
Bagaimana mungkin, aku dengan bodohnya memasang senyum kala kamu dengan pandainya menutup luka dengan tawa.
🌜🌜🌜🌜
Kepala Adellia berdenyut. Sudut bibirnya pun nampak mengeluarkan darah, letak kuncirnya yang tidak lagi rapi membuat anak rambutnya terbang ke sana kemari.
"Ssttt! "
Adellia meringis. Dua matanya terpejam rapat, rasa perih merambat dari sudut bibirnya yang terluka.
"Pelan-pelan Yon, perih."
"Ini udah pelan,"
Jawab Dion sekenanya.
"Ssttt! Aduh!"
Adelia memundurkan wajahnya lantas menampik lengan Dion yang tengah mengobatinya.
"Tahan sedikit, gue juga udah pelan, sini! "
Adelia memberenggut, ia lantas memajukan wajahnya lagi.
"Enggak ada yang mau lo jelasin ke gue? "
Adelia menaikkan dua alisnya, kedua netranya menatap Dion intens.
"Seharusnya gue yang bilang ke lo Yon. Lo juga perlu jelasin, ngapain lo diemin gue seharian ini?"
Dion menghembuskan nafasnya berat, tangannya yang telaten membersihkan luka Adellia berhenti.
"Gue nggak berniat diemin lo kok."
"Kelakuan lo nggak bilang gitu Yon, lo berkali-kali menghindar dari gue," Ujarnya sarkas.
"Lo salah paham."
Adelia meraih es batu berbalut kain di samping tempat duduknya, lantas menempelkan benda itu ke lukanya.
"Shhh! Jangan bohongin gue ya, gue kenal lo udah lama Yon, lo nggak nganggep gue orang baru yang masuk di hidup lo kan? "
Awalnya Dion berniat memanggil Adellia untuk mendengar sebuah penjelasan dati cewek itu. Namun, kedatangan Adellia yang terbilang berantakan, membuatnya mengurungkan niat. Dion dengan sigap meraih lengan Adellia lantas mendudukkan cewek itu diatas kursi . Tubuhnya refleks melenggang pergi dan kembali dengan beberapa peralatan medis yang sekiranya mampu membantunya mengobati luka Adellia.
"Cukup Del, gue manggil lo kesini bukan untuk dengerin hal itu."
"Terus apa?! Gue harus jelasin apa sama lo? Kalau lo nggak tanya, gue juga nggak bakalan ngerti,"
"Please yon, gue juga bingung. "
Dion menghela nafasnya, apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut kepada Adelia?
Dion menggeleng, lantas mengambil ponselnya untuk mengetik sesuatu.
"Gue udah suruh Tari ke sini, jangan luka lagi."
Ujar Dion lirih lalu pergi meninggalkan Adellia yang termenung tak mengerti. Satu pertanyaan yang pasti berada di kepala Adellia.
Kesalahan apa yang diperbuat olehnya?
.
.
.
Auksa menghembuskan nafasnya kasar, ia menatap pose Maganta yang nampak sama sedari tadi. Tangan cowok itu tengah bersedekap dada, bola matanya yang kebiruan tidak sedikitpun beralih pandang dari Auksa. Jujur saja, Auksa merasa terusik.
"Jelasin ke gue, maksud cewek itu apa'an?"
Lagi dan lagi, Maganta melontarkan pertanyaan yang tidak mampu dijawab olehnya. Auksa menggeleng menanggapi.
Dia tidak tahu,
"Enggak usah didengerin." Ujar Auksa sambil memijat pangkal hidungnya, lantas berpura-pura sibuk dengan bola basket dalam genggamannya.
"Heh! kok lo gitu amat sih Sa! bagi tahu dong, gue kan sahabat lo,"
Auksa berdecak terganggu. Maganta selalu menggunakan kata persahabatan jika sudah berniat menggali informasi. Dan hal itu, tentu saja sangat mengganggunya. Apalagi Auksa sedang dalam made sebal karena tingkah Adellia. Hah, Auksa menggeram, ia bahkan tak tahu mengapa Adellia bersikap semacam itu, motivasi apa yang membuat Adellia begitu berani bermain-main dengan Auksa.
__ADS_1
Flashback.
"Ah lepas! pedes tahu! "
Adellia berteriak histeris, penampilannya berantakan, kuncirnya melorot, air mukanya juga nampak tak berbinar lagi.
"Makanya ngaca dulu baru ngomong."
Ujar Meika kembali mencakar dan menarik surai Adellia. Adellia berteriak lagi, rasa perih dan berdenyut menyerang kepalanya. Auksa mendesis, sial! Semuanya jadi berantakan!
Auksa menarik Adellia lantas menempatkan gadis itu tepat dibelakangnya.
"Udah Meika, gue nggak mau berurusan sama lo lagi. "
Ujar Auksa membuat Meika mendelik tak terima, ia berniat mendekati cowok itu, tapi langkahnya terhenti karena cekalan Maganta pada bahunya.
"Sa, jangan ngomong kayak gitu ke aku!"
"Jangan ganggu gue Meika, gue risih,"
Adellia menatap Meika mengejek, Meika menggeram tertahan. Dasar ular!
"Kamu ngapain sih pakai lindungin dia? Aku belum puas bermain-main tahu."
Maganta mendelik. Cowok kebulean itu menoyor kepala Meika keras.
"Mulut lo emang kudu di sekolahin lampir!"
Ujar Maganta sembari mengeratkan cekalannya, sedang Meika masih berusaha mencari celah agar bisa menjauhkan Adellia dari Auksanya.
"Lepasin Auksa gue! Ish, jauh-jauh lo!"
Sentak Meika kalap, ia bahkan tak sadar kalau kukunya menggores lengan Auksa walau sedikit.
"Cukup!" Bibir Meika mengerucut. Dia tidak mau berhenti. Tapi tatapan Auksa membuat nyalinya ciut bukan main. Auksanya marah padanya?
"Gue bilang cukup Mei!"
Meika berhenti, kedua netranya menatap Auksa yang rahangnya telah mengeras. Sedang cewek di dekapan Auksa menatap Meika sengit.
"Lo kenapa sih sa?! Kayaknya sedari tadi lo lindungin cewek itu mulu! "
"Udah Mei. Lo nggak punya malu ya? "
"Cukup Mei," Ujar Auksa penuh penekanan.
"Dia siapanya kamu?" Tunjuknya ke arah Adellia . Adelia mendongak menatap Auksa. Tak elak, dadanya berdetak tak terkendali.
"Nggak penting . "
"Kamu aneh banget Sa, kamu kan nggak pernah melindungi cewek selain kak Bella,"
Auksa mematung, Bella ya? Auksa memejamkan kedua matanya rapat, hal itu tentu membuat adelia semakin penasaran.
Siapa Bella?
"Lo nggak perlu urusin hidup gue."
"Sa! "
Adellia menghembuskan nafasnya lantas melepas dekapan Auksa pada tubuhnya. Adellia menggenggam tangan Auksa lembut, seakan menyuruh cowok itu menyemangati keputusan yang telah dibuat olehnya.
"Meika!"
Bukan hanya Meika saja yang menoleh, namun semua orang yang ikut menghuni lapangan. Mereka juga mengalihkan atensinya ke arah Adellia.
"Lo nanya kan gue siapanya Auksa? "
"Gue nggak nanya sama lo, gue tanya sama Auksa."
"Gue pacarnya. "
Meika terdiam kaku selama beberapa detik, lantas tergelak begitu keras. Lucu. Adellia pasti bercanda dengan perkataanya.
"Gue pacar Auksa."
Tawa Meika terhenti. Tatapanya terfokus ke arah Adellia yang menampakkan ekspresi serius.
"Gue, Adellia Alexa Agantara, adalah pacar dati Auksa Legarvan Alfadiaraga."
__ADS_1
Adelia tidak memperhatikan efek dari kata-katanya. Lapangan sekolah lenggang tanpa suara, semua siswa terdiam bisu.
"Pede banget lo pake ngaku-ngaku!" Adelia tersenyum smirk, lantas memiringkan wajahnya menatap Meika mengejek.
"Siapa bilang gue cuma ngaku-ngaku, gue beneran pacar Auksa kok,"
"Lo bercanda!"
"Enggak,"
"Lo pasti bercanda, Auksa kan nggak suka cewek bar-bar kayak lo!"
"Kata siapa ? nyatanya dia sekarang jadi pacar gue."
Auksa mendatarkan ekspresinya, cowok itu menatap Adellia penuh peringatan.
"Emangnya nggak lihat kalau Auksa dari tadi nggak mau lepasin tangan gue?"
Mata Meika, Maganta juga beberapa siswa menatap tangan Auksa masih memegang tangan adellia. Mereka tahu ada keganjilan di sana. Auksa yang dingin tidak pernah mau disentuh cewek kecuali kekasihnya dahulu.
Auksa segera melepaskan genggamanya, dia tak mau ada kesalahpahaman lagi, namun Adellia tak membiarkannya begitu saja. Gadis itu dengan berani kembali menarik tangan Auksa lantas digenggamnya lebih erat lagi.
"Seperti yang lo tahu, Auksa nggak pernah mau disentuh cewek selain Kak Bella. Tapi itu dulu, sewaktu gue masih belum tempatin hati dia. Sekarang udah beda Meika, gue udah jadi orang spesial di hidup Auksa. Dan lo-"
"Lo nggak bisa bantah itu semua."
"Gue nggak percaya."
Adellia menggertakkan giginya kesal. Namun ia tak kehabisan akal. Dua netranya langsung menyorot Auksa penuh harap.
"Sa, "
Auksa menoleh dengan tatapan geram. Adellia tersenyum kecil. Kakinya berjinjit untuk mensejajarkan tingginya dengan cowok itu.
Cup.
Kedua mata Auksa melebar, tangannya terkepal erat. Apa yang telah dilakukan Adellia kali ini? Sialan! Berani-beraninya cewek itu mencium pipinya !
"Lo-"
Nafas Meika memburu, dia menatap adellia penuh benci.
"Kenapa? Lo masih nggak percaya ya? Mau gue buktiin lagi?"
Meika menggigit bibirnya, dadanya mendidih.
"Sa! Bilang ke gue! Semua ini nggak benar kan?!" Auksa mengepalkan tangannya yang bebas dari Adellia. Giginya bergemeletuk tanda marah.
"Sa, bilang ke gue, lo cuma pura-pura kan? "
Mata Auksa terpejam rapat, ia menahan gejolak emosinya yang hampir membludak melewati batasannya. Lantas, nafasnya berhembus berat.
"Bener, dia pacar gue."
Jduar!
Selepas Auksa berkata semacam itu, ponsel Adelia berdenting menandakan pesan masuk. Adellia mengernyit, dahinya terlipat. Dion mengirimnya pesan.
Oh, Adellia ingat, Dion pastinya akan menjelaskan ke Adellia mengenai hal yang menyebabkan cowok itu mendiamkannya seharian ini. Adellia menyimpan ponselnya ke saku seragam lagi, lantas menatap Auksa lembut.
"Sa aku pamit dulu ya, bay sayang."
Pamit Adelia tanpa rasa bersalah. Adellia tak peduli kalau hari ini mungkin akan ditetapkan sebagai hari patah hati sedunia karena ulahnya. Adellia hanya ingin semuanya cepat selesai. Dia tak sabar menemui Dion sahabatnya lantas bertanya tentang perihal apa yang membuat cowok itu menghindarinya.
Auksa kembali mengetatkan rahangnya.
Adelia juga tingkahnya membuat Auksa ingin membuang gadis itu jauh-jauh.
"Dia beneran pacar lo Sa? Ya nggak papa sih, gue seneng aja kalau lo beneran bisa move on dari Bella, "
"Tapi kapan lo pacarannya Sa? "
Auksa berdecak keras. Ia mengabaikan perkataan Maganta yang sarat ingin tahu. Kedua bola matanya fokus menatap mading sekolah yang menampakkan kejadian tadi siang. Auksa merobek kertas itu kasar, tangannya meremas benda tipis itu sampai tak berbentuk.
"Sialan!" Desis Auksa pelan namun penuh penekanan. Baru pagi terjadi, siangnya sudah menjadi trending topik. Auksa meraih ponselnya yang berada didalam saku bajunya, dia harus mencari dalang yang menyebarkan hal tak senonoh mengenai dirinya.
"S271, cari dalang yang menempel kertas menjijikkan ini. Laporin ke gue dalam lima menit ke depan. Gue mau kasih dia pelajaran."
__ADS_1
Ujarnya lantas meninggalkan Maganta yang sibuk membuka dan merapikan kembali kertas yang diremasnya.
kali ini tingkah Adelia benar-benar keterlaluan.