
...🌜🌜🌜🌜...
...Biarkan aku merengkuhmu......
...Mendekap lagi pada bayang senyum tanpa cela....
...Menatap wajahmu yang tetap saja cantik berhias senja....
...Ternyata.......
...Aku masih saja belum mampu melepasmu...
...Karna hatiku yang selalu saja memilih merindu....
🌜🌜🌜🌜
Berkali-kali dion menutup mulutnya yang menguap lebar, sudut matanya berair.hah.... entah bagaimana bisa guru dengan rambut sebahu di depan sana menyampaikan materi hingga mulutnya berbuih.
"untuk tugas rutin, kerjakan halaman 27 beserta essainya. saya tunggu minggu depan. wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" sontak semua siswa menjawab salam dengan semangat, benar-benar waktu yang sangat diidam-idamkan. Tak terkecuali Dion yang kini mendongakkan kepala seakan tak pernah diserang ngantuk beberapa menit yang lalu.
Drtttt
ckittt
"geser-geser" suara Adelia yang nyaring membuat Dion menoleh, jangan lupakan kalau ia masih merasa kecewa dengan gadis yang memaksa menyempil tempat duduknya.
"elah Yon, geser dong, batu lo makan juga? " ujar tari menambahkan. Dion mendelik, enak saja? Ia juga masih manusia normal yang menyukai nasi. Dengan setengah hati dion menggeser tempat duduknya, tentu saja adellia bersorak senanng, lantas gadis mungil itu menyeret lengan tari agar ikut serta duduk.
"sini tar deketan"
Tari mengangguk menanggapi, ia segera mendudukkan bokongnya di kursi adellia yang hanya tersisa setengahnya saja.
" widihh! lo ganti gaya rambut del? "
Perkataan kagum tari tentu membuat dion sedikit tertarik. Ia tak sempat memperhatikan penampilan adellia pagi ini karena suasana hatinya masih tak menentu. Adellia mengibaskan rambutnya angkuh, senyum sombong tercetak jelas di bibir cerrynya.
"gimana tar, udah persis mbaj anggun iklan tv belum"
"beuuuh, mantap, yang ini mah nyaingin del"
Adellia menggesek hidungnya dengan jempol, tentu saja adellia gituloh.
"gimana Yon cantik nggak?" tanya adellia sembari mengibaskan rambutnya lagi dan lagi. Dion mendengus, adellia tak pernah berubah, selalu saja narsis tiada batas.
" cantik? Bercanda ya lo del? Rambut kayak papan seluncur aja bangga. "
Ujar dion sembari membuka aplikasi game pada ponselnya sebagai kamuflase, padahal tanpa diminta jantungnya berdetak tak terkendali, adellia selalu cantik di matanya, begitupun untuk kali ini.
"issh lo kok gitu, tariiii"adellia memasang tampang memelas ke arah tari ,ia sengaja menengok ke sahabat perempuanya sembari mengibaskan rambut barunya.rasain tuh yon, makan rambit gue.
" bisa anteng nggak? "
"ngapain sih lo yon, sewot amat, lo pms? "
Dion menoyor kepala adellia tanpa belas kasihan. Adellia mengaduh pelan, lantas ia kembali menatap tari untuk mengadu.
"sakit tar"
"utututu sayang, mananya yang sakit?"
"hiks, sebelah sini"
Tunjuk adellia ke arah kepalanya, tari mengusap kepala adellia dramatis membuat dion yang melihatnya memutar bola mata jengah.
"orang kek dion nggk usah diladenin. Emang suka gaje"
Adellia mengangguk pura pura polos, lantas ia menatap dion sengit.
"dasar gaje!! "
"gaje apaan? "
"makanya nggk usah sewot gitu dong yon, secara nggak langsung lo ejek rambutnya mbak anggun. Mau lo gantiin dia iklan shampoo pantine? "
"whatever, secara rambut gue lebih wow dibandingin dia"
"cih!,bisa nggak laku entar produknya"
"bener tar, bisa ditarik nanti iklanya, modelnya jauh dari ekspetasi. "
"lo ejek gue? "
Adellia menaikkan kedua bahunya tak peduli, lantas kembali mengibarkan rambutnya yang lurus tanpa gelombang. Dion mencebik, dia memegang kepala Adelia agar Berhenti memainkan rambut yang selalu saja menamparnya. Tentu saja Adelia menatap Dion penuh kesal.
" diem Adel, rambut lo tampar gue mulu "
" terserah rambut gue dong mau namparin siapa "
jawaban Adelia membuat Dion berdecak. Adelia segera menepis tangan Dion dari kepalanya, bisa rusak nanti rambutnya !
"eh, btw lo pada tahu nggak berita hot kali ini "
Adelia dan Dian reflek berbalik menatap tadi. berita hot?
" kita gue jadian sama auksa maksud lo? "
" yeeee si Adel, bukan itu, yang ini lebih hot lagi "
elak tari serius, tentu saja hal tersebut membuat Adelia juga dion penasaran.
"ha? Ada ya yang lebih hot ya dari itu? "
__ADS_1
"ada lah! nih ya gue bagi tahu, SMA merah putih dapat kasus, katanya leonarda Stamford, ketua basket sekaligus wakil DP dikabarkan menghilang "
"yah, gue kira apaan "jawab Adelia santai, tari melotot garang.
" bener kan ? yang penting bukan sekolah kita kan yon? "
Dion mengangguk menanggapi, dia juga baru mengetahui hal tersebut. Namun menurutnya tari berlebihan, mau Leonardo menghilang ataupun mati, Dion tidak peduli. Ia cukup tahu kalau SMA merah putih telah begitu lama bermusuhan dengan SMA Sanjaya, dengan menghilangnya satu orang semacam leonarda tentu membuat pasukan basket SMA Sanjaya lebih dan lebih unggul lagi. yang pasti, SMA Sanjaya mendapat keuntungan dari peristiwa ini.
" pacar lo dapat masalah Adel "ujar tari gemas, Adelia mengerutkan kedua alisnya heran.
" yah kok pacar gue? si auksa maksud lo?!" Tari mengangguk antusias, Adelia memfokuskan atensinya ke arah Tari.
"auksa jadi tersangka pertama kasus hilangnya Leonardo"
"hah!! Kok bisa sih Tar!? "
"gue nggak tahu Del, beritanya emang tiba-tiba ngilang dalam semalam, media seakan senyap kembali. Tapi polisi nggak gampang dibohongi, gue denger-dengar si auksa lagi didatangi polisi hari ini. dia dipanggil ke ruang BK. "
Adelia melotot, mana mungkin auksa melakukan hal biadab semacam itu?
" gue percaya sama auksa kok tar "
ujar Adelia refleks, Dion tersentak mendengarnya. Tak elak dadanya terasa mencolos turun dari tempatnya.
"auksa nggak bakal ngelakuin hal kayak gitu. Lagian, buat apa auksa ngebuat Leon hilang?"
" entah, yang gue tahu, auksa dan rekan basketnya jadi orang terakhir yang ditemui Leonard dari itu. karena sore harinya leonarda menghilang tanpa jejak sampai dua hari kedepan "
" apalagi Aldi, teman dekat leonarda bilang ke polisi kalau auksa sempat mengancam leonarda terkait kematian. Sayangnya, dia tak begitu jelas mendengarnya, informasinya jadi agak kabur "
Adelia mendesah, mendadak sekali ia merasa khawatir dengan keadaan auksa. Selepas ini dia harus menemui laki-laki itu untuk mengecek kepastiannya.
Drttt drttt
Eh!! Adelia mengernyit, pelan ia meraih ponsel yang bergetar dalam saku seragamnya. Batu is calling,cih! lagi lagi Juan menelfonnya. Adelia mengumpat dalam hati, pasti hal ini terkait pekerjaan lagi.
" halo " Adelia mengangkat panggilan tersebut dengan ekspresi malas.
" nggak mau, masih sekolah "jawab Adelia ketus.
" apa!!! "
" belum pernah kena lempar sepatu ya lo?"
"entar siang kan bisa? "
"nyenyenyenye, terserah, Pokoknya nggak mau "
"ck, kok maksa "
Alis Adelia menukik tajam, amarahnya terasa membludak. Apa-apaan sih Juanda! Masak setiap hari Adelia harus mengikuti semua perintahnya, adellia kan punya kehidupannya sendiri.
" gue udah bilang, entar siang kan bisa. gue juga punya kewajiban di sini, bukan cuman melayani kemauan lo doang. "
" Adel "
Adelia tersentak, suara lembut tari juga usapan pada lengannya menggugurkan emosinya dalam sekejap. Sial, bisa-bisanya ia melupakan kehadiran tari dan Dion yang duduk di sebelah kanan kirinya.
" lo kenapa? "
" nggak papa tar "
Tari tak akan semudah itu percaya, ia jelas tahu kalau Adelia nampak menahan amarahnya dari tadi.
"siapa ?"
alis Adelia mengerut, terlipat sedemikian rupa.
" yang nelfon lo "
"eh, oh, itu tar, cuman orang gila tar "
Dia meringis tatkala mendengar nada protes dari Juanda.
"lo nggak bohong kan?" tari menatap Adelia penuh selidik, yang ditatap susah payah menelan ludahnya karena sorot tari yang tak biasa.
" nggak usah khawatir tar, " ujar Adelia halus, tari menghela nafasnya berat, Sampai kapan ia menunggu Adelia terbuka terhadapnya?
"adel"
Adelia berdecak lantas menoyor kepala tari keras-keras, tentu saja Tari mengaduh, kepalanya terasa berdenyut.
"adel!! "
"ck, nggak usah kayak gitu bisa? Muka lo kayak orang kebelet berak tahu? jadi nggak enak gini kan suasananya"
"berani lo sama gue! "
"yeee, nantangin ni bocah, sini maju gue mundur aja"
"takut kan lo, ngaku! "
Adellia tertawa renyah, takut? Adellia tak takut terhadap tari, karena adellia lebih takut kepada takdir yang selalu saja mempermainkanya. Sayup-sayup suara Juanda yang memanggil namanya memasuki telinga Adelia, Adelia mendengus berat.
" gue lanjutin telfon dulu " ujarnya lantas perjalanan hendak pergi, namun perkataan tari selanjutnya membuat langkah Adelia terhenti.
" lo anggap gue sama Dion apa Adel? lo nggak pandai bohong. Lo pasti lagi sembunyiin sesuatu dari gue sama Dion kan? "
Adelia menggigit bibirnya, pelan ia menoleh tatkala dirasa sudah mampu menormalkan ekspresinya kembali.
" hal paling besar yang gue sembunyiin adalah tentang lo yang nyebelinnya nggak pernah tahu tempat tar. Mana ada gue nyembunyiin hal penting ke sahabat gue sendiri.kalaupun iya, itu artinya gue lagi butuh waktu. "
__ADS_1
Jawaban Adelia menyiratkan beribu makna. Gadis itu tersenyum kecil lantas tanpa permisi meninggalkan tari yang mematung beserta Dion yang berlagak acuh.
"yon lo ngerasa ada yang aneh nggak sih? "
Dion meletakkan ponselnya asal, tetapannya menatap pintu kelas yang menelan adellia sampai tak terlihat lagi.
" biarin dulu tar, mungkin Adelia belum siap ceritain semua masalahnya ke kita " tari menghembuskan nafasnya berat lalu menyandarkan punggungnya lelah.
Ya udah Adel, gue bakalan tunggu lo siap buat cerita, batinya berujar lirih.
******
Auksa melangkah menuju ruang kelasnya. Leonarda Stamford , benar! kematian pemuda itu ada sangkut pautnya dengan dirinya. Bukankah auksa tak salah? dia sudah memperingatkan sebelumnya kan? Auksa menyugar surainya kasar, diam-diam ia menggeram tertahan,berita itu kenapa bisa tersebar luas, padahal auksa sudah berhati-hati dalam segala tindakannya , walau sudah menghilang, namun tak menolak kemungkinan bahwa sebagian orang telah mengetahuinya.
" Makasih atas waktu anda. Kami akan berusaha menyelidikinya kembali"
Cih! Auksa tersenyum miring, sampai lelah pun jejak Leonardo tak akan terlihat kembali. Bukti yang mengarah terhadapnya juga hanya sekedar ancaman kosong, auksa percaya kalau kasus ini akan ditutup tanpa penyelesaian tak lama lagi.
"demen amat lo ganggu gue sekolah"
Deg!
Langkah auksa terhenti, kepalanya refleks menoleh ke arah gadis yang berdiri tak jauh dari radarnya,mata auksa melebar, postur itu, rambut lurus itu, senjanya?!
Dada auksa berdentum sesak, Apakah senjanya hendak kembali padanya lagi.
"ck, gue bakal buat surat pengunduran diri, bisa gila lama lama kerja sama lo?"
Auksa melangkah kaku, jika benar itu senjanya, bellanya, auksa tak akan melepaskanya lagi, ia tak mau merasakan kehilangan untuk kesekian kali.
"bel"
Jelas sekali gadis di depanya tersentak, tubuhnya membatu karena terkejut.
"bel, ini beneran lo kan? "
Suara auksa bergetar, kedua netranya berkaca-kaca. Hatinya terasa menghangat tak terkira. bellanya kembali,untuknya lagi. Perlahan, tangan auksa meraih tangan gadis di depannya, ia mengusap punggung tangan tersebut dengan lembut, gadis itu seperti enggan berbalik. Sepertinya tak mengira auksa akan menghampirinya. pikir auksa dalam hatinya.
" Makasih bel, lo ke sini karena lo mau balik ke gue lagi kan? "
Pertanyaan Auksa membuat gadis di depannya membeku. Auksa tersenyum kecil. Ia mengecup punggung tangan bellanya dengan begitu lembut.
" jangan pergi lagi ya , gue capek pura-pura lupain lo "
Ujar auksa menunduk dalam .Ia jelas tak mengira kalau bella akan kembali terhadapnya. Ia tak menyangka kalau senjanya kembali lagi melengkapi hari-harinya .
"bel... gue terpuruk tanpa lo "
Lagi... Suara auksa bergetar. Tak mampu ia tahan isakan yang memaksa keluar dari bibirnya. Sudah hampir dua tahun lamanya ia menunggu hadirnya bella tanpa kepastian. Hari ini gadis itu kembali,auksa tak peduli terlihat lemah, ia hanya ingin gadisnya tahu, tanpa bella, hidup auksa penuh kelabu dan tak lagi biru.
" maafin gue bel "
Gumam auksa lirih , gadis di depannya berbalik. Tangan mungilnya membalas genggaman auksa lantas mencengkeramnya erat. Gadis itu tak kalah rapuhnya mendengar hal tersebut, dia merasa tak begitu diharapkan kehadirannya.
" bella siapa? "
Pertanyaan pelan dari Adelia refleks membuat tangisan auksa terhenti. kepalanya yang semula menunduk dalam langsung mengarah ke sosok gadis yang menatapnya penuh luka. hati auksa teremas kuat,
"sa, bella, yang lo maksud, kak Bella yang kata Meika cewek spesial hidup lo itu? "
Auksa tak menjawab. cowok itu menggigit bibirnya. Rasa sakit mendominasi hatinya kali ini. Mana mungkin bella kembali ? Mana mungkin senja itu sudi merengkuhnya lagi,
"sa, lo nangis? "
Adelia gelagapan tatkala melihat air mata yang mengalir di pipi kekasihnya. Pelan, ia mengusap pipi auksa lantas menangkup pipi cowok itu lembut. Nafas auksa tercekat, sorot Adelia begitu teduh namun tampak ada setitik luka yang tersirat.
"sa, "
Perkataan Adelia terhenti, ia tak kuat menatap auksa yang seperti ini. Kalau diingat-ingat lagi, pertemuan pertama antara auksa dan dirinya juga semacam ini. Di bawah guyuran hujan, di tengah rasa sakitnya, dan disaksikan anak air yang menjamah tubuhnya. Auksa menyebut gadis itu .Bella,yha bella , cewek beruntung yang sampai sekarang pun masih menempati tahta tertinggi di hati auksa.
"Adel "
Deg!!
Tiba-tiba saja auksa meletakkan kepalanya di bahu Adelia. jantung Adelia berdetak kencang, sesuatu seperti mengerubungi perutnya.
" biarin gue kayak gini dulu. "
Ujar auksa lirih. Ragu, Adelia mengusap surai auksa yang lembut. wangi khas auksa menyerobot memasuki lubang hidungnya. Adelia menghembuskan nafasnya. Kedua matanya memejam rapat menikmati berbagai rasa yang menjamah dalam sudut hatinya.
" tumpahin aja kalau lo mau nangis. laki-laki juga manusia sa. lo nggak selalu harus terlihat kuat . "
Auksa langsung menarik Adelia dalam rengkuhannya. Adellia tersenyum lembut. setiap manusia punya lukanya sendiri. Ia pun begitu.
" Bella ninggalin gue "
Dada Adelia terasa sesak, sakit menderanya tanpa permisi. Apakah Adelia benar-benar menyukai sosok dipelukannya ini? Adelia mengatubkan bibirnya rapat-rapat. Ia tak boleh ikut menangis. Sepertinya Ia harus berhenti sebelum semakin dalam mencintai. Auksa menyukai orang lain, dan Adelia tak berhak melarang cowok itu mengikuti kata hatinya. Auksa mendekap Adelia semakin erat. ia menenggelamkan kesedihannya pada pundak Adelia yang entah kenapa terasa nyaman.
" Adel "
Adellia tak menjawab. Dadanya masih berkecamuk penuh rasa.
Rasa sakit, perih, nyilu, bercampur jadi satu tanpa ia minta.Adellia merasakan bahunya tak lagi berat, auksa telah menegakkan badanya kembali, wajahnya berantakan namun tak sedikitpun mengurangi kadar ketampananya.
" Gue nggak suka lo lurusin rambut kek gini adel"
Ujar auksa pelan lantas mengumpulkan surai Adelia menjadi satu, auksa mengambil gelang hitam yang berada di pegangan tangan kanannya. Gelang pemberian senjanya dahulu.
"sorry , gue masih cinta sama dia" ungkapnya kecil sembari mengikat surai Adelia dengan gelang miliknya. Auksa mengusap lembut air mata yang berada di sudut mata Adelia. Adelia termenung, matanya menatap kosong ke depan. Bahkan saat auksa berterima kasih lantas berlalu pergi tak membuat Adelia selesai dengan lamunannya.
Gue masih cinta sama dia
__ADS_1
Adelia terkekeh kecil, air matanya kembali membasahi pipinya. Adellia menekan dadanya kuat, nyeri meremas hatinya begitu hebat.
Akankah ia harus menyerah sebelum mencoba?