TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Salting


__ADS_3

Memang semesta yang kejam, atau aku yang terlalu tak berdaya terhadap permainanya?


🌜🌜🌜🌜


"turun"


Adellia menyipitkan kedua netranya. Sial,kok cepet banget sih nyampeknya! Gerutu adellia dalam hati sembari menutup kedua matanya rapat-rapat. Padahal adellia ingin menikmati waktu berduanya dengan auksa lebih lama.


"udah sampai ya sa? "tanya adellia berlagak tak tahu. Auksa mendengus sebal,dasar tukang drama! . Auksa begitu yakin kalau adellia sudah menyadarinya sedari tadi.


"belum"


Ujar auksa singkat. Adellia menyunggingkan senyum kemenangan, hal tersebut tak luput dari pengawasan auksa yang tengah menatap kaca spion.


"oh belum ya? Masih lama nggak? "


Tanya adellia sembari menyamankan letak dagunya di bahu auksa.


"masih"


"emang sekarang kita udah dimana? "


"baru di depan gerbang rumahnya adellia "


Adellia menolehkan kepalanya menatap raut datar auksa. Kedua alisnya mengerut.


"udah sampe dong? "


"belum,soalnya adel nggak mau balek rumah. Kayaknya dia pengen dipulangin ke Yang Maha Kuasa aja"


"ngaco!! "


Sentak adellia keras sampai membuat telinga auksa pengang bukan main. Auksa menggosok telinganya pelan, bisa budeg gue lama-lama.


"gue kira lo emang pengen gitu"


Jawab auksa tak peduli. Adellia mendelik, jarinya mencubit perut auksa keras.


"kayak gitu gimana maksud lo ha?! "


Ujar adellia gemas. Auksa mengeluarkan nafasnya sebal.


"makanya turun. Nggak usah pura-pura nggak tahu udah sampe mana. Tadi lo udah ngintip kan? "


Adellia menggembungkan pipinya. Ia bertambah mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang auksa sembari menggeleng.


"nggak mau"


Auksa berdecak. Telunjuknya mendorong dahi adellia .


"turun sana"


Adellia menyamankan posisinya kembali. Kepalanya masih saja menggeleng menanggapi.


"kok lo jadi manja gini sih"


"ihh biarin. Sama pacar sendiri emang nggak boleh? Salah siapa mau aja gue tempel-tempelin gini? "


Auksa melotot tak terima. Ia lantas membuka kaca helmnya untuk menatap Adellia yang merasa tak bersalah sedikitpun dengan ucapanya.


"bilang apa lo? "


"salah siapa mau aja gue tempelin"


Auksa memggeram tertahan, tatapannya yang mengarah pada adellia bertambah sengit.


"ulangi"perintah auksa penuh penekanan. Adellia meneguk ludahnya susah payah, ia lantas memasang ekspresi bodoh di wajahnya.


"enggak sa, enggak kok"


"bilang lagi coba biar gue dengerin. siapa yang mau ditempel tadi? "


"bukan sasa . "


Jawab adellia cepat.


"yang bener jawabnya"


"iya, ini udah bener. Bukan sasa. Bukan auksa. Gue yang maksa nempel nempel"


Ujar adellia sembari membuang wajahnya kesal. Auksa menyerigai, kena lo!


"siapa yang meluk gue karena katanya darurat?"


"adel"


"siapa yang tadi bilangnya gue dilirik cewek cantik sampe ileran? "


"adellia"


"yang bilang takut cemburu? "


"adellia"


"yang modus meluk meluk katanya biar anget? "


"ishh,iya adell"


"terus disini yang salah siapa? "


"nggak tahu"


Srobot adellia mengerucutkan bibir.


"yang salah siapa adel"


"nggak tahu sa"jawab adellia keki.


"siapa? "


"ck, ADEL! ADEL YANG SALAH! EMANG KENAPA?! "


Auksa meringis tatkala telinganya berdenging  nyaring lagi. Lantas, ia menyunggingkan senyum kemenangan.


"berarti konsep kalo cewek itu tak pernah salah, nggak bener kan adel"

__ADS_1


"jangan bawa konsep gue"


"adel"


"konsepnya bener. Cewek nggak pernah salah, adelnya yang salah"


"nggak cewek dong lo? "


Adellia mendesis membuat auksa tertawa kecil.


"ya udah sana balek. Udah puas kan gue ajakin jalan? "


"hilihh berasa ngajakin jalan keliling eropa aja lo"


Cibir adellia sengit. Pasalnya, setiap adellia meminta berhenti tatkala melihat beberapa jajaran toko, mall, atau yang semacamnya, auksa tetap saja menolak. Alasanya klasik banget. Nggak mau borosin duit buat adel, atau udah syukur lo gue ajakin jalan.


Ukhhh, gimana nggk sebal coba?!


"masih mending lo gue boncengin. Lo harus bersyukur -"


Kan! Kan! Adellia memutar bola matanya malas. Terserah aukprettt aja lah!


"iya, iya"


"turun adel. "


"bentaran elah, lagi proses"


"jangan lama-lama. Kasihan motor gue terkontaminasi. "


Adellia berdecak, ia lekas turun dari motor auksa sembari membenarkan letak tas sekolahnya yang tak rapi. Bersyukurlah adellia, karna berkat auksa dia jadi bisa pulang cepat -cepat tanpa dengerin omelan bu hanum.


"sana masuk"


"iya, pinjem tangan dulu"


Auksa melipat dahinya, namun ia tetap menurut.


Cup!


Auksa mematung di tempat. Dadanya berdentum hebat.


"ngapain?"


"salim"


"iya, kenapa lo salim ke gue?"


"y-ya gue nggak tahu"ujar adellia sembari menggaruk rambutnya yang berantakan. Auksa memalingkan wajahnya, semoga saja tak ada rona merah yang menghampiri telinganya.


"masuk sana. Jangan lupa mandi, lo bau banget"


Adellia mendengus, reaksi auksa tak seperti yang dibayangkanya.


"ya udah deh. Tapi cium dahi gue dulu"


"buat apaan coba? "


"ya biar afdhol dong. Gue kan udah salim tadi"


Auksa menipiskan bibirnya menahan umpatan.


Adellia menggeleng.


"cium dulu pokoknya "


Auksa mendesah. Ia lantas menyuruh adellia mendekat dengan ekspresi terpaksa .


"tutup mata"


Adellia tersenyum tertahan. Tak elak kalau jantungnya tengah berjoget ria di dalam sana. Auksa terkekeh kecil, ia lalu menyatukan semua jarinya sampai berbentuk kerucut.


"nih, "


Ujar auksa sembari menekan jarinya pada dahi adellia. Adellia mendesah kecewa.


"yang nggak kayak gitu"


Auksa mengacak surai adellia lalu membalik tubuh adellia agar memunggunginya dan mendorongnya pelan.


"yang penting udah gue kasih. Masuk sana,entar malem mobil lo dateng, udah gue pesenin. Nggak jadi sore soalnya ada kendala"


Jelas auksa sembari menutup kaca helmnya.


"saaa"


"masuk adel, gue putusin mau? "


Adellia menghentakkan kakinya sebal.


"dasar tukang ngancem. Sana pergi jauh jauh"


Auksa menyunggingkan senyum kecil. Sejenak ia mencondongkan tubuhnya ke arah samping agar lebih mendekat ke arah adellia.


"good girl. Gue pulang dulu. Jangan lupa mandi. "


Ujar auksa diakhiri dengan mengapit hidung adellia gemas, lantas segera menjalankan motornya meninggalkan adellia.


*****


Sial! Niat hati adellia yang ingin bersegera menghampiri kasur sembari menunggu mobil hadiah auksa terpaksa terhenti. Kedua netranya di hadapkan pada sesosok pria paruh baya yang tak ingin ia lihat. Adellia menatap tajam Alve yang menegakkan badannya .pria otu lekas berdiri dari duduknya setelah melihat adellia masuk ke dalam rumah.


"ade-"


"ada apa papa kemari"potong adellia karena tak mau mendengar. Alve membasahi bibirnya karena gugup. Sebagai ayah, tentu saja ia merasa sangat bersalah.


"papa mau minta maaf"


Adellia memejamkan kedua matanya rapat. Tak tahukah alve bahwa ia sangat terpuruk setelah mengetahui semua kebenarannya?


"adel udah bosen dengerin kata itu pa. Papa tahu kan apa jawaban adel"


Jawabnya sambil meremas tali ransel. Adellia menahan gejolak pedihnya sendiri. Baru kali ini ia tak mau menunjukkan kesedihanya pada sang papa. Seandainya adellia tahu kalau alve-lah yang salah, adellia tak akan berbuat kurang ajar terhadap mamanya.


"papa tahu adel, tapi beri papa kesempatan"

__ADS_1


Rasa marah, kesal, juga muak memenehi ruang pikiran adellia. Tapi ada secuil rasa tak percaya yang menghinggapinya. Semua ini terasa tak mungkin.


"papa nggak mau jelasin? "


Pertanyaan adellia membuat alve menarik nafasnya. Ia tak bisa. Belum saatnya ia menumpahkan cerita.


"nggak ada yang perlu dijelasin lagi, kamu udah liat sendiri adel"


Ungkap alve sembari menunduk untuk menyembunyikan genangan air yang memenuhi pelupuk matanya. Hatinya perih tak terperi.


"kamu harus berusaha terima kenyataan adel. Manusia akan berubah seiring berjalannya waktu"


Adelia menggeleng. Perlahan, ia mendekat ke arah Alve , lantas menggenggam lengan Alve begitu erat.


" Papa ingat, dulu Papa pernah bilang kayak gini ke Adel. Adel, yang kamu lihat itu nggak  sepenuhnya benar, penjelasan lebih penting didengar. karena semua orang punya sudut pandangnya masing-masing, mereka pasti punya alasan seriap kli melakukan sesuatu . "


"sekarang adel mau denger penjelasan papa. Papa bisa jelasin semuanya ke adel. Apa yang buat papa berbuat kayak gitu? Adel bakal coba ngertiin papa"


Alve memalingkan wajahnya, ia melepas genggaman Adelia halus. Ia tak mampu menampik kalau hatinya berdenyut nyeri. Sebrengsek itukah dia? Kenapa alve begitu tega menghancurkan hati anaknya sendiri.


" papa nggak perlu ngejelasin adel,  semuanya udah jelas. "


" Adelia nggak percaya pa,papa nggak bakalan selingkuh"


Alve memegang pundak adellia. Kedua matanya menatap adellia lekat.


"dengerin papa adel, nggak selamanya apa yang kamu inginkan itu bisa kamu realisasikan. Nggak selamanya apa yang kamu pikirkan itu nyata dan benar. Kmu harus belajar menerima adel. Ara anak yang baik, kamu harus coba menerima dia jadi kakak kamu"


"enggak pa,adel nggak mau. Anak papa cuman adel. Adel nggk butuh ara. Mau dia baik ataupun enggak semua itu nggk ngilangin. Kenyataan kalau sebenarnya dia itu cuman perusak. Paaa, adel pengen punya keluarga yang utuh kayak dulu. Balek ya pa, kita bangun sama -sama bareng mama. Kita buat lagi keluarga yanng lebih bahagia dari yang sebelumnya. "


"nggak bisa"


"kenapa!? Pa, jelasin ke adel kenapa papa nggk bisa lakuin itu. "


"waktunya belum tepat adel"


"sampai kapan pa! Sampai adel udah benci banget sama papa ? atau sampai masalah ini membusuk lama!? Pa! Jelasin sekarang biar adel ngerti"


"adel, terima ara ya nak"


Adellia berdecih. Ia mengusap air matanya kasar.


"ara, ara, ara?!sebenarnya niat papa kesini mau minta maaf ke adel atau mau promosiin ara sih pa"


"jangan paksa adel pa. "


"adel"


"cukup! Alasan papa nggk bis adel terima. Tapi kalau papa bisa balikin mama kesini lagi, adel bakal mencoba pikirin lagi"


"mama udah pergi adel"


"adel nggak peduli. Kalau papa emang butuh maaf dari adel. Bawa mama kesini dong. Papa juga harus jauhin selingkuhan papa itu. Sekalian jauhin si ara ara yang bikin papa berubah kayak gini"


"nggak boleh gitu adel, papa sayang sama mereka kayak sayang sama kamu"


"ya udah kalok gitu. Udah jelas kan jawabanya? Jangan harepin maaf dari adel lagi pa.kecuali kalau papa mau bawa mama kesini lagi"


"papa nggk bisa adel"


"papa cuman bilng nggak bisa tapi nggak berusaha buat nyari. Secara nggak langsung papa nggak ngarepin mama kesini lagi. Iya kan pa? "


"bukan gitu adel"


"terus apa?!"sentak adellia emosi.


"mama udah pergi jauh"


"samperin pa, beritahu kalau adellia butuh mama sekarang. "


Alve menarik nafasnya. Kepalanya menunduk, kedua bahunya bergetar kecil.


"mama pergi ke singapura adel. Papa nggk bisa maksa dia tetep tinggal disini"


Astaga! Air mata adellia meluruh. Dadanya berdenyut nyeri. Tak mungkin! Apa sinta memang berniat untuk meninggalkanya.


"bawa mama pa"


"maafin papa, mama kamu udah putusin semuanya adel. Papa nggak bosa maksa dia. "


Ungkap alve miris. Dia memang bisa langsung terbang ke singapura untuk menjemput istri yang amat dicintainya. Tapi Alve tak yakin kalau sinta akan menerima kehadirannya.


Adellia jatuh terduduk, tangisnya pecah dan tumpah ruah.


"huhuhu, paaa, jemput mama pa"


Rengek adellia lemah, rasanya adellia tak punya semngat untuk hidup. Pastinya mamanya pergi membawa kekecewaan jug lara hati.


"mama udah putusin semua adel. Ppa nggak bisa paksa mama buat balek kesini lagi"


"terus papa mau diem aja kayak gini!?"


Alve mendekat, niat hati ingin membawa adellia dalam rengkuhannya terhenti karena adellia segera menampik lengannya. Alve tersentak, rasa sakit mendera sudut hatinya teramat dalam.


"bawa mama kesini"


Pinta adel penuh penekanan. Alve tetap saja menggeleng.


"nggak bisa adel"


"bawa mama kesini!! Bawa mama kesini lagi pa!!! BAWA MAMA KE HADAPAN ADEL LAGI!! "


"adel"


"PERGI!!!"


"adel maafin papa"


"CUKUP! jangan balek kesini sebelum papa bisa buat mama kembali"


Alve menggeleng keras. Tak bisa semacam itu!


"adel-"


"pergi pa,pergi!!! "

__ADS_1


Alve menahan sakit di hatinya. Lantas secara tak ikhlas ia pun mengangguk.


"papa akan kembali lagi adel"


__ADS_2