TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Bulan pengantar pesan


__ADS_3

Adellia menarik nafasnya lagi untuk kesekian kali. Dia tidak bisa tidur. Ditiliknya jam beker di atas nakasnya. 12.15. Astaga! Adellia mendesah, Bisa-bisa dia telat ke sekolah kalau matanya masih saja enggan menutup.


" Auksa sudah tidur belum ya? "


Tanya Adellia menatap langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Dia tak tahu apa yang tengah terjadi. Namun, melihat Juanda dan seorang wanita yang menangis, Adellia sudah mampu menebaknya. Situasi pasti tak semudah yang dibayangkan olehnya. Pelan, Adellia meraih ponselnya, dia harus menanyakan kabar Auksa sekarang.




Adellia menghembuskan nafasnya. Dia lega. setidaknya Auksa sudah baik-baik saja. Tidak ada yang harus dia khawatirkan lagi. Baru saja ia bersiap memejamkan matanya, ponsel bermereknya berbunyi.



Adellia mendengus kasar, ia kira Auksa bakal membalas gombalannya. Ya paling tidak, membalas ucapan selamat malam darinya.


"Sebel gue ngadepin laki kayak Auksa. Susah."


Gerutunya sambil meninju guling. Coba saja Auksa yang berada di depannya. Sudah jadi daging guling cowok itu.


Kring Kring Kring


Adellia kembali meraih ponselnya dengan gestus malas. Apalagi sih ni cowok?!


" Apa! "


" Adel , aku udah dapetin salamnya. "


" Apaan sih nggak jelas banget. Salam dari siapa? Lagian apa hubungannya salam itu sama aku? " Jawab Adellia ketus.


" Bulannya baru ngomong. Katanya ada cewek cantik yang titip salam buat aku tadi. Kamu juga udah dapat kan? "


" Enggak dapat apa-apa tuh. "


" Padahal bulannya tadi udah bilang iya lho waktu aku nitip. "


Adellia menggembungkan pipi. Lagi belajar romantis ya Auksanya? Udah lupa tadi membuatnya sebal bukan main?


"Memangnya kamu nitip apaan?"


" Entar kalau aku bilang, bulannya jadi nggak amanah dong. "


" Dasar pelit. "


Terdengar kekehan singkat dari seberang telepon, Adellia menunggu dengan dada yang berdentum kencang.

__ADS_1


" Aku bilang gini. Lan, sampein juga buat pelangi yang suka muncul di waktu pagi. Bilangin, besok Auksa mau ketemu. Suruh tidur cepat ya, nanti kalau dia nggak mau, cubit aja hidung mancungnya. Eh bilangin juga, kalau mau tidur, ucapin nama Auksa tiga kali. Gue jamin deh, pasti tidurnya mimpi indah. Jangan lupa ya Lan, awas saja kalau lo pake kesasar. "


Adellia Tertawa, dia tak menyangka Auksa sedang berusaha menghilangkan rasa sebalnya dengan gombalan receh seperti itu.


" Tidur Adel. "


" Iya. Iya. "


"Jangan lupa."


" Iya, aku nggak lupa kok. Dengerin nih yaa, Auksa pacar Adel, Auksa pacar Adel, Auksa pacar Adel. "


Ucap Adellia sembari berlagak mendengkur setelahnya.


"aku kan nyuruhnya Auksa doang."


" Memangnya nggak boleh? Biar afdol dong. Kali aja nanti ada yang dengar. Kan jadi tahu kalau Auksa miliknya Adellia. "


Auksa menghembuskan nafasnya mendengar hal itu.


"Ya udah tidur, jangan pura-pura lagi. "


"Hehehe iya. Good night misua. "


"Night to cantik. "


Adellia berteriak keras setelah panggilan terputus. Bisa gila dia lama-lama. Adellia menahan senyumnya yang merekah. Dadanya berdentum kencang. Semoga saja Auksa benar baik-baik saja. Kejadian beberapa jam lalu pasti mengguncang cowok itu.


Dilain tempat, seorang pria dengan gaya rambut comma hair mengusap wajahnya gusar. Dia tak habis pikir dengan kondisi adiknya yang malah berakhir terbaring di rumah sakit seperti ini.


"tell me what happened to you now."


Ujar pria berpakaian kasual itu dengan serius. Gadis yang berada dalam kisaran umur tujuh belas tahun itu melirik sejenak, lantas kembali fokus menetapkan ponselnya.


" Udahlah Bang. Lo tau takdirkan? "


"Gue ada di sini ya karena emang udah nasibnya." Tambah Diandra malas.


"Dian, lo kira gue percaya? Penjahat tingkat aja bisa lo tangani, nyelidikin psikopat aja lo mampu, apalagi ngebunuh orang, lo kan ahlinya. Tapi lihat li sekrang, astaga, lo kayak bukan adek gue Dian. Jujur sama gue. Siapa yang udah ngebuat lo sampai kayak gini. kingkong mana yang berani usik lo? "


Gadis yang disebut Dian memutar bola matanya. Dia menaruh ponselnya di atas meja lalu meraih buah dan menggigitnya tanpa dikupas.


"Gak usah alay deh Bang." Jawab Diandra mengalihkan wajah. Cowok di sampingnya hanya mampu menghembuskan napasnya mendengar hal itu. Padahal dia benar-benar khawatir saat ini. Dianda jarang terjatuh atau bahkan menangis. Keberadaan gadis itu di rumah sakit kali ini benar-benar kejadian langka.


" Gue khawatir Dian."

__ADS_1


"Ah, Bang, jangan bikin baper deh. Ewh, udah deh bang lo kok mellow amat sih. "


Ujar Diandra menabrak lengan cowok yang berdiri di samping berangkatnya keras.


" Lagian nih Bang- "


Diandra mengisyaratkan kakaknya untuk mendekat. Sontak saja dua alis cowok itu mengerut dalam.


"Why?"


"Sini dong, "


Mau tak mau cowok itu mendekat.


"Apa? "


"Dia kan juga ada di sini Bang. Cieee, bisa jadi dari pdkt nih. "


Bisik Diandra pelan membuat jantung cowok itu berdetak abnormal. Dia? Bella maksudnya?


"Dia ada di sini? "


"Ya Allah Bang, udah pikun ya lo? Di USA ngapain aja sih? Enggak dengerin laporan dari gue ya? Kemarin kan lo juga udah lihat lewat rekaman. Udah ikut mengamati juga. "


"Oh udah ya? "


Jawab cowok di samping Diandra polos sampai membuat Dian dongkol mendadak.


" Ck. Pergi aja deh lo. Kamarnya nomor 206, samperin saja. Kali aja dia belum tidur, kan lumayan. "


Tambah Diandra sembari mendorong kakaknya menjauh.


"Tapi-"


"Hish! Bang, "


Teriak Diandra sebal, cowok yang dibentak menggaruk belakang telinganya bingung.


"Iya iya, abang keluar. "


"Jangan masuk lagi, Dian pengen tenang. "


"Iya,"


"Ya udah sana. "

__ADS_1


"Ck, dasar adek durhaka. "


__ADS_2