
...๐๐๐๐...
..."gue nggak akan pergi tinggalin lo lagi adel... "...
...๐๐๐๐...
Tuk!!
"adoii! "
Adelia menjerit ,terkejut sekaligus sakit di kepalanya kini dirasa olehnya. Bibirnya mencibir ,sedang kedua matanya melirik auksa sebal.
"kenapa sih? "
" yang sopan"
Adelia berdecak, ia terlanjur nyaman dengan posisinya. Tidur dengan posisi miring ditemani sebungkus kacang garuda besar dalam genggamannya. Tak lupa Siaran TV yang menampilkan channel k-drama favoritnya.
Tuk!!
"ishh, apaan sih sa? "
" yang sopan, Lo ingat kan ini rumah siapa ? "
"ck, udah pw nih"
Auksa memutar bola matanya, bisa-bisanya ia mempunyai pacar tak punya malu semacam Adelia.
Tuk!!!
Lagi dan lagi auksa melempari Adelia dengan jatah kacang atomnya. Mata auksa mendelik memperingati, mau tak mau Adelia menurut. Ia takut kalau tiba-tiba saja auksa dengan teganya mematikan siaran televisi berisi siaran kesukaannya.
"iya iya, gue duduk nih, jangan melotot kayak gitu, mau mata lo gue jadiin kacang atom " ancam Adelia, walau ia pun tak mau seperti itu.
" ganti baju sana "
Adelia menggeleng tegas, baju seragamnya sudah lumayan kering. apalagi film yang digemarinya hampir saja memasuki konflik. Jelas sekali Adelia lebih memilih film kesukaannya daripada menghiraukan kesehatannya.
Auksa berdecak tak habis pikir , dengan paksa ia menarik tangan Adelia ,membuat si empu berdiri, tanpa bertanya ia mengiring cewek keras kepala itu ke pintu kamarnya.
Aksa mendorong Adelia masuk lantas berniat menutup pintu dari luar, namun Adelia lebih sigap, kaki kecilnya ia keluarkan untuk menghambat gerakan auksa yang hendak menutup pintu.
" ganti dulu baju lo "
" nggak mau sa, filmnya keburu abis"
"ganti"
Adelia menggeleng walau hanya terlihat setengah wajahnya dari luar, auksa mendengus. Tanpa perasaan ia menendang kaki Adelia agar masuk lagi ke dalam lantas menutup pintu dari luar dengan secepat kilat .
" ganti atau lo gue anterin pulang sekarang " ancam auksa pada akhirnya.
" gue mau pergi dulu, jangan kemana-mana. Inget, kalau nanti gue ke sini lagi, baju lo harus sudah layak dipandang, nggak kucel kayak gembel"
Peringat auksa panjang lebar. Ia berbalik untuk memenuhi pesan beberapa menit lalu. Jangan tanyakan kondisi Adelia,cewek dengan ikatan rambut asal itu tengah menggerutu sambil menendang-nendang pintu. Ia tak suka jika harus meninggalkan filmnya namun tak suka lagi jika harus kembali ke rumah saat ini. Adellia belum mempersiapkan hati kalau ingatan kemarin tiba-tiba muncul menghantuinya. Setengah hati Adelia berbalik berniat mengganti bajunya yang basah.
Namun rasa terkejut kembali menguasainya. Di depannya berdiri wanita paruh baya dengan pakaian hitam putih yang nampak asing.
" Selamat sore Nona. Saya di sini ditugaskan untuk membantu anda mengganti baju "
Adelia cengo ,ia terkejut dengan kehatiran wanita itu yang tiba tiba, lantas kepalanya menggeleng keras.
" eh nggak usah saya bisa sendiri "
" maaf Nona, ini perintah dari Tuan "
jawab wanita tersebut seraya maju mendekatinya, Adelia gelagapan, tak elak ia merasa ketakutan.ia bisa mengganti bajunya sendiri, di rumah pun ia tak dibantu bi sumi untuk urusan sepele seperti ini.
"stoppp! Suer, saya bisa sendiri"
Wanita tersebut menggeleng menanggapi, perintah tuannya adalah mutlak, ia tak bisa sembarangan membangkang.kakinya tetap saja mendekat ke arah adellia .
"saya bantu ya non"
__ADS_1
Ujarnya lembut,adellia semakin menggigil di tempatnya, tanpa sadar ia terlanjur berbalik lantas berari cepat. Sialnya, si wanita ternyata tak mau menyerah, di umurnya yang menurut adellia tak luwes digunakan berlari malah diterapkan oleh wanita itu. Adellia menjerit, auksa benar benar mau mempermalukanya!
Grep!
"eh! "
Adellia tersentak, gilaaa, larinya cepet bener!
"ayo non"
"nggak mau"
"gapapa non, nanti tuan kelamaan nunggu"
"auksa lagi pergi tauk"
"ayo"
"ahhh nggak mauuu"
Mustahil dia menolak, karna tanpa mendengar sanggahanya wanita tersebut tetap saja menyeretnya menuju ruang ganti.
"AUKSA!! SIALAN LOOO! "
*****
Flashback
Adelia menahan gejolak hatinya geram, sekolah tak seramai tadi, hanya tersisa satu dua orang. Dingin semakin menusuk tulangnya juga sendi-sendinya yang terasa mulai kebas. Adelia menggerutu. Sudah berapa menit-menit lalu auksa pergi dan tak kunjung kembali.
Jduaar!!
Adelia memekik, kilat putih mengaburkan pandangannya. Dadanya berpacu cepat tak teratur.
Jduaar!!!
Akh!! Adelia menutup telinganya rapat-rapat. Tubuh Adelia bergetar tanpa permisi. Entah mengapa rasa gelisah juga takut mulai menggerogoti tubuhnya. Ia teringat kalau sewaktu kecil selalu diberi pelukan oleh Papa Mamanya sewaktu petir tiba-tiba menyambar pendengarannya .
Adelia menjerit lebih keras, ia tak peduli pada beberapa siswa yang menatapnya mulai heran. Bunyi petir yang saling bersusulan dan mengejar membuatnya semakin ketakutan. Adelia berjongkok, kedua tangannya Masih merapat pada telinganya.
Jduaarr !!
Adelia merapatkan tubuhnya ke dinding. Isakan yang terdengar samar keluar dari bibir cherry-nya.
" mama Adel takut "
Adellia menyembunyikan kepala diantara kedua kakinya. Mata Adelia tertutup rapat sedang tubuhnya bergetar hebat. Sebisa mungkin ia menghindari percikan hujan yangย membasahi ujung sepatu kets nya. Adelia terisak, ia kedinginan,ย punya tubuhnya yang ringkih juga ketakutannya pada petir membuatnya semakin melemas.
" mama, papa "gumam Adelia berkali-kali. Tuhan, berikan mama papanya walau untuk hari ini saja, adellia takut.
" mama, papa "
Adelia semakin dalam menenggelamkan kepalanya, bahkan bunyi langkah kaki yang bergerak bersamaan kecipak air tak mengusiknya sedikitpun. Gadis itu masih sibuk pada dunianya. Memilah beberapa memori yang akhir-akhir ini dialami olehnya .papanya yang pergi, mamanya yang berselingkuh,disusul papa yang tak lagi menganggapnya penting, juga mamanya yang menamparnya, adellia merapatkan kakinya. Bayangan waktu Sinta menamparnya begitu jelas ,
"sa lo di mana sih gue takut "
Adelia menggigit bibirnya, goncangan kecil terasa di kedua bahunya.
"lo kenapa?"
Air mata Adelia menderas, perlahan ia mendongak. Menatap auksa yang memasang raut khawatir.
" lo kenapa pergi sa, "
Auksa diam membisu, ia malah sibuk meneliti wajah Adelia yang berantakan. Hanya sebentar ditinggal gadis di depannya sudah semacam ini.
"lo kenapa?"
ulang auksa pada pertanyaannya. Adelia menggeleng, ia menarik narik jaket auksa yang juga sedikit basah.
" Gue tanya lo kenapa Adel ? "
Adelia tetap saja menggeleng, refleks auksa menyingkirkan helai rambut yang menempel pada dahi Adelia. Lantas jempolnya mengusap air mata yang masih saja betah membasahi pipi gadis tersebut. Adelia mematung, tangannya kini menangkup jari-jari auksa yang tengah mengusap wajahnya. Ia memaksa telapak tangan auksa terbuka, lantas menjadikan satu anggota tubuh itu sebagai sandaran kepalanya.
__ADS_1
" sa Mama pergi dari rumah " adunya menangis lagi. Satu tangan auksa yang bebas beralih menepuk kepala adellia lembut.
" Papa juga pergi sa, sekarang gue sama siapa? "
" ada gue Adel"
Tenang auksa kemudian. Adelia bertambah menangis.
"lo juga pergi sa ! lo tadiย ninggalin gue"
Auksa mendekap Adelia lebih dalam. Ia tak bermaksud seperti itu. sungguh! ia hanya berniat mengambil payung agar Adelia terlindung dari hujan secara sempurna.
" kapan?" tanya auksa lembut sembari mengusap surai Adelia.
" lo pikun sa, lo tadi ninggalin gue. kenapa sih! Kenapa gue harus sendiri. kenapa gue harus diciptain sama Tuhan kalau ditakdirkan seperti ini "
Auksa mengeratkan pelukannya, tak seharusnya Adelia menyalakan tangan Tuhan, ini salah semesta. Semesta juga yang telah merenggut hati kakak juga Papa mama auksa.
"sa, gue salah apa sih? "
Auksa menggiring kepala Adelia ke dadanya. Ia merangkul gadis itu dalam lingkupan kehangatanya.
"sa, jangan tinggalin gue. "
Aulsa terhenyak, hatinya nyeri dan jantungnya begitu cepat berdetak, ia semakin sakit ketika bayangan Adelia yang selalu nampak ceria dan memalukan tingkahnya kini menumpahkan tangis di depannya,gadis itu memaksanya di sini tanpa beranjak pergi sedikitpun. Bahkan, baru kali ini sosok bella tak menjelma dalam diri Adelia. Auksa menumpukan dagunya di kepala Adelia. Tangannya mengusap pelan punggung gadis yang terisak dalam pelukannya.
" gue nggak akan pergi"
Lirih auksa kemudian, Adelia telah berhasil memasuki ruang hidupnya.
"Beneran ya sa, jangan pergi lagi " aulsa menggangguk kecil, tangannya kini menangkup wajah adellia yang berantakan. Dengan lembut jarinya mengusap air mata di pipi gadis itu.
" bener,gue nggak bohong " Adelia memasang senyumnya lemas.
" terus mama-"
" dengerin gue Adel, mama lo bakal balik, papa lo juga bakal kembali. jangan siksa diri lo sendiri semacam ini del "
Adelia terdiam. Kedua matanya mmenatap auksa yang memasang ekspresi teduh.
" ayo "
" ke mana? "
" pulang " ujar nggak auksa berdiri. Tangannya menuntun Adelia untuk berdiri mengikutinya, auksa mengambil payungnya, lantas melindungi kepala Adelia dengan payung tersebut.
" deketan sini" Adelia mendekat ke arah auksa, tanpa permisi auksa kembali merengkuh Adelia.
"gue tadi ambil payung dulu, lo bilang dingin kan, kalau gue kasihย jaket ini, ujung-ujungnya nanti lo juga tetep kedinginan. Apalagi rok lo pendek banget "
Adelia menatap wajah auksa yang lebih tinggi darinya.
"sa "
" hem"
" jangan bawa gue pulang ke rumah sekarang ya "
Auksa terdiam, kedua alisnya berkerut dalam.
" kenapa? "
" jangan sekarang sa, gue belum bisa"
Ujar Adelia menunduk, auksa menghela nafasnya,ia seakan mengerti apa yang dirasa adellia kali ini, lantas auksa pun memasang senyum kecil.
" iya "
Ujarnya kemudian, ia mengamit lengan Adelia lantas membawanya masuk ke mobil kesayangannya.
Mereka tak tahu,kalau sedari tadi, di bawah derasnya hujan, di tengah para siswa yang berteduh, ada satu sosok laki laki yang menatap keduanya sayu. Dadanya terasa teremas kuat, rasa sakit menderanya teramat sangat, kakinya melangkah gontai berbalik, ia memang tak punya hak untuk memaki, karna adellia milik auksa, dan dia pada nyatanya hanya orang biasa di hidup cewek itu.
"ternyata perjuangin lo sesakit ini ya del"
__ADS_1