
"Bukan kemauan kita. Jadi, jangan kamu menyalahkanku ketika takdir memilih hatimu untuk berpapasan dengan rasaku."
🌜🌜🌜🌜
Gadis bersurai sedikit gelombang itu mendengkus. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya. Beberapa menit lagi, sosok Pak Joko pasti sudah siaga berjaga di depan gerbang sekolahnya. Adellia mendesis sinis, jika bukan karena pemuda tanpa nama, dia tiak akan selamat dari paksaan Reza. Adellia memukul setir mobil keras, lantas menambah kecepatan demi mengurangi resiko terlambat.
"Sialan, bisa telat gue,"
Umpat Adellia sebal. Adelllia menepikan mobil merahnya. Tepat beberaoa meter didepan sana, warung Mbok Minah menyapa retina. Ada segerombolan pemuda yang tengah bercanda, sebagian diantaranya sedang merokok dengan asap membumbung. Adellia bergegas turun, mungkin menitipkan mobil di warung Mbok Minah adalah opsi paling baik. Apalagi ketika matanya menatap jarum yang mengarah ke angka setengah delapan kurang lima menit. Gawat, Pak Joko bisa mendadak jadi singa yang terlepas dari kandangnya.
"Baru sampe ya bergedel ? "
Adellia mengalihkan atensinya. Tadinya ia berniat mengacuhkan beberapa siulan menggoda dari beberapa cowok yang menatapnya. Namun niatnya terpaksa terhenti karena sebuah suara yang begitu ia kenali. Adellia menolehkan kepalanya,kedua matanya berkeliling mencari si pemilik suara.
"Oi! Gue disini Del,"
Kedua mata Adellia membola, refleks ia melangkahkan kakinya menghampiri pemuda dengan model rambut undercut itu.
"Lo telat?"
Adellia memutar bola matanya malas.
"Emangnya lo nggak liat Yon?"
Jawab Adellia sarkas lantas menarik kerah seragam si pemuda dengan paksa hingga membuat laki-laki itu berdiri.
"Ngapain lo disini? "
"Nyantai lah Del, ngapain lagi coba? "
"Jawab yang bener,"
"Mau bolos. Gue nggak mau ketemu si botak apalagi kalau ujung-ujungnya malah kena semprot."
Adellia menggeram marah, apalagi ketika ditatapnya Dion yang malah merebahkan tubuhnya di atas sofa yang lumayan empuk menurutnya.
"Diijinin siapa lo?Balek nggak? "
Dionarda Yordan, sahabat Adellia itu malah memejamkan kedua matanya rapat, mungkin juga tengah berusaha menulikan kedua telinganya.
"Dion! "
"Bangun nggak lo! "
"Bentar doang Adel, jadi sahabat yang pengertian dong, lagian lo kemaren juga bolos kan? kemana aja sih nggak nongol, berasa jadi tersangka gue, nyokap lo nanya mulu,"
"Gue sakit." Ujar Adellia malas,
"Sakit apa?"
Adellia mendengkus, Dion begitu pandai mengalihkan pembicaraan, sayangnya Adellia tidak segampang itu terkecoh.
"bangeun Dion, jangan bolos mulu, udah bego entar tambah bego lagi."
Dion mencibir, Adellia selalu benar.
"Lo yang demen bolos, gue mah cuma sekali, lah elo, lima hari coy, nggak tanggung- tanggung. Sungkem dulu ah sama suhunya."
Adellia mendesis, tangan kanannya menarik telinga Dion keras sampai membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
"Gini ya kelakuan lo? "Ujar Adellia menganggukkan kepalanya mengejek.
"Udah dapat berapa nilainya hem?"
Dion mencoba menghitung nilai yang terakhir didapatkan olehnya. Namun semuanya sia- sia, otaknya mendadak blank.
"Gue- Aduh! "
"Bangun! Satu tambah satu aja lo nggak bisa jawab, pake bolos segala."
"Gue bisa kok, satu tambah satu samadengan kita kan? "
Adellia menatap dion garang.
"Ngimpi!"
"Cihuy, Dion dimarahin cewek! "
Dion mendelik ke arah beberapa teman cowoknya. Mereka tengah menertawainya .
"Lo mau berangkat sekarang, atau gue cincang sampe habis itu tulang,"
Dion merinding mendengarnya. Cewek kalau sudah marah sulit nyeremin. Apalagi adellia, kayak setan!
"Gue cuma mau istirahat doang Adel,"
"Mau yang mana dulu? "
Bulu kuduk Dion berdiri, firasatnya tak berkata baik.
"Apanya?"
Adellia memiringkan kepalanya lantas memasang serigai kejam.
"Mau gue patahin kaki lo dulu atau tangan? Oh iya, gue lupa Yon, lo kan orangnya nggak suka pemanasan, kalau gitu-"
Adellia memajukan wajahnya lantas berbisik lirih di telinga Dion.
"Gue langsung cincang aja deh,"
Dion mendelik, ia menjitak dahi Adellia keras. Enak saja main cincang.
"Mulut lo perlu gue sekolahin ya Del biar pinter. "
"Ini pasti ulah Taehyoung lo itu, lo diajarin nggak benerkan? "
"Enak aja. taehyoungnya gue anak baik enggak kayak lo yang hobi bolos mulu. Asal lo tahu ya, setiap hari gue cuma diajarin cara mencintai dan menyayangi sama dia. "
Dion mencibir, jika menyangkut si Taehyoung artis korea, Adellia tak akan menyerah. Ada saja argumen yang gadis itu gunakan untuk menjunjung biasnya.
__ADS_1
" lo aja deh Del yang balik. Gue males berat."
"Kok lo gitu sih,"
Jawab Adellia cemberut. Enak saja Dion menyantai disini sedang Adellia lelah dihukum Pak Joko. Nggak adil itu mah namanya. Dion mengibaskan tangannya, menyuruh Adellia agar segera pergi.
"Udah jam delapan kurang tiga menit Del,"
"Ish! ayo dong Yon, gue nggak mau dihukum sendiri, entar ketahuan jomblonya."
Beberapa cowok bersorak lantas tertawa receh. Dion meringis, Adellia tidak pandai menempatkan sifat polosnya.
"Jangan curhat bego."
"Ayo Yon, temeni gue elah."
Dion berdecak lantas tangannya mendorong Adellia keluar dari pintu warung, Adellia memberontak, dia tak mau.
"Huss husss!"
Adellia mendelik. Dion kira ia ayam.
"Yon!"
"Udah sana, pergi lo!"
"Nggak mau Yon, harus bareng pokoknya."
Ucap Adellia ngegas. Dion berkacak pinggang, kedua retinanya menyorot Adellia sebal.
"Del, pergi nggak? "
Adellia menggeleng kukuh membuat Dion menghela nafas berat. Tidak ada cara lain lagi, dia memang harus mengeluarkan jurus kesumat untuk mengusir Adellia.
"Ada rasa baru loh di Bobaya. Lo nggak mau coba Del"
"Ih seriusan Yon? Lo nggak bohong kan?"
Kedua mata Adellia menatap Dion penuh selidik. Dion menganggukkan kepalanya berkali-kali guna meyakinkan.
"Beneran! lo pasti nggak mau kehabisan kan Del? Limited edition loh, nggak tahu besok bakal jual rasa itu lagi atau enggak, mana kata Rean hampir habis lagi."
Dion menggelengkan kepala seakan begitu menyesal kalau sampai mereka kehabisan stok. Adellia menyentuh dadanya dramatis.
"Ya udah, gini aja deh Yon, gue balek sekarang, tapi lo harus beliin gue boba yang itu. Masalah Pak Joko bakal gue urus."
Dion pura pura memasang wajah melasnya. Ia menatap Adellia seakan tidak mempercayai perkataan gadis itu.
"Lo manfaatin gue Del?"
"Ah lo mah nething mulu. Nih jagain mobil gue, awas kalau sampai lecet, gue eksekusi tubuh lo"
Ujar Adellia mengancam.
"Bay Diyonyon! Jangan lupa ya nanti istirahat pertama bawain bobanya! Makin sayang deh sama lo."
"Adellia, Adellia, polos amat sih lo jadi cewek. Makin gemes kan gue jadinya." Gumam Dion lantas masuk lagi kewarung Mbok minah.
.
.
.
Flashback
Mata Adellia menyempit. Dadanya bahkan berdentum abnormal. Bismillah, Adellia mengepalkan kedua tangannya, semoga saja Tuhan memihaknya kali ini. Do'anya dalam hati.
Adellia melangkah pelan sekali , kedua matanya menatap awas, telinganya dipasang setajam kelelawar. Adellia menggigit bibir dalamnya, barisan siswa yang tengah melaksanakan upacara menyapa retina.
Yes aman! Sorak Adellia membatin.
Dia tidak melihat sosok pak joko yang setia berdiri didepan gerbang seperti biasa.
"Ekhem!"
Langkah Adellia terganti, jantungnya terasa berhenti memompa. Aduh! mampus!
"Telat ya Neng Adel? "
Adellia bergidik, lantas dengan gestur terpaksa membalikkan badannya. Bibirnya memasang ringisan kecil. Adellia tertawa canggung, diciumnya punggung tangan pawk Joko penuh hikmat.
"Hohoho, Iya Pak. Pak Joko sehat kan? Pagi buta gini udah tampan aja Pak,"
Ujar Adellia menggaruk tengkuknya sembari tertawa ala mak lampir.
"Sehat banget lah Neng, Neng Adellia pasti sehat juga? "
"Ah bisa aja Pak Joko, sehat lah saya, bugar gini kok,"
Pak Joko membenarkan letak topinya.
"Kalau gitu bisa lah kalau Neng Adellia berdiri disana sampai mapel pertama dan kedua selesai."
"Aduh! Badan saya mendadak kurang daya Pak, kayaknya butuh asupan deh. Tadi pagi lupa sarapan."
"Katanya sehat? nggak masalah dong tambah nutrisi lewat matahari,"
Adellia mendelik, dimana ia akan menaruh harga dirinya selepas ini?
"Yah jangan gitu Pak, nggak bisa dikasih korting nih?"
Pak Joko mengedikkan bahunya tidak peduli. Pria paruh baya berkepala botak itu malah melilitkan tongkat kesumat pada bandol tasnya.
"Pak, please, beri keringanan dong, entar saya kasih gorengan."
Pak Joko menggeleng. Tak semudah itu maemunah!
"Pilih deh, Neng Adel mau berdiri sekarang atau benda ini saya buang, eh sekalian bonus lari keliling lapangan sepuluh kali"
__ADS_1
Adellia gelagapan, ia lekas menangkup bandol tata dalam genggamannya.
Enak aja main buang! Suami gue ini! Batin Adellia menggerutu. Mana bonusnya bikin naik darah lagi!
"Pak," Adellia merengek. Bodo amat dengan harga diri.
"Satu"
"Ish Pak Joko, saya nggak mau Pak. Malu"
Ujar Adellia lirih.
"Dua"
Adellia menatap Pak Joko jengkel.
"Ti-"
"iya, iya,iya Pak, Adel bakal kesana sekarang, udah diem."
Ucap Adellia lantas menghentakkan kakinya sebal menuju tengah lapangan.
Adellia menghembuskan nafasnya. Lagi dan lagi gadis itu mengusap keringatnya yang sebesar biji jagung. Langkahnya melambat. Sialan! Pak Joko tak pernah main-main dengan hukumannya.
"Ekhm!"
Adellia menoleh, dilihatnya pemuda tampan yang tengah berlari kecil didepannya.
"Kenapa?" tanya Adellia sengit, pasalnya dia merasa terganggu. Si pemuda diam tanpa sedikitpun mengubris. Tempo larinya masih sama.
"Sialan banget si Reza, gue banting juga itu anak lama-lama."
Gerutu Adellia kesal. Kalau saja Reza tidak secara tiba-tiba menghadangnya ditengah jalan, maka reputasinya sebagai anak teladan tak akan anjlok.
"Eh lo!"
Cowok didepanya menghentikan langkah. Satu alisnya naik karena heran.
"Apa?"
Adellia berhenti. Kepalanya mendongak menatap sosok bak dewa dengan pahatan sempurna. Sayangnya, Adellia hanya mampu melihat tatapan datar dari wajah rupawan yang memantul pada bola matanya.
"Gue cuma mau bilang makasih karna lo udah tolongin gue tadi pagi."
Si pemuda hanya berdehem kecil, lantas melanjutkan larinya yang tertunda.
"Ngomong-ngomong nama lo siapa? Lo anak pindahan ya? Kok gue nggak pernah lihat? "
Si pemuda menghembuskan nafasnya kasar. Dia tak yakin dengan pertanyaan yang dilontarkan cewek yang berlari di belakangnya ini.
"Jawab dong,"
"Rahasia."
"Yaelah, malah ngartis. Gue cuma nanya nama doang kok, nggak bakal gue santet."
Ujar adellia namun hanya dibalas dengan gumaman singkat. Adellia mengerucutkan bibirnya karena sebal.
"Ish pelit!" Gerutu Adellia pelan.
"Kenalin-"
"Gue Adellia Alexa Agantara. Cewek cantik se- SMA Sanjaya. Lo tanya aja sama anak lain, pasti mereka pada kenal sama gue. Nggak usah kaget gitu, gue emang terkenal kok. Lo nggak liat gue kan kemarin?"
"Gini ,gue jelasin sedetail mungkin, lima hari yang lalu gue emang nggak masuk gegara sakit. Jadi kalau lo nggak liat gue waktu itu jangan heran,"
"Kalok lo siapa?"
"Lo nggak perlu tahu." Jawab si pemuda sekenanya. Adellia mengelus dadanya mencoba bersabar, lantas mengarahkan telapak tanganya di depan wajah si pemuda.
"Ya udah nggak papa kalau nggak mau jawab, gue juga bisa cari sendiri kok, bentar gue trawang dulu, "
Si pemuda berdecak lantas meneruskan larinya yang sempat tertunda . Dia berusaha tak mengubris ucapan ngawur dari cewek yang tidak dikenalnya.
"Oi tungguin! Sekarang gue tahu nama lo, mau denger nggak? "
Adellia berlari hendak menyusul pemuda yang berada tak jauh darinya.
"Lo Panu Widjaja kan?" Ujar Adellia berteriak nyaring karena tidak mampu mengejar, hal tersebut membuat langkah lari si pemuda terhenti.
Adellia menepuk dadanya penuh rasa bangga.
Bener kan? Emang kemampuan gue patut diacungi jempol, batinya menyombong.
Adellia berkali-kali bergumam kalau kemampuan ajaibnya seharusnya udah masuk ke tingkat on the spot. Namun lamunannya terpaksa buyar karena tiba-tiba tubuh menjulang yang tadinya berada jauh di depannya,kini berada sangat dekat di depan matanya. Bahkan Adellia sampai meneguk ludahnya kasar lantaran mendapat tatapan tajam semacam elang.
"Ke-ke-kenapa lo kesini? Nga-ngapain heh!"
"Kenapa?"
Adellia memejamkan mata tatkala pemuda itu menekan dahinya dengan jari telunjuk.
"Panu Wijaja ya? Hem, nggak buruk sih,"
"Ben-"
"Kalau gitu, lo cocoknya pake nama apa ya?"
"Kayaknya jamur ijo cocok deh, oh kapal kaki juga bagus. Apalagi kalau dilihat dari wajah lo, serasi!"
"Heh!maksud lo apaan si?"
Pemuda itu membungkuk, ia mensejajarkan mulutnya dengan telinga Adellia.
"Jangan usik hidup gue,"
"Atau hidup lo gue bikin nggak tenang lagi."
Ancamnya lantas berlalu meninggalkan Adellia yang mematung ditempat.
__ADS_1