
...Gue takut kehilangan,...
...Walau tahu kalau ujung dari bertemu itu pergi....
...Sudah cukup papa dan mama yang menghilang di hati...
...Jangan kamu kali ini...
...Tetep disini auksa...
...Genggam dan tenangkan hatiku...
...Dari amukan rasa gelisah itu...
...🌜🌜🌜🌜...
Hening. Hujan rintik yang berubah semakin deras melengkapi mendungnya langit. Adellia tak menyangka kalau hujan akan datang hari ini membasahi Kota Jakarta, Pasalnya ,tadi siang saja masih terlihat panasnya matahari. Adelia melirik laki-laki di sebelahnya, di sana nampak auksa yang masih sibuk berkutat dengan ponsel.
" ngapain liat-liat? "
Pertanyaan auksa sukses membuat Adelia gelagapan. Ia sering bertanya-tanya tentang banyaknya mata auksa tak terlihat, karena sedikitpun gerakan yang adelia lakukan akan tertangkap detail pada retina auksa.
Adellia memalingkan wajahnya, merasa malu dengan kelakuannya sendiri. pelan, ia mengulurkan tangannya,menerka-nerka seberapa derasnya hujan yang menyentuh sekolah SMA Sanjaya. Sedang auksa, pria itu menyimpan ponselnya asal . Bola matanya sesekali menatap langit-langit berganti ke beberapa siswa yang nekat berlarian menembus hujan. Nafas auksa berhembus kasar, terdengar lelah.
" kenapa? "
Adellia refleks bertanya tatkala mendengar hembusan nafas auksa.
" nggak papa "
Adelia membenci suasana seperti ini. di mana ia harus terpaksa diam karena Canggung.
" kenapa nggak balik sekarang? "
"seragam lo dah diganti? "
Adellia mendengus,malah bahas seragam !
" udah jam empat sa, pulang duluan sana "
Memang benar, Adelia tengah menunggu hujan reda selama 2 jam lebih, padahal Adelia begitu bahagia karena ia kira akan pulang lebih awal. Salahkanlah hujan yang tiba-tiba turun, juga mobilnya yang tak ada kabarnya lagi, Adelia bahkan lupa untuk memesan mobil baru karena masalah yang datang akhir-akhir ini.
Auksa yang mendengar perkataan Adelia malah menyandarkan punggungnya dengan santai di dinding sekolah. matanya menyorot tajam ke arah gadis itu.
__ADS_1
" hujan "
" Iya tahu ,emang nyokap lo nggak nyari? "
Auksa berdecak. pertanyaan Adelia membuatnya sensitif.
" Diem bisa nggak? lo kan biasanya senang gue temenin "
Adelia berdehem tak enak. kedua tangannya erat memegang tas ransel. Auksa terlalu peka,dan sepertinya auksa tak begitu suka mendengar pertanyaanya.
"sa dingin juga ya?"
Ujar Adelia mencari topik karena begitu Canggung, namun auksa hanya diam menanggapi. Tangan Adelia terulur sebab Salah tingkah, ia berpura pura melanjutkan aktivitasnya meneliti derasnya hujan.
"shhhh, gue nggak bawa jaket lagi " gerutu Adelia menggigil, tanganya menggosok satu sama lain. Adellia tak bohong, udara memang teramat dingin untuknya, apalagi seragam sekolahnya yang pendek membuat angin kencang leluasa menjamahnya.
"sa "
Auksa diam tak menoleh, entah bagian mana letak kesalahan yang diperbuatnya.auksa mendiamkanya, bukankah wajar untuknya melontarkan pertanyaan semacam itu?
"sa"
Auksa tetap saja bergeming. Laki-laki itu kembali sibuk dengan ponselnya, sesekali melirik rintik hujan , seakan mencoba menghitungnya dalam diam.
"sa, biasanya langit emang sekelam ini ya kalau lagi hujan? "
" Kenapa harus kelam ya sa? Langit kan punya senja sama biru biar tetap indah, dia juga masih punya matahari kan biar tetap cerah,nggak kayak gue"
Adelia terdiam. Menikmati rasa sakit yang tiba-tiba saja menghujamnya. di mana ayahnya yang menganggapnya tak lebih penting dari urusan beliau. Juga mamanya yang udah pergi meninggalkannya .
" gue udah nggak punya siapa-siapa sa, siapa lagi yang peduli sama gue "
Adelia mendongak, mencegah bulir-bulir air yang hendak meluncur dari matanya.
"emang gue nggak boleh bahagia ya sa?emang susah banget ya buat papa sama mama rujuk demi gue. Gue butuh keluarga lengkap gue yang kayak dulu"
Adelia menoleh, ia menatap auksa yang kini juga menatapnya. Beberapa detik keduanya saling menetap dalam Sunyi. Seakan menyalurkan segala emosi tanpa berkata-kata
"ekhem, sorry sa, gue udah ngomongin hal nggak guna di depan lo"
Ujar Adelia mengalihkan pandangannya. Auksa masih saja menatapnya serius, tentu saja membuatnya salah tingkah secara mendadak.
"sa dingin "
__ADS_1
Adu Adelia mendekat ke arah auksa demi mengenyahkan salah tingkahnya, auksa berdecak, baru saja ia merasa kasihan pada adelia eh udah buat ulah lagi ni cewek.
"sa gue kedinginan nih "
Ujar Adelia menari-narik jaket yang tengah dipakai auksa. Auksa mendengus kesal, adellia emang pada dasarnya menyebalkan seperti ini. Yang tadi kayaknya cuman halusinasi.
"ih sa! "
"terus gue harus apa? "
Adelia mendengus, bibirnya mengerucut beberapa senti.
"Lo nggak pernah nonton drakor ya? seharusnya kan kalau gue kedinginan gini lo harus samperin jaket lo ke gue"
Sreeek
"nah gitu loh sa, kalau lo udah samperin jaket lo ke gue, lepas itu lo harus peluk gue biar tetep anget. Uhhh romantis banget. " ujar Adelia percaya diri. Auksa bergidik ngeri, Padahal niatnya hanya ingin membenarkan resleting jaket yang sepertinya nampak macet.
" cuma benerin"
"hah ?"
Adelia melongo menanggapi. Tangan kanannya menutup wajah karena malu. Beberapa pasang mata yang masih menunggu hujan reda mungkin juga tengah menahan tawanya.
"ish sa! Malu-maluin tahu! "
Ucap Adelia sebal, auksa tak peduli. laki-laki itu malah asik menengok langit yang meredakan rintikan hujanya.
" lumayan nggak deres nih"
Teliti auksa kemudian. Auksa membuka jaketnya tergesa. Hal itu membuat Adelia melirik ausanya lagi.
Senyumnya mengembang begitu saja tatkala ekor matanya menangkap auksa yang melepas pakaian hangat tersebut. Tanpa permisi Adelia bertambah merapatkan tubuhnya ke arah auksa.
" jangan deket-deket "
Adelia tak mengublis. Bayangan auksa seperti film romansa dan novel-novel remaja mampu merajai kepalanya. tanpa terasa semu merah muda mampir di pipinya.
"husss jauh-jauh sana "
Usir auksa risih,Adelia mengerutkan alisnya heran, matanya menangkap auksa yang mulai sibuk membenarkan posisi jaket untuk menutupi kepalanya. Sigap,auksa berlari menerobos hujan, tak sedikitpun pria itu melirik Adelia yang terheran. Jaket yang Adelia pikir bakal mampir ke bahunya mendadak jadi payung kepala. Auksa meninggalkan Adelia yang mematung bersama harapannya yang pupus tanpa bekas.
"SA!!! "
__ADS_1
"ih, kok ditinggalin sih "
Adelia menggerutu, ia menatap punggung auksa yang kian menghilang dan mengecil dari pandangannya.