TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Teror 1


__ADS_3

...Biarkan aku bahagia sekejab saja....


...Semesta......


...Tolong.......


...Kali ini, lepaskan aku untuk metasa lengkap bersama auksa....


๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ๐ŸŒœ


Ternyata semesta tak mau membiarkannya bernafas lega barang sekejap . Adellia menatap sekelilingnya, beberapa ahli forensik juga polisi dengan tak tahu malu mondar-mandir di dalam kamarnya.


" maaf Nyonya Adelia karena telah mengganggu waktu anda."


Ujar salah satu polisi berbadan tegap di depan Adelia. Di tangannya terdapat pisau berlumur darah yang dilapisi oleh plastik bening. Adellia terdiam kaku, ia masih mengingat bagaimana pisau itu menancap di dinding kamarnya.


"kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkan kasus ini."


Adelia mengangguk. Ia masih syok dengan kejadian yang menimpanya. Digenggamannya, masih ada kertas dari Dion yang bisa saja dijadikan barang bukti,ย  namun ia mau menanyakan perihal ini langsung ke auksa. Siapa tahu laki-laki itu mengenal biang keladinya.


" saya dan petugas lainnya permisi "


Adelia memasang senyum paksa.


Kenapa nggak sedari tadi sih?


Ia benar-benar merasa tak nyaman karena beberapa petugas yang menginterogasi nya. Adelia menghela nafasnya lega, setidaknya sekarang berapa petugas itu tak lagi memenuhi kamarnya.


Sebenarnya lo siapa sih Sa? kok banyak banget yang ancam gue gara-gara deket sama lo?


Batin adellia mengingat kembali kejadian yang mungkin akan membuatnya takut kedepannya.


Flashback.


Adelia menaikkan lengan jempernya. Mulutnya meniup lelah poni yang mulai panjang. Selalu seperti ini, kalau mood-nya dalam keadaan baik, adelia selalu gemas mengganti posisi setiap barang pada kamarnya. Namun ia tak tahu, kalau ternyata, mejanya baru saja diganti bisumi dengan yang lebih berat. Tentu saja hal itu membuat Adelia mengeluh, badannya sekarang terasaย  pegal sekali.


"ukh "


Adelia berselonjor. Dipijitnya kaki yang mulai terasa berdenyut. Tak apa, lepas ini mata Adelia akan disuguhi pemandangan kamar yang berbeda dan nampak cantik. Adelia bangkit dari duduknya, bersiap untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. namun sesuatu yang berkelebat cepat mencuri atensinya. Seseorang sedang berada di balik jendela kamarnya. Dada adellia berdentum, siapa?

__ADS_1


"sa"


"sa, lo kenapa kesini bego? Katanya lagi sibuk? "


Orang yang ia terka adalah sosok auksa hanya diam memunggunginya. Adelia menyipitkan matanya, lantas memiringkan kepalanya dengan serius.


"elah, gue emang kangen sama lo, tapi nggak banget kok.husss, sana selesaiin urusan lo dulu , nanti baru ke sini lagi"


Ucapnya membuat sosok di balik jendela terkekeh lalu memperbaiki posisi masker dan topinya. Jujur, postur pemuda itu sedikit membuatnya curiga. dia seperti bukan auksa.


"sa "


" urusan gue di sini "


Nafas Adelia tercekat. Dipandangnya sosok serba hitam yang kini berbalik menghadapnya. Adellia mengernyit. Siapa? Adellia bahkan tak bisa melihat mata si pemuda karena tertutup topi.


" siapa lo? "


" orang yang bakal ambil nyawa lo sebelum tuhan"


" Jawab yang benar! Lo siapa! "


Pemuda itu terkekeh sinis. Bulu kuduk Adelia meremang. Untuknya adaย  jendelanya yang memisahkan jarak diantara keduanya. Diam-diam adellia menelpon auksa dengan ponselnya.


"ngapain lo kesini! "


" ambil jiwa lo kalau bisa. Tapi tenang"


Sosok itu menjamah jendela di depannya dengan jari,seakan-akan menelusuri bentuk wajah adellia dalam semu.


" gue bukan orang yang terburu-buru kok "


Adelia menegang. Nafasnya memburu. Siapa dia? Apa yang diucapkannya barusan?


" jawab gue! lo siapa?! "


"hahaha. Lo kok cantik gini ya kalau lagi marah. Jadi nggak sabar mainin pisau gue di muka lo"


" Gila ya lo! pergi! "

__ADS_1


Adelia mundur. Tak lupa ia mengunci jendelanya dengan tangan bergetar. Sosok itu melepas topinya, hingga Adelia dapat dengan jelas melihat bagaimana surai bergaya comma hair itu tertiup angin.


"Lo udah bikin orang yang gue sayang sakit Adel. Lo harus bertanggung jawab"


Adelia menggigit bibirnya takut.


" lo siapa sih? Gue nggak kenal sama orang kayak lo "


" Tapi lo kenal dia. " ucap si Pemuda tiba-tiba.


" gue cuma suruh lo buat jauhin auksa. keras kepala banget ya lo"


" ngapain lo urusin gue sama auksa! Pergi! "


Adelia menelepon auksa lagi.


Sa angkat dong.


Nihil, auksa tak sekalipun mengangkatnya. Cowok itu benar-benar sibuk dengan urusannya. Si Pemuda dibalik jendela memasang senyum serigai.


" lo telepon dia? gue nggak bodoh Adel, lo udah tahu kan kalau dia lagi sibuk ? nelfon dia bukan tindakan yang tepat"


Ujarnya diakhiri kekehan.


" ingat Adel "


"gue nggak main-main. Lo usik gue, maka lo harus terima resikonya "


" gue nggak pernah usik hidup Lo. Bisa nggak jangan ganggu hidup gue. cukup! gue udah cukup menderita tanpa kedatangan lo sebelumnya. jangan tambah beban ! "


Adelia memegang ponselnya erat. Ia takut, apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah ia memanggil Bisumi, kalau ia memanggil wanita paruh baya itu, ia khawatir , Adelia tak mau bisumi terluka.


" Tolong pergi, jangan ganggu gue"


Ucapnya lemah. Sosok itu menggoreskan pisau pada jari telunjuknya. Lantas membentuk beberapa huruf dengan darahnya


...Auksa...


...Jauhi dia Adel...

__ADS_1


Adelia menggeleng. Ia tak bisa meninggalkan auksa. Pria itu sudah terlalu dalam memasuki dunianya. Ia tak mau melepaskan auksa seperti mamanya. Sosok itu menatap Adelia penuh ancaman.


" lo yang pilih adel "ujarnya lantas tanpa permisi menjatuhkan diri ke bawah.


__ADS_2