
" Mau kemana? "
Adellia menatap Auksa sejenak, lantas kembali was-was memperhatikan Pak Joko si penjaga gerbang. Adellia meremas tangan Auksa, diam-diam gadis itu membangun keberanian dalam benaknya.
"Huft, lo bisa Adel, lo bisa. Semangat. "
"Mau kemana? "
"Ha? "
"Kita mau kemana? "
"Ya ada. nanti kamu juga tahu. "
Auksa mengikuti arah pandang Adellia. Gadis itu bahkan menjawab pertanyaan tanpa menatapnya.
"Ada Pak Joko. "
"Iya Sa. Enggak usah pake dibilangin juga aku sudah tahu, mata aku kan normal. "
"Ck, ada Bu Riana juga disana."
Adellia memicingkan matanya. Benar! Bu Riana nampak berjongkok meneliti sesuatu. Mungkin guru cantik itu tengah mencari bahan untuk ujian praktek para siswanya.
"Benar Sa. Makanya kamu diam aja biar nggak ketahuan. "
"Balik, "
"Nggak mau. Tekad aku udah terlanjur bulat sebulat baksonya Mang Asep. Penting nih Sa. Urgent banget."
"Entar pulang sekolah cari bareng-bareng. "
Adellia geram. Pasalnya, Auksa bukannya membantu aksinya, namun malah menambah beban Adellia. Lebih menyebalkannya lagi kala cowok itu hanya mampu merecokinya. Posisi Auksa yang nampak santai dengan dua tangan masuk saku dan punggung bersandar di dinding membuat Adellia semakin kesal. Bayangkan saja, Adellia sudah susah-susah berakting bak detektif canon sedangkan Auksa cosplay jadi pemain drakor. Nggak nyambung banget.
"Stt Sa. Nunduk dong! " Titah Adellia sembari berbisik, Auksa menaikkan satu alisnya menanggapi.
"Cepetan. "
"Nggak mau. "
"Entar ketahuan Sa. "
"Nggak bakalan Adel. "
"Ish posisi kita aneh tahu. Cepet jongkok. bareng gue. "
"Nggak mau. kotor. "
adeqllia mendengus. Memang susah berbicara dengan Auksa yang kepingan dinginnya sudah tercatat resmi di es kutub sana. Daripada Adellia emosi sampai pantat, mendingan dia diam mencoba bersabar.
Adellia mengetuk dagunya berpikir, dua alisnya bertaut dalam dengan dahi terlipat. kalau Adellia lewat gerbang modal nekat, Bisa-bisa Adellia mendadak jadi daging guling karena ketahuan Pak Joko. Emm mungkin ada cara lain selain melewati gerbang depan. Tapi lewat mana?
"Sa? "
"Hm. "
"Aku nggak berani lewat sana. Ada jalan lain nggak ya? "
"Ada, "
"Ih beneran? Lewat mana Sa? "
"Coba balik kelas. "
"Ck, kamu mah, daritadi bilang balik mulu. Nyebelin tahu nggak? Kamu diem aja deh daripada bikin aku tambah marah. "
Auksa mengatubkan bibirnya. Cowok itu menghembuskan nafas berat memilih untuk diam sembari menatap Adellia yang bertingkah layaknya maling pasaran.
"Sa, "
Auksa tak menjawab. Kedua matanya masih menyorot Adellia yang fokus menatap depan.
"Sa, "
"Ish Sa!"
Auksa berdecak dalam hati lantas berdehem menanggapi.
"Punya mulut buat apaan sih? Jawab dong kalau aku nanya. "
Auksa mendesis, tadi suruh diam, sekarang suruh jawab. Susah ya ngadepin cewek, jangan-jangan semua cewek kayak Adellia lagi? ish, kasihan cowoknya dong.
"Sa, "
"Iya apa? "
Jawab Auksa sangsi. Adellia menoleh dengan ekspresi sebal.
"Jawab daritadi kek. "
"Tadi suruh diem. "
" Ya enggak gitu juga konsepnya misua ku. Esmossi aku lama-lama. "
"Emosi Adel, bukan esmossi. "
"Sama aja. "
Adellia mengintip lagi. Disana nampak Pak Joko dan Bu Riana yang tengah berbincang berdua. Adellia menyeringai. Ini kesempatannya.
"Ayok, "
"Eh kemana? Balik kelas? "
"Iss, balik mulu pikiran kamu. Nanggung Sa, udah sampai sini. "
" Lah terus? "
"Kita manjat. "
"Oh man- HAH! MANJ- emmh. "
Adellia lekas membungkam mulut auqksa dengan tangannya. Kedua mata Adellia melebar, sialan! si Auksa pakai teriak segala.
__ADS_1
"Nggak usah teriak dong Sa,"
Peringat Adellia lantas menyeret tangan Auksa tanpa mendengar pendapat si empu. Adellia berhenti tatkala didapatinya tembok tinggi menjulang tepat dihadapanya. Kedua netranya berbinar senang.
"Nah, kita manjat lewat sini. "
"Nggak ," Tolak Auksa cepat, dia tak mampu membayangkan cewek semungil Adellia nangkring diatas sana.
"Kamu nggak bisa manjat Sa? "
"Kata siapa? "
"Ya udah panjat dong. Waktu adalah uang ,dan cepetan panjat mumpung ada peluang. "
"Kamu ngopas darimana? "
" Ngawur hehehehe, "
Auksa memutar bola matanya. mendingan dia lelas meninggalkan Adellia pergi daripada harus gila secara mendadak.
"Eh eh eh, mau kemana? "
Tahan Adellia mencekal lengannya.
"Kelas. "
"Ish katanya mau nemenin aku. Kok jadi berubah pikiran gini? "
"Nggak jadi. "
"Nggak boleh gitu dong kan udah fix. Cepetan jongkok, kelamaan deh. "
"Entar kamu jatuh. "
"Nggak Sa, aku udah ahli main panjat-panjattan, tiap hari naikin meja kalau ada kecoa lewat. "
"Beda konsep Adel, "
"Loh beda yang mananya coba. Kan temboknya itu meja, nah Pak Jokonya kecoa. sama dong. "
"Pokoknya nggak boleh. "
"Ih bentar doang kok, nggak bakal lecet. "
"Adel, kamu itu cewek, "
"Emangnya cewek nggak boleh manjat yaa, peraturan dari mana tuh? "
"Adel, "
"Sa, aku penasaran banget. Sebentar doang kok, jongkok ya, please. Nggak bakalan lama, aku cuman mau ngecek sesuatu. "
"Bahaya, "
"Yang bahaya itu kalau aku ada dideket kamu mulu. jantung aku hobinya kayak mau keluar dari tempatnya. "
Auksa berdehem karena salah tingkah.
"Nggak boleh. "
"Jonkok Sa. se-ka-rang! kamu mau mati di tangan aku? "
"Nggak takut. "
"SA! cuma mau pinjem punggung doang pelit amat sih. "
Auksa menghembuskan nafasnya. Ia lantas jongkok dengan setengah hati.
"Cepetan,"
"Baik bener misua. Tambah saaayaang deh. "
"Hati-hati. "
"Iya-iya. "
.
.
.
Adellia membulatkan matanya. Dia tak menyangka kalau caranya turun akan seektrem ini, sepertinya Adellia membutuhkan bantuan pacarnya lagi.
"Sa? "
Ctak!
Adellia mengaduh dengan bibir meringis sakit. Dahinya berdenyut karena sebuah kerikil mengenainya. Fokusnya yang hendak mengambil ancang-ancang mendadak buyar dalam sekejab.
"Jangan usil deh Sa, sini ah, bantuin aku biar bisa turun kesana, masak aku nangkring disini terus sih. "
Ujar Adellia kembali mengumpulkan fokusnya. Dia mencoba mengira-ira berapa jarak yang ditempuhnya kalau Adellia nekat melompat, juga menggambar reka adegan yang akan terjadi pada tubuhnya nanti. Adellia merinding, mendadak bulu kuduknya meremang. Duh, bisa remuk nangi tulangnya.
"Ekhm! "
Adellia berdecak. kehadiran Auksa benar-benar mengganggu. Padahal hari ini Adellia sedang melakukan misi penting bin misterius.
"Aku usir loh Sa kalau kamu gangguin aku mulu. Daripada usil kayak gitu mending bantuin aku deh. "
Ucap Adellia sembari memasang posisinya kembali. Dia penasaran dengan orang yang mengirim selipan kertas di dalam lembar Lksnya. Sepertinya orang itu begitu mengenal Auksanya.
"Sa? "
Auksa tak menjawab, namun Adellia tak peduli.
"Sa, kamu masirb ada hubungan sama kak Bella? "
Tanya Adellia tiba-tiba. Bukannya apa-apa. Adellia bertanya semacam itu karena puisi yang berada di dalam saku bajunya berisi tentang senja.
Auksa masih saja tak menjawab, hal itu membuat Adellia semakin sibuk dalam pikirannya. Adellia menggelantungkan kakinya lantas mendongak menatap langit.
"Kalau senja yang dulu sebelum aku kembali lagi, apa yang bakal kamu lakuin sama aku? "
__ADS_1
"Nggak papa sih kalau kamu nggak bisa jawab sekarang Sa. Pasti pertanyaannya sulit banget buat kamu. Aku cuman takut kamu pergi. "
Ujar Adellia sendu. Kali saja Auksa berpaling darinya kalau Bella tiba-tiba memunculkan dirinya.
"Saya bakal hukum kamu dulu sebelum senja atau apalah itu dateng. Mau ngapain kamu pake panjat-panjattan segala? "
Adellia tercenggang. Suara ini bukanlah milik Auksanya. Matilah Adellia kali ini, bagaimana bisa Pak Joko tahu posisinya?
"Mau bolos ya Neng? "
Adellia tertawa sumbang. Kepalanya menoleh dengan gestur kaku demi mendapati Pak Joko yang tengah mengacunginya tongkat dengan Auksa yang berdiri disampingnya.
"Ahahaha, Pak Joko, Bu Riananya nggak diajak Pak? "
"Nggak usah SMPSD Neng."
"Apaan itu Pak? "
"Sok kenal sok dekat. "
"SKSD pak! bukan SMPSD, kenapa nggak SMA sekalian Bapak bawa? "
"Eh terserah saya dong, mulut kan punya saya, kenapa Neng Adel pake ngurus? "
"Dibenerin malah nggak mau. "
"Diem kamu. Jangan melawan! "
Adellia menutup mulutnya rapat.
"Kamu belum jawab pertanyaan Bapak. Mau ngapain manjat tembok segala? "
"Mainan Pak. "
"Neng Adel mau cosplay jadi monyet? "
Astaga! ini satpam minta tampol mulu.
"Enggak lah Pak, "
"Jawab yang jujur."
"Mainan Pak. Udah jawab jujur ini. "
"Bohong Pak. Mau bolos dianya, saya saksi mata. "
Adellia mendelik. Rasanya ia ingin menerkam Auksa sekarang juga. Berani-beraninya cowok itu mengancam keselamatannya.
"Enggak Pak! adelqlia nggak bohong kok."
"Bohong pak dia, "
"AUKSA! "
"Kamu sebagai tersangka diem. "
Adellia mendengus menatap jengkel Pak Joko. Sedang Auksa menahan tawanya yang hampir meledak.
"Jelaskan kronologinya. "
"Jadi gini Pak, Adellia tadi samperin saya ke kelas mau ngajakin jajan diluar. Saya nggak mau Pak, tapi tetep dipaksa buat ikut. "
Pak Joko menatap Auksa tak percaya. Dia cukup mengenal siswa berandal yang jarang masuk jam pelajaran didepannya ini. Entah apa yang dikerjakan oleh Auksa, yang jelas, para guru tak pernah ada yang berani memberi Auksa peringatan, justru sering memberi perintah ke Pak Joko untuk dibiarkan saja.
"Bapak nggak percaya? Saya emang sering bolos pak, tapi hari ini lagi males. Eh dia malah maksa-maksa saya yang lagi anteng. "
"SA! "
"Benar yang Den Auksa bilang Neng Adel? "
Tanya Pak Joko membuat Adellia terkesiap. Adellia menggembungkan pipinya.
"Nggak gitu Pak. "
"Neng Adel ngajakin temen lain buat melanggar tata tertib sekolah? "
"Pak, nggak gitu. "
"Berani bohongin saya? "
"Enggak Pak." Jawab Adellia lesu.
"Turun sekarang. "
"Adel nggak bolos Pak. "
"Turun atau saya seret dari sini. "
"Astagfirullah, kejam amat. "
"Makannya cepet turun! "
Adellia mendengus. Ingatkan nanti padanya untuk memberi pelajaran ke Auksa.
"iya pak. Sa! bantuin dong. "
"Nggak mau. "
"ish cepet, aku turunnya gimana dong?"
"Lompat lah, tadi kan udah berani panjat, masa lompat aja takut sih. "
"Hish, nggak berani. "
"Ya udah terbang. "
"Aku bukan ayam Sa. "
"Emang. Kamu kan bebek, wek wek. hahaha. "
ujar Auksa sembari berlalu dengan ekspresi jahil. Wajah Adellia memerah menahan amarah
"Dasar ya Auksa kampret!!! awas ya lo! mati. lo ditangan gue! "
__ADS_1