
Semestalah yang memilihku bersatu denganmu. Entah disengaja atau tidak, dia membiarkan hangatmu bertemu denganku. Dia biarkan aku terombang-ambing oleh masa lalu, namun tetap saja menghadirkanmu dalam derap langkahku.
🌜🌜🌜🌜
Gadis berseragam SMA dengan name tag Adelia Alexa Agantara melangkahkan kakinya dengan lesu. Adellia mengabaikan setiap tiupan klakson yang menyapanya waktu di mobil, juga mengabaikan sapaan ramah dari Pak Joko. Hal Ini tidaklah wajar, Adelia tak pernah semurung itu. Perbuatan Mamanya kemarin benar-benar mengusir pagi indahnya. Adelia menghela nafasnya lelah, Sampai kapan ia harus bersabar?
Sampai kapan Adellia harus seperti ini? Adelia memejamkan kedua matanya, nafasnya naik turun tak teratur. Pagi indahnya harus hancur, karena ingatannya justru meluncur ke sosok Mamanya yang berubah.
"Adelia,"
Suara yang familiar menyapa gendang telinganya, Adelia menoleh terkejut. Tari tertawa riang, air mukanya nampak cerah mengalahkan sinar mentari. Gadis itu menepuk pundak Adelia,
"Del, tumben lo berangkat sepagi ini?
Kusut banget lagi itu muka. Ada apa?"
Kedua netra Tari menatap Adelia serius, dia tengah mengira-ngira ada apa gerangan pada sahabatnya saat ini. Adelia nampak pendiam dan amat lesu.
"Nggak apa-apa kok Tar. Biasa, gue cuman gagal lihat Taehyoung di TV. Mana nunggunya lama lagi,"
Adelia mencibir, sedang Tari memilih menautkan kedua alisnya heran. Sepertinya sahabatnya ini menyembunyikan sesuatu darinya. Adelia memalingkan wajah, mau bagaimanapun keadaannya, ia tak mampu membohongi Tari. Sahabatnya selalu tahu.
"Del, lo lagi bohong kan?"
Tanya Tari menelisik. Adelia tergagap, bola matanya bergerak ke sana ke mari, dia harus mencari topik pembicaraan agar Tari tak lagi memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Enggak kok Tar. Gue beneran nggak papa, "
"Del- "
"Eh Tar, gebetan lo gimana? Kayaknya lo kemarin lupa cerita ke gue. "
Kini giliran Tari yang tergagap, pipinya bersemu merah.
"Ih apaan sih! Jangan tanya itu bisa nggak?"
Adelia tertawa renyah, dia sudah tahu jawabannya.
"Lo gagal lagi Tar? Ya ampun, emang takdir lo itu jomblo seumur hidup, nggak usah cari-cari cowok, lagian di mana-mana cowok bakalan ngeri kalau jalan sama lo, Hii gue aja merinding kalau deket lo kayak gini."
Tari cemberut, bibirnya maju beberapa senti sedang Adelia tertawa renyah.
"Udah deh Tar, lo nyerah aja. Entar ya, kalau jodoh lo beneran ada, dia bakalan datang sendiri kok."
Tari mencibir, tidak setuju dengan kalimat Adelia yang mendadak bijak.
"Yaelah, sok-sokan bijak. Lagian lo nggak pernah rasain kayak gini kan? Mana pernah lo deket sama cowok, dilirik aja enggak tuh,"
"Eh, jangan salah, cowok-cowok juga pada demen sama gue, cuma gue nya aja yang nggak mau. Gue mau buktiin kalau jomblo berprinsip itu beneran ada,"
Tanggap Adellia sewot.
"Terserah lo aja deh Adel. Capek gue."
"Hahaha, ngambek nih? "
Tari memajukan mulutnya beberapa senti,
"Jangan gitu dong Tar entar cepet tua loh."
"Kata siapa?"
"Kata gue lah,"
"Diem bisa? nyebelin banget sih lo, udah kecil, dekil, hidup lagi."
Sembur Tari tanpa disaring. Adellia menanggapinya dengan tertawa. Sudah biasa Tari bersikap semacam ini.
"Beruntung dong, kalok gue nggak idup, lo nggak punya temen Tar. "
"Ishhh! Lo- "
"Apa? Apa? Apa??? Hahaha,"
Tari bersidekap dada, kepalanya berpaling dari wajah Adellia yang menurutnya paling menyebalkan sejagat raya. Adellia memegang kepalanya yang pening, aneh, seingatnya tadi, ia masih sehat-sehat saja. Tari menggerutu panjang, mengutuk adellia yang selalu saja bertingkah,
"Tar-"
"SASA! " Adellia menoleh bersamaan dengan Tari. Kedua telinganya pengang.
"SASA! JANGAN MENGHINDAR DARI GUE TERUS DONG! CAPEK IH! "
Para siswa berbisik riuh, satu dua anak menatap sinis kearah depan. Sayangnya, badan Adellia yang pendek tak mampu membuatnya leluasa menatap sekitar.
"Ada apaan sih Tar?"
"Entah."
"Lo kan ratu nggibah, masak nggak tahu?"
"Ih biarin dong, kan gue lagi marah sama lo."
Adellia mendengkus. Kedua netranya melirik Tari malas.
"SASA! please dong berhenti."
Adellia melongokkan kepalanya. Kali saja ia mendadak jadi tinggi. Namun Tari dengan segera merusak ekspetasinya. Gadis minim perhatian itu menekan kepala Adellia sampai menunduk.
"Apaan sih Tar?"
"Lo pendek perkedel. Nggak takut leher lo putus? Lagian tontonan di sana delapan belas plus, lo yang masih bau kencur nggak boleh lihat, "
Adellia berdecak, kedua tangannya bersedekap didepan dada.
Tari benar-benar menahannya agar tetap menunduk di tempat.
"SA! "
"Tar lepasin ih!"
Ujar adellia tak sabaran. Tari menggeleng, kedua netranya fokus menatap di depan sana.
"Tar,"
"Diem deh!"
Adellia meniup poninya emosi. Tubuh pendeknya selalu membuatnya merasa dipermainkan.
"Tar,"
Akh! Adellia tidak sabar. Dia menepis lengan Tari yang menahannya. Tari memanggil namanya dengan nada jengkel, namun Adellia tak peduli. Beruntung badannya kecil, ia jadi lebih mudah menyempil di beberapa tempat.
Teriakan Tari yang nyaring tidak mampu mengalahkan suara berbisik para siswa Adellia menyeringai. Sukurin! Umpatnya pada Tari yang mungkin kini tengah kebingungan mencarinya.
"Misi,misi."
Adellia menerobos kerumunan, badannya beberapa kali tersenggol dan hampir terjatuh.
"Geser dikit dong, cewek cantik mau lewat nih,"
Beberapa siswi mendelik mendengar ocehannya. Adellia tersenyum manis, ia benar kan? Adellia kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia penasaran, mengapa semua siswa berkerumun sampai sebanyak ini?.
"Sa! "
Akhirnya Adellia menemukanya.
"Lepas!"
Adellia menyipitkan mata, gadis cantik dengan rambut bercat sedikit merah, tengah menarik ujung baju seragam seorang pria. Tunggu-tunggu,
Kayaknya...
"Eh, dia kan-"
"Sa, Lo kok kayak jijik banget sih sama gue?"
Ujar gadis itu menatap cowok di depannya dengan sorot memelas. Air mukanya nampak kecewa.
"Gue cuman risih."
"Kenapa? "
"Bisa nggak jangan nempel sama gue mulu?"
"Nggak mau!"
Panu berdecak kesal. Sebisa mungkin ia melepaskan cekalan tangan yang menarik bajunya.
"Lepas!"
"Ih nggak mau!"
"Batu banget ya lo?"
"Situnya batu kok bilang batu."
Si gadis mencibir, bibirnya manyun melebihi batas normal.
"Enyah deh lo mak lampir,"
Mata Adellia melebar, terlihat cowok blasteran melangkah pelan mendekati keduanya. Astaga! Cogan SMA!
"DIEM deh lo genta gentong,"
Maganta Alexander. Adellia bersorak senang, kedua bola matanya berhasil menelisik name tag cowok blasteran tersebut.
"Hoi gentong! sembarangan aja lo katain gue."
"Biarin."
__ADS_1
Maganta mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lantas meremas udara kosong.
"Sabar Ta, lo pinter, kalau lo lawan orang gila kayak dia, sama aja lo goblok banget. "
Adellia terkikik geli. Sedang si gadis berambut merah menggeram.
"Gue nggak gila."
"Eh malah ngaku, "
Maganta tertawa keras.
"Mana ada ngaku, gue cuman bilang kok? "
"Itu namanya ngaku beb. Heran gue sama tingkah lo."
Meika Adobara, gadis berambut merah itu melotot. Bahkan saking besarnya, kedua bola matanya terlihat akan keluar.
"Diem deh lo. Bikin gerah bodi gerah hati."
"Yang penting nggak bikin gerah mata, kayak liatin lo." Sewot Maganta.
"Sa, Maganta jahat ih!" Adellia bergidik. Menjijikkan.
"Sasa! "
"Diem."
"Sa."
Cowok yang dipanggil Sa, menajamkan kedua netranya. Meika menelan ludah bulat-bulat.
"Diem."
Meika memberenggut, wajah Maganta terlihat mengejek. Ekspresinya bahkan membuat Meika gatal menampol.
Adellia menggeleng, tadinya ia mengira ada tontonan menarik. Ternyata ia salah duga. Huh! Seharusnya tadi ia lekas ke kelas saja. Apalagi kepalanya bertambah nyeri dan berdenyut. Adellia melangkahkan kakinya pelan, kedua netranya berkunang -kunang. Tidak! Jangan sampai ia pingsan. Adellia mengerjabkan kedua matanya, mencoba mengembalikan kesadarannya yang seakan beralih menghilang.
"Eh,"
"Lo nggak papa? "
Adellia menoleh lantas memasang senyum tipis, samar-samar, sosok cantik berseragam SMA nampak dalam penglihatannya. Tangan cewek itu memegangnya erat, sayang, wajahnya tak begitu jelas tertangkap retina.
"Gue bawa lo ke UKS, lo kelas berapa? nanti biar gue ijinin,"
"Eh enggak usah, gue nggak papa kok! "
Tolak Adellia halus. Adellia memasang senyumnya, mengisyaratkan kalau ia benar benar dalam kondisi memungkinkan.
"Bener? "
"Iya,"
"Lo pucet banget, sumpah."
Adellia menggigit bibirnya, apakah sepucat itu?
"Gue cuma telat sarapan, thanks. "
Cewek yang memegang Adellia melepas cekalan tangannya ragu. Matanya masih memasang sorot khawatir. Adellia menarik nafasnya, ia harus bergegas sampai kelas sebelum jam masuk terdengar. Adellia berbalik, langkahnya melemah. Adellia sempoyongan, tubuhnya terasa sangat berat. Adellia meringis, kepalanya berdenyut, semuanya terasa berputar tanpa terkecuali. Adellia memegang kepalanya.
"shh!"
Adellia meringis lagi lantas kembali melanjutkan langkahnya dengan susah payah, namun tiba-tiba saja ada yang menghalangi langkahnya. Adellia mendongak, menerka-nerka siapa sosok yang berdiri di depan tanpa seizinnya.
"Lo sakit?"
Adellia cuma mampu tersenyum. Ia menggeser tubuh besar di depannya dengan lemah. Menyuruh sosok itu segera menyingkir.
"Ikut gue," Adellia menggeleng. Menepis tangan yang hendak meraihnya.
"Lo jelas sakit, gue bakal anterin lo ke UKS. "
Adellia mendengkus, sudah jelas dia tak mau, masih saja dipaksa.
"Kenapa Ta? "
Adellia menoleh, sosok lain nampak berjalan menghampirinya. Samar-samar bayangannya semakin mendekat.
"Ini loh Sa, sakit, tapi nggak mau gue bawa ke UKS. "
"YA udah."
"lo mau gue abai in dia SA? Jiwa kemanusiaan gue meledak-ledak,"
Adellia menunduk. Kepalanya semakin sakit.
"Banyak omong."
"Biarin, fakta kok."
"Apa?" Sahut satu suara sewot. Adellia menulikan telinga, lebih tepatnya ia tak peduli.
"Tol...longin gu...e,"
Lirih Adellia terengah-engah. Adellia menunduk lebih dalam, mencoba mengurangi rasa sakitnya.
"Sa...kit"
Ujarnya terakhir kali, karena selanjutnya, ia hanya melihat kegelapan menyeruak, juga kesunyian mulai menyibak.
.
.
.
Bayangan hitam tidak lelah mengikuti langkah pemiliknya. Dua orang berbeda gender tersebut tengah asyik melempar tawa. Dilihat dari manapun, rona kebahagiaan memancar dari kedua belah pihak.
"Eh, Sa! kesana yo! kayaknya cantik-cantik deh jualannya,"
Ungkap cewek berambut lurus dengan bola mata berwarna hitam pekat. Gaun selututnya berkibar tertiup angin. Surainya menari tertiup angin sehingga membuatnya nampak mempesona ketika menoleh. Apalagi dalam pandangan cowok yang tengah memasang senyum kecil, gadis itu malaikatnya, orang paling berpengaruh dalam mewarnai hidupnya.
Cewek bernama Bella menarik tangan Auksa lembut. Mengajak cowok tersebut ke salah satu toko yang menjual beragam pernak pernik. Kedua bola matanya berbinar,
"Ih lucu-lucu banget tau nggak? "
"Liat deh Sa, cantik kan gue kalau pakai kayak gini? "
Bella membalikkan badan agar Auksa lebih leluasa menatapnya. Auksa terdiam. Mau bagaimanapun keadaannya, Bella tetaplah sosok paling cantik dan mempesona. Apalagi kini sebuah kalung berbandul berlian bentuk bintang terpasang dileher jenjangnya. Sayangnya, Auksa enggan mengakui, dia terlalu malu untuk sekedar memuji.
"Lepas aja, lo nggak cocok pake kayak gituan."
Bella berdecak. Sebenarnya dia sudah memikirkan beberapa kemungkinan yang akan Auksa pilih sebagai opsi jawaban. Walau tak merasa kaget, hatinya tetap saja jengkel, secara tak langsung Auksa mengatainya jelek kan?
Bella menatap Auksa geram, kedua netranya mendelik tajam.
"fyuh, sabar Bel, pacar lo emang kayak gitu. Jangan diambil hati. Emm ya udah deh, kalau yang ini bagus enggak?"
Auksa tanpa berpikir menggeleng. Kali ini ia menghembuskan nafasnya kasar. Lantas dengan setengah hati meletakkan gelang yang sempat menarik minatnya ke tempat semula.
"Kalau yang ini? "
Lagi dan lagi Auksa menggeleng kecil, Bella mengetok kepala Auksa keras. Tentu saja Auksa mengaduh, pasalnya pukulan Bella tak pernah seperti cewek kebanyakan.
"Sakit bel, ah elah kasar banget ."
"Makanya jangan nyebelin. Kamu sih yang salah. Sebel tau nggak, dari tadi capek-capek pilih, kamunya malah geleng -geleng mulu kerjaannya."
"Kamu kan yang minta pendapat Bella, "
"Seenggaknya hargain dikit lah, bilang kalau kamu cocok kok Bel pake itu, kamu tambah cantik banget, dan semacamnya."
"bo'ong dong kalau gitu, cowok kan dilihat dari perkataanya juga Bel,"
"Ih! Gemes! Ngapain malah kamu sih yang jadi pacarnya aku. Nyebelin banget tau nggak?"
"*Mungkin takdir"
Jawab Auksa asal. Bella membuang nafasnya kasar*.
"Gini ya Bel, kalau aku enggak jadi pacarnya kamu, siapa lagi dong yang mau sama kamu? Secara kamu orangnya cerewat banget, suka emosian lagi. Bersyukur makanya masih ada cowok sebaik aku yang sudi macarin kamu.
Bella menutup kedua matanya menahan emosi. Kalau saja wajah Auksa tidak mirip oppa korea, Bella tak akan segan menendang Auksa agar segera enyah.
"Tarik nafas, keluar tarik naf-"
"Nah gitu dong, jadi cewek itu yang sabar, jangan suka marah-marah mulu, cepet tua tahu rasa"
"Kamu do'ain aku? "
"Sensian amat, enggak lah! Mana ada doa- doa. Kamu emang udah tua Bel, kalok aku tambahin pake doa segala, yang ada kamu jadi nggak cocok disandingin sama aku natinya. "
Bella menipiskan bibirnya mengumpat, sialan! Auksa menguji kesabarannya.
"Muka kamu belum pernah rasain digetok sama sendal ya Sa? "
"Ampun! nggak main-main lagi deh sasanya, bener suer!"
Bella cemberut, bibirnya maju beberapa senti. Kan, lihatlah, bahkan hanya dengan menunjukkan ekspresi lucu semacam itu saja mampu membuat hatinya kembali luluh.
"Ck, cantik gini kok dibilang tua, burem kali"
Gerutunya kecil. Auksa terkekeh kecil, merasa gemas terhadap tingkah gadisnya.
"Iya Bel, kamu cantik banget, apalagi kalok kamu make ini."
Kedua mata Bella melebar ketika lehernya merasakan sedikit sensasi dingin.
__ADS_1
Ia tertegun, bola matanya yang kecoklatan terpaku menatap bandul bintang yang kini menempel pada lehernya.
"Astaga! So sweet banget sih Sa! Tapi nyebelin,"
Teriak Bella girang sembari memeluk Auksa erat. Tak elak, perutnya serasa dihinggapi berbagai macam kupu-kupu.
"Emang bener ya kalau cowok itu selalu salah dimata cewek. Apa-apa bilang nyebelin. Sedikit-sedikit bilang, Saaaa kamu nyebelin banget. Aku kasih suprise aja masih dibilang nyebelin."
Kata Auksa menghembuskan nafas. Bella tertawa lepas. Tangan kanannya mengusap surai Auksa lembut dengan kaki sedikit berjinjit.
"Aku kapan benernya dimata kamu? "
Seloroh Auksa menaruh kepalanya diatas bahu Bella dengan lemas. Bella terkekeh kecil, refleks menepuk lembut kepala Auksanya.
"Kan kumat lagi nih manjanya."
"Biarin."
"Jadi kayak bocil."
"Biarin."
"hahaha, gemes banget sih gue. Cowoknya siapa coba? "
Ujar Bella mencubit kedua pipi Auksa. Auksa mengaduh. Tak elak, pipinya terasa berdenyut nyeri.
"Sakit Bella."
"Tahu, bilang dulu cowoknya siapa? "
"Enggak mau ah."
"Tuh kan bikin tambah gemmes,"
"adoi! Iya,iya. "
"Cepetan makanya, bilang dulu kamu cowoknya siapa."
"Kamu nggak kenal? Parah banget ini mah, "
"Mau aku cubit lagi?"
"Iya ,iya ,iya, tapi ada syaratnya dong,"
"Idih, syarat segala."
"Mau nggak? "
Bella mengangguk, Auksa tersenyum kecil, tangannya meraih pergelangan tangan gadisnya.
"Janji dulu kamu bakal jadi senjanya Auksa, se-la-man-nya."
"Duh, gimana nih Sa, jadi deg-degan."
Ujar Bella sembari memegang dadanya dramatis. Auksa memutar bola matanya malas. Dasar hiperbola.
"Enggak usah bilang-bilang kali Bel."
Tanggap Auksa sambil menggelengkan kepala. Bella tertawa sumringah, kedua netranya tak sengaja menangkap benda yang sama di pergelangan tangan Auksa.
"Eh kamu juga punya Sa?"
"He'em. Ingat bel, kalok kamu masih punya rasa yang sama kayak aku, walau hanya secuil rasa sayang. Pakai gelang ini, Jangan dilepas. Pertahanin. Hal ini berlaku untuk kita berdua tapi kalo nyatanya kamu udah enggak lagi serahin hati kamu buat aku, aku akan pasrah, mau gelang itu kamu lepas, buang, atau hancurin, semua itu terserah kamu. Tapi jangan lupa kalau aku adalah langit yang tidak akan pernah lelah berhenti berjuang demi senjanya. "
Bella mengangguk mengerti. Lengan bergelang miliknya ia dekatkan dengan Auksa. Lantas, Bella mengenggem jari Auksa erat.
"*Kamu juga harus ingat Sa. Kalau senja juga tidak mampu hadir tanpa adanya langit. Tanpa kamu minta, hati aku udah sepenuhnya kamu tempati."
Perkataan gadisnya membuat Auksa tertegun, ia menatap Bella penuh kasih, benar! Bella tidak akan pergi, gadisnya tak akan serta merta meninggalkannya. Bella tidak akan*-
AKKHHH!
Auksa mengerjab, kedua netranya menyorot gadis mungil yang tengah mengatur nafasnya. Pipinya basah oleh air mata, tubuhnya menggigil kecil. Auksa bangkit dari posisi duduknya, dilihatnya gadis itu tengah mengusap peluh yang membanjiri dahinya.
"Ma, Adellia nggak nyangka kalau ternyata Mama yang main dibelakang Papa selama ini."
Auksa terdiam, niat awalnya yang hendak memecah keheningan terhenti, satu tetes air mata kembali membasahi pipi gadis itu. Dada Auksa berdentum, tiba-tiba saja dia merasa kasihan. Auksa mengerjab. Tidak! gadis ini bukanlah orang yang dia kenal. Rasa kasihan hanya akan membuatnya tidak sengaja terikat. Auksa menghembuskan nafas lantas mengambil kain yang telah dicelupnya ke air hangat.
Pluk!
"Eh,"
Gadis bername tag Adellia Alexa Agantara menoleh. Alisnya menyatu karena heran.
"Panu Widjaja kan? "
"Gue baru tahu kalau ketemu orang ganteng bisa bikin orang demam."
"Ha? "
Auksa menekan kain yang bertengger manis di dahi Adellia. adellia mengerjab kecil, kok cowok ini bisa disini?
"Lo pingsan"
Adellia menipiskan bibirnya, sial! Ia ingat semuanya sekarang.
"Maaf, gue-"
"Diem gue lagi konsentrasi."
Ujar Auksa menghentikan perkataan Adellia. Adellia mencibir, padahal cuma mau bilang maaf doang.
"Ck lemah "
"Diem gue juga lagi konsentrasi."
Ujar Adellia meniru jawaban. Alis Auksa naik satu, berani banget ini cewek.
"Lo titisan makhluk darimana sih? Masyaallah, gantengnya nggak nguatin,"
"Nama lo beneran Panu Widjaja? Keren banget, ternyata emang bener gue bisa nerawang? "
"Kok lo nggak ada name tag ? Berandalan ya?"
"Kelas mana? Sebelas atau sepuluh? kalau duabelas mah gue nggak berani. Oh, lo pasti kelas sebelas IPA dua sebelah kelas gue?"
"Pasti bener nih, anak pindahan dari Australie, yang katanya lagi famous banget. Bagi nomer wa dong, id-line juga boleh,"
"Eh, Defrian dong kalau kelas sebelah bukan Panu Widjaja. Yang bener elah, gue kan nggak pernah salah tebak trawang?"
Auksa berdecak sinis. Mengganggu!
"Lo nggak perlu tahu."
"Kok gitu? Masih aja pelit."
"Dasar jamur ijo."
Adellia mendelik, apa! Jamur ijo, nggak pernah dikasih tinju ini cowok.
"Panu kutu kupret paling ganteng, lo nggak boleh kayak gitu sama cewek. Gue udah beritahu kan nama gue kemaren. Atau lo lupa lagi? "
"Ganggu tahu nggak?"
"Busyet, gue sebarin nih ya kalok lo kasarnya kebangetan. Ya udah, lo Defry kan, kelas sebelah?"
"Terserah."
"Yee ngajak adu tinju, liat aja ya nan-"
Brakkkkk!
Adellia dan Auksa berjengit kaget. Dada mereka berdentum. Disana, tepatnya di depan pintu, sosok Tari dan Dion terlihat kelelahan. Keduanya mengatur nafasnya yang tak teratur.
"Ah Adel gue, ngapain lo ada disini? Lo sakit? Iya? Bilang yang mana? Siniin, biar gue sembuhin."
"Udah Tar, gue nggak papa."
"Kan, Dion! Adel gue ngambek. Ck, minggir elah, gue mau liat Adel."
Sungut Tari tak memperhatikan orang yang digesernya. Tari memegang dahi Adelia yang panas, lantas tersentak.
"Astaganaganaga! Demi apa! lo panas banget perkedel! Ngelebihi ketiak gue, sumpah! Lo mau apa sekarang, gue ijabahin."
"Mau Taehyoung Tar,"
"Ya ampun, sekalinya minta nggak nanggung. Ya udah, besok kalau gue berhasil jual diri buat dapet duit, gue ajak itu Taehyoung ke sini. "
"Gila! "
"Jagain, "
Tari mematung ditempatnya begitupun dengan Dionarda Yordan. Keduanya benar-benar merasa aliran darahnya berhenti mendadak.
"Gue cabut dulu. "
Adellia lekas menggeser letak Tari dengan kasar. Enak aja!
"Oi, panu widjaja! Eh Defrian!"
"Sebutin nama lo yang bener dulu elah! "
Cowok itu tidak mengubris Adellia. Langkahnya mantap meninggalkan ruangan UKS tanpa sekalipun menoleh.
"Tuh kan jadi pergi dianya, lo sih Tar!"
"Kok gue?"
Adellia memberenggut lantas memalingkan wajahnya kesal. Tunggu aja ya Panu, lo bakal gue hantuin.
__ADS_1