
" itu... nona kau tak merasa sedih jauh dariku"
" tidak"
"uhk itu sakit aku benar benar ingin menangis"
"simpan itu untukmu aku malas melihatnya, untuk keberangkatan tentukan sendiri aku ingin melihat jiwa kelakian mu. yang cengeng itu
__ADS_1
" nona beri aku sebulan saja aku sungguh masih berat meninggalkan mu.
"ya lakukan apa yang kau mau saja aku tak memaksa.