
Bahagia itu sederhana...
Mungkin kata itu benar adanya,
Karna hanya dengan melukis senyum di bibirmu, dapat membentuk segenggam bahagiaku.
🌜🌜🌜🌜
Kedua mata gadis berseragam Pramuka menyempit. sinar matahari menyorot wajahnya yang tengah mendongak, gadis itu menepuk dahinya berkali kali, ia memaki kebodohan yang tak sengaja dilakukannya hari ini. ya, gadis tersebut adalah Adelia,ia tengah duduk di atas rumput dengan dua tangan menyangga tubuhnya sendiri. Adelia mengumpat kecil, bisa bisanya dia menghalau lajunya sikutan kakak kelasnya si maganta yang tengah bercanda dengan cowok yang kemarin sempat menyelamatkannya. Bodoh! Apa yang telah dilakukannya kali ini!
Hahh....
Lagi-lagi Adelia mengeluarkan nafasnya kasar. ia masih malu, apalagi ketika diingatnya beberapa pasang mata yang menatapnya penasaran beserta ingin tahu. bahkan kedua sahabatnya nampak melongo tak mengerti.
Srek srek srek
Suara rumput tergesek berhasil merasuki lubang telinganya. refleks Adelia menolehkan kepalanya, matanya menyempit, menarka-nerka sosok tegap yang tengah menghampiri tempat duduknya. perlahan tapi pasti siluet itu semakin jelas terlihat dan sebuah tangan besar tiba tiba saja menyodorinya benda kotak bergambar Mickey Mouse ke arahnya.
"punya lo"
Alis Adelia bertaut, Bukannya itu kotak bekal bisumi!? Gimana sih kok malah dibalikin lagi! ? susah-susah lho adellia menanggung malu hanya untuk memberikan sekotak bekal ke orang di depannya ini.
Kalau boleh jujur ,sebenarnya adelia ogah menuruti perintah bi sumi. Namun bi sumi terlanjur mengancam mau melaporkan adelia kalau suka pacaran di sekolahan. Jadi dia pasrah deh disuruh begini. sebenarnya yang majikan itu siapa sih! kok rasanya malah Adelia yang Tengah jadi pembantu.
Mulut adellia terbuka hendak berujar, namun pemuda yang juga menggunakan seragam pramuka dengan baju dikeluarkan itu berganti menyodorkan kertas pink di depan wajahnya. Ini apa, pikir adellia heran seraya menatap si pemuda dan kertas berwarna cerah itu bergantian.
"baca"
"nggak mau"
"ck, baca "
Ujar pemuda itu memaksa, adellia mengerucutkan bibir. Tak ikhlas, adelia meraih kertas itu lantas membacanya dengan ekspresi malas.
Adelia mendengus, Maksudnya apa coba?
"lo mau pamer?! gue udah biasa kok makan masakan di sumi, santai aja gue nggak Kegoda ,lagian kata bi sumi, masakan ini buat lo"
"eh tapi kalau lo mau bagi bagi sedikit juga boleh kok ehehe"
Adellia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. si cowok berdecak lantas ia medudukkan bokongnya tepat di samping adelia.
"eh ngomong-ngomong, kok bi sumi bisa tahu nama lo, gue aja yang ngobatin lo enggak tahu"
Si cowok semakin mengeluarkan nafasnya kasar. bukan lagi maganta yang dihadapinya, jadi ia tak boleh sembarangan menggeplak. Pelan, si pemuda membalik kertas yang tengah dipegang Adelia.
" baca "
" jawab dulu dong, gue nanyain nama lo kemarin aja, lo nggak jawab!lah ini pembantu gue!, langsung lo kasih tahu ,curang"
"Bi sumi spesial"
"hah " adelia membuka mulutnya lebar-lebar. Apakah ia lupa mengorek telinganya?
"lo suka sama bi Sumii?"
Tak tahan si pemuda menjitak kepala Adelia, tentu saja adellia tak terima, lantas tanpa aba aba, adelia berganti mencubit lengan si pemuda.
"sakit tahu"
Pekik adellia sebal. Ia mengelus kepalanya penuh sayang.
"Lagian lo ngawur amat bibirnya"
"lah Terus apaan dong? Lo bilangnya aja bi sumi spesial, ya otak gue otomatis mikirnya ke arah sana "
"sotoy lo, nggak gitu juga konsepnya kali"
ujar si Pemuda sambil menyentuhkan jarinya ke atas kertas yang telah dipegang Adelia.
"baca yang bener, ngoceh mulu perasaan" Adelia bersungut, tapi tak elak, ia tetap mengarahkan matanya untuk membaca serentetan kalimat dari di sumi.
Mata Adelia membulat sempurna, bibirnya melongo. ini bibinya salah ia kasih asupan atau kurang dikasih gaji sih!. absurd amat kelakuannya. Itu juga!! Aduhh pake cap bibir segala buat apaan sih biii!! Mana gede banget lagi! , parah banget ini mah, kudu dibawa ke dukun biar balek normalnya. Isssh malu kan gue kalok kek gini.
Ekhem!
"buat lo aja"
Sontak Adelia menatap si cowok yang baru saja ia ketahui namanya dari catatan di sumi. Bukannya tak mau, sebenarnya ia juga tak mampu menolak jika menyangkut sayur kangkung. Namun kembali lagi ke ancaman si bisul pembantunya. Adellia tak bisa serta merta memakan masakan tersebut karena pembantunya sudah ngotot banget menyuruhnya memberikan ke auksa.
"kok gitu, Ini kata bi sumi kan buat kita berdua "
Si Pemuda hanya berdecak menanggapi. Pelan, adelia membuka tutup bekal.
"ini amanat tahu. gue nggak mau jadi majikan durhaka. jadi gue nurut"
Adelia berkata jujur, kedua tangannya beralih menyodorkan kotak bekal ke arah auksa yang langsung menggelengkan kepalanya.
"gue nggak mau"
Adelia menaikkan satu alisnya, menetap pemuda yang menurutnya aneh. Apakah auksa tak tergoda dengan sayur favoritnya ini?
"kenapa nggk mau? "
Auksa hanya diam menanggapinya. Adellia menghela nafas. Ini sulit,
"oh, lo mau disuapin sama gue aja?boleh kok, bentar"
Tanpa menunggu tanggapan dari auksa, adellia telah menyendok sesuap nasi beserta lauk pauknya,lantas mengarahkanya ke auksa. Tentu saja auksa sebal bukan main, ia sudah bilang tidak mau, tapi adellia tetep saja keras kepala.auksa menatap Adelia tanpa ekspresi, segera saja ia menyambut sendok dari tangan adelia lantas bersiap mengarahkanya ke mulutnya sendiri. Ia bisa makan sendiri tanpa disuap, pikirnya sebal. Namun siapa sangka kalau detik selanjutnya, nasi berlauk sayur kangkung itu tak jadi mampir ke dalam mulutnya. Karena tiba tiba saja adellia dengan cekatan memegang lengan auksa, lantas tanpa aba aba melahap habis nasi yang berada di atas sendok .
"lo lupa kalau kata bi sumi lo harus nyuapin gue juga?"
Auksa menipiskan bibirnya menahan umpatan.bi sumi membuatnya menderita tanpa tanggung tanggung. lantas, dengan tak ikhlas auksa menganggukkan kepalanya.
"Ya udah suapin.aaaaaaa "
"nggak"
"oh mau gantian? "
Auksa melotot, maksudnya gimana coba?
"apaan sih lo,! "
"makanya cepet suapin gue lagi"
"gue mau balek kelas"
Ujar auksa sinis sembari meletakkan bekal makan adellia sembarang.
"eh, eh,eh,mau kemana lo! Belum abis woi "
"abisin aja sendiri, gue nggak minat"
Jawab auksa acuh. Pemuda itu lekas berdiri dari duduknya, namun adellia dengan sengaja menarik tangannya agar kembali duduk.
"lo "
Auksa mendesis,dasar pemaksa. Makinya sembari memelototi adellia.
"paan!! Cepet abisin dulu.bentar lagi bel masuk"
"gue nggak mau."
"habisin nggak, mau lo gue bunuh di tempat? "
Auksa menarik ujung bibirnya kecil. Adellia tak tahu berbicara dengan siapa. Lantas, auksa mencondongkan tubuhnya ke samping, bibirnya mendekati telinga adellia sembari berbisik lirih.
"gue bakal bunuh lo duluan karna lo udah usik hidup gue"
Ctakkkk!!
"nggak usah pake bercanda. Nih makan"
Acuh adellia memberikan kotak bekal ke pangkuan auksa. Auksa mendengus keras, sudah dua kali kepalanya jadi korban keganasan adellia.
"cepet makan"
tekan adelia lagi ke auksa. Auksa mencebik, setengah hati auksa kembali menyendok sesuap nasi, bedanya kali ini dengan tempe selimut di atasnya,
"gue duluan,katanya mau dikasih ke gue"
Auksa menggeram tertahan, tuhan tolong beri auksa stok kesabaran lebih banyak untuk hari ini.bagaimana mungkin engkau malah menciptakan makhluk tak punya malu semacam adellia.
"cepet"
"ck, iya "
Auksa mengarahkan sendoknya ke mulut adellia. Adellia dengan senang hati melebarkan mulutnya bak kudanil, menyambut suapan auksa untuk yang kedua kalinya.
"hmmmm, enak banget sumpah. Bi sumi nggak pernah gagal bikin gue meleleh kalau makan masakanya"
Mulut adelia yang penuh membuat pipinya menggelembung. Tak sadar senyum auksa terbit walau terbilang tipis.
" pelan-pelan ntar keselek "
Adelia mengangguk menanggapi. Lagi lagi mulutnya terbuka lebar bak kudanil. Imut, tak sadar auksa terkekeh kecil, namun ia segera tersadar, apa yang gue pikirin barusan! Adellia imut, ihhh, mana mungkin !! Auksa bergidik sendiri dengan hasil pemikiranya. Sontak, auksa langsung menghentikan uluran sendok yang hampir saja menyentuh bibir adelia.
"lagi dong"
"aaaaaaaa"
Auksa mendesis. Bisa bisanya seorang auksa diperbudak oleh gadis kecil semacam adellia.
" eh kok gue doang, kan kata bi sumi buat berdua "
adellia berganti meraih sendok dan kotak bekal yang dipegang auksa, lantas menyendokkan nasi dengan sayur kangkung di atasnya.
"cepetan bilang aaaaaaaa"
Macam ibu yang tengah menyuapi anaknya, Adelia mengarahkan tangan kanannya ke mulut auksa, sedang tangan kirinya terbuka ke arah langit di bawah sendok, jaga-jaga jikalau ada sayur kangkung yang mendadak terjatuh, kan sayang.
" nggak mau. itu sendok bekas lo tahu. jijik "
"Oh lo nggak mau pakai sendok, ya udah deh pakai tangan gue aja"
Sigap auksa menahan lengan adelia yang tengah bersiap melaksanakan pemikiran yang tiba-tiba melintas. Auksa segera memasukkan sendok nasi itu ke mulutnya.
"gitu dong dari tadi. "
__ADS_1
Auksa benar-benar harus bersabar menghadapi gadis di depannya ini. Pelan ,ia menarik sendok yang berada di mulutnya dengan tangannya sendiri ,lalu menyerahkan sendok tersebut ke adelia. tiba-tiba saja reka adegan terlintas di pikirannya. kejadian absurd yang membuatnya berakhir di sini,bersama seorang gadis yang memaksanya menyimpan kata sabar berulang kali.
Flashback
Auksa mrlenguh tertahan, bisa bisanya ia mengikuti maganta ke kantin. Padahal ia tak begitu lapar, apalagi, perutnya yang kemarin tertikan masih terasa perih. Auksa melirik maganta malas. Ia jenuh. Ia ingin meletakkan kepalanya saja di atas meja daripada harus menonton maganta yang malah sibuk mengedipkan mata ke beberapa gadia.
"cihuuuuy, buah mangga buah pepaya, tinggal daun akhirnya cuma direbus sama ibunda, neng geulis siapa yang punya, kalau nggak ada, boleh dong disikat bang maganta "
Maganta menaik turunkan kedua alisnya ke arah berlin genit, auksa bergidik ngeri, dasar norak! Namun lain cerita dengan apa yang dipikirkan berlin, karna di detik selanjutnya,cewek tersebut berjingkrak tak jelas, lalu kembali berjalan menghampiri meja dan menjauhi letak maganta dengan langkah malu malu. Maganta menyugar surainya bergaya. Ia bangga dengan keahlianya saat ini. Netra maganta kembali berkeliling, mencari mangsa baru.
"eh syifa! "
Si empu yang merasa namanya terpanggil menoleh ke arah sumber suara. Maganta berdehem kecil, lantas tanpa malu menyanyikan sejumput lagu dengan suaranya yang sumbang terdengar.
"eh eh eh eh neng syifakkkk, kenapa kau tak pulang pulang, teetetetet, bang maganta sibuk cari uang, eh kamu nya malah enggak datang, cihuyyyy, eh eh eh eh eh neng cipak,
Pak cipak cipak jeder pak cipak cipak jeder. "
Mendadak maganta jadi pendangdut dadakan. Ia menabuh meja kantin dengan irama ngawur.ngimpi apa gue punya temen nggak waras!! Jerit auksa nelangsa. Tapi ternyata yang lebih nggak waras lagi adalah cewek bernama syifa. Karna bukanya marah, cewek itu malah tersenyum tertahan sambil bersusah payah menutup sebagian wajahnya dengan buku menu. Fix, gue salah pilih sekolah kayaknya,
Auksa memijat kepalanya yang pening, lantas ia melirik maganta sinis.
"diem bisa? "
Sontak saja maganta menghentikan tabuhan ngawurnya. Kedua matanya menyorot auksa penuh tanda tanya.
"berisik"
"yaelah, nggak berisik,nggak asik dong bro"
Auksa berdecak. Nggak ada gunaya melarang maganta,
"sa, "
Auksa menoleh ke arah maganta. Kedua alisnya mengerut karna mendapati ekspresi maganta yang kelewat serius.
"hm"
"gimana hubungan lo sama bonyok "
Auksa merasa dadanya berdenyut.suasana yang tadinya serasa riuh, mendadak menguap.auksa merasa ada yang kosong di sudut hatinya.Semua nya masih sama. Kerengganggan tak terlihat masih tetap kukuh menyelimuti.
"kayak biasanya"
Maganta menghembuskan nafasnya, kedua netranya menatap semangkuk bakso tanpa minat.
"bukanya kemaren lo udah coba ketemu. Nggak dibicarain baik baik? "
Auksa menggeleng kecil. Auksa cuman berbohong untuk menahan pertanyaan maganta yang selalu saja ingin tahu mengenainya. Auksa tak mau menemui mamanya lagi, ah, lebih tepatnya ia tak mau bertemu dengan papanya,dewanta rios alfadiaraga.
"mau sampai kapan sa?"
Auksa menerawang, mau sampai kapan? Auksa pun tak tahu.
"coba lo selesein masalah lo pelan pelan"
"ta, selain bella, lo juga tahu perkara apa yang buat gue kayak gini"
Maganta menunduk, benar! Auksa punya alasanya sendiri untuk tetap bersikap egois. Namun maganta tak mau semua ini terus berlanjut, ia tak tega dengan mama auksa yang terus saja memohon kepadanya untuk membujuk sahabatnya, namun juga kasihan dengan keadaan auksa jika dia terus saja memaksa.
"gue emang tahu sa, tapi lo udah gede. Lo harus berusaha gimana caranya nerima takdir"
"semua ini bukan masalah dewasa tidaknya seseorang ta. Kalau lo ada di posisi gue, apa lo tetep bisa berdamai sama mereka,terutama papa?"
Maganta memalingkan wajahnya merasa bersalah.
"enggak kan ta?,papa keterlauan, dia nggak pernah ngertiin posisi gue"
"sa-"
"ta, gue ceritain semua masalah gue ke lo karna gue tahu lo bakal ngringanin beban gue. Tapi gue nggak pernah nyuruh lo buat ikut campur "
"biarin gue yang mutusin semuanya ta?"
"tapi mau sampai kapan sa, lo juga harus liat tante agatha. Masalah lo berawal dari bokap lo bukan nyokap lo. "
"mama juga ikut terlibat"
"kakak gue juga"
"semuanya ikut terlibat, tanpa terkecuali "
"sa"
"gue lagi nggak pengen bahas ini ta, "
Maganta mengusap wajahnya gusar. Pembicaraan seperti ini tak penah berujung menemukan titik solusi. Auksa selalu saja menghindar, tapi maganta bisa apa? Ia hanya akan membuka luka auksa semakin lebar kalau kukuh menggali lebih dalam.
Lantas, maganta mengeluarkan nafasnya pelan. Mungkin bukan saat ini,waktunya belum tepat, batinnya menyemangati. Maganta menatap auksa lagi, kali ini dengan sebersit ceria di mimik wajahnya.
"sa"
"Hm"
"eh, lo anak ipa kan"
Auksa mengernyit, maganta cepat sekali berubah. dan, apa apaan pertanyaanya itu, bukankah mereka sekelas?
"lo amnesia ta?"
"emangnya kenapa? "
Auksa masih malas menanggapi, apalagi, hatinya jadi berkabut karena pembahasan barusan.
"kan kalok lo jawab iya gue bisa bales lagi. Misalnya gini, sa, lo anak ipa?nah,lo langsung bilang iya ta, emang kenapa? Lo tahu kan simbiosis mutualisme? Kalok tahu, kok rasanya cuman gue aja yang peduli sama lo tapi lo nggak ada niat buat bales rasa peduli gue"
Auksa menggeplak kepala maganta keras sampai kepala si empu sedikit miring. Auksa mengumpat kecil, maganta kira auksa cewek!?
"nyut nyuttan nih kepala gue jadinnya"
Gerutu maganta sembari sesekali berdecak.
"ya udah kalok gitu, sa, lo tukang ojek ya? "
Kali ini auksa tak tanggung tanggung menggeplak kepala maganta.penistaan ini mah,! Sontak, hal tersebut memancing tawa riuh dari seisi kantin.
"gue beli ojek online aja mampu, ngapain jadi tukang ojeknya segala"
"lo nggk bisa diajakin bercanda ya sa!"
Ujar maganta sebal. Niat hati ingin menghibur, malah ujung ujungnya dia jadi sebal sendiri.
"lo aja deh yang gombalin gue"
"hiiih nggak mau"
"sekali doang, entar kalo lo menang gue nggak bahas bonyok lo lagi. "
"deal?"
Sejenak auksa berpikir, namun tak elak ia menyambut uluran tangan. Maganta.
"deal"
Auksa tersenyum smirk. Hanya gombalan kan? ia adalah jagonya. Sombong auksa dalan hatinya.
"ta"
Maganta menatap auksa serius, begitupun seisi kantin yang lengsung memasang telinganya masing masing.
"lo tahu nggak apa bedanya lo sama bebek? "
Maganta menggelng kecil. Lantas bertanya
"apaan tuh sa? "
"sama sama pengen gue goreng biar nggak nyonyor mulu"
Tawa merebak, sedang maganta mrlotot ganas.
"lo tadi bilangnya perbedaanya gue sama bebek, kenapa jadi persamaanya?"
"nah itu, soalnya kalo gue cari perbedaan nya agak sulit karna lo sebelas dua belas sama bebek. Jadi persamaanya aja deh"
"lo ngejek gue sa? "
"gue nggak bilang"
Maganta mrncibir. Tentu saja auksa mengejeknya.
"ck, gue aja lah. Lo nggak pro"
"serah lo"
"sa, bokap lo dokter"
Auksa menatap tajam, sedang maganta masih tidak menyadari tentang apa yang salah dalam kalimat nya.
"bokap gue nggak ada, udah mati "
Maganta tercenggang, sialan, ia lupa!
"ha ha ha ha ha ha, nggak usah
kaku banget deh sa, gue cuman becanda kok"
"bokap gue emang udah mati?"
Maganta tertawa hambar, ia mengedarkan pandanganya mencari bantuan dan dukungan, sayangnya, mereka semua pura pura sibuk dengan kegiatan masing masing, seakan akan tak pernah mendengar apapun yang diucapkan oleh auksa barusan.
"yaelah sa, jangan bikin gue grogi dong, "
"ya maap sa, kan cuman bercanda"
"iya kan? "
"iya dong pastinya "
"lo jangan kaku gitu dong sa.hahahahahha"
Maganta memaksakan tawa keluar dari bibirnya, auksa masih saja terdiam kaku. Jujur, hal tsb tentu membuat maganta merasa bersalah.
Maganta menelan ludah, ia ingin meminta maaf tapi terlanjur gengsi, apalagi di kantin banyak pasang mata yang mengawasinya.
__ADS_1
"sa"
"sa"
"sa, stttt, sa"
Maganta hendak menyenggol auksa agar auksa mengerti kodenya. Namun tiba tiba saja sebuah tangan mungil memblokir laju sikutanya.
Si gadis berkuncir kuda dengan surai gelombang memekik. Pukulan maganta terlalu keras untuknya. sontak teriakannya kembali mendapat perhatian penghuni kantin. Refleks auksa meraih tangan si gadis berkuncir kuda lantas segera menelitinya.
" udah gue nggak papa "
ujar Adelia sambil memasang senyum manis lantas menatap maganta penuh amarah. Tak lupa ya kembali menarik tangannya yang berada dalam genggaman auksa.
"gila! Gue udah capek-capek ngobatin nih temen lo, masak lo dengan gampangnya mau lukain dia lagi."
maganta menatap gadis yang kini berkacak pinggang dengan ekspresi bertanya. Cewek ini siapanya auksa? matanya menyipit memperhatikan nama di seragam yang telah dikenakan si gadis.kali saja ia mampu menemukan secuil informasi dari sababatnya
"a. D. E. L. L. I. A., Oh Adelia, eh! Lo kan yang natep gue terus waktu di lapangan upacara? "
" PD banget lo, kapan deh gue kayak gitu? " ujar Adelia dengan dua alis berkerut, namun setelahnya Adelia langsung bersorak gembira. bener bener bener, Sepertinya dia pernah mengagumi sosok magenta.and,bentar deh, kok kak maganta bisa tahu kalau adellia memperhatikan diam diam.
"Ah iya, kak ,kok kakak bisa tahu kalau gue merhatiin mulu, gue minta nomornya dong"
ujar adelia sambil menyodorkan ponsel iphone-nya, reflek Maganta melungo sedang semua penghuni kantin menatap gadis berkuncir kuda itu tak percaya.Maganta mengeluarkan tangannya ragu-ragu, namun belum sampai dirinya memegang ponsel Adelia, sebuah tangan lain lebih dulu mengambilnya.
"ini"
"apaan sih! gue kan mintanya nomor Kak maganta bukan nomor lo "
Auksa menghembuskan nafasnya. Apa yang dilakukannya kali ini!
.
" nggak boleh "
" emang kenapa "
Jujur ,auksa saja juga bingung dengan sikapnya, tetapi ia benar benat tak mentukai adellia yang berinteraksi dengan sahabatnya.
" nggak tahu "
" gaje banget deh lo"
Auksa menggaruk tengkuknya yang tak gatal,apa yang diperbuatnya sih?!malu maluin banget! lantas auksa kembali berpura-pura sibuk dengan baksonya.mencoba mengabaikan rasa malunya sendiri.
" Ya udah deh, lo sebutin aja angkanya berapa biar gue yang ketik "
Auksa tersedak, cepat-cepat ia menenggak minumnya lalu dengan kilat menyambar ponsel adelia.
" lo apa-apaan sih ! Siniin nggak! "
Auksa menggeleng,ia semakin menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauan adelia.
"nyebelin banget sih lo. cepetan balikin! Atau gue......... "
Ucapan adellia terhenti. Ia ingin mengancam tapi tak tahu mau mengancam bagaimana.
"atau apa?"
tanya auksa menaikkan sebelah alisnya menantang. tangannya mengangkat tinggi-tinggi ponsel adelia. sedang adellia yang tengah diberi pertanyaan malah bingung dengan kalimatnya sendiri.
Adelia berdehem kecil,
" atau itu... Itu loh... "
Adelia tergagap, bola matanya mondar-mandir ke kanan kiri. Ia sibuk mencari-cari alasan yang paling tepat.
" oh, atau luka lo kalo gue sodok lagi biar tambah dalam "
Auksa tersenyum sinis, sengaja ia menatap Adelia menantang.
"coba saja kalau berani"
adelia tersentak, refleks ia melangkah mundur tatkala auksa menghampirinya dengan bola mata tajam. diteguknya ludah dengan kuat, tetapan auksa benar-benar membuat nyalinya ciut
"Ngapain diem?"
Adelia menahan nafasnya, kini ia tak mampu mengelak lagi. posisinya benar-benar terdesak.
"balikin saja lah sa. kita lanjutin aja yang tadi"
Auksa tak menghiraukan saran maganta, ia malah semakin mendekatkan wajah ke arah adelia. hidunegnya bahkan hanya berjarak beberapa centi dengan hidung auksa.
"nggak berani?"
Ujar auksa sambil menatap gadis di depannya, gadis berkuncir kuda itu nampak takut. kedua matanya juga tertutup rapat. Auksa menyergai, nafasnya keluar menyentuh wajah Adelia.
"lo takut?"
sekali lagi auksa bertanya dengan nada mengejek. Adelia menggeleng kuat, ia semakin merapatkan tubuhnya pada dinding kantin. pikirannya semakin berkelana jauh, apalagi nafas auksa membelai wajahnya terlalu dekat.
" Jangan cium gue!!! "
Teriakan refleks adelia membuat auksa mengerutkan alis, sekuat tenaga ia menahan tawa yang memaksa merebak keluar dari bibirnya. ditatapnya gadis yang menutup matanya semakin rapat. seluruh penghuni kantin juga Mulai banyak yang berbisik-bisik. Bahkan sebagian dari mereka tak segan-segan merekam kejadian langka tersebut.auksa mendekatkan wajahnya lagi, diarahkannya bibirnya ke telinga Adelia sampai hidungnya mencium bau vanila yang dikenakan oleh gadis tersebut.
"mau yang mana dulu? "
Adelia menahan nafasnya, jantungnya berdentum kuat tak terkendali. kedua tangannya terkepal kuat. Ia benar-benar takut kali ini. Terpaksa adelia mengumpulkan keberaniannya, perlahan Ia membuka kedua matanya, tak ia temukan wajah auksa di depannya. Karena kini kepala laki-laki tersebut tengah berada pas di samping kepalanya dekat dengan telinga kanan miliknya. dalam hati adellia berhitung, sampai pada hitungan ketiga ia dengan berani meraih belakang kepala auksa lalu diarahkannya kepala itu ke tembok yang berada tepat di belakang punggungnya.
Jdukkk
Adelia meringis, sedang auksa mengaduh. siswa-siswi yang menghuni kantin tercengang,mereka tak menyangka dengan aksi Adelia yang tiba-tiba. Kecuali maganta yang menatap Adelia dengan terkejut.
"lo"
Adelia menyingkir dari jangkauan auksa, tak sengaja matanya menangkap tari dan dion yang tengah mengamatinya dengan mulut yang ternganga.
"apa!"
"Lo berani sama gue?"
ujar auksa menatap adelia penuh kesal. Belum sembuh perutnya yang kena tikam, kini dahinya terasa nyeri.
"Ya udah, ponsel lo gue bawa. jangan protes"
seketika Adelia melotot terima. ponselnya adalah kehidupannya apalagi sekarang ini jadwalnya menonton suami kesayangannya yang masih betah berada di Korea.
" jangan sita HP gue dong, sita gue aja atau teman gue yang di sana. kasihan nanti suami gue kecewa karena nggak ditonton video klipnya sama gue "
"ngarep banget lo gue sita"
Adelia berdecak, tangannya mencoba meraih ponsel yang kini dipegang auksa di belakang punggungnya.namun auksa lebih cekatan dari adellia. Adellia menatap adellia sebal. Dahinya berlipat lipat sedang bibirnya maju beberapa senti.
"siniin!"
"Cepetan siniin "
Auksa menyimpan ponsel adellia di saku seragamnya. Enak aja!
"ambil aja sendiri "
"ish lo kok nyebelin sih"
"balikin nggak?! "
"enggak. Nggak usah ngarep"
" nyebelin deh "
Adelia bersedikap dada, membuat kotak bekal yang tak disadari auksa ikut terpampang.
"Ternyata selain ngerepotin lu kayak bocil ya, pakai bawa-bawa kota bekal segala buat apaan coba? "
Adelia mendengkus menanggapi. setengah hati yang menyodorkan kotak bekal bergambar Mickey Mouse miliknya ke arah auksa ..
"buat lo dari bisul" ujar Adelia bersungut-sungguh. Ragu, auksa meraih kotak bekal dalam genggaman adelia.
"bisulmi? "
"pembantu rumah gue, bi sumi"
"oh"
"sekarang sini in ponsel gue"
"dalam rangka apa? "
"tanya aja ke bi sumi. "
"siniin nggak ponsel gue"
Auksa menggeleng. Ia hanya memberi pelajaran kepada gadis di depannya.
"nggak boleh"
Si gadis nampak mendengkus kasar, lalu segera berlalu pergi dengan kaki yang dihentakkan kuat sepanjang langkahnya.
"dapat bekal nih dari calon doi "
"calon do'i apaan, kelakuan kayak setan gitu kok"
"ati ati llho kemakan omongan sendiri"
Auksa berdecak kecil, ia tak menghiraukan perkataan maganta yang tak akan mungkin diperbuat olehnya.
Pelan auksa membuka kotak bekal dari adelia. terpampang sayur kangkung juga tempe selimut di dalamnya, Sebenarnya bukan itu yang membuat auksa mengerutkan alisnya menatap nasi dengan laut penasaran. namun kertas pink terlipat berbungkus plastik bening yang nampak menyembul dari padatnya nasi . Dengan hati-hati, auksa meraih benda asing yang nampak mengganjal di matanya tersebut, lantas ia menyobek plastik yang membungkusnya lantas membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya dalam hati.
"eh sa kayaknya di belakang masih ada tulisannya deh"
Auksa menurut, hati-hati ia membalikkan kertas tersebut. sontak bola mata auksa membulat karena melihat rentetan kalimat yang menurutnya menjijikkan. sedang meganta tak mampu lagi menahan tawanya.
"gue cabut "
Magenta mengangguk dengan mata yang sedikit berair .
"santai bro, "
"semangat, gue doain lancar. Ngode keras tuh pembantunya sa"
"good job"
__ADS_1
Auksa mendengus, terpaksa ia menutup kitak bekal bergambar Mickey Mouse yang berada dalam genggamannya. lantas ia meninggalkan Area kantin untuk menemui gadis yang memberikan kotak bekal dengan kalimat unfaedah yang kini kertasnya berhasil mampir disaku seragamnya.
Awas aja adellia, sekali lo usik hidup gue, lo nggak bakalan bisa keluar lagi.