TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Super kentut


__ADS_3

Biar hati dan pikiran bertikai


Saling beradu argumen dalam kuasa semesta.


Entah mengeluh atau bersyukur pada takdir yang mempertemukan kita.


🌜🌜🌜🌜


Sesosok lelaki berpostur tegap menatap layar komputer penuh teliti. Seragam putih abunya masih menempel rapi karna hari juga masih menunjukkan waktu pagi. Rahangnya yang kokoh mengeras tanpa permisi, dilihatnya beberapa rekaman cctv yang menyorot pada ruangan pribadinya. Sialan, siapa karyawan yang berani beraninya membobol pengaman dalam pintu kantornya?   


Laki laki itu mendesis sinis, ia tak menyangka kalau kode pengaman miliknya bisa dibobol secara sembarang seperti ini, apalagi orang yang meretas jelas jelas memakai seragam karyawan.


Auksa menghembuskan nafasnya berat, lagi dan lagi ia harus merelakan jam sekolahnya tersita. Sudah berapa pelajaran yang ia tinggalkan saat ini? Banyak, dan pastinya bertumpuk-tumpuk. Jika saja ponselnya dalam keadaan mati, ia tak akan dengan sigap pergi ke kantornya lantas bertekad menyelesaikan semua masalah tersebut hari ini juga. Auksa menggeram, kenapa harus berkas terpenting yang menghilang?


auksa memejamkan matanya rapat, lantas ia menggebrak meja kantor dengan keras.


Aldino frans berjengit kaget, melihat auksa yang dikuasai amarah membuat nyalinya menciut.


"siapa? "


Aldino frans meneguk ludahnya kuat, ia hanya menggeleng kecil untuk menanggapi. Jujur, semenjak ia tahu perkara ini, aldino frans langsung menginterogasi semua karyawan termasuk orang bawah yang berpotensi berada dalam lingkupan perusahaan. Namun tak sedikitpun ia menemukan jejak, semuanya nampak bersih dan terencana. Terbukti kalau orang tersebut mampu membobol kode rahasia yang hanya atasanyalah yang tahu.


"maaf pak, saya sudah menginterogasi semua karyawan juga memeriksa mereka. Tapi saya tak menemukan hal hal yang mencurigakan?"


Auksa memijat pangkal hidungnya. Mengapa masalah gemar menyapa kehidupanya?, kasar ia meraih ponselnya yang diam tak bergerak sedari tadi. Lantas jarinya sibuk mengetik mengirim perintah. Masalah ini harus segera ia tindak lanjuti.


*******


Hahh,


Nafas berat keluar dari bibir mungil seorang gadis berkuncir kuda. Malas, ia menggelung surainya dengan pulpen yang tak lagi mengeluarkan tinta. berkali-kali ia menguap bak kuda nil. Lantas mengucap matanya yang pedas.


Pelan ia menoleh, matanya mengamati dion yang telah berkutat dengan kertas lipatnya. Cowok itu Bahkan tak terlihat sekalipun mengangkat pena demi menjawab soal ulangan. Matanya beralih menatap putri semata wayang keluarga wirdatama. Gadis yang entah mengapa tak pernah absen memakai kacamata hitam layaknya berkunjung di pantai. tari malah tampak bermalas-malasan. sesekali mulutnya meniup kutek yang baru saja dipolesnya. Kadang ia heran dengan gurunya yang memilih diam dan tak menegurnya.


Hahh


Dengan berat adelia mengeluarkan nafasnya lagi. Mungkin saat itu,ia mengingau hingga memilih jurusan sains. menghadapi soal SMP saja ia uring-uringan, apalagi kini ia dihadapkan soal ulangan bernama matematika. sama saja ia menghindari bekerja di Juanda kalau ujung-ujungnya juga dapat asupan semacam ini di sekolah.


  Perlu diketahui kalau tadi bos barunya yang kata reza jebolan kutub utara itu sempat mengirimnya pesan singkat. Pria berlogo es itu menuliskan sederet kalimat yang tak ada kata jauh dari pekerjaan.


Bisa nggak sih sehari aja nggak ada kata kerja?


Tapi bagian yang lebih menyebalkan adalah pria yang setiap harinya memandangi dan berkutat dengan berkas itu mengirimnya video CCTV, jelas ekspresi heran tercetak dalam  wajah adelia, ketika tahu kalau dirinya saat itu tengah diawasi. Apalagi, ia tertangkap basah kabur dari tanggung jawabnya.


Ting


Denting HP memecah lamunan adelia. Sontak kepalanya menoleh ke kanan kiri mencari pelaku. terlihat Bu Rina yang tadinya sibuk dengan kertasnya terkejut sampai berdiri dari duduknya.


"Siapa yang berani mengaktifkan ponsel pada jam pelajaran saya"


Adelia bungkam, begitupun siswa lainnya. sejenak ia menatap tari dan dion yang sepertinya juga tengah kebingungan. Siswa yang mengaktifkan ponsel benar-benar mencari mati. Apalagi sebelum ulangan ,si guru cantik namun killer itu sudah memberi arahan mengenai benda kotak tersebut.


Ting!


"jawab saya! siapa yang mengaktifkan ponsel. Saya sudah bilang ya, nggak ada yang boleh main ponsel di mapel saya. Apalagi sekarang ini lagi ulangan, "


"masih nggak ada yang mau ngaku ha!! Kalau nggak ada yang ngaku, satu kelas harus bertanggung jawab menerima hukuman. "


"yah, nggak adil,masak satu kelas sih"


Gerutu cewek disebelah adellia pelan.


"oh, masih nggak ngaku juga. Mau saya tambahin ulangan susulan sepulang sekolah nanti? "


Terdengar helaan nafas tak terima dari berbagai sudut. begitupuwn Adelia, ia juga tak rela jika otaknya diforsir untuk berpikir hal yang seberat beban hidupnya.


Ting!


Adelia berdecak,


siapa sih pelakunya?


Kalau ketemu sudah dipastikan ia akan mencabik-cabe wajahnya, bibir adelia mengerucut, kedua matanya berniat melirik ke arah sepatu yang talinya terlepas, namun betapa terkejutnya ia ketika retinanya menangkap layar ponsel yang tengah menyala di dalam laci meja.


Drtttt drttt drttt


Mata Adelia melotot,


Tidak! jangan bilang kalau pelakunya adalah dirinya sendiri!


Adelia menelan ludahnya kasar. Apalagi ketika didapatinya bu rina yang menatap seisi kelas dengan pandangan lapar. Kaki bersepatu high heels itu mulai melangkah, mungkin berniat berkeliling mencari pelaku.


Ayo adel ayo cari cara,

__ADS_1


    Adelia duduk gelisah. Digigitnya bibir karena gusar. Ia benci ketika otaknya tak mampu diajak kompromi dalam waktu tak menguntungkan seperti ini. Sempat-sempatnya ia memaki karena lalai mematikan ponselnya.


Ting!!


Kini nada deringnya berganti dengan suara berdenting lagi. Keringat adelia mengucur melewati dahinya.


siapa sih orang yang berani membuatnya berada antara hidup dan mati?


" mau ngaku sekarang atau saya yang nyari? Tapi kalau ketemu, Nggak ada toleransi lagi "


Ujar bu rina galak, tangannya kini telah lincah menggeledah laci juga tas milik saputri, cewek childish yang duduk pada barisan depan. Adelia menggigit bibirnya sembari meluapkan rasa gusarnya pada kuku yang menggesek meja.


"saya hitung sampai sepuluh, satu!!... "


Dada Adelia berdentum, apalagi Bu Rina tengah mengucapkan angka ketiga.


" eh eh Ibu nggak percaya sama saya?"


Suara bariton membuat adelia menatap cowok berhobi baca buku novel dengan dasi yang mengikat kepalanya. Terlihat jelas rizki tak terima jika isi tasnya digeledah. tak jadi rahasia lagi jika cowok yang juga menyimpan hobi berdagang menyimpan dagangnya dalam tas. Namun bu rina tetap kukuh, ia tetap menyeret tas riski tanpa ampun. Walau ujung-ujungnya badannya terhuyung karena tiba tiba saja rizki melepas cekalan pada tasnya pasrah. bu rina mendengus kasar ,ia menumpahkan segala isi tas rizki yang mirip toko berjalan.


" astaghfirullahaladzim, Ini apaan ki?"


pekik bu rina tatkala barang barang riski berjatuhan. Rizqi menyengir tanpa dosa, jangan salahkan dia, tapi salahkan bu rina yang keras kepala.


" kan,kan,kan, Ibu jadi kagetkan? saya tadi udah bilang jangan, eh masih saja di geledah "


Bu rina mendengus sebal, mana tahu kalau bakal jadi kayak gini ujungnya?


"kamu mau nyaingin kantin sekolah ki?"


"bukan mau nyaingin bu, saya lagi menyalurkan bakat biar manfaat dunia akherat"


"sok"cibir bu rina menimpali,


"eh ngeyel, bakat kayak gini emang harus dikembangin bu, "


"biar apa?"


"ya biar kaya dong"


Ujar rizki berbangga diri. Tapi bu rina malah sibuk meraih benda kenyal yang berada dalam wadah plastik kecil.


"tapi kamu kok nggak kaya kaya ki? "


Bu rina mengangguk pura pura mengerti. Lantas guru cantik tersebut menyodorkan buku bergambar hewan ke arah rizki.


"yang ini berapaan? "


"wah bu rina pinter pilih barang, yang itu 50 rebu bu, nggak bisa ditawar lagi"


"pemerasan, buku kayak gini seharusnya udah nggak laku loh. Dihargain sepuluh rebu aja udah syukur ,apalagi gambarnya mirip kamu kek gini"


"itu monyet bu, "


"ya iya ibu tahu, mirip kamu kan? "


"lima ribu aja deh ki, "


"yeee, nggak boleh!"


"kalau mahal mahal nggak bakal ada yang beli. Kasih korting lah, sama guru sendiri juga"


"ini namanya strategi perniagaan, kalau udah lima puluh rebu, ya udah lima puluh rebu ,udah fix ini, kalau mau dibeli ya ayok, kalau nggak dibeli ya harus beli"


"maksa"


Di tengah tengah perdebatan panjang rizki dan bu rina,adellia masih ketar ketir di tempatnya. Kedua bola matanya menoleh kekanan kiri, Adelia yang menemukan celah , tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut sedikitpun.


"tar tari tar! "


Tari mengalikan pandangan, ia menatap adellia intens.


"Apaan ?"


Jawab tari tak kalah kecil berbisik. Dion yang aneh dengan perilaku keduanya hanya menoleh bergantian ke arah kedua sahabatnya.


"ponsel gue"


"ha....! "bisik tari, sambil mengawasi bu rina yang masih sibuk menawari sedang rizki menunjuk harga tertinggi.


"ponsel gue yang dari tadi bunyi"


"perkedel goblok"

__ADS_1


Tari mendelik sambil menepuk dahinya tak habis pikir.


"matiin Adel, cepetan"


Ujar tari ,namun sialnya tak terdengar di telinga Adelia.


"Apaan tar kurang keras? "


"matiin ponselnya goblok"


Adelia gelagapan, tangannya meraba-raba lagi meja. namun belum sempat ia meraihnya, suara bu rina mengagetkan aksinya.


"Adelia Alexa agantara, kamu ngapain!?"


Adelia menjilat bibirnya menetralkan rasa gugup, cepat-cepat ia memikirkan cara untuk menyelamatkan hidupnya.


"anu Bu itu,"


"anu anu apaan ? bilang itu yang jelas."


"itu loh bu , emmmm, aduh !bu !!!!sakit banget!!! kebelet nih"


"Aduh udah nggak tahan"


Bu rina mengerutkan dahinya bingung .Tiba-tiba saja adelia bertingkah aneh


" beneran Ibu udah sampai pucuk "


Untuk memaksimalkan aksinya, adellia berdiri lantas membungkukkan badan. tanganya memegang perut kuat-kuat dengan muka yang dibuat sedramatisir mungkin. Adelia tahu kalau ia tak bisa berbohong, jadi sebisa mungkin ia berusaha untuk terlihat meyakinkan.


"maksudnya apaan sih?"


Adelia menahan decakannya,


matematika aja yang pintar, masalah kayak begini  malah lemot.


"Astaga , saya kebelet BAB bu! "


Ujar Adelia geram. sontak saja perkataanya mengundang gelak tawa. sumpah, ia benar-benar ingin bersembunyi di balik karung kalau bisa.


Bu rina tampak memandang adellia selidik, mungkin ia menangkap gerak gerik adellia yang mencurigakan.


"diboleh in aja bu, lihatin tuh adellia udah kayak kebelet lahiran."


Adellia menoleh cepat, kedua matanya melotot ke arah dion.


Sumpah Adelia pengen banget tampol mulut dion, namun ia bisa apa ?


" iyain deh Bu kasihan banget tuh perkedel, "


Ujar tari memanas-manasi . Sekali lagi adellia memilih pasrah,biarlah sahabatnya bertingkah sesuka hati untuk kali ini, tapi nggak boleh untuk besoknya lagi.


"kalian nggak berniat bohongin ibu kan?"


"jangan nething bu dosa. "


balas dion membuat bu rina mencibir.


Adellia menggigit bibir, kalau tetap kayak gini, bisa-bisa ia nggak jadi selamat, apalagi bu rina orangnya teliti banget. Lantas, tanpa berlama lama lagi adellia menghitung mundur .ia sudah memantapkan tekadnya.


Tiga....... Dua.....dan


Satu


Preeeeeeet!!!!!


Hening.


Seisi kelas mendadak terpaku di tempatnya. Adellia menutup matanya rapat. Sial, malu banget gue!


"iuhhhhhh, adel jorokkk"


Pekik tari tanpa filter, adellia berdiri lemah, ah sudahlah, wajahnya kini tak lagi bernilai.


"kamu nggak sopan banget sih"balas bu rina setelah terdiam lama, adellia meringis kecil.


"sana keluar, besoknya lagi kalau mau kentut ngode dulu, jangan sembarangan semprot "


"duh mencemari udara yang saya hirup ,sana pergi, dituntasin sekalian"


Usir bu rina menutup hidung, adellia mengangguk kecil, ia segera keluar dari kelas namun tak lupa memungut ponselnya yang berada di atas meja.


Thanks kentut berkat lo gue selamat.

__ADS_1


__ADS_2