TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Buat lo aja, biar tambah cantik


__ADS_3

...Hati yang kukira menetap pada bayangmu, perlahan berontak dan goyah karena waktu....


...Dia......


...Berotasi memilih pemilik senja yang baru....


...🌜🌜🌜🌜...


...       ...


Ting!!



Auksa meniup poninya, keringatnya masih menetes deras dari kepalanya. Auksa menenggak minumanya sampai tandas, rasa lelah menyerang nya sedemikian rupa.


Ting!



Auksa melirik pesan di ponselnya lagi. Ia capek dengan adellia yang selalu saja mengganggunya. Apalagi disaat auksa benar benar dalam mood yang buruk seperti sekarang ini.


"yah salah orang gue"


Auksa mendongak, netranya menyorot leonarda yang fokus pada ponselnya.


"gue kira adel pacar si sampah, ternyata bukan ya, ck, emang seharusnya nggak ada yang mau sama lo ,kecuali kalok cewek itu goblok sih."


Auksa menggeram, tanganya meremas botol aqua sampai tak berbentuk.


"berarti kabar lo jadian sama adellia bo'ongan dong,"


"btw, ni cewek boleh juga"


Auksa dengan segera merebut ponsel leonarda, tentu saja hal itu membuat leonarda nampak terkejut disertai marah.



Apa yang dilakukan adellia sekarang ini?


Auksa menggigit bibirnya menahan umpatan, ke mall atau kencan? Auksa melempar ponsel bermerk leonarda dengan asal, lantas menginjak benda tersebut sampai retak.


Ting!






Auksa menoleh tatkala terdengar tawa leonarda, bukanya merasa sayang pada ponselnya yang telah sekarat, laki laki tersebut malah mengamati auksa dengan serigai di bibirnya.


"ternyata gosipnya bener ya"


"gue kira si adel pacarnya dion, ternyata dia beneran pacar lo? Bisalah gue ajak main"


Rahang auksa mengetat, maganta juga aditya maju untuk menepuk bahu auksa. Kalau auksa bertindak, bisa bisa masalah antara SMA merah putih dan SMA sanja tak akan pernah selesai.


Ting!



"cewek polos kek dia pasti mau sama gue"


"jangan ganggu adel"


"hahaha, gue nggak ganggu kok, eh adellia alexa agantara, astaga! woah!mantap juga cewek lo! Dia anaknya pengusaha besar itu ya. Gila!! Dipermainin asik nih"


Auksa hendak membogem wajah leonarda, namun rekan rekan basket auksa lekas menghadang. Begitu juga dengan rekan basket leonarda, mereka tahu kalau sejak dahulu sekolah mereka telah bermusuhan dengan sekolah auksa, namun menurut mereka tingkah leonarda sudah kelewatan.


"bang udah. "


Leon menepis lengan aldi, matanya menatap auksa meremehkan.


"lo udah kalah leonarda stemford "


Leon berdecih sinis. Kalah! Mendengar satu kata itu saja membuat kemarahan leonarda sampai ubun ubun.


"emang kalau gue kalah kenapa? "


"adel milik gue"


"ahahaha, lo jadiin cewek lo bahan taruhan sa, astaga! "


Prok prok prok


"cowok brengsek"


Auksa menahan amarahnya yang hendak meledak, bukanya leon yang menjadikan adell bahan ancaman sekaligus meminta cewek tersebut untuk didapat olehnya kalau sekolah auksa kalah!?


"jangan ganggu adel"


"tapi gue tertarik, gimana dong? "


Auksa mendesis, ia menarik kerah baju leonarda, bahkan ia mengabaikan dentingan ponselnya yang sudah pasti ada pesan dari adellia.


"jangan kira karena selama ini gue diem, lo bisa seenaknya aja sama gue leon"


"hah! Cowok kayak lo nggak pantes hidup sa, keluarga gue ilang karena perbuatan lo. "desis leonarda dengan tatapan tajam. Auksa menggeram kilas balik perbuatan kakak leonarda kembali merasuki pikiranya.


"dia penghianat"


"penghianat ya, cih, jangan kira karena lo udah biarin gue hidup sampe saat ini, gue bakal hormatin lo."


Auksa menyerigai, ia mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya kebingungan.


"lo mau mati? "


Tubuh leonarda bergetar, aura auksa begitu menekan batinya.


"gue bakal sebarin sama semua orang kalau lo cuma cowok brengsek sa! "


Auksa terkekeh pelan. Ia melepaskan cengkeramanya dari kaos basket leonarda, lantas menepuk dada laki laki itu berulang kali.


Netra auksa memicing, lantas ia membisikkan sesuatu di telinga leonarda.


"lakuin aja apa yang lo mau, karena selepas ini, gue nggak bakal biarin lo idup lagi. Nanti sore gue pastiin, lo bakal susul keluarga yang lo agung agungin itu. "


Leonarda terdiam bisu, tubuhnya kaku tak mampu bergerak. Auksa menolehkan kepalanya ke arah maganta,


"cabut, nggak ada gunanya urusin sampah kayak dia. "


Ujar auksa lantas berjalan diikuti rekan rekan basketnya.auksa menyugar surainya kasar, bisa bisanya ia membiarkan sampah semacam leonarda hidup sampai sekarang.


Ting!


Langkah auksa terhenti, ia menggerakkan tanganya agar maganta dan semua temanya tak perlu menunggu dirinya. Mereka mengangguk tanpa bertanya banyak, mereka cukup tahu kalau auksa sedang tak mau diganggu.



Auksa mendudukkan bokongnya di kursi parkiran,bibirnya mengumpati penilaian adellia yang menganggapnya hitam. Di ujung sana, teman teman auksa telah menaiki motornya masing masing.


"gue cabut dulu sa! "teriak maganta.


"entar panggil kita aja kalau leon macem macem"tanggap aditya kemudian.


"jangan ganggu auksa bro, lagi ganas dianya"ujar luki memasang helm fullfacenya. Hal tersebut membuat semua rekanya menatapnya ingin tahu, termasuk maganta juga aditya.


"ganas gimana?"tanya mahesa.

__ADS_1


"liatin aja, kalok lo berani usik auksa dia bakal kayak singa keluar kandang"tanggap luki serius.


"lo semua tahu kan wajah leonarda tadi, pucet banget sumpah"


"betul sangat apa yang kau cakap,


Lagian apaan sih yang dibisikin auksa tadi?"pertanyaan angga membuat semua temanya menggeleng. Mereka menoleh menatap auksa yang tak mengubris ,pandanganya fokus dengan ponselnya. Lantas menatap maganta penasaran.


"kenapa lo semua, gue nggak tahu ya, nggak usah nanya"


Semua orang di perkumpulan tersebut mendesah kecewa, mereka kira, dengan jabatan maganta sebagai sahabat auksa, membuat cowok tersebut lebih berpotensi mengetahui semua rahasia yang dimiliki oleh auksa.


"apaan ya? Penasaran banget gue sampe rasanya mau mati"


"nggak tahu, oh iya, gue tadi cuman denger mati mati doang, jangan jangan auksa-- "


"mau bunuh leonarda !"


"bunuh ndasmu! "ujar ucup menoyor kepala  dua orang yang sama sama berpikiran absurd.


"hadehhh punya temen nggak ada yang waras semua, bola basket aja yang pinter, perkara lainya nol besar"kata ucup sembari menyelah motornya. Kedua orang yang di kata katain ucup mendelik,


"ar, nggajakin war ni bocah"


"bunuh aja duluan sebelum auksa bunuh si leon. Biar tu cecunguk punya temen"tanggap ardi memanas manasi mahessa.


"gila!!! Nggak boleh kek gitu. Pak ustadz bilang kalau pembunuhan itu lebih kejam dari pada pemfitnahan"bela ucup, dia nggak mau mati muda.


"lo yang nggak waras bego! Kebalik, yang bener fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"ketok maganta di helm ucup keras keras.


"ngaco lo. Ustadz gue bilang begono kok"


"berarti ustadz lo abal abal"tanggap aditya, tanganya membenarkan tas punggung yang mulai melorot.


"bapak gue nyewa ustadz juga pilih pilih. Kalok kacangan ya dibuang lah. Ustadz yang kali ini terjamin. Udah dapet sertifikat dia. "


"sertifikat apaan"


"sertifikat ngajilah, semenjak ngajarin gue dia dapet sertifikat banyak. "


"keren dong ustadz lo"


"jelas, bokap gue yang kasih"


"bokap lo kasih sertifikat! "


"iyaa"


"itumah boongan cup, semua orang juga bisa. "


"ustadz gue beneran luar biasa maganta, dia benerin bacaan qunut gue segala,"


"emang lo qunutnya pake bacaan apaan"


"allahumma bariklana fimma rozaqtana waqina--"


Pletak


Adoi!!


"lo kok bego banget sih"


"ya gue kan nggak tahu ar, kali aja kalok gue baca doa itu gue nggak jadi kelaperan karena bangun tidur langsung subuhan"


"lo subuhan jam berapa? "


"delapan"


"emang goblok! "


"lo semua nggak mau pergi. "


Aditya menutup mulutnya yang hendak mengumpat. Aura auksa bukan main mengerikanya.


Mata auksa menajam menatap kesembilan orang yang  sudah menaiki  motornya namun tak satu orang pun yang berniat segera enyah,


"lima detik kalok nggak pergi, gue bakal buat --"


"iya sa, iya, kita cabut nih, nggak perlu dihitung"tanggap luki cepat cepat lantas mengegas motornya meninggalkan delapan temanya yang melongo.


"oi si badak, tungguin! "


Susul ardi lantas secara beriringan diikuti beberapa orang lainya denga umpatan yang berbeda beda.


Auksa mengusap wajahnya kasar. Dasar berisik! Lantas ia kembali menatap pesan adellia yang mengisi ruang pesanya.


"kok belum ngechat lagi ? "gumam auksa kecil.


"ck,gue lagi ngapain sih, nggak guna banget"


Ujar auksa lalu berdiri sembari menyimpan ponselnya. Auksa menghampiri motornya,lantas menghidupkan mesin tersebut dengan pelan.


Ting!


Auksa tersentak, tanpa sadar ia meraih ponselnya dengan terburu buru.



Auksa memasang kaos tanganya sejenak sembari menunggu balasan dari adellia.


Ting!



Maunya gimana sih ni cewek!? Auksa berdecak kecil, namun tak elak ia tetap menuruti permintaan adellia.



Auksa mendesis, padahal dia tak butuh barang cewek semacam skincare.





Auksa membuang nafasnya kasar, hah, sia sia saja ia menanggapi pesan Adellia. Lantas tanpa berlama lama lagi auksa memasang helm fullfacenya lalu menjalankan motornya denga kecepatan sedang.


******


Brakkk!


Auksa menatap tajam cewek berkuncir kuda asal di depanya, topi adellia telah terlepas, berganti menggantung di lengan kirinya. Adellia menghembuskan nafasnya kasar,ia merasa lelah.


" ini oleh oleh dari gue, jangan lupa dipake. "


Ujar adellia sembari menyodorkan sekotak tas berisi skincare channel ke arah auksa yang masih berdiri kaku.


Auksa mengusap wajahnya, ada apa sih dengan sifat adellia, kenapa cewek itu begitu keras kepala!


"ada Chanel Precision Sublimage Serum Essential Regenerating Cream,


Chantecaille Nano Gold Energizing Cream,Orlane Creme Royal,Kanebo Sensai Collection Premier the Cream,daan banyak lagi, gue nggak bisa sebutin semuanya pokoknya. "


"lo pake sendiri aja, gue nggak butuh"


"kok gitu sa? "


Auksa mengabaikan adellia lagi, laki laki minim ekspresi tersebut malah berpura pura sibuk dengan ponselnya.


"ish, sa!! "

__ADS_1


"diem adel, suara lo bikin telinga gue pengang"


Adellia cemberut, tanganya mengeluarkan seluruh isi tas belanjaanya.


"gue beliin skincare channel gini biar lo luluh"


Auksa berdehem tak peduli. Ia sudah bilang tak mau, lebih tepatnya ia tak butuh.


"sa!? "


"lo apaan sih sa abaiin gue mulu!" suara Adelia bergema dalam ruang tempat kerja auksa. Auksa menatap adellia sinis, masih teringat kalimat adellia yang terucap di perpustakaan.


"kenapa ?" tanya  auksa pelan, langkahnya lurus menuju Adelia yang menampilkan amarah.


"gue itu tipe orang yang nggak betah didiemin mulu!lo kira gue nggak sadar sa, udah dua hari loh lo ngejauh dari gue"


"nih, skincare lo, gue harap lo nggak marah lagi, yah, walau sebenernya gue juga nggak tahu sih lo suka apa kagak"


"kenapa lo kesini? "


"lo emang nggak peka, atau pura pura nggak peka sih sa! "


"gue tekanin ke lo , I don't want to be disturbed,lo tahu kan apa artinya?  go Adel, today I don't want to serve you anymore"


Adel menggaruk rambutnya yang tak gatal, bibirnya meringis kecil karena tak mengerti.


"oh, lo maunya bukan merk channel ya tapi merk disturbed, entar gue cariin ke banyak toko, tapi janji nggk bakal marah lagi"


Auksa menggerang sebal,cowok itu mengacak ngacak rambutnya frustasi. bagaimana mungkin adellia mampu memasuki sma sanjaya kalau ilmu dangkal saja gadis itu tak mampu mengerti!


"kenapa sih sa!lo mau cosplay jadi orgil"


Mata auksa menajam, hal tersebut tentu membuat adellia salah tingkah.


"eh salah ya, heheh Sorry "


"keluar adel"


"nggak mau, masih capek. "


Auksa memijat kepalanya yang berdenyut. Percuma ia mengusir cewek semacam adellia, bisa bisa malah auksa sendiri yang kelelahan.


Lantas, auksa mendudukkan bokongnya di atas kursi bersebetangan dengan adellia, laki laki tampan tersebut menyorot adellia dengan tatapan malas.


"lo apain anak buah gue? "


"maksudnya? "


"ck, lo apain anak buah gue sampe lo bisa masuk kesini? "


Adelia refleks memundurkan wajahnya tatkala auksa bertanya penuh penekanan. Jika saja adellia telat menghindar,  mungkin hidung mereka dapat bertemu.


"nggak gue apa apain kok"


Bantah adellia sembari mendorong dahi auksa agar menjauh dari radarnya. Auksa memutar bola matanya malas, tak mungkin adellia tak berbuat macam macam, soalnya, auksa telah memberi perintah agar tak membiarkan orang sembarangan untuk masuk ke ruanganya.


"nggak usah bohong, "


"emang nggak boong kok"elak adellia keras keras sampai liurnya menyembur kesana kemari.


"gue nggak apa apain anak buah lo kok, beneran, Suer "ujar adellia menatap auksa serius, yang ditatap semakin menajamkan kedua bola matanya.


"lo nggak percaya sama gue sa? Gue cewek baek baek, mana mungkin gue ancem anak buah lo pake nama lo segala. Nggak mungkin lah gue lakuin hal kayak gitu. "


Auksa menatap dellia menyelidik, adellia bodoh,dasar idiot! Bukankah adellia malah membongkar perbuatanya sendiri?


"sa!jangan natep gue kek gitu bisa! "


Auksa menaikkan satu alisnya, adellia memajukan bibirnya.


"lo kayak nggak percaya banget sama omongan gue"


"lo ancem anak buah gue"


Adellia mendelik bagaimanapun auksa tahu!


"Kok lo tahu? "


"lo ancem kek gimana? "


Adellia memainkan jemarinya dengan gelisah. Auksa masih saja menunggu sembari melepaskan masker pada mulutnya.


"gue nggak ancem"


Kukuh adellia masih berusaha membela, namun gadis itu segera menutup mulutnya karena merasa tertekan dengan aura yang dikeluarkan oleh auksa.


"ck, iya gue salah, gue cuman bilang gini, buka pintunya pacar bos lo mau lewat. "


Auksa masih diam membisu, tentu saja ia tak percaya dengan alasn sesederhana itu.


"shhh, gue juga ancem mereka pake jaket yang lo samperin ke bahu gue waktu di perpus, PUAS! "


Drkkkk


Tiba tiba saja auksa berdiri dari duduknya, lantas ia menarik tangan adellia paksa.


"eh eh, mau ngapain? "


"pulang"


"nggak mau sa, "


Auksa tak mengubris, cowok tersebut meraih tas belanja adellia sembari membawa adellia dalam genggaman tangan kirinya.


"SA!! GUE NGGAK MAU PULANG"


Langkah auksa terhenti. Ia menoleh ke arah adellia yang menggembungkan pipinya.


"gue belum liat lo pake skincare nya.


Mahal tahu! "


"gue nggak pake kek gituan adel"


"udah susah susah gue beliin, ngehargain dikit lah, "


Auksa mendengus, serta merta ia melepas genggaman tanganya pada tangan adellia, lantas meraih satu benda kecil bertuliskan Chanel Precision Sublimage Serum Essential Regenerating Cream,sejenak alis auksa menukik tajam, lantas ia segera meraih sedikit crim tersebut dengan jari telunjuknya.


"hadep sini"


Adellia menatap bingung, tapi ia tetap saja menuruti perintah auksa.


"dongak dulu, lo pendek"


Adellia mendengus, ia mendongakkan wajahnya sehingga auksa dengan leluasa membubuhkan krim tersebut di atas kulit wajah adellia. Adellia mematung, sentuhan tangan auksa pada wajahnya membuat dadanya berontak sedemikian rupa.kakinya bahkan terasa mati rasa saking deg degan nya.


"del"


"del "


"hoi! "


Adellia mengerjab, ia menatap auksa dengan ekspresi bingung. Tak sadar, auksa terkekeh kecil, tanganya secara refleks mencubit pipi adellia yang kenyal.


"udah, "


Adellia masih cengo di tempatnya ia berdiri, auksa segera mengamit jati adellia dengan jarinya.


"ayo pulang"


"eh, hah!iya pulang, heh! Pulang! Terus ini skincare nya gimana? "

__ADS_1


"buat lo aja, biar tambah cantik"


Ujar auksa tanpa menyadari kalau kata katanya membuat adellia ingin limbung karena tak kuat lagi bernafas.


__ADS_2