
Meraba masa lalu yang terbuang.
Bukannya menyesal, namun kecewa yang kurasa.
Jangan kembali bella, langitmu sudah mempunyai pengganti senja.
" Sakit kan kamu sekarang? Makanya jangan banyak gaya. Mentang-mentang kamunya cowok jadi main nonjok aja, bag bug bag bug sembarangan. Mau cosplay jadi Rocky marciano he? "
Tanya Adellia sembari menekan sudut bibir Auksa sampai membuat cowok itu meringis. Auksa menahan rasa nyeri dan perih di sudut bibirnya karena perbuatan Adellia, juga ngilu yang terus saja berdenyut memenuhi sekujur badannya. Auksa tidak habis pikir, biasanya para cewek yang melihat keadaan cowoknya mengerikan selalu memberi perhatian lebih, lah Adellia malah tak berhenti menghujani omelan maha dahsyat padanya.
" Lain kali ajakin batu aja geludnya, pilih lawan nggak usah setengah-setengah, yang setipe dong biar imbang. "
" Hish, dia kan nyuruh kamu pilih. "
Adelia mencibir gemas. Emangnya kenapa ? Terserah Juanda dong, lagian ngapain sih Auksa tiba-tiba saja muncul. Kan kaget.
" Terserah Juanda lah, lagian Juan kan cuma suruh aku pilih doang bukannya maksa. "
"Ck, tapi aku nggak suka Adel, "
" sqa, kalau semua makhluk hidup di bumi ngikutin konsep nggak sukanya kamu, yang ada dunia bakalan hancur. "
"Kok bisa? "
"Ya busa lah! Kamu kan enggak suka semua hal, enggak suka berisik, enggak suka Meika, enggak suka makanan manis, enggak suka juanda, and bla bla bla."
Auksa menatap Adellia sinis, yang ditatap berganti melayangkan sorot tajam bak elang.
"Kenapa natep aku kayak gitu? Enggak terima sama perkataan aku? "
" Siapa yang bilang kalau aku nggak suka semuanya? Aku suka sama kamu dan semua hal yang menyangkut tentang kamu kok. "
Ujar Auksa membuat pipi Adellia memerah. Adellia segera mengalihkan wajahnya malu.
" Bisa nggak kalau mau ngegombal ngode dulu biar jantung aku nggak deg-deg an mulu."
" Ya bagus dong, kalau jantung kamu deg-degan, tandanya kan kamu masih hidup. "
Adellia menggeplak kepala Auksa refleks. Mungkin saja pukulan juanda tadi berhasil memukul telak otak pacarnya sampai serong.
" Jangan ngadi-ngadi. " Ujar Adellia sarkastik. Auksa terkekah kecil, ditatapnya segerombolan bunga yang nampak segar dalam penglihatannya. Auksa membuang nafasnya berat, dia yakin kalau Adellia tetap akan memilihnya, namun Auksa juga tak bisa mengelak, ada setitik ketakutan yang menjamah hatinya tatkala mendengar pertanyaan itu.
" Kenapa? "
Pertanyaan Adellia membuat Auksa langsung menoleh terkejut. Cewek itu menatapnya Intens, rambut bergelombangnya berkibar tertiup angin. Cantik, Auksa tidak berbohong mengenai hal itu. Adellia memang selalu nampak cantik dimatanya.
"Sa, "
" Iya? "
" Kamu kenapa? " Auksa menarik nafasnya dalam-dalam.
" Sa, "
Adellia meraih tangan Auksa, lantas menggenggamnya kuat seakan-akan menyalurkan berbagai energi dan motivasi agar auksa mampu bertahan.
" Katanya kita satu pasang sayap kupu-kupu, ootomati aku juga harus rasain apa yang kamu rasain. Misalnya nih, kalau cuaca lagi dingin, ya kita kedinginan bareng. Kalau lagi panas, kita rasain bareng-bareng juga. "
" Kamu tahu artinya kita kan? Kata kita bukan cuma mencakup tentang kamu doang, tapi tentang aku juga. Aku berhak tahu biar kita bisa sama-sama menguatkan. "
Auksa terhenyak. Adellia benar! Tidak seharusnya dia berpikiran kalau Adellia akan berpaling darinya karena potensi dan posisi Juanda yang lebih unggul. Adellia tetaplah Adellia, senja baru sekaligus pelangi yang tidak akan dengan mudahnya pergi, seharusnya Auksa yakin kalau Adellia tetap akan berada di pihaknya dan tetap akan memilihnya.
"Sa-"
Auksa menatap Adelia teduh, sedangkan cewek yang ditatapnya memasang senyum.
" Kamu lagi nggak ada duit kan ? Enggak papa kok Sa, enggak usah malu. "
Jderr!
Pemikiran Auksa yang semula menjunjung Adellia langsung terpecah bak kaca retak.
Sontak saja Auksa menghempas tangan Adellia kasar. Suasana yang semula tampak syahdu berubah menjadi menyebalkan.
" Sa, kamu marah ya? Aku nggak bohong Sa, kamu nggak usah khawatir soal itu. Kita kan sayap kupu-kupu. Sepasang lagi. Kalau kamu butuh sesuatu bilang sama aku. Aku emang enggak pernah ngerasain kekurangan duit, tapi aku juga nggak bisa bayangin gimana susahnya nggak punya sepeserpun. " Auksa menghela nafasnya, tentu saja ia sebal dengan perkataan Adellia yang terkesan menghina dirinya.
__ADS_1
" Butuh berapa sih Sa? "
Auksa berdiri dari duduknya. Tubuhnya yang tinggi menjulang memaksa Adellia untuk mendongak.
Dia mencengkeram bahu Adellia erat sembari membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis itu.
" Sa, kamu mau ngapain? "
" Denger ya Adel, yang aku butuhkan itu bukan berapa tapi apa. Aku butuh kamu. Asal kamu tahu Adel, aku takut kamu lebih memilih Juanda ketimbang aku nantinya. Aku juga takut kamu bakal beralih ke Juan dan pergi ninggalin aku."
Adellia mengerjap, lah dia kira Auksa butuh uang, kelihatan merana banget sih mukanya, kan jadi mikirnya sampai situ. Ternyata gara-gara itu toh.
Adellia mencoba menahan tawanya yang hendak meledak lantas mencubit pipi Auksa gemas.
" Kamu juga harus tahu Sa, aku enggak bakalan pernah mau sama Juanda. Dilain kamu yang lebih kaya dan lebih ganteng, lebih famous dan lebih nyebelin, lebih enggak enak diajak ngomong tapi enakan diajak tarung, tapu kamu jelas yang lebih unggul dibandingkan dia."
Auksa mendengus, dia tidak merasa kalau Adellia telah memujinya, yang ada malah Adellia tengah mengupas habis keburukannya tanpa sisa.
" Maka dari itu Sa, karena kamu yang selalu kelihatan lebih dan lebih di mataku, walaupun kebanyakan negatifnya sih daripada positifnya, tapi aku jadi nggak pernah biarin cowok lain masukin hati aku lebih dari kamu. Kamu udah masukin hati aku terlalu dalam Sa, sampai mata aku terkontaminasi sama wajah kamu yang nggak ganteng-ganteng amat. "
" Kamu nggak perlu takut dan khawatir, karena sampai kapanpun, aku nggak bakalan pergi ninggalin kamu. "
"Bener? "
Adellia mengangguk keras-keras.
"Emmm, nggak juga sih kalau kamu yang minta. "
Ujar Adellia sembari tertawa sedang Auksa langsung tergelak. Ia mengacak surai Adellia sampai membuat cewek itu memajukan bibirnya.
" Ih Sa! Jangan diacakin, susah tahu ngrapiinnya. "
Auksa mehentikan gerakannya, ia berganti menata rambut Adellia dengan jarinya.
" Makasih Adel, kamu-"
Belum sempat Auksa menyelesaikan kata-katanya, suara dering telepon memecah suasana yang tengah tercipta. Adellia meringis, lantas dengan netra yang menunjukkan rasa bersalah segera mengambil ponsel dari saku bajunya.
" Hallo, "
"Eh, Mama ? "
"APA!!!! "
Dunia Adellia terasa runtuh dalam sekejap. Telinganya seakan tuli untuk sekedar mendengar suara Auksa yang memanggil namanya. Bahkan Adellia merasa mati rasa tatkala Auksa mengusap bahunya berusaha menenangkan.
" Enggak mungkin Bi! Bi Sumi pasti salah denger, coba dicek lagi deh Bi! "
Wajah Adellia memucat mendengar jawaban dari seberang telepon. Auksa yang berada disampingnya menatap Adellia penuh khawatir.
" Terus Mama sekarang ada di mana Bi? " Tanya Adellia dengan raut wajah yang meredup. Kedua netranya mengalirkan bulir air mata.
Enggak mungkin!
" Sa, kita beneran sepasang sayap kupu-kupu kan? "
Auksa mengangguk kecil. Cowok itu lekas membawa Adellia kedalam pelukannya lalu mengusap punggung Adellia yang bergetar hebat. Tangis Adellia langsung merebak tanpa permisi .
" Jadi, kamu mau dengerin aku kan? "
"Iya. "
"Sa, "
Auksa mengusap punggung Adellia lagi untuk menenangkan gadisnya. Adellia tersedu, rasa sakit menjamah hatinya.
" Mama pergi sa. Dia Benar-benar pergi jauh sampai aku nggak mampu susulin lagi. "
" Dia nggak mengingkari perkataannya buat menjauh dan tidak menampakkan batang hidungnya lagi di mata aku. "
"Sa, balikin Mama, balikin dia Sa, hiks, balikin dia ke aku lagi,"
Adellia menangis meraung-raung, tangannya mencengkeram baju yang dikenakan Auksa. Dunia memperlakukannya tidak adil.
" Sa, Mama Sa! Mama pergi!! Aku nggak bisa biarin Mama pergi kayak gini! Aku saja yang gantiin dia ketemu tuhan, aku yang lebih pantas Sa!"
__ADS_1
Auksa membawa Adellia lebih erat kedalam pelukannya.
"Stt, nggak boleh bilang kayak gitu Adel. "
" Semesta keterlaluan! Sayap kita terlalu rapuh buat lawan semua ini! Aku muak Sa! "
" Sa, biar aku saja yang gantiin Mama, kenapa nggak aku saja yang ketabrak mobil? Kenapa enggak aku saja yang kecelakaan? Padahal tuhan selalu cegah aku buat mati tapi kenapa Dia ambil mama tanpa permisi. Kenapa nggak aku aja Sa! "
Auksa mengecup puncak kepala Adellia. Kali ini permainan semesta memang keterlaluan.
"Sa-"
" Udah Adel, "
Adellia menggeleng keras-keras,lalu melepas pelukan Auksa dengan paksa. Adellia tersenyum miris, dia berdiri menjauh dengan tangan yang langsung mencabut satu tangkai mawar merah.
" Lihat aku Sa,"
Auksa tersentak dengan perbuatan Adellia, cewek itu mengarahkan ujung runcing batang mawar diatas nadi pada pergelangan tangannya.
" Kamu dapat kehormatan buat bunuh aku kalau aku nggak bisa mati dengan cara ini. "
" Adel, turunin tangkai itu ya, "
Pinta auksa takut sembari mendekat dengan langkah pelan. Adellia memundurkan langkahnya.
" Kamu juga punya kehormatan buat jadi saksi. Aku bakal susulin Mama ke surga Sa, Aku bakal ninggalin dunia yang selalu bikin aku enggak bahagia, aku bakal bebas. "
" Adel sayang, jangan ngomong kayak gitu, sini Adel, ada yang harepin kamu tetap disini,"
Adellia tertawa miris, tangannya yang memegang batang menunjukkan gelagat hendak menusuk. Auksa bergerak cepat, dia lekas merebut batang dari tangan Adellia tanpa sadar kalau hal itu membuat telapak tangan gadis itu terluka.
" Sa! "
" Lo gila ha! "
" Mikir dulu sebelum lo bertindak Adel, lo tahu apa yang bakal terjadi kalau batang ini nancep di tangan lo! Lo tahu apa yang bakal terjadi kalau lo gegabah kayak gini! "
"Astaga lo bego banget Adel, "
Auksa membawa tangan Adellia untuk diarahkan didepan mulutnya, lantas meniupnya lembut.
"Lo bego adel-"
"Tapi gue yang lebih bego karena gue nggak bisa apa-apa. "
"Maafin gue adqel. "
Auksa mengelap darah yang berada di telapak tangan Adellia dengan baju yang dikenakan olehnya.
" Aku mau mati saja Sa, "
Ujar Adellia lirih, Auksa mngusap tangan Adellia yang terluka dengan lembut
" Maafin aku sayang, maafin aku. "
Ujar Auksa dengan penuh sesal melihat luka itu. Adellia menangis dalam diam, kedua netranya menatap Auksa kosong .
" Aku nggak bisa bertahan Sa. "
Auksa membawa Adellia dalam pelukannya. Adellia tak menanggapi sedikitpun, cewek itu hanya mematung tanpa membalas pelukan Auksa.
" Kamu udah janji sama aku Adel. Kamu enggak bakal pergi kecuali aku yang minta. "
"Baru beberapa menit berjalan dan kamu sudah mau langgar semua itu. "
" Adel, jangan kayak gini ya, ada aku Adellia. Ada aku yang bakal bantu kamu bertahan."
"Aku capek, "
"I'm always there for you Adel, don't give up, we can face everything. Believe me, honey."
Ujar Auksa lembut di telinga Adellia lantas mengeratkan pelukannya pada Adellia.
Aku enggak mau kehilangan kamu Adellia.
__ADS_1