TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Gue suka sama dion


__ADS_3

..."Sa, kita ini apa? "...


..."Lebih dari yang lo pikirin sekarang Adel,"...


...๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ...


Adellia mengukir senyumnya tipis. Hatinya sedikit menghangat tatkala mengingat balasan Sinta semalam.


Jangan cari Mama lagi Adel. Mama udah jauh.


Adellia bersyukur, setidaknya Sinta masih mau membalas. Ia masih memiliki secuil harapan untuk membuat Sinta kembali lagi. Adellia mendongakkkan kepalanya, hari ini matahari bersinar terik. Seragam olahraga Adellia yang memang dirancang sedikit tebal membuatnya kegerahan.


"Adel, giliran lo nih!"


Adellia mengangguk. Ia lekas berdiri dan memosisikan tubuh menghadap Dion yang memegang bola voli.


"Satu, dua, tiga!"


Prit!


Suara nyaring yang berasal dari peluitย  pak Handoko segera memasuki telinga Adellia, Dion melempar bolanya. Tak elak, kelincahan Adellia dalam melakukan passing bawah mengundang suitan riuh dari teman kelasnya. Apalagi penampilan Adellia dengan cepolan rambutnya yang asal membawa aura istimewa tersendiri.


Prit!!


"Adelia dapet dua puluh Pak!"


Ujar Dion setelah peluit Pak Handoko berbunyi pertanda permainan selesai. Guru berkumis tipis itu mengangguk, lantas mencatat hasil Adellia dalam buku penilaiannya.


Adellia mengusap peluh, lantas berjalan menghampiri Tari yang tengah berselonjor.


"Wuih si suhu, dapet dua puluh lho. Hebat baget temen gue."


Adellia terkekeh mendengar penuturan sahabatnya. Bukannya sombong, Adellia memang sedikit ahli dalam permainan bola voli.


"Geser Tar gue mau duduk,"


Tari menggeser bokongnya walau malas. Tapi tidak apa-apalah, lumayan bisa nambah amal ibadah.


"Del,"


"Hm?"


"Lo beneran pacaran ya sama Auksa? "


Adellia menoleh menatap Tari dengan sorot heran.


"Kok tiba-tiba Tar, kenapa? Lo cemburu?"


"Enggak lah, kasihan aja gue sama orang yang masih ngarepin lo."


"Siapa? "


"Tuh,"


"Dion? Haha nggak usah bercanda deh Tar, Dion itu cuma sahabat gue. Itu doang, nggak lebih."


Timpal Adellia sembari melempar senyum kearah Dion yang tengah menatap kearahnya. Mungkin saja cowok itu merasa tengah diperbincangkan.


"Tapi Dion suka lo Adel."


"Kata siapa Tar? Dion nggak pernah tuh bilang ke gue"


"Gue tahu, tatapan dia ke lo itu beda."


"yaelah Tar, lo suka ya sama Dion? kok perhatiin dia sampe segitunya,"


Tari menunduk, tangannya meremas celana olahraga yang tengah dipakainya. Hal itu tentu saja membuat Adellia semakin yakin kalau Tari beneran menyimpan perasaan terhadap Dionarda Yordan.


"Bukan gitu Adel. "


Adellia mengernyit, ia jelas tahu kalau Tari tengah menyembunyikan sesuatu.


"Tar, gue sama Dion cuma sahabatan. Nggak ada yang bisa rubah itu. Dion udah gue anggep kayak saudara gue sendiri, sama kayak lo. "

__ADS_1


"Lo bisa ceritain apa aja ke gue Tar. "


Tari mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk. Ia mencari kebenaran dari sorot Adellia yang nampak teduh.


"Gue bakal usaha bantuin lo selagi gue bisa,"


Tari menggigit bibir dalamnya. Rasa ragu menjamah ruang hatinya.


"Nggak papa Tar, gue bakal dengerin semuanya. "


Tari menarik nafasnya yang terasa berat. Memang sebaiknya dia menceritakan perihal ini kepada Adellia.


"Del,"


"Iya."


"Gue.. Ijin ya? "


"Ha? Ijin apaan Tar?! Lo mau pergi? Kemana?Kapan? "


Tanya Adellia karena terkejut. Tari menggeleng cepat. Bukan itu?!


"Terus apaan Tar? "


"Gue minta ijin buat perjuangin cinta gue. "


"Cinta lo? "


"Iya, gue suka sama Dion Del. Udah lama,"


"Astaga! Bener kan apa yang gue pikirin?"


Pekik Adellia antusias, Tari memalingkan wajahnya yang memerah.


"Lo pinter banget nyembunyiinya, kenapa lo pakek ijin sama gue segala sih? Ck, kalau lo suka sama Dion, ya udah ungkapin. Mana bisa Dion nolak lo, cantik gini kok orangnya. "


Ujar Adellia membuat Tari tersenyum kecut. Lo cuman nggak tahu aja Del, kalau dapetin hatinya Dion itu susah banget. Dia udah kelanjur cinta sama lo.


"Thanks Adel."


.


.


.


"Nih minum!"


Adellia menyambut sodoran Pocary Sweat dari cowok di depannya. Dia masih tidak menyangka kalau sosok tampan yang begitu digilai hampir semua siswa SMA Sanjaya itu luluh dihadapannya.


"Capek? "


"Iyalah pakai nanya lagi!"


Jawab Adelia Ketus sembari meneguk minumannya. Auksa terdiam, ia menatap Adelia yang entah mengapa tampak cantik hari ini.


"Jangan diliatin mulu, nanti suka. "


"Terlanjur dong,"


"Hah?! "


Auksa tidak menanggapi, cowok itu malah sibuk menyambut nasi goreng dari si penjual kantin lantas meletakkannya di depan Adelia dan di depannya sendiri.


"Auksa, "


"Hem? "


"Kita ini apa sih?"


Auksa menghentikan aktivitasnya. Netranya menatap Adelia serius.


"Ekhm! maksudnya kan ya, kemarin gini. Lo sama gue kan pacarannya bohongan, jadi gini, ish! Gimana sih jelasinnya? Masa lo nggak ngerti sih Sa!"

__ADS_1


"Terus menurut lo kita ini apa Adel? "


"Ya apa ya? Gue nggak tahu, " Adelia menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ia juga bingung mau menjawab bagaimana. Kalau jawabnya pacar beneran kedengarannya aneh banget.


"Del, "


"Eh iya apa? "


Auksa terkekeh,membuat beberapa pekikan terdengar.


"Dengerin, gue bukan cuma pacar lo tapi lebih, gue bisa jadi temen lo, sahabat lo, atau mungkin salah satu orang yang selalu ada buat lo."


"Otak gue nggak sampai Sa. Lo ngomong apaan sih? Muter-muter kek gitu? "


Auksa berdecak. Ia memang harus mengisi stok sabarnya yang selalu mendadak limited edition waktu dihadapan Adellia .


"Adel, lihat gue! "


"Gue, Auksa Legarvan Alfadiaraga, bakal siap jadi temen lo kalau lo kesepian, juga sedia jadi sahabat lo kalau lo butuh cerita, gue bukan cuma jadi pacar lo doang Adel, tapi gue bakal berusaha jadi orang yang benar-benar bisa lo andelin sampai kapanpun itu "


Nafas Adelia tersendat, ia tak mampu berkata-kata.


"Jadi, lo boleh bagi beban lo ke gue. Kita harus saling melengkapi biar sama-sama kuat. Lo tau kupu-kupu? "


Adelia mengangguk.


"Kita sayapnya Del. Kupu-kupu tanpa sayap walaupun satu, nggak bakalan bisa terbang, dia lemah tanpa satu penopangnya,"


"Lo paham? "


"iya. "


"Paham mananya? "


"Kupu-kupunya. "


Auksa mengusap wajahnya kasar. Ia meraih segelas es jeruknya lantas menenggaknya hingga tandas.


"Adel,"


"Lo terlanjur masuk ke hidup gue. Sudah seharusnya lo jadi satu sayap yang melengkapi gue nantinya, biar kupu-kupu kita bisa terbang dan lawan semesta."


"Terus intinya kita apaan dong? "


"Lebih dari pacar "


Adelia menggaruk rambutnya asal, lantas memasang senyum bodohnya.


"Masih nggak ngerti Sa, "


"Ya udah deh lo makan aja biar tambah pinter"


Ujar Auksa dongkol. Dia bahkan sudah membuang harga dirinya agar bisa bersikap romantis di hadapan Adellia. Tapi Adellia malah bereaksi seperti orang bodoh. Tentu saja hal itu membuat Auksa sebal setengah mati. Adellia kelewatan nggak pekanya.


"Sa,"


"Kenapa ? " jawab Auksa malas karena masih sebal. Adelia tersenyum kecil, entah mengapa Auksa tampak menggemaskan.


"Lihatin gue dong! "


"Lagi makan Adel,"


Adellia menahan tawanya yang hendak keluar. Ia segera menangkup wajah Auksa dengan kedua tangannya,ย lantas memaksa Auksa untuk menatapnya.


"Gue mau kok jadi satu sayapnya buat dukung lo lawan semesta. Lo pacar gue Sa, satu bagian dari hidup Adelia . Gue udah mutusin suka sama lo. Jadi kita sama-sama bertahan ya? Biar semesta nggak berani permainin gue dan lo lagi."


Ujar Adelia tiba-tiba sambil memasang senyum manis. Dada Auksa berdegup. Benar! Adelia telah berhasil membuatnya jatuh ke sebuah perasaan menggelitik untuk kesekian kalinya. Auksa tersenyum, ia mengangkat tangannya untuk menepuk kepala Adellia lembut.


"Lain kali jangan iket kayak gini, lo cantik nanti banyak yang lirik "


Ujarnya menarik kuncir Adelia, membuat rambut bergelombangnya terurai. Adellia menatap Auksa penuh. Pacarnya yang tampan selalu saja berhasil membuat hati Adellia berdegup tak terkendali.


"Lo milik gue Adel, gue nggak suka berbagi,"

__ADS_1


Tambah Auksa sembari mengenggam tangan kanan Adellia lembut.


__ADS_2