System Pemandu Kehidupan

System Pemandu Kehidupan
67


__ADS_3

alina menghangat di hatinya wajahnya penuh dengan senyum pipinya kini sudah merona merah karena Adrian menggandeng tangannya. alina hanya terdiam pikirannya hanya mengenang kejadian yang baru saja terjadi, dirinya begitu terbuka dengan Adrian dirinya begitu leluasa membicarakan hal hal yang biasa orang lain malu ketika mengatakannya, tapi dirinya begitu tidak terkontrol saat bersama Adrian.


" aku benar di buat gila olehnya. "


" alina kita kembali ke rumahmu atau ke kampus mengambil mobilmu. " Adrian


" ke rumah saja aku merasa kurang sehat. "


" benarkah. "


lalu Adrian menyentuh kening alina.


" tubuh tidak panas tapi wajahmu begitu memerah sepertinya dirimu memang kurang sehat, ayo aku antar sampai rumah tunjukkan saja arahnya. "


melepaskan jaketnya lalu memakaikan di tubuh alina.


" kenakan ini agar tetap hangat. "


Alina mendengar ucapan dan perlakuan Adrian alina tambah memerah di wajahnya. lalu merekapun pergi menuju rumah alina.


sesampainya di rumah alina Adrian langsung memberhentikan motornya.


" alina apa ini rumahmu. sungguh besar dan indah. "


" ya ini rumahku, walau besar tapi aku sendiri di dalamnya apa dirimu mau menemaniku adrian. "


" eh itu aku aku.... "


" ian sebentar saja setelah itu dirimu bisa pergi. " bujuk alina


" ya baik lah ayo."


Adrian menyetujuinya walau sedikit berat karena mereka hanya berdua dan alina begitu terbuka padanya


" tak perlu khawatir aku takkan memperkosa mu di dalam jika dirimu tak ingin aku hanya meminta di temani tidak lebih. " goda alina


" eh apa yang dirimu bicarakan alina. " lalu melangkah pergi


" ian gendong. "


rengek alina membuat ian yang sudah jalan berhenti lalu berbalik

__ADS_1


" hah baiklah tuan putri. "


lalu menggendongnya ala tuan putri. alina yang di gendong segera melingkarkan tangannya di leher Adrian dan membenamkan wajahnya di dada bidang Adrian. bau wangi tubuh Adrian semakin terasa membuatnya tenang.


" baik lah sekarang kita sudah di dalam sekarang katakan dimana aku harus merebahkan mu. "


" kamarku di lantai dua maukah dirimu mengantarku ke sana. "


suara halus dan lembut alina


" ya jangankan lantai dua sepuluh bahkan seratus akan ku antar dirimu. "


segera melangkahkan kakinya memijat anak tangga satu persatu. alina semakin mengeratkan lingkaran tangannya di leher adrian


sesampainya di kamar Adrian membaringkan alina di tempat tidur dengan perlahan dan lembut.


" tidurlah tuan putri agar dirimu sehat kembali. aku akan di sofa ruang tamu. "


beranjak pergi


tapi alina mencekal tangan Adrian.


."baiklah aku di sofa di sana saja. "


" ian tak bisakah dirimu berbaring di sampingku, aku suka bau tubuhmu, itu membuatku tenang kumohon. jika nanti dirimu sudah tidak kuat lagi lakukanlah aku siap. asal dirimu aku mau. "


" hussssst jangan katakan apapun lagi tidurlah aku akan berbaring di sampingmu. "


di hatinya alina ini benar benar membuatku frustasi.


lalu berbaringlah Adrian di sebelah alina, alina yang melihat itu senang segera memeluk Adrian dan membenamkan wajahnya di dada bidang Adrian. Adrian sendri hanya membiarkannya dia hanya berharap tak ada kejadian yang tidak di inginkan.


keesokan harinya di depan kediaman ria di negara jiran kini sudah tiba davis dan kakeknya.


" oh tuan davis rupanya selamat siang tuan. "


" iya ini aku, siang juga, apa lusy dan nona ada. " tanya davis ramah


" oh nona dan nona besar ada di dalam tuan, mari saya antar sampai ke dalam tuan. "


" tidak perlu lanjutkan saja tugasmu di sini aku sendiri saja. "

__ADS_1


" baiklah tuan davis silahkan aku hanya sampai di sini saja. "


davis hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya tak lama kini davis dan kakeknya sudah bersiap untuk masuk kedalam kemudian mengetuk pintu.


segera saja setelah beberapa kali mengetuk pintu terbuka ternyata lusy yang membukanya.


" davis dirimu kembali lagi. tuan andreas. "


ramah lusy dan bahagianya di hati ketika melihat davis kembali jika tidak ada kakeknya sudah di pastikan lusy akan memeluk davis sebaliknya pun sama dengan davis


" iya lusy aku mengantar kakekku dia ingin bertemu dengan nona ada sesuatu yang ingin di bicarakan dengan nona. " jelas davis


" oh seperti itu, silahkan masuk nona di dalam ayo silahkan tuan. "


lusy mempersilahkan davis dan kakeknya masuk karena nona nya sudah menunggu di dalam karena sudah mengetahuinya jika akan ada yang datang


" nona ada davis dan tuan andreas. " lusy


" oh davis dan tuan andreas. silahkan silahkan duduk. maaf suami ku masih di perusahaan. jadi apa ada yang bisa ku bantu". ramah ria


" nona ria kakekku ingin membicarakan sesuatu kepadamu kumohon dirimu bersedia mendengarkannya. "


davis dengan sopan


" oh tuan andreas silahkan ada apa. "


" nana maafkan aku karena aku sudah tidak sopan denganmu dan berani membentak dan berbicara kasar denganmu maafkan aku karena terlalu arogan dan keras kepala, sungguh saat ini aku benar benar menyesal nona. tolong kembalikan perusahaan keluarga nona aku tak sanggup jika itu terjadi leluhurku penuh dengan perjuangan untuk membangunnya. "


" oh tuan andreas sudah sadar rupanya baguslah jika begitu aku senang jika tuan sudah berubah. dan untuk perusahaan apa dirimu begitu yakin, lusy coba kau ambil datanya dan perlihatkan pada tuan andreas. "


" baik nona. "


segera lusy melangkah ke ruang kerja. tak lama kemudian keluar dengan membawa map coklat cukup tebal.


" silahkan tuan andreas lihatlah. " lusy


" silahkan tuan kau akan bisa menilai pantaskah perusahaan itu di selamatkan. " ria


segera saja lukman mengambilnya dan mulai membuka setiap lembar demi lebar tumpukan kertas itu. davis hanya melirik lalu memandang kembali ke arah lusy. lusy juga memandang ke arah davis seperti sedang berbicara secara batin.


" ini ini sungguh tidak mungkin bagaimana bisa perusahaan keluarga yang ku kerjakan sendiri masih busuk di dalamnya begitu banyak permainan di dalamnya bahkan monopoli keuangan di dalamnya juga begitu rapi jelas saja aku tak mengetahuinya."

__ADS_1


lukman begitu kaget melihat perusahaannya begitu hancur ternyata di dalam.


__ADS_2