
Sekeras apapun kita mengelak, takdir dan kejamnya semesta tidak akan membiarkan kita lari. Ada beribu cara yang dia punya demi menahan kita tetap disini tanpa melambai pada kata "PERGI".
🌜🌜🌜🌜
Bau amis darah dengan aura mencekam dari seorang pemuda bermasker dan topi berwarna senada membuat suasana semakin menakutkan. Pemuda bermata coklat itu menatap lima orang yang tengah bertekuk lutut tidak berdaya. Langkahnya mantap menghampiri salah satu tawanannya yang berkaos hitam. Tanpa rasa kasihan, si pemuda mencengkeram dagu pria tersebut, ia menekannya sedemikian rupa sampai membuat si pria meringis kesakitan.
"Siapa yang nyuruh lo? "
Siapa sangka kalau bukan jawabanlah yang dia dapat. Namun tatapan nyalang juga menantang malah muncul sebagai jawaban dari pertanyaannya. Pemuda itu berdecak kecil, inilah yang membuat ia begitu benci, dia harus terpaksa berbuat kejam demi mendapatkan kepastian dari pertanyaannya.
Si pemuda melepas masker hitamnya pelan, Sebuah seringai muncul tanpa permisi. Auksa Legarvan Alfadiaraga. Jujur, urusan semacam ini sering membuat Auksa kuwalahan. Namun ia tak mampu mengelak benang takdir yang telah lama tertulis. Auksa menatap pria yang masih menatapnya menantang. Kedua tangannya terkepal sebelum perintah menyusul keluar dari bibirnya.
"S675 urus dia,"
Bersamaan dengan titah tersebut, orang dengan jahitan panjang diwajahnya dan kostum yang tak berbeda jauh dari Auksa, sigap maju untuk melaksanakan perintah. Pria itu mengeluarkan pisau dari saku bajunya. Sejenak, dia menatap Auksa untuk meminta persetujuan. Auksa mengangguk lantas memalingkan wajahnya ketika suara jeritan yang tertahan terdengar menelusup ke lubang telinga. Auksa menutup matanya rapat- rapat, dia tidak boleh lengah, ia memang harus kejam seperti ini agar semua musuhnya tak berani mengusiknya lagi.
Auksa menggigit bibirnya lalu berjalan menghampiri pria yang sekuat tenaga tengah mengatupkan bibirnya menahan sakit. Diusapnya darah kental yang masih merembes di leher si pria. Auksa memasang wajah dingin, dia harus terlihat lebih buas.
"Siapa yang nyuruh lo? "
Pertanyaan Auksa yang bernada dingin tak sedikitpun membuat si pria gentar. Pria itu malah dengan berani meludah sembarangan sembari berdecak keras. Sontak rahang Auksa mengeras,
Bugh?
Cukup, Auksa tak mampu menahannya lagi. Ia sudah terlalu baik kali ini.
"Jawab gue sialan! "
Si pria menyeringai tipis sambil memiringkan wajahnya. Tangan kanannya masih menekan luka menganga yang bersarang diperutnya. Darah semakin deras mengalir dari leher menuju baju hitam yang dikenakan olehnya.
"Gue nggak bakal kasih tahu."
Auksa menghembuskan nafasnya kasar, kedua tangannya terkepal erat. Emosi tidak akan menyelesaikan semuanya. Jadi, sebisa mungkin Auksa memasang senyum lalu dengan santai melangkahkan kakinya ke arah kursi.
"Gue bakal lihat, seberapa kuat lo bisa bertahan selepas ini."
Auksa tersenyum miring setelah tubuhnya sempurna duduk. Kaki kanannya bertumpu diatas paha kiri. Tangannya menyangga wajah seakan begitu siap menonton.
Auksa mengedikkan dagunya ke arah pria kekar yang dia sebut S675, anak buahnya sigap mengangguk lantas kembali mengeluarkan pisau yang berada didalam saku celana.
Sret!
Suara ringisan mengisi sunyi, kedua mata sang pria yang notabenenya adalah musuh Auksa tertutup rapat. Rasa perih menyerang pipi bagian kanannya.
Auksa berlagak menatapnya penuh minat. Ia dengan santai meraih ponsel berniat membalas pesan Maganta.
Auksa menatap pesan itu malas. Keingintahuan Maganta memang susah dikontrol. Auksa mengalihkan atensinya ke pria yang kini menatapnya penuh benci. Auksa memasang senyum miring, ia lantas meletakkan ponselnya.
"Serang dia."
S675 mengangguk, tanpa babibu dia lekas membogem wajah pria bermandi darah didepannya. Mata Auksa memicing tajam mecoba mencari keganjilan dan keanehan yang tersimpan dalam pergerakan tawananya. Terlihat jelas sekali kalau pria itu kerap mengelak serangan, bahkan dalam keadaan masih terluka, dia mampu menangkis serangan S675 yang brutal.
Pria tersebut melepaskan tangan kanannya yang tengah ia gunakan untuk menutupi luka demi melindungi diri. Tubuhnya berguling lincah lantas ia menundukkan kepalanya untuk menghindar.
Bravo!
__ADS_1
Akhirnya Auksa menemukannya. Tanpa disangka, satu senyuman mampir di bibir tipis miliknya. Keanehan yang dicarinya telah tertangkap pada bola mata coklatnya.
Auksa menepuk kedua tangannya hingga menghasilkan bunyi. S675 berhenti, sigap ia menyingkir sedikit jauh.
Auksa beranjak dari duduknya, ia menghampiri letak si pria yang masih terengah-engah mengatur nafas.
"Sekali lagi jawab gue. Siapa yang nyuruh lo lakuin semua ini?"
Si pria berdecih. Ia menatap Auksa nyalang. Tawa Auksa menggema membuat semua penghuni yang ada diruangan tersebut merinding. Tak terkecuali empat orang yang juga tengah diikat oleh bawahannya. Si pria menautkan kedua alisnya, bukankah seharusnya pemimpin Dewanta Group ini marah terhadapnya? Kenapa beliau malah tertawa?
Tawa Auksa lenyap, ia memosisikan tubuhnya berjongkok dengan pandangan mata setajam elang. Tak elak hal itu membuat tawanannya merinding ketakutan.
"Raynond benar-benar berniat bermain."
Sontak kelima pria berbaju hitam melotot. Mereka masih tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh auksa.
"Apa yang lo maksud sialan!"
Geraman si pria kembali menghadirkan tawa Auksa. Auksa menyingkap lengan panjang si pria sampai terlihat tato berlambang burung dengan Simbol R besar.
"Gue tahu kalau anak buah Raynond akan melindungi simbol pentingnya."
Perkataan Auksa membuat si pria memalingkan wajahnya. Ia bahkan tidak menyadari soal apa yang telah dilakukannya. Bodoh! Kenapa dia tak sadar dengan jebakan Auksa lewat penyerangan?
"Penggal, dan seret keempat rekannya ke ruang eksekusi. Jangan tinggalkan jejak."
Sring!
Kepala sang pria menggelinding dengan darah memuncrat deras. Lantai yang semula berwarna kehitaman kini dipenuhi oleh genangan merah kental.
Auksa memejamkan matanya rapat, ia mengatur nafasnya yang memburu. Berkali -kali ia menyakinkan diri kalau tindakannya benar. Tak elak ada sedikit rasa bersalah yang mengerubungi dadanya.
"Urus!"
Auksa menyimpan ponselnya di saku celana. Kakinya melangkah meninggalkan ruang penuh bau amis. Sesampainya di pintu, dua orang segera membungkuk lalu menyerahkan seragam putih abu kepadanya.
"Pastiin semua beres!"
Ujar Auksa dingin. Dua orang disebelahnya membungkuk takzim.
"Baik Pak."
.
.
.
Seorang gadis berbalut seragam dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya mengerucutkan bibirnya. Kedua mata berbulu lentik itu menatap benci kearah makhluk yang dengan percaya dirinya tidur telentang di atas sofa lembut miliknya. Tangan pria itu Berkali-kali memiringkan gadget dengan bibir yang tak berhenti menipis karena mengumpat.
"Sana Yon, pergi aja deh lo! Ganggu tahu nggak? "
Gadis yang tak lain adalah Adellia Alexa Agantara menatap sahabatnya nyalang, yang ditatap malah asyik mengedikkan bahunya. Tak terpengaruh sedikitpun.
"Yon! "
"Mending lo pingsan lagi deh Adel biar diem, sumpek gue lama-lama."
Adellia mendelik. Apa katanya?! Sumpek? Adellia kali yang sumpek dengan kehadiran Dion.
"Berani ya lo sama gue? Nggak ingat tuh lagi dirumah siapa? "
__ADS_1
"Rumah Om Alve kan, bukan rumah lo? Jangan berisik deh Adel, skill gue jadi menurun nih!"
Adellia melempar bantalnya kasar, sontak saja Dion mengaduh kesakitan. Dia kaget dengan sebuah benda yang tiba-tiba saja melayang ke arahnya.
"Sini deh lo! biar gue kuncir itu mulut."
Dion memutar bola matanya malas, ia mendengkus. Teriakan Adellia benar-benar mengganggu permainannya. Dion tak berbohong,
"Makan apaan sih lo Del? suara lo mirip amat kayak toa masjid."
Gerutu Dion membuat Adellia tambah emosi. Adellia kembali melempar bantal gulingnya. Sayangnya, lemparannya meleset jauh.
"Bisa nggak sih, sehari aja jadi cewek kalem. Penyakit lo kayak bo'ongan tau. Sehat amat. "
"Biarin."
Dion berdecak kecil. Lantas mematikan layar ponselnya. Mengurus Adellia memang harus menyediakan stok kesabaran yang banyak.
"Tari bilang ke gue, harus jagain lo dulu. Soalnya Tante Sinta masih kerja, lo denger kan tadi waktu gue telepon nyokap lo? Dia nitipin lo ke gue."
Ujar Dion memiringkan badannya menatap Adellia penuh minat. adellia menggelembungkan pipinya, dia tidak perlu penjagaan, apalagi Adellia sudah besar.
"Enggak perlu, sekolah aja sana!"
"Adel ku sayang, nggak usah ngeyel."
Tanggapan halus Dion membuat jantung adwellia berdetak abnormal. Bisa-bisanya Adelia berpikir kalau Dion nampak begitu tampan kali ini.
"Panas gini masih bilang nggak perlu dijagain, dasar keras kepala."
Adellia mengerjab, telapak tangan Dion menyentuh dahinya lembut.
"Apaan sih lo!"
Tanggap Adellia gugup sembari menepis tangan Dion dari dahinya.
"Gue m-mau ti- tidur."
Ujar Adellia sembari mengontrol rasa gugupnya. Dion tertawa lebar, Adellia tampak menggemaskan di matanya.
"Apaan tuh? Lo grogi? Yaelah nggak cocok banget,"
Adellia mencibir. Ia menaikkan selimutnya sampai ujung kepalanya karena sebal.
Dion meloloskan tawanya. Ya ampun, Adellia benar-benar membuatnya begitu buta. Dion menyadari perasaannya. Tentang rasa suka yang sudah lama sekali ia pendam sedemikian rupa. Tingkah Adellia selalu saja membuatnya tertarik. Senyum Adellia juga berkali-kali menghampiri ruang pikirnya. Sayangnya, Dion terlalu pengecut. Dia takut, ia tidak ingin jika persahabatannya hancur. Oleh sebab itu, sampai sekarang ini, Dion masih memendamnya dalam diam. Biarkan Dion yang mengetahuinya, biarkan hanya dia yang menyimpan perasaannya secara sepihak.
Dion menarik selimut Adellia pelan sampai wajah gadis itu terlihat. Adellia menatap dion dengan alis berkerut, tiba-tiba saja Adellia merasakan dadanya berdetak lebih cepat.
"Yon,"
Dion menyingkirkan anak rambut Adellia yang berantakan, andaikata, Adellia tahu perasaannya, apakah gadis itu akan memilih menjauh darinya? Jika itu iya, Dion tak akan mampu. Dion tak mau jauh dari Adellia.
"Lo kenapa?"
Dion memasang senyum kecil. Dia menyentil hidung Adellia pelan.
"Udah nyerocosnya. Sekarang sahabat Dion yang kayak princess ini harus tidur dulu biar fit lagi besok pagi. "
Ujar Dion halus lantas mengusap lembut puncak kepala Adellia. Adellia mematung, namun tak urung ia mengikuti perintah dion. Kedua matanya tertutup sempurna. Tak mampu dipungkiri kalau pusing masih saja menderanya. Rasa panas juga menjalar setiap kali ia menghembuskan nafas.
"Cepet sehat Adellia."
Hanya kata itulah yang terakhir mampu didengar olehnya. Karena selanjutnya, rasa kantuk menyerang Adellia, dan kegelapan segera merenggutnya.
__ADS_1