System Pemandu Kehidupan

System Pemandu Kehidupan
85


__ADS_3

hay semuanya maaf author gak update soalnya udah kehabisan inspirasi untuk membahas tentang tokoh utama yang sedang hamil. mau di kasi musuh tokoh utama terlalu kuat jadi bingung nyariin musuhnya. mau di singkat langsung lahiran takutnya gak asik dan kalian semua berpaling dari author. jadi beberapa hari ini author sedang mencari inspirasi. yang sekiranya cerita tokoh utama bisa hidup gak gitu gitu aja.


author yakin kalok ceritanya gitu gitu aja kalian pasti bosen dan akhirnya berpaling juga. untuk kalian yang nungguin update SPK ini Terima kasih dan jika merasa terlalu lama kalian bisa baca novel kedua author buat ganjel nungguin SPK update gitu.


ok gak perlu basa basi ya. author ucapkan


mohon maaf dan terimakasih untuk kalian semuanya.


gas keun..... kang......


tarek..... sis...... semongko.......


...****************...


rupanya yang menghubungi alina adalah Adrian yang mengabarkan jika dia sudah tiba di negara K.


beralih pada ria yang tiba tiba saja terbangun dari tidurnya perutnya merasa sangat lapar dan ingin makan


" hubby..... hubby bangunlah aku lapar. " membangunkan dewa


" hemmm ini masih larut malam sayang besok saja ya. " dengan mata masih tertutup. "


" tapi aku lapar sekali kumohon hubyy, bangunlah masak kan aku sesuatu aku ingin masakan mu"


" yaya baiklah ayo. " akhirnya dewa luluh dan menyetujui permintaan ria


" gendong. " manja ria


" bagai mana cara menggendongnya perutmu sudah besar sayang. "


" huuu... huuu... huuu... gendong aku ingin gendong huuu..... huuuu.... " ria benar benar menangis


" baik baik jangan menangis ayo biar aku gendong. " dewa yang bukannya kesal atau marah


" asik terimakasih hubby. "


dewa menggendong ria ala tuan putri dia tidak kesulitan sama sekali menggendong tiara. ria yang melingkarkan tangannya di leher dewa dan menyenderkan kepalanya di dada dewa yang sudah menjadi favorit ria sejak mengenal dewa.


ria yang memperhatikan wajah tampan dewa muncul keinginan untuk mengecup pipi dewa. tanpa berpikir ria pun mengecup pipi dewa. kecupan pertama kedua ketiga keempat. dewa mulai terusik dan melihat kearah ria dengan tatapan dalam.

__ADS_1


ria yang di tatap dewa jadi menciut dan membenamkan wajahnya di dada dewa.


" sayang apa dirimu coba menggodaku jika ya ayo kita kembali ke kamar dan segera lakukan saja karena aku takkan pernah menolaknya. "


" hubby aku hanya gemas melihat wajah tampan mu itu, aku tidak bermaksud menggoda mu. "


" tapi aku tergoda. "


" em aku lapar tolong buatkan aku makan dahulu setelah itu kita bisa lakukan. "


" nah itu bagus ayo biar ku buatkan makanan yang enak untuk mu sayang. "


" ayo...... hooreeeee....... "


sesampainya di dapur dewa meletakan ria di kursi untuk duduk menunggu dewa sampai selesai memasak.


dewa yang seumur hidupnya tak pernah menyentuh peralatan dapur dan lainnya kini demi sangat istri rela terjun langsung ke dapur untuk memasak.


" sayang bagaimana caraku memasak. "


" entahlah hubby ayo dirimu pasti bisa, oh ya aku tau hubby mengapa tidak melihat di ponsel saja. "


" em " dewa segera berlari ke kamar untuk mengambil ponselnya. dan tak butuh waktu lama kembali dengan membawa ponselnya.


dewa segera mencari video tentang memasak, dewa memilih memasak yang paling mudah yaitu nasi goreng telur ceplok


dewa mulai beraksi di dapur mata dan tangannya saling berbagi dan saling membantu


"oke pertama siapkan bahannya kemudian ulek semuanya sampai halus, siapkan wajan di kompor isi minyak, nyalakan kompor dengan api sedang. "


"hahahaha. ini mudah, lihatlah perjuangan suamimu sayang. "


" uuuuuu suamiku hebat aku sayang suami, eemmmmuuuuuach........ "


" hap aku tangkap. "


" hubby aku ingin yang pedas sekali. berilah cabai 50. "


" baik lah tenang saja untukmu dan anak kita aku siap untuk apa saja. "

__ADS_1


" dewa kembali lagi beraksi, setelah menggoreng telur, tiriskan telur, kemudian masukkan bumbu halus, goreng hingga wangi dan warnanya emas kecoklatan, kemudian masukkan nasik aduk terus sampai rata, masukkan garam secukupnya dan penyedap rasa lainnya. "


" kurasa garamnya kurang, lebih baik aku tambah saja, nah jika seperti ini cukup. "


lima belas menit kemudian nasi goreng telur ceplok sudah siap, dewa dengan percaya dirinya membawakan nasi goreng itu pada ria.


" sayang nasi goreng sudah siap ayo makan pasti dirimu akan ketagihan. "


" yeeeee..... aku suka aku suka. "


di meja makan ria sudah menelan ludahnya melihat masakan dewa dia sudah tak sabar untuk makan. dewa segera menyiapkan semuanya agar ria bisa makan.


" silahkan kan sayang di makan. "


ria yang sudah mendapat aba aba segera memakan masakan dewa. suapan pertama kedua ketiga keempat......... ......... ria begitu lahap memakan masakan dewa. mulutnya dipenuhi dengan nasi goreng yang dewa buat


" sayang apa kah seenak itu hingga dirimu begitu lahap sekali. "tanya dewa yang penasaran. dirinya saja yang memasak masih tidak yakin seenak itu


ria hanya mengangguk kemudian menelan makanannya dan minum. " hubby apakah ingin mencobanya sini biar aku suappin. "


" boleh." setuju dewa.


setelah itu ria memberikan sesuap nasi goreng pada dewa. dewa yang melihat itu segera membuka mulutnya lebar lebar.


tapi ketika nasi itu tiba di dalam mulutnya dia langsung melotot kemudian berlari ke arah wastafel dan memuntahkan nasi yang di mulutnya.


"hubby apa dirimu baik baik saja. " tanya ria yang penasaran.


" sayang nasinya begitu pedas dan asin mengapa dirimu begitu lahap memakannya. " sambil berkumur kumur di wastafel.


" aku merasa nasi goreng ini enak dan baik baik saja hubby. " jawab ria kemudian menyuapi kembali ke mulutnya


dewa mendekat lalu mengambil sisa nasi di piring berniat membuangnya. " sayang kita makan saja yang lainnya ini bisa membuatmu sakit. "


" hubby aku ingin itu, kumohon hubby itu sungguh lezat. " mohon ria


" tapi sayang. " melihat wajah melas ria yang tampak begitu sedih. " ya baik lah. " dewa pun menyerahkan kembali sisa nasi goreng di piring itu pada ria


ria yang melihat itu kembali cerah dan tersenyum lalu makan kembali

__ADS_1


__ADS_2