TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Dikerjain


__ADS_3

Setitik cahaya yang kulihat dalam remang, ketika tubuh menolak pikiran, dia memilih tertunduk pada rintangan.


Namun,


Kamu yang kutahu, dengan sigap menyodorkan lengan berbentuk cahaya terang. Seakan mengajakku menghilang dari kegelapan.


🌜🌜🌜🌜


Adellia mencebik, tangan kanannya menggenggam botol Aqua dengan malas, sedangkan tangan kirinya ia gunakan sebagai payung dadakan. Terik matahari menembus celah jemarinya, kedua mata gadis itu menyempit menghalau silau. Adellia menghembuskan nafasnya kasar. Dia sudah lelah berdiri.


"Aaa! Gila! Ganteng amat calon gue!"


"Karung mana woy, pengen gue masukin buat pajangan rumah."


"AUKSA! AKU PADAMU!"


"Kak Maganta damagenya nggak main!"


"Aduh, makin betah sekolah gue! "


"Nggak bisa gini, jantung Eneng meledak Mas! "


Adellia menepuk dahinya sembari menggelengkan kepala. Semua siswi SMA Sanjaya pasti punya masalah penglihatan. Eh! Adellia juga dong kalau kayak gitu?


Enggak? Adellia pokoknya pengecualian, dia sudah sadar sepenuhnya dari jeratan pesona Auksa semenjak kejadian di mobil kemarin.


Flashback.


"Turun nggak lo?!"


Auksa masih anteng di tempatnya. Jelas sekali kalau hal itu membuat Adellia naik pitam. Ia harus segara masuk rumah karena hari sudah menginjak sore.


"Turun!"


Adellia mendorong badan Auksa sampai menubruk pintu mobil. Namun Auksa masih tak bergeming, sepertinya perintah Adellia hanya mampir di telinga kanan lantas keluar melalui telinga kiri.


"Turun elah, mobil gue terkontaminasi nanti! "


Ungkap Adellia sebal bukan main, Auksa hanya menaikkan kedua bahunya menanggapi. Dia tidak peduli, yang penting Auksa merasa nyaman.


"Apa pendapat lo mengenai senja?"


Adellia meremas udara gemas. Malah nglindur segala ini cowok.


"Enggak usah banyak cincong, mau keluar sekarang atau gue mutilasi?"


"Makanya jawab dulu, apa pendapat lo mengenai senja? "


"Kok lo jadi cerewet gini sih!"


Auksa memutar bola matanya malas. Padahal ia bertanya serius. Adellia mengelus dadanya mencoba bersabar.


"Senja itu sore, kalau udah sore berarti bentar lagi malem. Nah udah jelas kan, lepas malam harus ngapain? sikat gigi, tidur, ngimpi, terus bangun lagi, cuci kaki, mandi, gosok gigi lagi, eh! Solatnya ketinggalan, solat dulu nih, nah, selepas sholat, berangkat sekolah, capek, pulang ke rumah, udah sore lagi... "


"Intinya, senja itu gabungan dari capek, capek, capek, dan capek, kalau ditambahin lo, jadi capek banget. Makanya CEPET KELUAR ELAH! GUE TENDANG LO LAMA-LAMA! "


Auksa menatap jengah. Bukan ini yang dia maksud. Adellia bodoh!


"Lo gobloknya udah mendarah daging ya? "


Adellia mencibir, tuh kan nggak tahu berterima kasih. Udah diberi tumpangan malah ngomongnya kejujuran. Eh! Astaga! Kenapa Adellia juga harus mengakui kebodohannya juga sih! Adellia megetok kepalanya beberapa kali. Serong ini otak! Maki Adellia dalam hati.


"Kenapa senja selalu muncul di langit, tapi nggak pernah muncul lagi di kehidupan gue? "


Adellia terdiam bisu. Ia menoleh ke arah Auksa dengan alis naik sebelah. Kok. Jadi mellow gini.


"Lo mau buat puisi ya? "


Auksa memalingkan wajah menatap jendela. Langit nampak indah, warna kuning dan oranye bercampur padu melengkapi nuansa. Matahari hampir tenggelam sempurna. Adellia mematung, ia melihat pantulan wajah Auksa yang tak seperti biasanya. Pemuda itu seakan menanggung beban berat yang tak mampu dibagi.


"Sa, jangan kesurupan dong, ngeri."


"Sa! Elah, bikin merinding tahu nggak? Kok jadi diem? "


Auksa tidak menyahut. Pemuda itu malah menutup kedua netranya. Dia tengah mencari ketenangan yang telah lama tak didapatinya.


"Sebentar."


"Sa,"


Ujar Adellia sembari menggoyangkan bahu kanan Auksa, tentu saja hal itu membuat cowok itu terganggu.


"Ck, jangan ganggu, biarin gue kayak gini, bentar aja."


"Nggak boleh! Gue mau masuk rumah."


Adellia mendorong tubuh Auksa lagi. Jangan bilang ini cowok mau tidur di mobil gue. Memikirkannya saja membuat Adellia merinding tak karuan.


"Pelit, bentar doang,"


"Nggak ada sebentar-sebentar, satu detik aja berharga buat gue. "


"Gue capek."


"Ouh gitu, emang gue pikirin? "


"Gue capek habisin setiap detik gue buat cari dia,"


Adellia menaikkan kedua bahunya acuh, ia tak mengerti apa yang dikatakan Auksa. Oh, lebih tepatnya Adellia tak mau mengerti.


"Sudah hampir satu tahun tapi tetap nggak ada petunjuk, Gue harus cari dimana lagi? "


"Cari di google coba. Kali aja muncul,"


Ujar Adellia asal sembari mendorong Auksa. Cowok itu mendengkus jengah, lantas menangkap pergelangan tangan Adellia kuat. Bola matanya mengunci netra Adellia agar tak mampu berkutik lagi.


Adellia mematung di tempat, dadanya berdentum tak terkendali. Ini kenapa lagi? Hidup gue banyak drama amat!


"Adel, menurut lo, apa gue bodoh karena udah buang waktu gue buat cari dia?"


"Iya, goblok banget, karena gue yakin dia pasti nggak mau sama cowok kayak lo."


"Tapi kenapa? Kenapa dia nggak mau sama gue? "


"Ya karena lo nyebelin, nyebelin, NYEBELIN BANGET! Lepasin tangan gue! Enggak usah drama segala. Mau lo acting menye-menye, jungkir balik kanan kiri, kayak orang gila pasaran, gue nggak bakal peduli. Pokoknya gue nggak ngizinin lo tidur mari. GUE NGGAK IJININ TITIK. Sekarang lo keluar! Keluar dari mobil gue! "


"Gue nanya serius."


"KAMU NANYA! KAMU NANYA HE! TANYA AJA TUH SAMA RUMPUT BERGOYANG,"


"Nggak mau, "


Adellia menggeram, mau sampai kapan sih ini cowok ada di mobil gue!? Bikin gerah tahu nggak!?


"Ck, ya udah, nggak usah keluar sekalian, gue nggak peduli. "


Adellia membuka pintu mobilnya tak iklas, ia berniat keluar, namun tangan Auksa lebih dulu menahan.

__ADS_1


"Nggak boleh."


"Mau lo apaan sih? "


Auksa memasang smirk di bibirnya, bulu kuduk Adellia naik, ada yang tidak beres.


"lo boleh keluar asal-"


   Adellia menghentakkan kakinya. Sial! Dia kecolongan. *Asalkan besok lo bawain gue minum, dan jangan biarin Meika


samperin gue duluan*. Dasar Auksa licik!


"Dan sebagai tambahan, lo nggak boleh duduk. Jangan berpikir buat lari dari perintah gue Adellia, atau gue bakal tetep disini dan lo nggak bisa keluar sampai esok hari"


Kan! Kayaknya Auksa bukanlah manusia deh!Nggak punya hati banget itu cowok!


Adellia mendengkus, ia tak peduli lagi dengan syarat, perintah atau apalah itu dari Auksa. Adellia sudah terlalu lelah berdiri. Lantas gadis itu segera mendudukkan bokongnya kesembarang lantai, kakinya ia selonjorkan begitu saja. Adellia mengipasi wajahnya yang berkeringat, kedua matanya melirik bosan kearah segerombolan siswi SMA Sanjaya yang masih semangat berteriak.


Apa sih yang mereka lihat dari Auksa?


Mungkin karena rasa sebalnya telah mengalahkan otak gesrek Adellia. Kewibawaan, ketampanan, kepopuleran, dan kekayaan Auksa sampai tidak terlihat di matanya. Teriakan kagum terdengar lebih riuh dari sebelumnya, Auksa berhasil mencetak nilai karena memasukkan bola basket ke dalam ring. Telinga Adellia berdenging, rasanya ia semakin panas tatkala menangkap sosok Auksa yang tengah mengipasi badan dengan baju yang dipakainya. Auksa bertepuk tangan ria dengan beberapa partnernya lantas dengan langkah penuh wibawa mendekati letak Adellia.


"Mana? " Tangan Auksa tersodor di depan wajahnya. Adellia refleks berdiri lantas menyerahkan sebotol Aqua ke arah Auksa.


"Siapa yang suruh duduk?"


"Nggak ada,"


"Terus kenapa duduk? "


"Ya karena pengen duduk."


Auksa bedecih sinis. Terserah lah! Sekarang ia haus, jadi tidak akan menghiraukan kelakuan Adellia.


"Boleh balik belum nih? "


Auksa menghentikan aksi minumnya. Sejenak melirik Adellia yang memasang binar harap di wajahnya.


"Belum,"


"Kok belum sih? Gue kan udah penuhin syarat dari lo?"


Auksa mengedikkan bahunya tidak peduli. Padahal syarat kedua saja belum sempurna ditepati, tapi Adellia sudah ngotot mau kembali.


"Gue udah panas-panasan gini loh bawain lo minum, jadi pusat perhatian lagi, pokoknya gue mau balik sekarang!"


"Nggak boleh,"


"Lo mau kalau kulit gue hitam gara-gara lo? "


"Emang udah kejadian, "


"Nggak gue tolongin nih."


"Ck ,udah diem."


"ish, gue mau balek Sa, gue juga punya urusan, pandangin lo cuman buang-buang waktu."


"Gue kan nggak suruh lo pandangin."


"Makanya jangan punya muka ganteng dong, kan jadi refleks ngeliatin! "


"Udah takdir."


Adellia mencibir, takdir? Heh takdir ya?


"Enggak bakal gue ijinin."


Adellia memutar bola matanya malas. Ia mau menyelesaikan masalahnya dengan Dion. Entah mengapa sejak pagi hari, sahabatnya itu selalu menghindar dari Adellia. Adellia tak tahu ia salah apa.


"Ah balik aja. Bosen disini terus," Ujar Adellia enteng seolah tidak ada Auksa di sampingnya, Adellia berbalik bersiap pergi, namun Auksa segera menarik rambut Adellia yang dikuncir kuda.


"Aduh! Rambut gue rontok, ish apaan sih lo!"


Auksa tak menjawab, sebagai gantinya ia mengarahkan kepala Adellia ke arah timur, dimana sosok gadis bersurai kemerahan tengah berjalan riang. Adellia mencebik, kenapa harus dateng sekarang sih? Nggak bisa kabur kan gue!


"Sudah ngerti kan? "


Adellia mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Ia paham dengan maksud Auksa.


"Kenapa harus gue? " Ujar Adellia sebal sembari mengikuti Auksa menuju bangku panjang. Pohon besar dibelakang bangku itu membuat sinar matahari tak mampu menembus karena daunnya yang rimbun.


"Ya karena gue mau lo"


"Kenapa lo mau gue?" Sahut Adellia cepat. Matanya menyorot Meika yang hampir sampai ditempatnya duduk.


"Harus ya pake alasan? " Tanya Auksa menaikkan satu alisnya. Adellia menyandarkan tubuhnya, ia tak akan bertanya lagi. Dasar cowok menyebalkan.


"Udah deket,"


Adellia terlonjak ketika bisikan Auksa mampir di telingany, bola matanya langsung melebar tatkala Meika sudah berjarak beberapa langkah saja. Adellia gelagapan, ia harus apa sekarang!


"Gue harus gimana Sa?"


"Terserah lo lah!"


Adellia menggeram sebal, bisa-bisanya dia berurusan dengan cowok semacam Auksa.


"AUKSAAA! I'm coming!"


Mampus! Adellia mengigit bibir dalamnya. Ayo Adel, ayo berpikir!


Alis Adellia mengkerut dalam, dahinya terlipat sedemikian rupa. Ah! Dia tahu apa yang harus dilakukannya !


"Sorry sa, lo yang bilang terserah ke gue jangan nyesel ya,"


Batin Adellia sebelum ia dengan lancangnya memeluk lengan kiri Auksa. Auksa berjengit kaget, kepalanya refleks menoleh ke arah Adellia.


"Sa, panas banget tahu,"


Ujar Adellia pura pura manja. Auksa bergidik ngeri, ia risi dengan tingkah Adellia.


"Terus? "


Adellia mencubit pinggang Auksa, tentu saja Auksa meringis karena nyilu menyerang pinggangnya tanpa permisi.


Peka dong lo, acting dikit elah, gue gorok lo lama-lama.


Ujar Adellia menggerakkan bibirnya tanpa bersuara, Auksa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia berdehem kecil sebelum telapak tangannya ikut menghalau sinar matahari, padahal yang sebenarnya terjadi, Adellia tak sedikitpun merasa kepanasan karena daun pohon sempurna membawa kesejukan.


"Astaga! Keringat kamu banyak banget, kamu capek kan?"


Adellia mengeluarkan sapu tangan dari seragamnya lantas mengusap keringat di dahi Auksa pelan sekali.


"Bau banget goblok! Lo mandi berapa kali sehari? Jangan-jangan nggak pernah mandi"


Auksa mengangguk kecil menanggapi Adellia yang tengah berbisik kecil. Tentu saja Adellia mendelik, ngggak mandi coyy!! Jijikk elah!

__ADS_1


"Iuh jijik, pantesan bau,"


Sarkas Adellia masih dengan berbisik. Adellia ingin melepas rangkulannya, mana mau ia memeluk barang kotor! Tapi Auksa tanpa aba- aba malah merangkulnya. Bulu kuduk Adellia berdiri, sialan! Dikerjain gue!


"Mau kemana?"


"Eungh... Enggak kok, itu cuman mau cari posisi nyaman."


"Oh, udah nyaman belum kalok kayak gini?"


Argh! Nyaman apanya, yang ada Adellia bakal keduluan mati sebelum dijemput.


"Hehehe iya nyaman banget, nyamaaaaaan banget,"


Geram Adellia sembari memasang ekspresi bahagia yang nampak dipaksakan.


Sret!


Eh!


Auksa dan Adellia refleks terlonjak. Rangkulan Auksa terlepas karena Meika tiba-tiba saja melepaskanya.


"Nih,"


Alis Auksa naik satu. Ia menatap Meika enggan.


"Apa? "


Meika menyodorkan sebotol Floridina ke wajah Auksa sembari menyempil di antara Auksa dan Adellia.


"Eh, apaan lo nyempil-nyempil?"


Meika berdecih menanggapi, ia kembali menatap Auksa penuh kasih.


"Buat kamu, diminum ya,"


"Gue nggak haus."


Tolak Auksa. Ia kembali membuka tutup botol Adellia, lantas menenggak air di dalamnya hingga tandas. Adellia tertawa dalam hati, hahaha sakit hati kan lo!


"Biar seger. Kamu beneran nggak mau, ini dingin loh,"


Auksa meraihnya malas. Hal itu tentu saja membuat hati Meika berteriak girang, namun hal yang terjadi selanjutnya membuat Meika berubah geram.


"Adel, minum dulu. Cuaca lagi panas takutnya dehidrasi kamu kambuh."


Hah? Adellia masih tak mengerti. Dia menyambut uluran floridina dari Auksa dengan ragu.


"Kamu pasti capek banget sedari tadi berdiri terus. Minum aja nggak papa,"


"Iya, makasih."


Tanggap Adellia sembari memasang senyum manis. Meika dengan sigap merampas botol yang berada di tangan Adellia sebelum Adellia bersiap meminum.


"Eh, kenapa? "


Tanya Adellia berlagak polos.


"Minum gue buat Auksa bukan buat lo."


"Kan sama Auksa udah dikasih ke gue? "


Meika memutar bola mata, tak elak hatinya terasa panas terbakar.


"Sa, kamu pasti masih haus, minum dong, udah aku beliin nih. Kok kamu mau sih minum air bening dari dia, kan nggak ada rasanya."


Auksa bergidik sedang Adellia melotot garang. Enak saja cewek centil itu menghina air galon gue! Tak tahukah bahwa Adellia harus pasrah saat beban tasnya bertambah dua kali lipat.


"Minggir aja deh lo, nyebelin."


"Apaan sih! Lo aja yang minggir"


Ujar Meika sewot lalu berniat menyempil di tempatnya tadi. Adelia geram, ia mendekatkan tubuhnya ke arah Auksa .


"kenapa lo! Sana pergi! Ganggu aja. "


Ujar Meika sembari menarik Adellia berdiri dengan paksa.


"Jangan dekat-dekat sama Auksa, dia milik gue."


adelia terkekeh , ia menertawai tingkah Meika yang tampak murahan di matanya.


"Dasar cabe. Mimpi ya lo? "


Meika mendesis menahan emosi. Ia mengepalkan kedua tangannya erat.


"Bro, ngapain? "


Maganta yang baru datang dengan handuk kecil di lehernya mentap Auksa heran. Apalagi di depan sahabatnya terdapat dua cewek yang tak asing lagi dalam penglihatannya. Mereka tengah beradu mulut. Auksa menaikkan kedua bahunya pura-pura tak tahu.


"Muka lo aja yang lo buang! "


Auksa dan Maganta menoleh, keduanya menatap Adelia dengan ekspresi aneh. Gila! serem banget muka itu cewek, batin Maganta merinding.


"kenapa nggak muka lo aja, Kayaknya layak deh dijadiin keset."


Tangan Adellia langsung terangkat hendak mencakar, kedua cowok yang mengerti gerakan tersebut lantas berdiri untuk menahan niat Adelia.


"Keset kepala lo! mau gue sodorin mana yang keset beneran!" Teriak adelia penuh emosi. Kedua bahunya sama-sama tak mampu ia gerakkan karena tertahan oleh tangan Maganta dan Auksa.


"Nggak usah, gue udah lihat."


Kata Meika menimpali, matanya yang kini bersoftlens biru menatap Adellia. Seakan memberitahu bahwa Adelialah yang dimaksud olehnya. Adelia menggeram, ia mengeratkan kepalan tangannya bersiap meninju.


"Sabar, sabar." Ujar Maganta sambil mengelus pundak Adellia berniat menenangkan gadis itu. Namun Auksa lebih dulu menangkis lengannya.


"Jangan modus" Desis Auksa tajam. Cowok itu beralih menatap Adellia yang dikuasai kemarahannya.


"Udah." Ujarnya menengahi. Jujur, aksi Adellia dan Meika pasti sebentar lagi akan menjadi hot news di SMA Sanjaya. Apalagi ada Auksa dan Maganta yang setia jadi sorotan. Adelia menarik nafasnya dalam, lantas menghembuskannya dengan pelan, dia harus bersabar untuk kali ini.


"Kenapa lo? Asma? "


Adellia menggertakkan giginya . Cewek di depannya ini benar-benar harus dikasih pelajaran.


"Mulut lo nggak pernah di sekolahin?" Sentak Adellia, ia menepis kasar tangan Auksa yang berada di bahunya.


"kayaknya lebih baik kalau gue kasih lo pelajaran dulu biar nggak ngerocos mulu!"


"Dari tadi kan elo yang nyerocos. Ngaca Neng! Muka buluk kek gitu kok ngimpi dapetin Auksa"


"Oh lo beneran minta gue tonjok ternyata!"


Cukup!!! Adellia tak mampu lagi menahan gejolak kemarahannya.


"Sini lo! gue kasih pelajaran! "


Ujarnya lagi tanpa ragu. Ia tak peduli jika nanti banyak fotonya memenuhi mading sekolah, juga tak peduli dengan banyaknya kamera, Adellia bahkan lupa bahwa harus memecahkan masalah mengenai Dion yang tiba-tiba saja mendadak diam. Cowok itu seharian menghindarinya. Sudahlah, yang pasti ia harus sempurna melukis wajah Meika dengan cakarannya, dan membuat cewek centil itu tak lagi berani menghina wajah cantiknya.

__ADS_1


__ADS_2