
...Ada tapi tak mampu diraba....
...Bisa dirasa tapi tak bisa kuterka...
...Cinta.....
...Suatu kosakata asing yang tak pernah kumiliki sebelumnya...
...🌜🌜🌜🌜🌜...
Berdiam pada segenggam dendam bukan keahlianku. Kecewa jelas ku rasa, kalau ku tahu sejak awal bahwa membiarkanmu bersamanya menimbul derita, aku tak akan sukarela pergi dan menghambur semua kenangan yang menghambur asa.
Aku tahu kamu pemilih Auksa. Kembali atau MATI.
Auksa menggeram tertahan, ia tak pernah menyangka akan disambut oleh amplop tanpa nama di dalam mobilnya. Desau angin yang tak tahu malu menembus celah jendela tak sekalipun ia hiraukan. Bahkan wajah Adellia yang sempat terbayang tatkala menahannya agar tak lekas pulang, mendadak hilang dari ruang pikirnya.
Siapa?
Auksa meremas kertas dalam genggamannya.
Bel, apakah semua teror ini lo yang buat?
Auksa langsung menggelengkan kepala mengusir pikiran tersebut. Itu tak mungkin, Auksa begitu mengenali model tulisan senjanya dahulu. Jujur saja, ia tak siap kalau Bella tiba-tiba saja hadir di tengah kisahnya bersama Adellia. Bella sudah pergi terlalu lama, jejak gadis itu di hatinya bahkan sudah menghilang tanpa rupa. Auksa mengusap wajahnya kasar.
Lantas siapa yang berani meneror Adellia juga Auksa? Bagaimana bisa nama Bella tercantum begitu jelas?
Auksa menatap kertas dalam genggamannya lagi, masih ada yang harus ia selidiki. Bunga kamboja yang kerap menyempil dalam setiap surat ancaman jelas mengarah ke si pelaku.
Tapi siapa?
Auksa mengerutkan alisnya berpikir. Padahal Candra masih dia sekap karena organisasi nya layak dicurigai, Andrean yang hanya anggota kelompok K Flow saja masih dia awasi.
"Candra?"
S271 yang tengah menyetir mobilnya tersentak. Ia buru-buru melirik spion depan yang menampilkan raut serius atasannya. Otaknya berputar, mencoba mencerna kata singkat Auksa secepat mungkin.
"Candra masih aman dalam sekapan Pak. Dia masih lemah, badannya juga masih banyak mengeluarkan darah. "
"Siapa saja yang masuk mobil? "
"Hari ini hanya anda, saya, Refan, reihan atau S260 dan Alvin atau S102 Pak. "
Auksa mengangguk. Punggungnya yang lelah ia sandarkan. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
__ADS_1
"Bukti. "
S271 mengangguk. Tangannya secara sigap memencet tombol buatan berwarna biru di samping kemudi. Kursi panjang yang diduduki Auksa menampilkan celah. Sebuah kotak berbahan besi segera muncul menyapa retina. Auksa menegakkan posisi duduknya lantas memencet 4 digital kata sandi pada bagian atas kotak. Sejenak, sinar muncul, lantas kotak dengan berbagai pengaman itu terbuka. Auksa meraih lensa kotaknya juga tak lupa memencet sebuah tombol bulat sebagai pengontrol.
"Andrean,"
"Andrean masih dalam pengawasan. Tidak ada gerakan berarti. Menurut informasi, Andrean dan komplotannya tidak akan bertindak lebih lanjut tanpa atasan. Candra bisa dijadikan pusat keuntungan bagi kelompok kita Pak."
Auksa mengangguk. Dia sudah tahu hal tersebut. layaknya anak buah Raynond yang melindungi lambangnya, kelompok K Flow lebih menjunjung tinggi atasannya.
"Cari informasi lebih lanjut. kalau perlu gali lebih dalam lagi tanpa terlewat sedikitpun."
"Beritahu Arvan untuk melakukan pertemuan rahasia dengan Fandi S23 di bagian informasi dan penyelidikan. Cari tahu siapa orang yang menulis surat teror kali ini."
Ujar Auksa sembari memakai lensanya. jarinya memencet tombol. Otomatis, berbagai layar nampak dalam penglihatannya.Begitu detail tanpa secuil pun terlewat.
Arvan! Cowok itu hanya memenuhi tugasnya sebagai sekretaris baru, ia menaruh beberapa map di dalam mobil, sedang Reihan dan Alvin yang lebih ia kenal dengan sebutan S260 dan S102 hanya membenarkan beberapa modifikasi buatan di dalam mobil, selebihnya mereka mengeluarkan barang yang masih berada dalam bagasi. Auksa menghela nafas. Tak ada yang aneh. Mereka hanya melakukan tugasnya masing-masing. Lantas siapa pengirim amplop?
Bukannya tak masuk akal kalau benda itu tiba-tiba saja muncul di dalam mobilnya?
Drrt!
Ponsel Auksa bergetar. Laki-laki dengan kemeja garis-garis itu meraih ponselnya dalam saku walau merasa enggan.
Auksa memijat pelipisnya. Perlahan, ia melepas lensa yang menempel pada bola matanya.
Auksa memijat pelipisnya. Perlahan ia melepas lensa yang menempel pada bola matanya.
"S271,"
"Iya Pak!"
"Jadwal minggu."
"Oh, Bapak harus menghadiri rapat petinggi, peresmian Arvan sebagai sekertaris baru juga akan dilaksanakan pada minggu besok Pak."
"Pengajuan kerjasama dalam hal periklanan juga belum selesai karena tertunda pada kamis lalu. Perencanaan pembangunan hotel baru dan rapat anggota kelompok, serta pencarian sidik jari pada surat Nona Adellia akan dibahas besok."
__ADS_1
Auksa berdecak. Mungkin Adellia sedang dalam mode sensitif gegara kejadian peneroran itu.
Balas Auksa harap-harap cemas dengan tanggapan Adellia nantinya.
Auksa menghembuskan nafasnya kasar. Kali ini sepertinya Adellia benar benar marah.
Auksa masih menunggu, tapi Adellia tidak kunjung menjawab. Auksa mengusap wajahnya kasar, gadisnya yang satu ini memang nyebelinnya nggak ketulungan.
"Ck, dikasih kek ginian baru cepet tanggap."
Gerutu Auksa sedikit sebal. Auksa menyimpan ponselnya di dalam saku, lantas menatap anak buahnya yang masih fokus menyetir.
"S271."
"Iya Pak,"
"Bilang Arvan. Kosongkan jadwal saya pada hari minggu besok. Saya ada acara sendiri."
S271 tersentak. Padahal jadwal pada hari minggu begitu padat, namun bosnya ini dengan gampangnya hendak menundanya lagi.
"Tapi Pak,"
"Kamu mau melawan perintah saya ya?"
S271 meneguk ludahnya karena takut. Mana berani dia menentang perintah atasannya ini.
"Baik Pak. Sesuai dengan apa yang anda minta."
__ADS_1
Auksa menyandarkan punggungnya di kursi dengan lelah. Kedua netranya terpejam rapat. Kira-kira akan ia ajak jalan jalan kemana Adellia nantinya?