
sudah beberapa hari ini Adellia terus saja merecoki Auksa. Entah itu dengan kehadirannya yang selalu saja tak pernah berhenti berbicara, atau ulahnya yang sering membuat Auksa sebal, juga tingkah manjanya yang kadang muncul secara tiba-tiba. Namun yang pasti, Auksa tak merasa keberatan sedikitpun. Keberadaan Adellia didalam hidupnya selalu berhasil memberinya warna baru. Warna yang tidak pernah Auksa temui beberapa bulan yang lalu setelah Bellanya pergi.
Ting!
Auksa menyerigai tipis, pasti Adellia tengah uring-uringan gegara Auksa beberapa kali tak menananggapi pesannya .
Auksa tidak memerlukan hal itu. Otaknya yang sedari dulu memang sudah cerdas bin jenius selalu membuatnya jadi anak berprestasi secara mendadak. Buku kumpulan soal hanya akan menambah beban tasnya.
Auksa menatap pesan Adellia lagi, dia sibuk. Berjalan-jalan di hari kerja selalu berhasil membuat bertumpuk map memenuhi mejanya.
Auksa menahan senyum membayangkan ekspresi Adellia yang lucu. Entah mengapa dia merasa ada rasa rindu yang merayap pelan dalam tubuhnya. Auksa mengetuk kepalanya, sial! Adellia membuatnya gila.
Auksa merinding, dia sampai melupakan sosok Arvan yang masih berdiri tepat disampingnya. Masih mending Auksa menamai kontak Adellia dengan nama yang sedikit wajar, hih! Auksa mana mau menggantinya menjadi semacam itu!
Auksa mendengus. padahal niat hatinya hanya ingin berbohong agar Adellia tak cerewet lagi. Namun Auksa salah, Adellia tak semudah itu dibohongi.
Astaga! ini bocah kenapa banyak maunya sih! Rutuk Adellia sebal.
Auksa tesentak. Apa yang dilihatnya kali ini! Bunga siapa yang berada ditangan Adellia itu?
Auksa menggeram marah, tanpa sadar dia memencet tombol memanggil.
"Hallo? "
Auksa menegakkan tubuhnya tatkala suara Adellia memasuki telinga.
"Bunga dari siapa? "
"Heh! Pake salam dong, main nyelonong aja. "
"Bunga dari siapa Adel?"
"Lah emang kenapa? "
"Jawab dulu. "
"Dari Dion. "
Jantung Auksa berdetak kencang. Entah mengapa ia merasa kesal.
"Buang. "
"Astaga, udah jaman dulu itu mah. Lagian juga udah layu bunganya. Kenapa sih? "
"Aku nggak suka ya. "
"Kamu cemburu? "
"Memangnya nggak boleh?"
Jawab Auksa sewot. Diseberang, Adellia tertawa sembari menatap cermin didepannya.
"Uluh, uluh, sini-sini, kacian. "
"Jangan terima barang selain dari aku. "
"Yeee kok gitu? "
"Adel. "
"Iya sayang nggak lagi deh. Sudah diganti belum kontaknya? "
Auksa memutar bola matanya malas. Jangan harap Auksa mau menggantinya dengan foto itu. Tambah panas nanti hatinya setiap membuka kontak Adellia.
"Nggak mau. Aku nggak suka fotonya. "
"Aku jelek ya?"
__ADS_1
Auksa berdecak. Adelnya mah setiap hari cantik. Itu loh bunganya bikin sangsi.
Eh! Apa sih yang dipikirkannya? Auksa mengetok puncak kepalanya. Astaga! tetnyata otaknya memang sudah terlanjur terkontaminasi begitu jauh.
"Bunganya yang jelek? Nggak usah kayak anak kecil deh Sa. "
Auksa mendengus lantas tanpa permisi memutus panggilan secara sepihak. Biarlah Adellia marah, pokoknya dia tidak mau memasang foto itu.
Ting!
Bisa nggak Adellia memotret dirinya dengan yang lebih biasa sedikit? jangan pake senyum deh, kalau perlu pakai masker sekalian.
Ck! Auksa ingin menolak namun Adellia lekas mengirim pesan tambahan.
Auksa memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya sangsi. Masalah berdebat, Adellia memanglah yang paling unggul. Pelan, Auksa memeriksa beberapa berkas di atas mejanya. Ia enggan melirik layar komputer yang menampilkan sosok perempuan yang melahirkannya. Hatinya gusar, antara gelisah dan rasa muak yang terus saja bertabrakan.
" Sudah berapa lama? "
"2 jam 30 menit 146 detik." Jawab Arvan cepat, detail, dan akurat. Auksa menghela nafasnya, kenapa harus wanita yang diciptakan begitu keras kepala? Gara-gara hal tersebut, Auksa jadi tidak bisa menghadapinya kan?
" Usir. "
Arvan mengangguk. Jari telunjuknya menekan tombol multifungsi dalam berkas jadwal. Tombol yang sekilas mirip makanan chacha itu mengeluarkan bunyi klik. Sekejab, layar monitor tampak memenuhi lembar kertas jadwal, mengambang cantik di atas tulisan. Arvan memilih beberapa pilihan menu, tak lama berselang, suara wanita muncul masuk dalam indra pendengaran.
" Selamat siang pak Arvan. Ada yang bisa saya bantu? "
"Siang juga Olivia. Tolong suruh Nyonya Alfadiaraga untuk kembali lain kali. Pak Auksa tak bisa diganggu. "
"Baik Pak, Akan saya sampaikan."
Jawab Olivia menyanggupi, lantas mematikan sambungan telepon hingga menimbulkan bunyi piip.
Auksa memejamkan matanya, semoga saja kali ini berhasil. Pelan, Auksa mendongak, ia teringat masalah teror bunga kamboja yang belum diselesaikan olehnya.
" Bagaimana dengan K Flow? "
"Sudah kalian terapkan strategi kode 2? "
Arvan menggangguk. Prinsip kehati-hatian, teliti, cepat tapi juga penuh perhitungan. semua sudah diterapkan. Hanya saja hasilnya belum juga ditemukan. Bahkan Arvan telah mengerahkan beberapa ahli hacker juga mata-mata namun tak ada yang aneh. kelompok K Flow seperti tak ada kaitannya sama sekali.
" Sudah Pak. "
Auksa memijit pangkal hidungnya. Ini sulit. Jelas-jelas lambang kamboja hanya dimiliki oleh kelompok K Flow. Apakah ini jebakan?
"Lepaskan Andrean dan Chandra. Tapi, tetap awasi dan laporkan kegiatan mereka sekecil apapun. Perintahkan S5 dengan kode c120 untuk segera mengarahkan data kecocokan tulisan juga sidik jari, jangan ada satupun anggota yang tahu kecuali bagian inti. Gue nggak mau ada tikus-tikus kecil yang berani melawan. "
Arvan sigap menyalin perintah Auksa dalam alat canggihnya, lantas dengan sekali pencet mengirimkan ke orang yang bosnya maksud.
"Urus semuanya Arvan. Gue percaya sama lo."
Ujar Auksa lantas bangkit dari tempat duduknya. Kedua kakinya melangkah ringan. sebelum membuka pintu, ia sempatkan menoleh ke arah Arvan
" Lo tahu kan konsekuensi bagi penghianat? Gue harap lo lebih cerdas dari Aldinofrans. "
.
.
.
Aura tegang beserta canggung membuat udara terasa mengambang. Sesak menghimpit dada seorang wanita paruh baya dengan pakaian modisnya. Pandangannya lurus menatap sepatu, kedua tangannya juga bertaut gelisah.
"Auksa nggak mau ma. "
Agatha Anastasya fernandita yang berganti marga menjadi Alfadiaraga. Iya tepat! Beliau Mama Auksa. Wanita paruh baya itu mendongak. Membebaskan beberapa butir air yang sempat menggenang memenuhi pelupuk matanya.
"Papa Sa, dia --"
Pandangan Auksa menajam. Rahangnya mengeras. Tidak seharusnya Nyonya Alfadiaraga menyinggung soal orang yang begitu dia benci.
"Jangan bahas laki-laki itu di depan auksa sama."
"Mama mohon Sa. sekali saja, temui papa ya,"
Auksa memalingkan wajah. Dia memang dingin dan kasar. Namun, selayaknya manusia pada umumnya, Auksa masih mempunyai rasa tak tega. Di depannya, adalah Mamanya, orang yang merawatnya sepenuh hati sewaktu kecil, tidak ada alasan jelas yang membuatnya membenci sosok itu. Auksa hanya muak, dia tak mau berurusan dengan Dewanta Rios alfadiaraga lagi. Namun mamanya, wanita tersebut masih saja dengan kukuh memaksanya. Auksa bangkit dari duduknya. Belum sempat kakinya melangkah, sebuah tangan menahan lengan jasnya.
__ADS_1
" Tolong sa. Dengerin mama. "
"Ma, jangan paksa Auksa. Sudahlah Ma, Auksa muak. "
Agatha terisak. Kedua bahunya berguncang mengikuti isakannya. Sekali saja Tuhan, luluhkan hati anaknya. Suaminya begitu menanti orang di depannya ini. Biarkan Dewantara berdamai dengan masa lalunya Tuhan.
"Hiks, Maafin mama sa. Mama mohon. Jangan abaikan Mama kayak gini. Sekali saja Sa. Turuti Mama ya? "
Auksa memejamkan matanya. Untungnya dia memilih tempat pribadi sebagai ruang pertemuannya. Pelan, Auksa melepas tangan Agatha dari lengan jasnya. Tidak tahukah Agatha bahwa dirinya begitu muak dengan sosok Dewanta ?
"Ma-"
"Sa, dengerin Mama. Ada yang mau Papa sampaikan ke kamu. Datang ya. Sekali saja. "
Auksa menghembuskan nafasnya berat. Badannya berbalik. Kedua matanya menetap Agatha dengan perasaan campur aduk.
" Jangan paksa Auksa Ma . Auksa nggak bisa, Mama seharusnya ngerti. Dia jahat sama Auksa Ma. Dia rusak harapan Auksa, dia yang bikin Auksa dibenci, Udah Ma, pulang. "
" Enggak Sa. Mama nggak mau. "
Auksa menggeram. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
" Pulang mah. Pulang. "
Agatha menggeleng. Dia sudah sampai sejauh ini. Setidaknya ada kabar bahagia yang dia bawa kepada Dewanta nanti. Auksa harus menemui suaminya. Harus! .
" Kamu nggak bisa usir Mama Sa. "
" Mah-"
"Nggak! "
"Ma, Auksa mohon. "
"Nggak mau Auksa. Mama udah jauh-jauh kesini. Papa juga butuh kamu."
"Sa, mau ya? "
"Ma, Auksa harus bilang berapa kali sih biar Mama ngerti. Auksa nggak mau Ma."
"Tapi-"
Auksa memalingkan wajahnya. Agatha memang keras kepala. Sudah dia bilang tidak mau namun wanita paruh baya itu tetap saja bersikukuh. Mau tak mau Auksa diam-diam memencet tombol pada jam tangan canggihnya.
" Sa, "
" Lihat Mama Sa."
Auksa mamalingkan wajahnya lagi, ia berjalan hendak menjauh, namun Agatha tak bisa membiarkannya begitu saja.
"Sa !"
Drap drap.
Dua orang berpakaian jas lengkap tiba-tiba masuk kedalam ruangan. Tanpa disuruh dua kali, mereka segera mencekal tangan Agatha erat.
"Apa-apaan ini. Lepasin! "
Dua orang itu tidak menyahut, gesturnya jelas terlihat memaksa Agatha keluar dari ruangan.
"Sa! Kamu nggak bisa usir Mama kayak gini!"
Auksa terpekur di tempatnya. Satu sisi di hatinya terasa nyeri, namun dia tak bisa membiarkan Agatha terus membicarakan Dewanta lebih lama lagi. diwa tak mau kebenciannya pada Dewanta merambat hingga tak sadar menyakiti Mamanya.
"Ish! Sa! "
Auksa berusaha untuk tidak peduli. Telinganya dia paksa tuli beberapa saat.
"Sa, dengerin Mama! Kasih Papa kesempatan Sa! Kasih Papa kesempatan buat jelasin semuanya! Sa, bahkan diambang kesadarannya yang hampir habis Papa maka masih mikirin kamu! Sa! Temui Papa Sa, buat Papa benar-benar berdamai dengan masa lalunya sebelum pergi. Hiks, Sa! Dengerin Mama sekali saja! Sa! "
Suara Agatha semakin mengecil. Auksa langsung jatuh terduduk tatkala Agatha tidak lagi terlihat. Tubuhnya melemas. Tanpa sadar, bulir air mata menghiasi wajahnya yang nampak tak tahu arah. Dewanta Rios Alfadiaraga, jika saja dia tak melihat sisi gelap ayahnya, pasti dia tak akan sebenci ini. Dan andai saja ayahnya tak menyerahkan aset perusahaan kepadanya, hubungannya dengan Juanda tak akan separah ini.
Tapi apa Kata Mamanya tadi ?
Buat Papa berdamai dengan masa lalunya sebelum pergi?!
Apa maksudnya!
Auksa mengerang, tangannya mengacak rambut kasar. Cowok itu tertawa sumbang, hatinya nyeri tak terperi.
"Pa, jangan siksa Auksa kayak gini."
Keluhnya lirih. Auksa mendongak, mencoba mencegah bulir air mata yang hendak meluncur lagi. Cukup! air matanya terlalu berharga jika ditumpahkan karena sosok Dewanta.
__ADS_1