
...Mengenai waktu yang kita lalui tanpa luka....
...Kini tawa berubah jadi derita....
...Maaf adellia.....
...Bukanya mama tak kuat,...
...Namun hati yang lebih memilih pergi menghempas tekad....
... Sinta...
...🌜🌜🌜🌜...
Hah,
Adellia menghembuskan nafasnya lega. Terjebak bersama dua orang yang tengah berseteru ternyata tak mengenakkan juga,
eh tapi ada untungnya juga sih hehehe,
Batin adellia menampik, karena berkat itu semua juga,adellia bisa mendapatkan kecupan auksa secara cuma -cuma. Adellia menutup pipinya yang memerah, lain kali ia akan meminta juanda datang lagi biar auksa lebih perhatian terhadapnya.
"kapan kapan gue mau minta yang sebelah kiri ah~"
ujar adellia riang sembari melangkahkan kakinya melewati pekarangan rumahnya yang besar. Tak elak hatinya merasa senang hingga ia tak sekalipun mengingat adanya sinta yang mungkin saja berada di dalam rumah. Adellia meraih gagang pintu lantas membukanya tanpa berpikir dua kali lagi.
Deg
Adellia tersentak, kedua matanya membelalak lebar, mendadak bayangan auksa mengabur dalam ruang pikirnya. Tubuh Adellia mematung, dunianya terasa runtuh.
Ya tuhan!
Jelas sudah, penyesalannya tempo hari benar-benar sia-sia belaka. Rasa bersalahnya pada Sinta malah semakin menggerogoti hatinya. Adelia mengikuti bibirnya, Kedua telapak tangannya menggenggam tali ransel erat.
"adel masih nggak nyangka ma"
Lirih Adelia menunduk, hatinya berdenyut nyeri tanpa diminta. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia membenci mamanya, ia sangat membencinya.
"adel"
Gumaman sinta membuat Adelia meringis, jelas sekali sinta terkejut dengan kehadiran Adelia yang tiba-tiba.
"mah, padahal Adelia sempat berpikir kalau Adel itu salah udah jahatin Mama, Adelia salah udah bentak Mama sama cuekin mama, ternyata adel nggak pernah salah ya Ma, Mama emang pantas dapetin sikap Adelia yang nggak baik! "
Adelia mengusap bulir air matanya kasar. kedua matanya memburam. sakit, jelas ia rasakan kali ini. Apakah harapan keluarga sempurna dan utuh tak bisa ia dapatkan? Adelia mengatur nafasnya yang berantakan. Sedang Sinta, wanita paruh baya dengan setelan dress panjang itu memilih mengeratkan pegangan tangannya pada sosok laki-laki di samping tubuhnya. Ia juga ingin menangis, namun ia tahu, menangis tak akan membuat keadaan semakin membaik.
"Anda nggak tahu malu ya"
Nafas sinta tercekat mendengar penuturan anaknya , apa adellia baru saja menghilangkan panggilan mama terhadapnya!
"adel"
"saya bhkn benci dilahirkan di dunia ini lewat anda! "
Adelia melangkah cepat menghampiri sinta yang berlinang air mata. Tanganya dengan kasar memisah tautan jari sinta dengn laki laki di sampingnya.
__ADS_1
"see Nyonya Sinta, untuk kesekian kalinya anda buat saya nggak mampu lagi berkutik dengan kelakuan anda. "
Adellia terkekeh kecil, tangannya menarik kasar dasi seorang pria yang bersebelahan dengan mamanya, hingga membuat si empu menunduk. kedua mata Adelia menelusuri wajah yang berada tepat di depannya lantas memasang seringai tanpa belas kasihan.
"hem, nggak lebih tampan dari papa sih, tapi lumayan,..... "
"lumayan brengsek"
T
ambahnya tersenyum smirk,tak elak ia merasa bangga tatkala ditatapnya si pria terdiam kaku di tempatnya
"Adel!!!"
Adellia menoleh cepat ke arah sinta, tangan mamanya sudah terangkat hendak menampar, sayangnya ada tangan lain yang lebih dulu menahanya.
"nggak usah gegabah Sin "
Sinta memejamkan matanya rapat, ia mencoba menetralkan segala emosi yang sempat menguasainya.
"kenapa nggak jadi ma?, cepet tampar adel , upss, eh iya salah, anda kan sudah bukan mama saya lagi, "ujar Adel sambil bersedekap dada. bibirnya tetap bergetar walau ia mencoba memasang tatapan angkuh.
" cih, seenggaknya anda bisa memilih lah cowok mana yang layak gantiin papa, cuma tampang kayak gini cari di sebelah gang mah banyak"
Ujar Adelia sambil memandang laki-laki di sampingnya dengan tatapan merendahkan. Adellia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Sinta lantas ia berbisik kecil.
"ma, ternyata laki-laki ini ya yang udah buat Mama ninggalin papa "
Ujar Adelia pura-pura sedih. tangannya kini memeluk sinta yang mematung di tempat.
"ternyata mama murahan ya? "
" kamu bilang apa sama mama kamu! ulangi Adel! "tuntut sinta tak percaya.
"bener kan, Anda memang murahan "
Plakkkk!!!
Sinta tak tahan lagi, bersamaan dengan tamparannya yang membuat Adelia teruyung mundur, pintu rumahnya terbuka kasar.
" adelll! Apa yang kamu lakukan Sinta!"
Alvendich eugene agantara -papa adellia,terperangah di tempatnya,.ia lekas berlari menghampiri anaknya yang jatuh terduduk. Hatinya nyeri, tak disangka kalau wanita yang amat dicintainya dari dulu sampai sekarang berbuat hal keji semacam ini.
"dia murahan Pa. dia ninggalin Papa demi laki-laki lain"
Alve menatap adellia yang tengah mengadu terhadapnya. Pipi anaknya memerah, air mata bercucuran walau adellia berlagak tak apa.
"sinta apa kamu bisa menjelaskan apa yang terjadi"
Tekan alve sembari menatap istrinya sengit. Sinta tertawa keras, tak elak ia merasa semua orang tak ada yang berpihak terhadapnya.
"hahaha, kamu pinter ngalihin semuanya ya mas,kamu sekarang mau nyalahin aku kan?! Kamu mau jadiin aku kambing hitam disini?! "
"sin, aku cuma minta penjelasan dari kamu, aku serahin adellia bukn untuk di perlakukan kayk gini. "
__ADS_1
Sinta berdecih, lantas ia menatap adellia.
"Iya, kamu benar !saya emang lebih milih dia daripada Papa yang selalu kamu banggain itu!" .
"sekarang kamu mau apa?!asal kamu tahu ya,saya bener bener nggk sudi liat papa kamu itu. Dia pria paling brengsek yang berani khianatin saya!dia pria nggak guna yang cuman bisa nyembunyiin semuanya"
Adelia menggeram, ia berniat maju namun tangan Alve segera menahannya.
"kamu minta saya pergi kan , oke ! saya bakal pergi sekarang. Jangan cari saya lagi! "
" sinta sadar!, kamu tega ninggalin Adel? "
Ujar alve menghentikan langkah sinta, wanita paruh baya itu terhenyak, ia tahu kalau ia tak akan tega, ia tahu klau ia tak akan sanggup meningglkan anak semata wayangnya, namun ia terlalu sakit untuk menahanya lagi, adellia tk berniat untuk mengerti dirinya, anaknya tk pernah mendengar penjelasanya.
"biarin aja pa, adel nggak nyesel kok,"
Sinta menahan perih di hatinya, kedua matany menyorot sayu gadis kecil yng begitu di banggakanya.
"kamu seneng kan Mas, kamu senengkan dibelain Adel, kamu seneng kan kalau aku pergi, kamu bisa leluasa temuin Adel,bisa tinggal disini semau kamu,kamu juga bangga kan mas bisa liatin aku semenderita ini, nggak usah bawa-bawa adel buat alasan mas!kamu yang udah buat keadaan jadi semacam ini!kamu cuma pria pengecut karena bawa bawa nama anak kita sebagai alasan!"
"akh! "
Sinta berteriak ketika sebuah cekalan memegangi pergelangan tanganya, alvendich, laki laki yang telah merangkap menjadi mantan suminya menatapnya dengan beribu emosi.
" apa-apaan kamu Sinta! Adel itu anak kamu! aku nggak bisa terus di sini. aku udah serahin adel ke kamu dan kamu dengan gampangnya mau pergi?!"
"apa maksud papa tentang serahin adel ke mama pa? "
Alve tak mengubris, atensinya terlalu dikuasai oleh istrinya.
"tarik semua niat kamu yang mau pergi itu. Aku nggak akan mengijinkanya. "
"akh sakit mas!!!"
"inget sin, sejak kamu minta aku keluar dari sini, adellia cuman punya kamu sebagai ibunya, dia nggak punya sosok ayah seperti yang diharepin anak lain. Aku terpaksa turutin semua kemauan kamu sin! "
"seenggaknya kamu harus argggh-"
Alve menggantung kata katanya, ia mengacak rambutnya tak kuasa menahan emosi. Yang ia inginkan adalah sinta lebih memperhatikan adellia, anak itu hanya korban dari semua ini, tak selayaknya adellia menanggung semuanya.
"sin, kamu harus lebih perhatiin adel"
Ujar alve lantas menarik lengan sinta lagi.
" Sakit mas ,sakit "
" kalau aku tahu bakal kayak gini, aku nggak akan turutin semua kemauan kamu ! "
Sinta mengerutkan kedua alisnya menahan nyeri di pergelangan tanganya,
" cukup pak!!! Kali ini saya nggak akan biarin Sinta tinggal di sini lagi! Ayo Sin ikut gue "tiba tiba saja
pria asing yang semenjak tadi diam mengambil langkah untuk ikut campur. Ia tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi, apalagi di depan matanya, alve dengan berani menyakiti sinta. Lantas, dengan kasar ia melepas genggaman alve paksa.
"lo nggak papa kan sin?"
__ADS_1
Sinta mengangguk kecil, tubuhnya bergetar, nafasnya bersusulan keluar, ia masih merasakan nyeri yang menyerang pergelangan tanganya.
"kemasin barang kamu, kita pergi sekarang"