TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Janji Delsa


__ADS_3

" Pagi, "


Adellia menaikkan tali ranselnya sekilas, bukannya Adellia tidak mau membalas sapaan Auksa yang jarang sekali terdengar, namun karena Adellia tengah berada dalam mood yang tidak signifikan.


" Baru jam segini kok udah rame ya? "


Tanya Auksa berbasa-basi, tanpa sadar kalau ucapannya hampir melesak ke kata bodoh. Bagaimana tidak? Adellia saja kesiangan sampai berangkat sekolah pada jam 08.00 kurang 15 menit alias jam 07.00 lebih 45 menit, sedangkan Auksa Entah kena angin apa sudah berdiri bak patung monumen doyan lirikan cabe-cabean di pinggir gerbang sekolah. Adellia sampai terheran melihatnya, namun malas bertanya saat Auksa langsung membuntuti langkahnya dengan gaya cool.


" Mama nanyain kamu loh tadi pagi, "


Adellia berhenti melangkah. Kepalanya menoleh ke arah Auksa seakan menunggu kalimat selanjutnya. Auksa menahan senyumnya, melihat reaksi Adellia saat ini, sudah pasti kalau cewek itu tertarik pada topik yang akan dibahasnya.


" Katanya gimana keadaan calon mantu Mama sekarang. Tadinya sih aku mau langsung jawab tapi Mama keburu bilang kalau dia pengen kamu mampir lagi jengukin Papa. "


Adellia mengangguk tak kentara lantas melanjutkan langkahnya yang tertunda.


" Kamu mau enggak? "


lagi - lagi Adelria mengangguk menanggapi, Auksa menghembuskan nafasnya berat, dia salah mengira kalau Adellia tertarik.


"Juan juga nanyain kamu, "


"Dia nanyain apa? " Auksa hampir saja melompat kegirangan kalau tak ingat kalau dia butuh menjaga imej.


"Oh, Juan nanya gimana kabarnya kamu, dia juga bilang kapan kamu mulai kerja lagi, padahal nih ya, aku udah bilang ke dia kalau kamu udah mau UKK, biar fokus dulu. Eh si Juan malah ngeyel, emang minta ditonjok itu anak. Dia juga bilang kalau suka kamu, di depan aku lagi, dia kira aku apaan? "


Ujar Auksa tanpa sadar dengan wajah menggebu-gebu. Orang yang melihat bisa saja mengira kalau jiwa Adellia dan Auksa tengah tertukar. Bagaimana tidak? Auksa yang biasanya dingin bak kulkas seribu pintu berubah drastis jadi pengisi suara sepak bola internasional. Ngomongnya tanpa koma apalagi jeda. Jalan terus nggak takut nabrak.


" Kamu udah baikan sama Juan? "


Auksa mengembangkan senyumnya mendengar tanggapan Adellia, lalu menyurutkan senyumnya kembali tatkala sadar kalau pertanyaan Adellia menusuk koordinat sensitifnya.


" Belum. " Jawab Auksa lesu membuat Adellia mendesah kecewa. Adellia melanjutkan langkahnya lagi, dia jadi tidak tertarik melanjutkan pembicaraannya dengan Auksa. Adellia kira Auksa sudah berbaikan drngan Juan karena cowok itu membahas tentang abangnya tanoa beban sedikitpun. Auksa mengusap wajahnya, dia bukan Maganta yang jago menggombal, bukan juga Ucup yang lihat wajahnya saja sudah bikin orang terpingkal. Auksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, hanya tersisa satu jurus lagi. Auksa membuang napasnya berat, jujur saja dia enggan melakukan hal tersebut karena berasal dari sumber tak terpercaya, Prasetya AdiKusumo. Namun tidak ada acara lain, Auksa tidak betah berlama-lama menatap Adellia yang lesu tanpa semangat. Wajah seperti itu sama sekali tidak cocok menghuni Adellia. Biasanya, Adelnya selalu dikerubungi ceria sampai Auksa kelelahan menghadapinya. Auksa berdehem singkat, sumpah demi apapun, semoga saja tidak ada yang melihat atau bahkan mendengar perkataannya kali ini.


" Adel, " Adellia tak mengubris, cewek itu tetap melangkahkan kakinya dengan tempo pelan. Auksa berdehem canggung, dia tidak menyangka akan diajukan sedemikian rupa oleh makhluk bernama cewek. Auksa melirik sekitar, setelah dirasa aman, dia lekas menundukkan tubuhnya demi mensejajari tinggi Adellia yang berjalan tepat di sampingnya.


" Princess nya Auksa sedari kemarin kok murung mulu sih, senyum dulu dong biar cantik, ayo hadap sini biar aku bisa lihat senyum ka-"


Byur!


Auksa yang tengah mempraktekkan diri untuk mendalami peran mematung di tempat, jari telunjuknya yang berada di masing-masing pipi terhenti. Senyumnya yang secerah mentari juga surut dalam sekejab.


Auksa mengusap lehernya yang basah kuyup, sialan! Auksa memaki dalam hati lalu menegakkan badannya menahan malu.


"Siapa? "


Tanya Auksa tanpa berbalik.


"Uhuk! Uhuk! "


Bug! Bug! Bug!


"Ya Allah si burik, jorok banget ih, "


Suara Angga menggelegar keras, dia menatap jijik si dalang semburan maut yang menimpa Auksa sembari menabok punggung cowok itu tanpa belas kasihan. Auksa mengusap wajahnya kasar. Darimana datangnya jin gila yang menganggunya saat ini, padahal Auksa sudah memeriksa situasi sebelum memutuskan beraksi.


" Lo ngapain praktek ala dukun di sini sih Praset, gue kan minta peletnya nanti dikelas aja biar nggak ada yang lihat. "


Bisik Agung tanpa sadar kalau hal itu tidak ada gunanya. Pasalnya, suara Agung yang pada dasarnya persis toa masjid tidak bisa ditutup - tutupi.


Prasetya mencebik, reflek menampik wajah Agung yang berada di dekat telinganya.


"Gue juga nggak sengaja bego! "


Sentak Prasetya sebal. Dia tak berbohong akan hal itu, orang mana coba yang berani menganggu cowok seperti Auksa.


" Ha, ha, tak tahu, kena marah,"


Ledek ucup meniru gaya upin ipin, jelas saja hal itu menambah geram Prasetya. Asal tahu saja, Prasetya tengah menahan rasa takutnya akibat ulahnya sendiri. Dia kaget karena Auksa benar-benar melakukan apa yang disarankan olehnya. Mau ngakak tapi sayang nyawa.


" Ati-ati Praset, nyawa lo cuma tinggal seujung jari. "


Peringat Maganta membuat Prasetya menggigil. Prasetya menatap Auksa yang tengah membalikkan badan sembari mengusap lehernya yang basah dengan sapu tangan yang disodorkan oleh Adellia. Tatapan cowok itu ganas penuh emosi. Prasetya menelan ludahnya susah payah, matilah dia.


" Hallo, "


Suara rendah Auksa yang memasuki gendang telinga Prasetya seakan membunyikan peluit kematian. Prasetya menahan nafasnya, netranya tak sekalipun beralih ke Auksa yang tengah menelfon seseorang.


" Urus surat perizinan sekolah untuk hari ini buat gue dan Adellia, siapkan seragam cadangan, dan makanan ringan. "

__ADS_1


" Kosongkan jalan menuju Bukit xxx dalam 20 menit ke depan. "


Auksa menggenggam tangan Adellia setelah mendengar sahutan dari seberang telepon. Adellia mengerutkan alisnya heran, namun lekas menurut tatkala Auksa memberitahunya bahwa cowok itu hendak mengajak Adellia ke suatu tempat.


" Lo semua, masuk kelas sekarang sebelum gue habisin sampai tulangnya nggak tersisa. Untuk kali ini, lo pada, gue maafin."


Ujar Auksa berjalan melewati segerombolan teman-temannya juga semua siswa yang menonton dengan Adellia yang berada dalam genggamannya. Mereka hanya tidak tahu kalau di sela melewati Prasetya, dia mengancam Lirih.


" Kirim video jongkok berdiri keliling lapangan 5 kali atau kepala lo gue tebas. "


.


.


.


" Sudah berapa kali? "


Auksa yang tengah menyadarkan kepalanya di atas paha Adellia mengacungkan ketiga jarinya. Hal itu membuat Adellia tergelak keras, bayangkan saja, mengelilingi lapangan sebesar itu lima kali sembari jongkok berdiri. Adellia merinding, kalau dia yang melakukan hal tersebut, bisa-bisa kakinya rontok secara mendadak.


" Kasihan tahu Sa. Udahin aja lah, "


" Enggak boleh. Dia udah berani nyiram aku pakai ludahnya, sudah sepantasnya rontokan gorengan kayak dia terima ganjaran. "


" Kan prasetya nya nggak sengaja. "


Bela Adellia membuat Auksa mendengkus malas


" Memangnya kamu nggak lihat? Baju aku sampai basah semua gara-gara dia. Untungnya aku masih bisa beli lagi." Adellia mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti. Terserah Auksa saja lah. Lagian tinggal dua putaran lagi. Pikir Adellia membatin.


" Ngomong-ngomong, Kenapa kamu ajakin aku ke sini enggak ke tempat yang lainnya? "


Auksa tersadar dari rasa sebalnya, ia lekas menyingkirkan ponsel yang menampilkan Prasetya tengah jongkok berdiri di lapangan.


" Aku mau ngenalin ke kamu tempat di mana aku bisa nenangin diri. "


Adellia menyisir surai Auksa dengan jemarinya, lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling bukit. Memang benar! Disinilah tempat paling pas melepas penat. Sama sekali tidak ada penghuni, anginnya juga sejuk, apalagi pemandangan indah menjamu kedua netranya.


" Cantik banget ya Sa? "


Ujar Adellia tersenyum menatap langit biru. Auksa mengangguk. Tangannya yang dengan lembut menyampirkan anak rambut Adellia ke belakang telinga gadis itu. Baginya, Adellia melebihi cantiknya langit juga pemandangan yang mengelilinginya saat ini.


" Kamu tahu apa yang aku suka dari kamu Sa?"


" Emm ya karena aku ganteng lah. Mana mungkin kamu mau dipacarin sama cowok kayak Prasetya yang cuma remahan gorengan. "


Adellia tergelak dalam tawa, sedangkan Auksa tersenyum kecil. Dia lebih menyukai Adellia yang seperti ini daripada pagi tadi. Ya walaupun harus membawa-bawa nama Prasetya sih.


" Nggak boleh gitu Sa. Prasetya juga ganteng loh. "


" Gantengan aku atau dia? "


" Gantengan pacar aku. " jawab Adellia refleks membuat Auksa bangga bukan main.


" Kalau udah tahu bakal kayak gitu ya jangan belain dia dong, dimana-mana yang kelihatan ganteng dimata kamu itu harus aku, enggak ada yang lain. "


Adellia mencubit lengan Auksa sampai membuat cowok itu mengaduh.


" Sakit Adel. "


Adellia meringis merasa bersalah. Cewek itu lekas mengusap lembut cubitannya untuk menghilangkan rasa sakit yang masih tersisa. Auksa mengembangkan senyum, tangannya menahan pergerakan tangan Adellia.


" Kamu juga harus tahu apa yang bikin aku jatuh cinta sama kamu Adel. "


Adellia terhenyak mendengarnya, sedangkan Auksa bangkit memosisikan diri menjadi duduk tepat di depan kekasihnya.


"Em, karena aku cantik ya? "


Auksa mencubit pipi Adellia gemas Lantas mengacak surai gadis itu.


"Itu juga termasuk. Tetapi ada yang lebih spesifik lagi,"


"apa? "


Tanya Adellia penasaran. Auksa menatap Adellia sendu sembari membawa dua tangan Adellia dalam genggamannya.


" Aku suka kamu karena kamu spesial Adellia. kamu itu cewek yang berhasil bikin aku jatuh cinta lagi, juga cewek yang sukses bikin aku nggak berhenti mikirin tentang gimana caranya aku bisa pertahanin senyum di bibir kamu setiap harinya. "


Adellia terdiam, dia tengah menikmati rasa menggelitik yang mengerubungi dadanya.

__ADS_1


" Sa, "


Auksa mengamati Adellia yang memanggilnya lembut. Dadanya berdesir.


" Aku pengen pertahanin semua ini Sa, aku juga pengen rasain kebahagiaan yang kamu kasih lebih banyak lagi. "


" Dan aku bakal berusaha mewujudkan semua itu demi kamu. "


Adellia menggangguk kecil, tangannya terangkat menyentuh pipi Auksa.


"aku beruntung banget bisa dapetin kamu ya? Semenjak aku kenal sama kamu, aku jadi bisa rasain perasaan yang enggak pernah aku miliki sebelumnya. Kamu juga berusaha tetap ada disamping aku."


Auksa menyentuh tangan Adellia yang berada di pipinya lantas mengusapnya lembut.


"Aku yang seharusnya bersyukur memiliki kamu Adel. "


"Tapi Sa, kamu nggak lupa kan kalau kita hanya bisa merencanakan. "


"Maksud kamu apa? "


Tanya Auksa mulai was-was. Adellia menatap langit yang menampilkan biru cerahnya, satu dua burung nampak terbang di angkasa.


"Ada semesta yang lebih besar dan berkuasa. Kamu pasti juga ngerasa kalau dia nggak pernah berpihak sama kita Sa. Dia selalu hancurin semua hal yang kita rancang. "


Auksa menggengam tangan Adellia, dia tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana nantinya.


" Kita tinggal bertahan selama mungkin. "


Adellia menyunggingkan senyum sendu.


" Aku hanya takut kalau salah satu dari kita memutuskan menyerah sebelum mencapai akhir. "


" hal itu nggak akan terjadi Adel. "


Adellia menghembuskan nafasnya. Mungkin karena kematian Mamanya, dia menjadi lebih sensitif hari ini, namun adellia tidak bisa mengelaknya ada rasa takut dan gelisah yang mengerubungi dadanya, dan dia tidak bisa mengacuhkannya begitu saja.


"Aku takut Sa, "


Ujar Adellia membuat Auksa terhenyak, Auksa menangkup pipi Adellia lembut, memaksa gadis itu untuk menatapnya penuh.


"Aku ada disini buat kamu. Kita bisa bertahan Adel. "


Adellia tertawa sumbang. Benar! Seharusnya dia tidak memikirkan hal menakutkan semacam itu. Dia dan Auksa pasti bisa menghadapi semuanya.


Adellia menarik nafasnya lantas merebahkan tubuhnya menatap langit.


"Kamu berani pertanggung jawabin omongan kamu Sa? "


Auksa mengangguk mantap. Cowok itu mengikuti posisi Adellia yang merebahkan tubuhnya lantas menyamping agar lebih leluasa mengamati gadisnya.


" Kita bisa hadapin semua ini bareng-bareng Adel. "


Adellia menyampingkan tubuhnya, kedua netranya bertubruk sapa dengan milik Auksa. Adellia menatap Auksa sejenak, lantas menyodorkan jari kelingking.


"Delsa? "


Auksa mengerutkan dua alisnya, dia tidak mengerti apa maksud dari kata itu.


" Ini janji kita Sa. Adellia dan Auksa atau Delsa. Lewat janji ini kita harus sama-sama berusaha nepatin semua hal yang kita ucapin, termasuk bertahan melawan kehendak semesta."


Auksa faham sekarang. Cowok itu lekas menyatukan jari kelingkingnya dengan jari Adellia.


" Iya aku janji. "


Ucap Auksa membuat Adellia cemberut.


"Ih Delsanya mana? " Tagih Adellia dengan wajah bersungut-sungut. Auksa tertawa keras, gadisnya begitu menggemaskan.


"Iya, Delsa. "


Adellia tersenyum ceria lantas menggoyangkan tautan jarinya dengan Auksa.


"Dengan ini kita sepakat. Pokoknya janji ingkar mati. Kamu harus tepatin semuanya tanpa terkecuali. "


Auksa mengangguk lantas mengecup punggung tangan Adellia.


"Makasih karena udah pilih aku Adel, "


" Aku bahagia karena diberi kesempatan mencintai kamu. "

__ADS_1


"Ijinin aku memonopoli hati kamu untuk hari ini dan kedepannya ya? Jangan pernah berpikir buat pergi. I love you pelangi kerdil. Don't forget to stay afloat."


Ujar Auksa disaksikan oleh angin yang menyibak surainya dan surai Adellia lembut.


__ADS_2