TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
She is mine


__ADS_3

..."gue mau dapetin bahagia disini yon. Gue nggak mau kalau masalah rebut senyum gue dihadapan kalian....


...Gue nggak mau kelihatan butuh dikasihani....


...🌜🌜🌜🌜...


Puk!


Dion menyingkirkan jaket tebal yang menutupi wajahnya secara tiba-tiba. jaket bergaya Korea itu menghalau sinar matahari yang mengeringkan air matanya.


"yon "


Dion tersentak di tempatnya , mulutnya yang tadinya hendak memaki karena sebuah lemparan jaket mendadak terhenti. Dion membuka kedua matanya, kepalanya menoleh untuk menangkap sosok adellia yang memasang senyum terpaksa.


Bodoh! Bagaimana mungkin ia melupakan wangi vanila dari sebuah jaket yang menimpanya! Bukankah barang ini adalah pemberianya sewaktu adellia ulang tahun yang ke-15 tahun,


" Maaf ya Yon, Gue nggak bermaksud sembunyiin semua itu sama lo "lirih Adelia. Dion menyandarkan kepalanya di batang pohon lagi. Angin masih setia mengibarkan helai rambutnya, juga membuang rasa yang sempat mengusiknya.


" Gue tahu lo bakal bilang, gue butuh waktu Yon "


Ada yang menggigit bibirnya, jarinya saling bertaut gelisah.


" maaf "


Dion menahan sesak di dadanya, bukan kata maaf yang ia harapkan sebenarnya.


"lo masih pakek jaket itu?"


Adellia menatap dion dengan mata memerah, dion mengedikkan dagunya ke arah jaket, membuat adellia segera mengambil barang yang terletak tak jauh darinya itu.


"enggak, cuma kebawa aja"ujarnya sembari duduk di samping sahabatnya. Baru kali ini adellia merasa canggung berdekatan dengan dion.


Dion menyingkirkan jaket tebal yang menutupi wajahnya secara tiba-tiba. jaket bergaya Korea itu menghalau sinar matahari yang mengeringkan air matanya.


"yon "


Diantar hanya dalam diamnya, mulutnya tadinya hendak memaki karena sebuah jaket terhenti. Dian membuka mata yang tadinya menikmati tekan angin siang di tengah matahari terik. kepalanya menoleh, menatap adelia tersenyum terpaksa.


Bodoh! Bagaimana mungkin ia melupakan wangi vanila dari sebuah jaket yang menimpanya! Bukankah barang ini adalah pemberianya sewaktu adellia ulang tahun yang ke-15 tahun,


" Maaf ya Yon, Gue nggak bermaksud sembunyiin semua itu sama lo "lirik Adelia. dia menyandarkan kepalanya di batang pohon lagi. angin masih setia mengibarkan helai rambutnya, juga membuang kera yang sempat mengusiknya.


" Gue tahu lo bakal bilang, gue butuh waktu Yon "


Ada yang menggigit bibirnya, jarinya saling bertaut gelisah.


" maaf "


Dion menahan sesak di dadanya, bukan kata maaf yang ia harapkan sebenarnya.


"lo masih pakai jaket itu?"

__ADS_1


Adellia menatap dion dengan mata memerah, dion mengedikkan dagunya ke arah jaket, membuat adellia segera mengambil barang yang terletak tak jauh darinya itu.


"enggak, cuma kebawa aja"ujarnya sembari duduk di samping sahabatnya. Baru kali ini adellia merasa canggung berdekatan dengan dion.


"papa sama mama gue cerai yon"


Cerita adellia memulai, dion tak menoleh, juga tak menganggapi, tapi telinganya mendengar dengan teramat teliti. Tanpa diberitahupun, dion sebenarnya sudah mampu mengaitkan semua benang dari perkataan sinta tempo lalu.


"papa ninggalin gue yon, udah beberapa hari beliau nggak balik, dan mama, dia berubah"


Adellia tertawa sumbang sedang dion mengerutkan kedua alisnya tanda heran,cowok itu membenarkan posisinya yang semula berbaring menjadi duduk bersandar di batang pohon. Dari yang didengarnya lewat telepon, sinta begitu menyesal atas segala perbuatanya, wanita itu tentu teramat mencintai adellia.


"kemarin mama tampar pipi gue yon"


Dion menoleh, kedua netranya membola tanpa diminta. Ia sigap menaikkan dagu adellia agar segera menatapnya, bekas merah masih jelas terpampang di pipi kananya.


"tante sinta tampar lo? "tanya dion tak percaya, adellia melepas tangan dion yang tadi meraih dagunya lantas kembali menatap tanah dengan sorot sayu.


"papa tiba tiba dateng. Lo tahu kan yon apa yang gue rasain?gue seneng banget, papa kembali, buat gue sama mama, tapi kedatangan mama membuat gue sadar, mereka udah saling benci"


"gue langsung tahu kalau semua ini udah terlanjur dan terlalu sulit untuk diperbaiki lagi"


Dion tergugu,


"mama mau tampar papa tapi gue halangin, alhasil kena ke gue yon"


Dion memegang bahu adellia,ia mencengkeramnya erat.


Adellia mendongak, bulir airmatanya meluncur membasahi pipinya.ia menepis tangan dion kasar, seakan akan pemuda itu menyalahkanya lewat kata katanya.


"Terus gue harus gimana!? Biarin Mereka berantem gitu aja!gue tahu kalau papa yang bener , nggak selayaknya mama tampar papa yon,mama gue udah berubah nggak kayak dulu lagi"


Dion menatap adellia pilu, dadanya ikut teremas kuat.


"asal lo tahu yon, gue nggk mau cerita karna gue mau dapetin bahagia disini .gue nggak mau masalah di rumah rebut senyum gue dihadapan kalian. Gue nggak mau kelihatan butuh dikasihani. "


Dion mengatur nafasnya yang tersendat, ia tak pernah menyangka kalau alasan adellia begitu menyakitkan. Pelan sekali ia meraih tangan adellia, lantas mengusapnya lembut.


"ada gue del, gue nggk pernah liat lo sebagai orang yang butuh dikasihani, gue cuman ngerasa nggak guna banget jadi sahabat lo, "


"gue mau jadi penenang pertama lo del,gue sedia sodori pundak gue buat lo"


Dion menatap adellia lekat, ia merasa lega karena telah menumpahkan berbagai kegelisahanya terkait adellia, ah, tentu saja dion masih tak berani mengungkapkan rasanya pada gadis itu.


"makasih karna lo udah mau ngertiin gue yon"ujar adellia lirih, dion tersenyum lembut, ibu jarinya mengusap air mata adellia. Ia akan mencoba mengerti dan memahami, adellia punya alasanya sendiri karna tak memberitahunya. Ia terlalu egois menyangkut gadis tsb.


Adellia gadis yang amat dicintainya, walaupun dion marah dan kecewa, ia sangat yakin kalau rasa itu tak akan bertahan lama di benaknya. Adellia segalanya, di hidupnya, juga dihatinya.


"adel"


Adellia tersentak, begitupun dengan dion.refleks dion menurunkan tangan yang tadinya menyentuh pipi adellia, atensinya teralih ke arah seorang pemuda yang menatapnya datar namun penuh sarat tak suka.

__ADS_1


"gue nggak suka"


Dua alis adelia mengerut mendengar penuturan auksa. Tak sengaja, ingatan mengenai kehadiran auksa yang menenangkanya tadi malam merangsek masuk ke dalam pikiranya.


"kok lo bisa disini sa? "


"gue nggak suka adel"


Adellia tak mengerti, sedang dion yang tahu mengenai kalimat itu mengeraskan rahangnya,kedua tangan yang beralih posisi sebagai penyangga di sebelah kanan kirinya mengerat.


"berdiri"titah auksa mutlak tatkala melihat adellia yang masih saja kebingungan.


"adellia alexa agantara, "Adellia gelagapan, tak sadar ia segera meraih uluran tangan auksa lantas berdiri dari duduknya dengan gestur kaku.auksa menarik adellia tiba tiba, adellia terkejut, namun ia tak mampu mengelak.


"belum puas nangis? "


Adellia membungkam bibirnya rapat,bau musk dari auksa menguar memasuki lubang hidungnya.Bisikan auksa di telinganya membuatnya merinding tanpa dia minta.


"gue cuman mau jelasin semuanya ke dion sa"


Auksa mengela nafasnya ketika menatap netra adellia yang berkilauan karena sehabis menangis. Adellia tampak pucat hari ini,


"sahabat gue berhak tahu"


Adellia benar! Tapi entah mengapa hati auksa terasa berdenyut nyilu. Auksa mengusap surai adellia, ia tak tahu apa yang dilakukannya kali ini, yang jelas, auksa menyadari kalau sikapnya juga didasari sebersit rasa peduli. Auksa berdehem lantas melepas adellia yang semula ia dekap.


"ya udah jelasin"


Ujar auksa pasrah, adellia tersenyum, ia menautkan jarinya dengan jari auksa.


"gue udah jelasin semuanya ke dion kok, iya kan yon? "


Auksa menoleh,ia menatap dion yang mengangguk tak iklas.


"sekarang kita bisa balek ke kelas"


Tutur adellia sembari mendongak untuk menatap auksa. Auksa mengacak rambut adellia lantas ia terkekeh kecil. Bagaimana mungkin ia baru menyadari kalau adellia semenggemaskan ini.


"ya udah ayo"tanggap auksa, sejenak ia maju mendekati dion yang menggeram tertahan. Tangan kirinya yang bebas dari adellia mencengkeram bahu dion,


"she is mine,gue tahu kalok lo sahabatnya. Tapi gue harap lo juga bisa jaga batasan"


Alis adellia bertaut, kepalanya menoleh kearah auksa penuh penasaran.


"sa artinya apaan? "


Sudut bibir auksa tertarik kecil,kedua matanya menyorot adellia tengil. Tatapan yang tak pernah adellia lihat sebelumnya.


"makanya cepet gede biar gue beritahu. Lo masih di bawah umur jadi masih rahasia. "


Ujarnya sembari menarik adellia meninggalkan dion yang mematung. Auksa bahkan tak sadar dengan apa yang ia ucapkanya barusan, juga perlakuanya yang nampak lebih lembut di hadapan adellia.

__ADS_1


__ADS_2