
Batu yang terus tergerus air saja bisa berlubang
Apalagi hati yang terus kau buat tak berkutik dengan sikapmu yang terlewat menggemaskan.
🌜🌜🌜🌜
Ting!
Suara dentingan ponsel memecah konsentrasi pemuda tampan berbalut jas dengan dalaman kemeja putih. Kedua alisnya menukik tajam tatkala netranya menngkap pesan singkat yang mengisi ponselnya, ia menggeram tertahan,sejak kapan auksa memperbolehkan anak buahnya mengirim pesan tak beretika semacam ini !
Auksa memejamkan kedua matanya rapat, ia tak punya waktu untuk menanggapi, ia juga tak ada waktu untuk mengurusi anak buah yang membangkang. Situasi tak mendukungnya. Berkas terpenting perusahaan menghilang tanpa jejak, hal itulah yang membuatnya harus beralasan karena tak mampu hadir di acara pak alve - pengusaha besar yang popularitas nya hampir menyamai perusahaan milik auksa.
Hah.... Auksa hanya berharap kalau orang itu dapat mengerti alasan yang dibuat olehnya. Namun, bukan hanya hal tersebut yang membuatnya begitu geram, perusahaanya dikepung di berbagai sudut, anak buahnya sekaligus sekertaris yang ia kira begitu setia tiba tiba saja berkhianat.
"dimana? "
Pertanyaan auksa yang lebih mirip pernyataan membuat pemuda jangkung disebelahnya mengerutkan alisnya.ia rak paham, namun tak mungkin ia menyuruh bosnya untuk mengekangi perkataanya.
"raynond"
Arvan stemford deraga,
menganggukkan kepalanya mengerti.ia memang dipaksa untuk mengerti setiap kata yang diucapkan auksa, terlebih lagi ketika secara mendadak auksa memberinya titah untuk mengisi posisi sang penghianat.
Sigap, arvan menilik papan tipis yang sejak tadi ia bawa,jari jarinya lincah memencet berbagai menu yang terpampang di dalam benda tersebut.
"jumlah total 254 orang yang tengah mengepung perusahaan pak. Menurut data yang telah dikonfirmasi, tak ada raynond dalam pasukanya. "
Auksa memijat keningnya yang terasa berdenyut, entah bagaimana lagi caranya membungkam para saksi mata kalau Raynond saja mengerahkan pasukanya tanpa menilik akibatnya lebih dalam lagi. Auksa meraih topi hitamnya lantas memasang kacamata transparan .auksa mendesah, musuh begitu banyak mengepung, kalau ia tak segera bertindak, bisa saja PT. dewanta group berada di ambang kejayaanya.
"s571,serang bagian timur, s24 dan s10 serang bagian barat,"
Ujar auksa sembari memencet tombol merah di sudut kacamata transparanya. Perlahan tapi pasti, berbagai gambar muncul dalam benda tersebut. Auksa mendesis marah, ia kembali mengarahkan pandanganya ke arvan yang kini menunduk. Bagaimana mungkin ia kecolongan, raynond jelas jelas sudah menyusun rencana sampai posisi pasukanya nampak terstruktur.
"kerahkan anggota inti.jangan biarkan kaki mereka menjamah lantai perusahaan. "
Arvan mengangguk takzim, jari jarinya kembali sibuk dengan benda kotak dalam genggamanya. sedang auksa,pria itu tengah meraih kaos tangan hitam beserta katana kesayanganya, ia harus mengurus aldinofrans,pria tak tahu malu yang malah memilih menghianatinya.
Ting!
Auksa melirik ponselnya malas, ia sedang dalam mode tak mau diganggu.
Auksa berdecak lantas mengirim balasan, bisa bisanya ia merekrut anak buah yang tak punya sopan santun semacam ini.
Pacar? Ck, jangan bilang cewek perusuh yang sedari kemaren mengusiknya. Auksa memakai kaos tanganya cepat, lantas memasang masker hitam pada mulutnya.
"arvan"
Arvan menoleh, netranya menangkap auksa yang telah bersiap siap,
"tugas lo"
Perlahan, arvan mengangguk. Tanpa diberitahupun ia sudah tahu tugasnya apa. Auksa menarik nafasnya,lantas memencet tombol merah yang berada di sudut kacamatanya.
"s421 disini pak"
"s241 jinakkan bom yang berada pada lantai 4 dekat lift,juga lantai dua kantor ruang 16,alihkan perhatian mereka. Lalu segera bunuh tanpa sisa"
Tit
"s25 berada pak"
__ADS_1
"evakuasi para karyawan, beri tahu mereka bahwa ada hal mendesak yang harus segera diatasi. Jangan sampai mereka tahu kalau hal sebenarnya yang terjadi adalah pengepungan. Buat tak ada satupun dari mereka yang merasa curiga. "
"baik pak"
"arvan"
Arvan mengalihkan atensinya lagi ke arah auksa.
"kunci ruang dua lima di lantai tiga, ruang eksekusi di lantai dua belas, ruang rapat anggota di lantai sepuluh, dan ruang darurat di lantai sembilan pakai sandi. Lapisi sandi tersebut dengan berbagai enskripsi, pastikan agar tak bisa dibobol. "
"siap pak"
Ting!
Astaga! Mau sampai kapan sih adellia menganggunya.
Juan?? Juanda legarvin alfadiaraga ?
Auksa menggeram, ia begitu sensitif mengenai semua hal tentang juan. Auksa kembali memencet tombol merah di sudut kacamata transparanya, ia hampir lupa kalau ada masalah yang lebih serius dibandingkan si juan.
"s517 berada"
"urus perizinan mengenai ketidakhadiran gue di acara pak alve, gimanapun caranya lo harus buat pak alve tudak curiga. "
"s30berada"
"tahan, jangan sampai polisi dan aparat lainya tahu. Selesaikan secepat mungkin. Buat berita palsu tanpa melibatkan perusahaan dewanta. Jika ada satu media yang berani dan dengan keras kepala membeberkan. Tumpas mereka tanpa sisa. "
"baik pak"
Auksa melirik pesan dari adellia sejenak. Lantas ia segera meraih katananya erat. Ia tak peduli, mau adellia yang diapa apain juan, atau mungkin sebaliknya, auksa tak memikirkan hal itu. Terserah adellia ingin berbuat apa karena hal tersebut adalah haknya sendiri, auksa tak perlu bersusah payah untuk mengurusi.
Sejenak auksa mengangguk kecil ke arah arvan, pria itu membalas anggukan auksa takzim.
"lo tahu apa yang harus lo lakuin"
"saya tahu pak"
" gue serahkan urusan disini sama lo"
"baik "
Auksa membalikkan badanya, lantas tanpa berlama lama lagi auksa memecah jendela yang berada tepat di depanya, lalu dengan nekat terjun untuk mengejar seseorang yang dengan berani menghianati kuasanya.
********
Lelaki bersetelan serba hitam tengah melompat dari satu gedung ke gedung lainnya. Tepat di depannya terdapat pria tanpa topi yang begitu dikenali olehnya, rambut si pria yang panjang nampak berkibar karena kegesitannya berlari.
Auksa menggeram, Ia paling membenci yang namanya penghianatan. Terlebih lagi ketika ia tahu, ternyata penghianat yang dicarinya tak berada jauh dari jangkauannya.
Gesit, auksa menghindari senjata kecil namun tajam yang mengarah ke arahnya. Gigi auksa bergemeletuk, ia bodoh! dengan mudahnya auksa menyerahkan semua tugas ke Aldino Frans, Bahkan ia menjadikan pria itu sekretaris kantornya. Jika sedari awal ia tahu kalau aldino bakal berkhianat dan membentuk komplotanya sendiri, ia tak akan segan-segan menggelindingkan kepala aldino dan menyobek organ tubuh pria tersebut lewat anak buahnya.
Sring
Lagi dan lagi auksa menghindari sebuah peluru berkecepatan kilat yang menuju ke arahnya. sejujurnya ia sedikit tak percaya, orang yang nampak takut dan ciut di depannya kini memilih jalan mengkhianatinya. jelas saja ia tak menemukan si Pencuri berkas jika orang yang ia beri perintah adalah dalang dari segalanya.
__ADS_1
Auksa mempercepat larinya, beberapa anak buah yang dibawa aldino telah lama tumbang karena tebasan katana miliknya. Tak jarang kepala mereka menggelinding dari atas atap dan terjun bebas ke tanah. Anak buah auksa lebih suka menyiksa dahulu sebelum membunuh, namun auksa justru sebaliknya. Ia lebih baik menebas lawannya satu kali agar tak mendengar riuh kesakitan yang keluar dari mulut mereka lebih lama.
Jika terpaksa ia harus mendapat informasi lebih cepat dan akurat, ausak memilih menyuruh ke anak buahnya yang menyiksa dan tak mengotori tangannya. Auksa lebih berperan mengamati dan memecahkan permasalahannya.
Sret
Auksa melompati gedung untuk kesekian kali, kemampuan aldino memang tak mampu ia ragukan. pria itu gesit,dia seorang hacker handal juga salah satu anggota inti dari kelompok rahasia yang dibangun oleh ayahnya.
Sring
Klatak
Auksa menangkis peluru yang mengerah ke arahnya dengan katana. gigi auksa bergemeletuk keras, sudahlah ia tak mau bermain-main lagi. Lantas, auksa melompat tinggi, tubuhnya melenting jauh dan sukses mendarat di depan aldino yang siaga dengan senjatanya. Aldino meneguk ludahnya kasar, ia memang ahli dalam segala hal, termasuk membunuh lawan tanpa terlihat bagai bayangan. Namun ia tak bodoh, laki-laki yang kini menghadang langkahnya adalah gurunya sendiri. Orang yang mengajarinya berbagai taktik serta jurus juga merekrutnya sebagai anggota inti sekaligus sekretaris PT dewanta group. Auksa memajukan langkahnya dengan katana yang teracung mantap ke arah Aldino. Refleks, pria tanpa topi itu memundurkan langkahnya.
" penghianat! "
kata auksa yang penuh penekanan membuat tubuhnya bergetar, sigap Aldino mencondongkan pistolnya.
"kenapa ?"
auksa mendekatkan katanya ke leher Aldino. Aldino terkekeh sinis, sorot matanya menajam.
" ayah anda telah membunuh papa saya "
Auksa yang terlatih dalam setiap situasi menyerigai, terkejut jelas dirasakan olehnya ,namun sebisa mungkin ia menormalkan ekspresi. Lagian, dewanta rios alfadiraga bukanlah seorang pria yang menyimpan banyak belas kasihan. sudah pasti pria itu telah membunuh banyak orang sesuai yang diinginkan olehnya.
"gue nggak tahu"
Aldino berdecih, cepat ia menarik senjata yang bertengger di punggungnya. lantas membuang pistol ke sembarang arah. pedang yang mengkilat dengan aura darah yang pekat teracung tepat di depat auksa.
"ck, bapak auksa yang terhormat, saya tahu kalau si dewanta itu laki-laki brengsek tanpa hati. Saya juga tahu rumor kalau pak dewanta tak pernah pandang bulu dalam hal membunuh"
"tapi gue nggak percaya kalau lo nggak tahu bokap gue!"
Teriak Aldino sambil menyerang auksa dengan pedangnya. Auksa mengelak dan menangkis. Gerakan mereka yang lincah bahkan tak terlihat, hanya suara berdenting ngilu yang terdengar di malam hari.
Mata auksa menajam, Aldino Frans bukanlah lawan yang mudah. apalagi setiap gerakan pemuda itu adalah taktik dan jurus yang diajarkan olehnya. Ia harus menghambat pergerakan pria itu entah dengan cara apa.
"gue nggak peduli, mau bokap lo mati atau tidak itu bukan urusan gue. Yang jelas, gue harus lepasin kepala pengkhianat yang berani usik kehidupan gue. "
ujar auksa tak lagi mengelak. Ia mencari celah dari berbagai sudut. tebasan kelima sukses membuat lengan aldino terpotong.
Sigap ,Aldino mengalihkan pedangnya ke tangan kirinya, gerakan menyerangnya sangat cepat namun tak mampu menandingi auksa. Kedua orang itu saling menyerang tanpa henti, aldino merasa kewalahan namun ia tak mau membiarkan auksa mendapatkan kemenangannya. Ia harus membuat auksa terpuruk karena perbuatan ayahnya.
Sring
Ctak
Akhhhhh!!!
Teriakan Aldino tertelan suara binatang malam, kedua tungkai kakinya terpotong,hal itu tentu membuat badannya rubuh tanpa diminta. Auksa menyerigai, ia menatap aldino yang kini nampak tak berdaya. Jujur, baru kali ini ia menebas anggota badan selain kepala dengan tangannya sendiri. Ia terpaksa, ketergesitan Aldino membuatnya mengambil keputusan itu. Rasa tak tega Sebenarnya masih dimilikinya, namun ia sadar, tak seharusnya ia membiarkan seorang penghianat tetap hidup dan mericuhi kehidupannya.
"lo salah ngambil keputusan aldino" aldino menyerigai, pria dengan darah berceceran itu menatap auksa benci.
"gue nggak menyesal ",
Auks berjongkok ,ia mendekatkan bibirnya ke telinga Aldino lantas membisikkan sesuatu.
"lo bodoh. Sama aja lo serahin keluarga lo ke gue.jangan terkejut jika nantinya ibu lo nyusul ke neraka "
Ujar auksa tersenyum smirk. Aldino menegang ia menetap auksa geram.
"jangan sentuh nyokap gue sialan"
Dengan sisa tenaga, aldino mengacungkan pedangnya. Jujur, ia takut, ia tak mau melihat mamanya pergi meninggalkan dunia. sebenarnya ia tahu konsekuensi dari keputusan yang dipilihnya ini. namun ia bisa apa ? dendam membuatnya memilih memberotak dari perlindungan auksa.
Clang
Auksa menyingkirkan pedang aldino dengan mudah. Lantas tanpa aba aba, ia segera menebas kepala aldino tanpa belas kasihan. Auksa mengeluatkan nafasnya berat, bercak darah memenuhi bajunya, kedua netranya kosong. Lengan Aldino yang tadinya teracung refleks terjatuh lemah. Kedua mata pemuda itu terbuka lebar. Tak sengaja sesuatu menarik perhatian Auksa,ia tersentak, sebuah kertas kecil nampak menyembul di sakubcelan aldino. Pelan, auksa meraih kertas tersebut. Mata auksa membulat, tubuhnya melemas. Tak mampu lagi ia berkata-kata. Kejadian itu kembali menghantui pikirannya .kepala auksa berdenyut,
__ADS_1
Brukk!!
Auksa jatuh bersimpuh, pemuda itu memegang kepalanya yang terasa nyeri. Tragedi itu kembali merasuk kedalam pikiranya. Auksa menggerang, ia benci ayahnya, ia benci dewanta yang memaksanya menjadi sosok bengis tiada hati.