
Adellia mengumpat keras-keras. perasaannya yang semula membaik berubah buruk dalam sekejab. Sumpah demi apa!
Mobil Maserati dengan body wah yang dikirim oleh Auksa Minggu lalu ternyata tidak sekuat kelihatannya. Lihatlah, ban depan mobil itu kempes hanya karena tidak sengaja menginjak satu paku jamur. Adellia mendesah lelah, sekarang dia harus bagaimana coba? Sudah kesiangan, panas, keringetan lagi. Parahnya, tidak ada satu orang pun yang peduli terhadapnya. Mungkin saja karena kesialan yang menimpa Adellia terjadi di saat orang-orang terburu-buru dengan kesibukannya masing-masing .
Adellia mengusap keringatnya yang mengalir sampai pipi, dia sudah lelah berdiri. Perutnya juga sudah keroncongan minta diisi. Adellia melambaikan tangannya ke arah kendaraan yang berlalu untuk kesekian kalinya secara asal,
Ini beneran nggak ada yang kasihan ya sama gue?
Batin Adellia tidak habis pikir dengan para manusia yang hanya melewatinya begitu saja.
Drtt drtt
Adellia tersentak. Aksinya refleks terhenti tatkala dirasakannya ponsel miliknya bergetar. Adellia meraih benda canggih tersebut dari dalam saku seragamnya, lantas mengecek notifikasi yang ternyata berasal dari kekasihnya.
Adelia mengecek pesan tersebut dua kali dengan kedua netranya. sepertinya ada yang aneh dengan pesan Auksa. Bagaimana bisa cowok itu tahu jalau Adellia belum datang kesekolah? Apa cowok itu khawatir terhadapnya lantas mencarinya ke kelas? Atau Auksa kepikiran karena tidak jadi menjemputnya yang keras kepala tadi pagi?
Cih! Adellia sontak berdecih tatkala menatap pesan susulan dari Auksa. Sepertinya Auksa takut Adellia jadi baper sampai-sampai langsung meralat kata-katanya.
Balas Adellia sembari bersungut. Bisa-bisanya cowok itu menuduhnya begitu kejam.
Ting!
Adellia berdecak sebal. Bagaimana caranya dia jalan-jalan pake mobil Auksa coba kalau benda itu saja sekarat?
Adellia menilik sekitarnya sejenak, lantas duduk tanpa tahu malu di pinggir jalan. untungnya, sebelum mobil Auksa lebih parah keadaannya, dia sudah menepikan benda itu terlebih dahulu.
Balas Adellia pura-pura tidak tahu.
Adellia membuang nafasnya sebal. Lantas membalas pesan dari Auksa selepas mengusap keringat di dahinya.
Pipi Adellia bersemu. Auksa memang pandai merubah moodnya.
Adellia menyimpan ponselnya kembali. Hatinya sudah sedikit tenang selepas mengetahui kalau Auksa mau menjemputnya nanti. Adellia memposisikan satu tangannya sebagai payung dadakan. Kedua netranya menatap melas ke arah kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Hah, Adellia membuang napasnya berat, sepertinya lebih baik kalau dia masuk ke mobil sembari menunggu Auksa daripada berdiri semacam patung monumen semacam ini.
" Adellia ya? "
Adellia tersentak. Kepalanya refleks menoleh ke arah sumber suara. Di sampingnya, berdiri cowok berhelm fullface di kepalanya. Adelia menyungging senyum formalitas.
"Iya, masnya siapa? "
Tanya Adellia sesopan mungkin. Cowok di sampingnya itu tertawa renyah mendengar tanggapan Adellia, lalu melepas helmnya dengan gestur pelan.
" Kayaknya saya enggak punya nama deh . "
Adellia sontak mendelik tatkala merasa familiar dengan wajah cowok yang tengah menyungging senyum jahil.
"Lo kan-"
" Hahaha, kita ketemu lagi. "
Jawab cowok tersebut memotong. Lantas berjalan menghampiri mobil Adellia. Tangan kekarnya menelusuri mobil itu penuh teliti.
" Kali ini peliharaan lo kenapa lagi? "
Tanya cowok itu membuat Adellia berdehem canggung. Adellia jelas malu bukan kepalang, setiap kali dia bertemu cowok itu, selalu saja ada tragedi yang tengah menimpanya.
"Hehe bannya kempes. "
Jawab Adellia lirih.
" Oh gosh, how come? Kayaknya lo emang enggak jago pakai kayak ginian deh. Kemarin nyebur got karena naik motor, sekarang bannya kempes, besoknya apalagi coba? "
Adellia menggaruk rambutnya yang tak gatal, lantas berjalan menghampiri Arga - cowok gateng yang lagi dan lagi membongkar aibnya.
"Bukannya nggak jago Ga, emang udah nasibnya kayak gini. "
Arga tergelak keras. Menurutnya, tidak ada yang namanya nasib kalau sudah berkali-kali tertimpa ujian seperti ini, yang ada malah kesialan tiada habisnya.
__ADS_1
"Ada ban cadangan? "
Alis Adellia mengerut, Ban cadangan? Emm kayaknya ada deh, kan sekarang udah diwajibin bawa kayak gitu ya buat jaga-jaga?
pikur Adellia lantas mengangguk menanggapi.
"Biar gue yang benerin. "
"Emang bisa? "
Arga mengusap hidung mancungnya dengan jempol. Ditilik dari Ekspresinya, sepertinya Arga memang bisa memperbaiki mobilnya.
"Gue cowok multitalent tahu. Masalah kayak gini mah kecil."
Sombong Arga lantas menyodorkan tangannya ke Adellia bermaksud meminta kunci.
" Ada dongkrak hidrolik nggak? "
" Enggak tahu."
"Lah, nggak pernah lo cek ya mobilnya? "
" kan baru Ga."
"Widih, bau-bau kaum berduit nih."
Komentar Arga membuat Adellia bersungut. Alhasil, punggung Arga dihadiahi tabokan yang maha keras.
"Sakit tahu Del, "
" Bohong, padahal gue naboknya pelan banget loh, "
Arga mendelik, mana ada pelan, padahal punggungnya sampai berdenyut nyilu karena ulah Adellia.
" Untungnya gue yang kena, kalau orang lain, udah mati kali ya? "
"Ngawur! "
"Eh, jangan nabok lagi. "
Tahan Arga tatkala melihat tangan adellia yang sudah melayang di udara. Adellia mendengus sebal.
" Enggak jadi gue bantuin mau? "
" Jangan php dong Ga. "
" Iya, iya. "
" Ya udah gue cek dulu. "
Adellia menggangguk, netranya mengikuti pergerakan Arga yang langsung membuka belakang mobilnya.
" An***, lengkap banget ini, lo anak otomotif ya Del? Atau lagi pkl? "
Adellia sontak menghanpiri Arga lalu melongokkan kepala demi melihat isi belakang mobilnya. Astaga! yang benar saja, sepertinya Auksa memang berniat mengajarinya ilmu perbengkelan. Lihat alat-alat yang memenuhi belakang mobilnya saat ini.
" Minggir dulu, gye mau lewat. "
Adelia menyingkir memberi jalan. Arga yang merasa sudah diberi akses, langsung mengangkut salah satu alat berwarna merah juga ban cadangan.
Adellia menatap Arga yang langsung berkutat memperbaiki kerusakan di mobilnya. sejenak, cewek itu melirik jam pergelangan tangan.
Kok auksa belum datang ya?
Batin Adellia bertanya. Dihitung dari jarak yang ditempuh dari sini sampai ke sekolahnya, waktu setengah jam seharusnya cukup. Apalagi auksa tadi pagi memberitahunya kalau cowok itu akan menggunakan motornya saja. Tapi kenapa sampai sekarang Auksa masih belum sampai sih, masa kejebak macet?
"Nah, udah, "
Adellia tersentak karena terkejut. Atensinya yang semula fokus melamun, beralih ke arah Arga yang sudah berdiri tegap sembari menepuk tangannya sekali. Mungkin tengah membersihkan kotoran yang menjamah telapak tangan cowok itu.
"Udah?"
Tanya Adellia tidak percaya. Arga mengangguk mantap yang tentu saja membuat Adellia langsung melongo takjub
" Ini beneran udah jadi? "
"lqo nggak percaya? "
" widih, cepet banget. Kayaknya lo deh yang pantes jadi anak otomotif, "
"Gue mah jadi apa-apa pantes. "
"Gelandangan juga? "
"Yeee, mana ada gelandangan yang gantengnya kayak gue. Letak pantesnya juga nggak sembarangan gitu Adel, "
__ADS_1
"Katanya pantes jadi Apapun, "
Ledek adellia.
" Susah ya ngomong sama lo. Maksud gue tuh gini, gue emang pantes jadi apapun tapi dalam ruang lingkup yang positif, soalnya gue multitalent banget. "
"Ya...ya...ya, terserah sama lo. Terus lo pantesnya jadi apaan kalau disamain gelandangan aja nggak mau? "
Arga yang telah selesai memperbaiki ban mobil Adellia, langsung memasukkan alat berwarna merah ketempatnya kembali sembari berpikir keras.
Cocoknya jadi apa ya?
Tanya Arga ke dirinya sendiri.
"Emmm mungkin pantes jadi cowok lo. "
"Dih, ngarep. "
Serobot Adellia cepat. Arga tertawa keras, ekspresi Adellia terlihat menggemaskan di matanya.
"Eh gapapa dong, perkataan adalah do'a tahu."
"Guenya yang nggak mau sama lo. "
Tolak Adellia menohok jantung Arga tanpa permisi. Arga menyentuh dadanya dramatis, ekspresi menunjukkan sakit hati.
" Jadi gini ya rasanya ditolak sebelum nembak? "
Tanya Arga membuat Adellia memutar bola matanya. Adellia mengedarkan pandangannya, Auksa masih belum terlihat batang hidungnya.
"Oh iya, btw, makasih ya Ga, berkat lo mobil gue bisa jalan lagi. Kapan-kapan gue bales. "
Ujar Adellia melirik pesan dalam roomchatnya. WA cowok itu juga tengah tidak Aktif, mungkin Auksa masih dalam perjalanan untuk menjemputnya.
"Kok kapan-kapan sih Del. Sekarang aja kan bisa. "
"Enggak bisa Ga, gue lagi nggak bawa apa-apa loh, "
"Tenang Del, gue bukan cowok matre, "
Adellia menyimpan ponselnya kedalam saku. Kedua matanya menatap Arga dengan dahi terlipat.
" Lah, terus gimana caranya gue bales kalau lagi nggak punya apa-apa Ga?"
Tanya Adellia heran.
"Pake cara lain dong. "
" Hah? "
Arga tergelak melihat Adellia yang hanya bisa melongo tidak mengerti. Sumpah demi apapun, dia sampai menahan dirinya untuk tak mencubit pipi Adellia yang menggembung.
"Emang pake cara apaan? "
Arga tersenyum kecil lantas memutari mobil Adellia dan membuka pintu mobil itu pelan.
" Silahkan masuk princess Adel. Hari ini saya yang akan mengantar anda ke sekolah. "
Adellia tambah melongo tatkala mendengar hal itu. Geli rasanya.
"Apaan sih Ga, lo kan bawa motor. "
"Motor nya gue tinggal, sekarang lo harus mau gue anterin sebagai balas budi. "
"Jadi maksud dari cara lain itu kayak gini?"
"hahaha, yang ini salah satunya. Cepetan masuk."
"Besoknya aja deh Ga. Janji. Soalnya sekarang gue lagi nunggu seseorang. "
Arga menggelengkan kepala menolak tanggapan Adellia. cowok itu lekas menghampiri Adellia lantas mendorong punggungnya paksa.
" Harus sekarang Adel, kalau ditunda utang lo bakal naik dua kali lipat, "
"Ga, "
"Enggak ada penolakan."
"Tapi-"
"Stt, nurut buat hari ini doang ya biar cepet lunas. "
Ujar Arga tetap bersikukuh lantas menutup pintu mobil tempat Adellia duduk. Arga menyunggingkan senyum kecil nan tipis.
Akhirnya kesampaian juga.
__ADS_1
Batinnya riang di dalam hati sembari masuk ke kursi pemudi.