TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Jangan kayak langit.


__ADS_3

Ada tapi tidak dilihat itu aku, selalu saja dianggap hantu sama kamu.


🌜🌜🌜🌜


"Akh!"


"Kenapa sih?Jangan berisik bisa nggak? Gue lagi konsen tahu,"


Adellia mendengus. Kedua kakinya menendang udara keras-keras.


"Kerasukan ya lo?"


Tanya perempuan cantik berjepit rambut ungu dengan sorot heran.


"Iya gue kerasukan! Makanya sekarang gue mau bunuh lo biar nggak banyak komen,"


"Apaan sih del. Nyeremin amat jadi cewek. "


Adellia mengerucutkan bibirnya. ia mendudukkan bokongnya kasar di samping Tari Wirdatama sahabatnya.


"Tar-"


"Jangan cerita. Gue udah banyak beban."


"Kok lo gitu sih ke gue? "


"Iya, iya, kenapa?"


Tanya Tari sembari meneliti hasil karyanya, sesekali Tari mencap coretan tak beraturan itu dengan bibirnya.


"Nah, kan cantul kalok dikasih cap bibir" Gumamnya lantas melirik Adellia lagi.


"Cepetan mau cerita apaan. Bentar lagi gue sibuk mau nyamperin mas ayang,"


"Ish, ayang mulu. Punya aja enggak."


"Nggak usah curhat Adel, gue tahu lo nggak laku."


"sial, Dion mana sih Tar? "


"Gue mah nggak tahu. Itu anak kan emang doyan banget keluyuran kayak setan?"


Adellia mengerutkan alisnya,


"Tadi gue ketemu Dion di warung Mbok Minah, tapi dia nya sampe sekarang belum balik, "


"Emang kenapa sih Del?"


"Gue titip boba sama dia. Katanya ada rasa baru,"


"Maksud lo di bobaya? "


Adellia mengangguk polos, Tari tanpa tedeng aling-aling langsung tertawa.


"Ahaha, gila! lo dibohongin Del sama itu curut."


"Maksudnya gimana nih? "


"Nggak ada rasa baru di Bobaya, lagian lo nggak inget sekarang hari apa? Selasa Del, lo kan tahu bobaya cuman buka hari Jum'at sampe Minggu."


"Jadi gue diboongin? "


Tari mengangguk. Tangannya menepuk bahu Adellia prihatin.

__ADS_1


"Beneran? Ini gue beneran dibohongin sama Dion? "


Lagi lagi Tari mengangguk. adellia mendesis lantas mengebrak meja dengan keras.


"Sial, DION! GUE CINCANG BENERAN TUBUH LO!"


.


.


.


Sepertinya matahari tidak lelah menyengat kulitnya. Baru saja Adellia merasa sedikit ketenangan menghampirinya, namun terpaksa terganti karena panggilan mendadak dari Sinta mamanya. Beberapa menit yang lalu, ditengah Adellia memarahi Dion, tiba-tiba saja panggilan memasuki ponsel canggihnya. Adellia menghembuskan nafasnya berat, sepoy angin membelai surainya yang ia kuncir, langit berhias mendung terlihat jelas. Adellia mendongak, kedua matanya meneteskan bulir bening yang tidak mampu dia tahan lagi.


"Lo juga bisa rasain sakit gue ya? Makasih, berkat lo, gue nggak terlalu sakit nanggung beban sendiri," Gumam Adellia menatap langit yang menghitam.


"Kenapa harus sekarang sih Ma? "


Adellia menggigit bibirnya. Isak tangis mulai terdengar dari bibirnya.


Tring!


Adellia menerima panggilan dari ponselnya dengan gestur malas.


"Kenapa lagi sih Ma?"


Terdengar helaan nafas dari seberang telefon. Adellia berniat menutup panggilan , namun suara Sinta segera memenuhi gendang telinganya hingga membuatnya berdenging.


"Mama mohon Adel, Mama nggak bisa  bertahan sama Papa kamu. Kamu harus datang ke pengadilan besok pagi. "


"Nggak Ma, Adel nggak mau."


"Adel, dengerin Mama ya nak. "


"Nggak mau Ma! Adel udah bilang sama Mama, jangan paksa Adel,"


"Adel-"


"Nggak gitu Adel. Mama sama Papa cuman nggak mau buat kamu kepikiran. Dateng ya Adel, Mama mohon. "


"Nggak mau Ma, Adel nggak mau, sampai kapanpun Adel nggak bakal sudi turutin kemauan Mama yang satu itu."


"Tapi-"


"Udah lah Ma, Adel capek. Bentar lagi masuk. Adel tutup dulu"


"Adel-"


Tut!


Adellia menghela nafasnya. Ia menunduk membebaskan bulir air mata yng semakin menderas.


"Lo denger kan langit? Gue emang semenyedihkan ini buat terlihat dimata lo yang megah,"


"Hiks, gue emang selemah ini,"


"Lo tahu langit, gue suka bingung sama skenario yang tuhan kasih. Gue selalu pengen mati, tapi tuhan nggak pernah bolehin itu. "


Adellia terisak, bahunya bergetar kuat. Masa bodoh dengan reputasinya saat ini.


"Hiks gue pengen bisa kayak lo, hiks, gue pengen kayak lo yang punya segalanya. Lo punya senja, tuhan juga kasih pelangi waktu lo lagi sedih. Bahkan saat malam, masih ada bulan sama bintang biar lo nggak sendirian."


"Kenapa gue nggak bisa kayak lo sih langit? "

__ADS_1


Tanya Adellia pada sepoy angin yang tidak sengaja melewatinya. Adellia terisak, lantas menyembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya. Rintik air yang menghujaninya secara tiba-tiba pun tak ia hiraukan.


"Udah? "


Adellia tersentak lantas mendongak. Cowok tampan dengan ekspresi wajah yang selalu datar menjulang di belakangnya.


"Lo-"


"Iya, kenapa? "


Adellia memalingkan wajahnya, ia merasa malu karena terlihat lemah di depan mata cowok yang tadi pagi menolongnya.


"Ngapain kesini? "


"Lewat."


"Kok bisa mampir sini? "


"Ini taman bukan punya lo. Gue juga berhak. "


Adellia memandang kosong langit diatasnya lantas memasang senyum yang nampak terpaksa dilakukan.


"Iya"


Adellia lantas berdiri. Ia sedikit mengusap rambutnya karena terkena tetesan hujan.


"Jangan kayak langit."


Nafas Adellia tercekat. Tangannya mendadak bergetar kuat.


"Maksud lo apa? "


Cowok dengan bulu mata lentik juga bola mata berwarna hitam kecoklatan itu mendongak. Panu Widjaja, entah kenapa Adellia mampu merasakan ada sebuah kesedihan yang tersirat dari ekspresi pemuda itu.


"Langit yang lo kira bahagia, nggak selamanya seperti yang lo lihat,"


Adellia mengedipkan kedua matanya tak mengerti. Pemuda itu menatap Adellia yang lebih pendek darinya.


"Dia harus ngerasain ketidakpastian setiap hari. Senja yang katanya selalu ada, akan dengan tega menghilang waktu malam menjelang, pelangi yang kadang menghias, hanya jadi pengobat rindu sementara. Dan lo juga harus tahu,"


"Kalau kehadiran bulan dan bintang dimalam harinya, hanya sekedar alibi untuk menutupi kesedihan langit supaya nggak terlihat jelas. Langit juga kesepian tanpa lo tahu"


"Jadi,Jangan jadi langit."


"Lo cukup jadi diri lo sendiri. Masalah tetep bakal datang selagi kita masih hidup. Tergantung lo mau milih nyerah, atau mau lawan. Semuanya ada digenggaman lo. "


cowok itu menatapnya sejenak. Lantas mengulurkan sapu tangan berwarna abu-abu di hadapan Adellia.


"Gue rasa lo butuh itu."


Ujarnya lalu berniat pergi.


"TERUS GIMANA KALAU GUE CAPEK!?"


Teriak Adellia sembari membuang sapu tangan yang sudah berada di genggamannya.


"Gimana kalau gue capek sama semua ini? Gimana kalau gue terlanjur lelah sampai pengen nyerah? Lo mau gue tetep berjuang walau ujungnya cuma sia-sia? "


"Gue cuma mau bilang hal itu, semua keputusan ada ditangan lo sendiri."


"Lo nggak ngrasain jadi gue Panu, "


Ujar Adellia lirih membuat cowok tersebut menghentikan langkah. Andaikan saja Adellia tahu kalau takdirnyalah yang lebih menggenaskan , Apa Adellia masih akan berucap hal kosong semacam itu?

__ADS_1


"Terserah lo, "


Ujarnya lantas benar-benar berlalu pergi meninggalkan adellia yang tergugu di tempatnya.


__ADS_2