
Senja memang indah. Tapi ia tak mampu bertahan kala langit memilih bersanding bersama kelamnya malam serta bintang bintang. "
๐๐๐๐
Adelia berdecak, ia menatap ban mobilnya yang nampak mengenaskan. Ia tahu,hidupnya tak akan tenang jika berani mengaku sebagai pacar orang bernama auksa. Fans auksa bejibun, bukan hanya disekolahnya saja, karena kata tari, ternyata fans auksa juga merambah ke sekolah lain. Hah... Namun adellia tak pernah mengira, kalau teat hari ini mereka segera bertindak. Bukanya satu hari saja belum sempurna berakhir?
"ini gue pulangnya gimana coba?"
Gerutu adellia kepada diri sendiri. Ia meraih ponselnya, lantas menelepon tari sahabatnya.
"tar gue mau bareng "
"oh"
" terus gue sama siapa pulangnya? "
"hm "
" Ya udah iya "
Adellia mendengusย kasar, tari tengah belajar kelompok jadi tak bisa mengantarnya pulang. kalau ia meminta pertolongan dion, yang ada mungkin ia akan malu. Adelia dan dion kan lagi marahan.
adellia berkacak pinggang. Ukh, kalau saja ia dan dion sedang dalam keadaan baik baik saja, pasti sekarang adellia sudah menyapa kasurnya di rumah. Lagian apaan sih yang buat dion marah padanya?
Adellia memijit keningnya yang berdenyut, tak sengaja kedua matanya menangkap sosok auksa yang tengah berjalan menuju parkiran. Adellia bersorak girang, ini kesempatanya, jadi sebisa mungkin adellia memanfaatkanya.
*****
" sa"
Auksa terkejut , tiba-tiba saja adellia nampak di depannya.gadis itu menatapnya antusias, bibirnya yang tipis memasang sabit kecil. hal yang terlihat manis di mata orang lain benar benar tak berlaku terhadapnya.auksa merasa bulu kuduknya meremang,senyum adellia begitu mencurigakan.
"apa"
Tanggap auksa sekenanya sembari melanjutkan langkah. Ia harus segera menjauh, sebelum ketiban kesialan karena gadis disampingnya ini.
"Auksa kamu ganteng tapi aku belum mencintaimu. nggak tahu kalau nanti malam"
"lo waras? "auksa bergidik, sepertinya adellia tak pernah memikirkan pendapat auksa tentangnya. Auksa merasa risih sekaligus terganggu. Namun, perkataan auksa tak lantas membuat adellia mengerucutkan bibir, ia malah semakin melebarkan senyumnya .
"tau kok, lo pasti mau tanya, kok malam del, bukannya kata dilan sore"
Adelia menatap auksa yang tengah menaikkan alis, senyum yang tampak aneh di mata auksa terpasang lagu wajah gadis berkuncir kuda itu.
"sotoy"
" Kenapa malam? "
Tanpa malu adelia menjawab pertanyaannya sendiri ,tentu saja membuat auksa semakin bergidik.
"kan Ini udah sore sa, ya kali gue harus nunggu sore yang besok buat cinta sama lo."
" nggak kreatif " cibir auksa menimpali.
"dilannya aja nggak keberatan kok lo sewot"
Auksa memutar bola matanya malas. Dia sedikit terganggu dengan kehadiran adelia. Perlu diingat lagi kalau ia tengah kesal dengan tingkah cewek itu tadi siang.
" jangan ngikutin mulu "
Auksa menatap tajam adelia, sayangnya yang ditatap memilih tidak peduli.
"dilannya mau nebeng ke milea"
Langkah auksa terhenti. Ia berbalik ke belakang hanya untuk menatap adellia dengan tatapan geram.
"denger, gue cowok jadi gue bukan milea. Dan lo, lo nggak bakalan cocok jadi dilan"
Adellia menangkup telunjuk auksa yang menekan dahinya, lantas ia terkekeh kecil.
"benar, gue emang bukan Dilan, tapi gue adelia. Sekarang gue ngomong sebagai adel, adelnya mau nebeng motor auksa karena mobilnya lagi sekarat. Boleh?"
Auksa menarik telunjuknya kasar. Ia mendengus, jangan harap!! Sampai bumi berubah jadi kotak pun auksa tak mau adellia mengotori motornya. Dengan kaya lain, auksa tak pernah mengizinkan adellia menaiki motor kesayanganya, tak akan pernah.
"boleh ya, please, ya.... ya.... ya... "
" nggak boleh "ujar auksa tegas. Adelia mencibir ,namun tak elak tetap mengikuti langkah auksa yang lebar. Pokoknya adellia tak mau menyerah.
"kok lo gitu, orang pelit kuburanya sempit, tiap hari nggak bakal punya duit loh, mau? "
"enggak kan? Makanya, boleh ya sa, cuman sekali doang kok, janji deh"
"nggak"
"boleh ya sa"
"nggak "
" aaaaahh, boleh ya boleh dong "
"nggak"
"nggak usah pelit-pelit deh lo! "
Adelia masih saja mengikuti auksa tanpa tahu malu. Biarin! demi pulang, ia berani mempertaruhkan wajahnya. Adelia melangkah lebar mencoba mensejajari langkah auksa, tapi siapa sangka kalau hal yang terjadi setelahnya membuat Adelia malu bukan kepalang. bisa-bisanya adellia tak melihat kalau ada plastik bekas minuman yang menghalangi jalanya,sialan,gegara plastik sampah itu adellia jadi-
Gedubbrakkk!!!.
"adoooiiiii "
Auksa berjengit kaget, kedua bola matanya melebar,refleks ia berbalik badan. Pffft, auksa melipat bibirnya agar tak tertawa. Astaga, kenapa adellia bisa begitu lucu terrlihat,ah,APA!!!!
apakah auksa tadi berpikir kalau adellia lucu,? Tidak, adellia bukan lucu tapi terlalu ceroboh. Auksa berdehem kecil, dia tak boleh tertawa.
"sa!!tolongiin hiks!!! "
Auksa terbangun dari lamunanya.
Adelia menyodorkan dua tangannya ke atas,sepertinya adellia benar benar berharap ia akan membantunya berdiri.
"ogah"
" gara-gara lo sih, kalau lo nggak larang gue, semuanya nggak bakal jadi kayak gini "
__ADS_1
Ujar Adelia cemberut, tangannya masih teracung ke atas, meminta bantuan auksa yang masih kaku di tempatnya berdiri.
"ngerepotin amat sih lo!"
Adellia cemberut, lantas ia segera berdiri dari posisinya. Sejenak adellia menepuk celana olahraganya yang kotor, untungnya ia belum berganti pakaian.
"ngrepotin gimana coba, kan kita sesama manusia harus saling menolong,"
" manusia?siapa?"
"hah, lo bukan manusia, pantesan"
"lo yang bukan manusia, dasar jaelangkung"
Adellia menggeplak punggung auksa keras keras. Jaelangkung katanya!! Enak saja!!
"nggak usah ngadi ngadi"
"apaan sih lo! "
"ipiiin sih li! "
Adellia mencibir sembari memegang lengan auksa untuk membantunya berjalan. Tentu saja auksa menepisnya, tapi adellia tak mau kalah, ia berganti meraih lengan baju auksa yang pendek.
"sobek"
"apanya!"
Sewot adellia sebal. Auksa menipiskan bibir menahan umpatan.
"baju gue bisa sobek bego!"
"berarti baju lo murahan dong"
Rahang auksa mengeras. Kedua matanya menyorot adellia setajam elang. Emosinya naik ke ubun ubun.
" lepas! dasar cewek nggak tahu malu! lo sebenernya ngerti nggak sih apa yang gue omongin dari tadi! "
Adelia malah mengerjap dengan bibir yang melongo lebar.kalimat terpanjang auksa membuat adellia lupa daratan. Ternyata auksa bisa bercakap sepanjang itu.
"Hoi! "
"eh... eh... eh... apa? "
Auksa memejamkan kedua matanya lantas menepis jari-jari Adelia yang mencengkeram lengan baju atasnya.
"sa!! kok lo-"
" diam di situ. "
Adelia terbungkam, sedangkan auksa segera melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"sa!! Mau nebeng! "auksa menulikan telinganya, adelia menggigit bibir,ck,kaki gue jadi nyilu gegara jatuh.
"sa! tungguin dong!sa! gue bareng siapa coba kalau lo tinggalin gue?! "
Auksa menaiki motornya cekatan, ia harus segera pergi dari cewek pengganggu semacam adellia .
Sialan !auksa dengan sigap memasang helm full facenya, benar! Ia harus cepat cepat pergi dari sini.
Brum brum brum
Auksa menyerigai tipis, tangannya sudah bersiap menjalankan motor, sukurin! mau pulang sama siapa lo hah!
Auksa tertawa dalam hati. Siapa suruh Adelia malah mengganggu waktu ketenangannya. namun, belum sempat auksa menancap gasnya, tiba-tiba saja...
Greeppp!!!
"ha hah! ketangkep lo! "
Astaga!! Kedua mata auksa melotot. Benar, adellia memang bukan manusia. Bagaimana mungkin seorang gadis bertingkah tak layak seperti ini. Auksa menolehkan kepalanya kebelakang. Ia menggeram tertahan, adellia memegang body motornya sembarangan, bahkan perut gadis itu berhasil menumpang di joknya, sedang kedua kakinya masing terayun di sebelah kanan.
"ayok berangkat"
Auksa mencengkeram setir motornya geram. Ia segera menggoyang goyangkan motornya agar adellia terjatuh. Namun, bukanya terjatuh, tapi adellia malah semakin mengeratkan peganganya.
"nggak mau! Pokoknya lo nggak boleh suruh gue turun. "
Auksa menghela nafasnya kasar, ia menoleh hanya untuk mendapati adellia yang tetap saja memilih keras kepala.
Turun"ungkap auksa penuh penekanan. Adellia memejamkan kedua matanya. Tidak! Ia tak mau turun sekarang. Kalau ia turun, siapa lagi yang akan memberinya tumpangan.
"lepas"
Adellia menggeleng keras keras. Kalau adellia sudah bilang nggak mau ya nggak mau lah!.
"ck! Turun! " Adelia menggeleng lagi.Adellia sudah bersusah payah, mana mungkin ia dengan mudahnya menyerah. auksa mencengkeram setir motornya sangsi. Kepalanya mendongak ke langit karena menahan emosi.
"turun adel "
"nggak mau"
"turun! Mau pulang "
"iya, gue emang mau pulang, makanya gue nebeng"
"bukan lo, tapi gue"
"tuhkan, kita sama tujuan, bareng bareng dong biar afdhol"
Auksa memijat pangkal hidungnya karena sebal. Sudahlah, sepertinya sampai malam pun adellia tak akan berinisiatif untuk menuruti omonganya.
"serah lo. Kalau mati gue nggak mau tanggung jawab. Gue mau pulang"
"iya silakan, gue nggak bakal ganggu."
Jujur saja otak auksa serasa ingin meledak. Tingkah adellia menguji kesabaranya.
"siap-siap"
Adelia mengangguk antusias karena tak begitu mengetahui apa yang dimaksud auksa. Namun, di detik berikutnya ia menyesal karena tak berpikir dahulu sebelum menanggapi.
__ADS_1
Karena tiba tiba saja auksa menarik gas motornya sehingga membuat adellia memekik histeris. Kaki adelia terasa terbang terkena angin, tubuhnya yang kecil terantuk -antuk pada jok motor. Kepala adellia terasa berputar karena kedua matanya hanya melihat jalanan semacam garis lurus berkecepatan tinggi. Gila!!! Perut gue mual, aduh! Bisa mati muda kalok kek gini.
"auksa! "
"berhenti nggak!"
Auksa tetap saja menjalankan motornya tanpa peduli dengan Adelia.
Salah siapa keras kepala.
"sa!sa! "
"kue piting leher lo"
"gila!"
"sa! bunuh gue aja sa! bunuh gue aja!"
"SA!! "
" gue sumpahin sampai rumah jadi kodok lo! "
"saaaaaaaaa!!aaaaaa!! "
" maaaaaaaaamaaaaaa "
Angin tetap saja menampar-nampar kaki Adelia, pegangan Adelia pada body motor auksa semakin erat. Dasar auksa psikopat!.
"sa!udah! Gue nyerah! "
"aduh perut gue mual"
Adellia menelan lagi makanan yang baru saja mulai naik di kerongkonganya. Adellia ingin muntah rasanya.
"benerr, benerrrr, gue bakal diem,gue nggak cerewet lagi, gue bakal, jadi anak baik. "
"sa!!! Berhenti, gu- gue nggak bakal gangguin lo lagi, ben-"
Ckkkiiiiiiit
Tubuh adellia terpental sedikit, sontak saja adellia mengerutu. Jika tubuhnya tak sekecil kelinci mungkin nasibnya akan lebih baik dari ini.
Hueekkkkk!!!!
Adellia terhuyung, lantas memuntahkan segala macam makanan yang berada dalam perutnya, adellia menatap nanar, bulatan boba yang ikut keluar membuatnya merasa sayang, sedang auksa menghembuskan nafasnya lelah.
"gue tinggal"
Eh... Ehh... Ehhhhh...
Brummmmmm
Adellia lekas berjalan menghampiri motor auksa dengan sempoyongan. Wajahnya pusat pasi.
"lo mau tinggalin gue jadi gelandangan, tega! "
Auksa memutar bola mata, ia sebenarnya tak tega, tapi adellia benar benar menyebalkan di matanya.
"mau pulang"
Kata kata auksa yang terdengar mirip semacam pertanyaan membuat adellia mengangguk kecil.
"gue bukan mau nawarin lo. Gue cuma mau bilang, gue mau pulang, "
"terus gue? "
Adellia menatap auksa memelas, auksa menaik turunkan bahunya tak peduli, salah sendiri, ngapain pake nebeng. Adellia cemberut, kedua matanya menatap sayu pada langit yang menampilkan semburat senja memasuki malam.
" senjanya indah banget ya sa?, emmm dia indah, tapi kayaknya dia nggak abadi. "
"huffft, kok gue ngerasa jadi senja kayak dilangit itu ya. Indah tapi tak pernah bisa sepenuhnya memenuhi semesta kalau langit lebih milih bersanding sama kelamnya malam atau bintang bintang. "
Auksa mematung, dadanya berdentum hebat. Tiba tiba saja bayangan senja merasuki pikiranya. Auksa mendongak untuk menatap satu komponen semesta itu dengan sarat pilu.seandainya senjanya masih ada, apakah langit akan terus murung seperti auksa sekarang ini?
"gue nggak mau kayak dia. Dia nggak mau seenaknya mengikuti kemaunya sendiri. Senja harus terikat sama syarat semesta. Dia hanya hadir untuk sementara. Dia hanya selingan, kadang terlihat dan kadang nggak ada, gue nggak mau jadi senja, hiksss, gue mau jadi adel lagi, adel yang pumya segalanya, gue mau papa sama mama, ahhh, sorry sa gue malah jadi-"
"Bukan langit yang bersalah. "
Adellia menoleh menatap auksa dengan alis berkerut. Tatapan auksa menyorot nya dalam.
"langit tak pernah berpikir melengserkan senja dan memilih kelam sebagai sandingannya. senjanyalah yang memilih menyerah dan pergi meninggalkan langit beserta lukanya. senjanya lah yang memilih pergi dari pelukan langit dikala malam datang untuk memisahkan keduanya"
Cengkeram dua setir motor dengan erat. Rahangnya mengeras.
"lo nggak berhak nyalahin langit.lo- "
Auksa tak jadi melanjutkan kata katanya. Tiba tiba saja ia merasa iba tatkala air mata adelia meluncur melewati pipi. Auksa menghela nafasnya, hari ini dia harus mengalah.
"hiks, mau pulang, udah malem, badan gue lemes banget"
"ikut ya. "
Auksa mengangguk dengan hati berat. Ya sudah, berhubung ia punya hati, jadi untuk kali ini ia membiarkan adellia menaiki motornya.
Lantas auksa segera membantu adellia menaiki motornya, badan adellia lemas, mungkin, karena kebanyakan memuntahkan semua isi dalam perutnya. Auksa melepas tas punggungnya, ia melonggarkan tali tas lantas memasangnya lagi ke punggung bersama adellia yang ikut menempel ke punggungnya. Bukanya apa apa, auksa cuman nggak mau adellia jatuh di jalanan, dan dia jadi orang pertama yang disalahkan tersangka pembunuhan. Adellia pun tak lagi memikirkan mengenai salah tingkah, badanya sudah lelah. Kepalanya pusing bukan main.
"pegangan"
Bukanya tak menurut, tapi adellia terlalu lemas hanya sekedar menggerakkan anggota tubuhnya. Lantas auksa pun berinisiatif meraih tangan adellia lalu melingkarkannya tepat di perutnya.
"entar jatuh"
Adellia mengangguk kecil, kedua matanya menutup.
"sa, kenapa senja-"
auksa menggigit bibirnya, lantas dengan pelan berkata.
"jangan bahas senja, kalau lo masih ucapin hal itu di depan gue, gue nggak bakal kasih lo toleransi lagi. "
Ujar auksa lantas menjalankan motornya dengan adellia yang setia memeluknya.
Hay hay para readers! Mohon bantu votenya biar author semakin semangat buat lanjut. Makasih karena udah mampir di sini buat baca tahta semesta.
__ADS_1