
Ruangan berukuran besar dengan warna cat yang hampir pudar nampak dalam pandangan. Serangga seperti kecoa dan sejenisnya hilir mudik tanpa tahu malu.
Bahkan banyak sarang laba-laba yang menempel di sudut-sudut. Seorang lelaki melirik arlojinya sekali lagi. Satu jam berlalu. Kakinya sudah mulai kebas karena diajak berdiri. Ia juga mulai meragu, gadis yang ditunggunya tak kunjung tiba. Lagi, entah ke berapa kalinya dia menggeram. Memupuk berbagai emosi yang sedaritadi bersiap meledak. Adellia Alexa Alfadiaraga . Tidak mungkin surat itu belum sampai, dia sudah memeriksanya tadi sebelum memulai beraksi. Lelaki itu mendesis, tangannya melempar pisau mengkilat dengan sembarang. Tepat! Pisau runcing itu menancap di kaki meja yang tak bisa berdiri tegak. lain kali, Rencananya harus berhasil.
"Bel, gue nggak bakal nyerah. " Ujarnya lantas menghempas topinya asal. Dia benci ketidakberdayaannya. Bahkan ia muak dengan sikapnya yang terus saja bersembunyi bagai bayang. Semua ini dia lakukan demi Bella. Iya, gadis cantik yang terenggut bahagianya oleh semesta.
"Auksa, cowok brengsek itu harus bertekuk lutut. Bagaimanapun caranya gue bakal terus cari titik kelemahannya. Dan Adelia, hahaha akan gue bunuh dia tidak lama lagi kalau kehadirannya hanya jadi pengganggu. " ujarnya memasang Seringai, lantas meninggalkan ruangan kumuh yang tak berpenghuni itu.
.
.
.
Semilir angin menyibak poni Adellia. Namun sayang, mentari yang masih saja terik tak mengizinkannya merasa sejuk barang sekali.
"Kakinya naik. Berdiri yang tegak! "
Adelia mendengus. Auksa mudah sekali berubah-ubah mood. Kadang diam bagai batu, kadang juga cerewet bak guru matematikanya.
" Yang fokus. Badan kamu goyang-goyang. "
" Lah Asik dong, sekalian dangdutan. "
" Berani lawan? Aku laporin nih. "
"Hish! Dasar cepu. "
Umpat Adellia sebal lantas melirik Pak Joko sinis. Beraninya si guru berambut hampir botak itu menggodanya dengan satu gorengan buatan Mak Siti dengan nikmat lalu menawarinya dengan wajah menyebalkan.
" Telinganya ditarik. "
" Udah Sa, udah. Telingaku udah merah gini loh, "
Auksa mengangguk. Cowok dengan surai berkibar terkena angin itu duduk tepat di samping Pak Joko. Satu tangannya mencomot gorengan di piring sesekali menyeruput es teh dengan nada nikmat.
" Makasih loh Den, "
" Iya Pak, "
" Besok-besok traktir lagi Den. " Canda Pak Joko bersama tawa khas kebapak-bapakannya.
" Siap Pak, yang penting setiap dia bolos, nggak usah tanggung-tanggung kasih hukuman. "
"Jangan khawatir Den. Saya satpam taat peraturan. Neng Adel mah kecil. "
Adelia mengusap dadanya dalam semu. Sabar Del, ini ujian. Ingat, hanya makhluk bertakwalah yang dikasih ujian seberat ini. tenang Adel untuk dirinya sendiri.
"Besok-besok jangan bolos, " Mata Adellia memicing. Orang baru beberapa kali doang kok!
" Denger nggak? "
" Iya."
__ADS_1
" Belajar yang benar, "
" Iya, iya."
"Jangan iya doang."
" Cerewet amat sih! Panas nih! Jangan buat aku emosi mulu deh Sa, "
Adellia memalingkan wajahnya marah, tangannya masih memegang kedua telinga dengan kuat. Kakinya juga masih sempurna seperti posisi awalnya. Auksa mendengkus, ia meletakkan gelas es tehnya di samping sepiring gorengan juga sebungkus rokok Pak Joko.
" Aku nggak suka. "
Ujar Auksa tiba-tiba sembari berdiri disamping Adellia.
" Suka-suka aku lah, nggak usah ngurus. "
" Jangan bandel. Kamu udah mau UKK loh."
" Tahu! Kamu kan juga udah mau ujian."
Sentak Adellia sebal. Pada akhirnya, dia gagal memenuhi rasa penasaran nya. Padahal alamat yang tertera di belakang puisi begitu jelas dalam pandangannya.
" Lagi mikirin apa? "
Adelia tersentak. Tiba-tiba saja kepala Auksa sudah menyempil di samping lehernya. Kedua mata cowok itu menatapnya ingin tahu. Adellia yang tidak mau Auksa mengetahui detak jantungnya yang memburu, lekas menyingkir dua langkah ke kiri menjauhi Auksa. Cowok itu memasang senyum jenaka yang menyebalkan, lantas mengikuti letak Adellia lagi dari belakang.
" Kenapa? Grogi yaa? "
Lagi, wajah Auksa melongok melalui bahu kanannya dari arah belakang. Kedua matanya yang berwarna hitam kecoklatan menatap Adellia bagai hipnotis.
Jawab Adellia memalingkan wajah. Sialan! Tubuhnya kaku menolak Jalan otaknya. Wajah Auksa yang tampan, bibir tipis menggoda, bulu mata lentik dilengkapi hidung mancung menjamu kedua netranya. Adellia lihat tak mampu berpaling, sumpah demi apapun, Auksa begitu sempurna di matanya.
"Ya Allah Ya Rabb, Tabarakallah Subhanallah masyaallah, Kamu pacarnya siapa sih Sa? Bisa dosa aku lihatin kamu lama-lama. "
Auksa menautkan kedua alisnya. Bibirnya mengatup rapat.
"Kok tanya gitu? Kamu nggak akuin aku Del? "
Adelia tertawa pelan. Jari telunjuknya menyibak rambut Auksa yang menempel di dahi, lalu turun menyentuh bulu mata Auksa yang lentik bagai sulaman. Terakhir, dia mengapit hidung mancung Auksa dengan jempol dan telunjuknya.
" Sensi amat sih. Lagian Kata siapa aku nggak ngakuin kamu sebagai pacar? "
" Lah terus kenapa nanya? "Ujar Auksa setelah mengaduh sejenak akibat capitan Adellia pada hidungnya.
"Aku cuma heran aja, kamu kok bisa sih ganteng banget kayak gini? Ck! Udah ganteng, tinggi, keren, banyak duit, terkenal, banyak fans. Ya ampun, kamu borong semua stok tipe aku di dunia Sa. "
Jawab Adellia antusias, Auksa berdehem lantas memalingkan wajahnya yang memerah. Hatinya terasa dikerubungi kupu-kupu.
"Cieeee, salting nih yee. "
" Siapa yang salting? "
"Terus apaan dong kalau nggak salting. Enggak usah ngelak deh Sa, telinga kamu merah loh, "
__ADS_1
Ucap Adellia mencolek telinga Auksa kecil, tentu saja Auksa menyingkir merasa risih.
" Enggak bisa jawab kan? Hahaha lucu banget pacar aku. "
Auksa mendelik. Mana pantas dia disebut lucu di umurnya yang sekarang ini. Cowok pula!
" Adel, berdiri yang benar. Kamu kan masih dihukum."
" Alah alihin perhatian segala. Padahal kamu yang duluan aja aku ngomong. "
" Adel. "
Ujar Auksa penuh penekanan. Adellia mencibir, namun lekas menaikkan satu kakinya dan menjewer telinganya sendiri.
" Padahal Pak Joko nya aja udah pergi."
" Mau dilaporin?"
"Kok kamu sekarang cepu banget sih Sa? "
" Katanya nggak takut ."
Adelia mendengus. Auksa Pake mengungkit pesan yang dikirimnya beberapa jam yang lalu lagi . Ck! Nyebelin banget nggak sih?
"Yang bener Adel. "
Ishh! Sebel!
Adellia mendadak merasa dongkol dengan perlakuan Auksa kali ini. Berbeda dengan yang dirasakan oleh Auksa, cowok itu malah terkekeh kecil karena merasa terhibur dengan ekspresi Adellia yang menggemaskan. Auksa mengambil minuman dingin yang tadi dibelinya barengan dengan gorengan dan teh yang diminum Pak Joko, lantas mengulurkannya ke arah Adellia.
" Minum dulu biar nggak capek sana emosi. "
" Kan kamu yang buat aku emosi daritadi. "
Auksa tersenyum sembari membuka tutup botol. Dia mengamit lengan Adellia, bermaksud menggiring cewek itu untuk duduk di tempat yang tadinya disinggahi Pak Joko.
"Nih minum. "
Adellia menyambutnya setengah hati. Dia masih sebal dengan kekasihnya.
" Tadi kamu nanya ke aku kan, kalau senja yang dulu kembali lagi, apa yang bakal aku lakuin ke kamu nantinya? "
Adelia tersentak, ternyata Auksa mendengarnya. Ia lekas menoleh menatap Auksa yang tersenyum teduh. Auksa menyempilkan anak rambut Adellia di belakang telinga Gadis itu. lantas, memegang pipi Adellia lembut.
" Aku bakal tetap perjuangin kamu kayak saat ini. Senja yang dulu biar berlalu, yang ku punya sekarang kamu Adellia. Enggak ada yang bisa ubah dan gantiin kamu sekalipun itu Bella."
" Kamu yakin? " Tanya Adellia menyentuh tangan Auksa yang berada di pipinya lantas menggenggamnya erat.
"yes Adellia, i'm sure. Kamu nggak perlu takut aku ninggalin kamu nantinya. Karena pusat rotasi aku yang sekarang ini sudah sepenuhnya milik kamu. "
"Aku pegang ya janji kamu. Jangan bohong. "
"hahaha, iya Nyonya Alfadiaraga. As you wish."
__ADS_1
Jawab Auksa kecil sembari mengecup dahi Adellia, Adellia menahan senyumnya, Auksa benar-benar suka memporandakan tatanan hatinya tanpa permisi .