TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Rahasia Adel


__ADS_3

Aku tak pernah mengeluh akan semuanya cintamu, karna aku lebih memilih bahagiamu walau berada di atas lukaku. "


🌜🌜🌜🌜


Dionarda yordan, lelaki tampan berseragam putih abu itu tengah melajukan motornya kencang. Sapuan angin tak berhasil menembus wajahnya yang tertutup helm full face. Pikirannya hanya berputar pada satu titik, gadis bernama Adelia Alexa agantara yang tiba-tiba saja tak ia temui keberadaannya.dion tahu kalau adellia tengah membolos dengan alasan sakit perut, tapi ia tak bisa tenang jikalau gadis itu tak sedikitpun mengabarinya.


Hah, dion menyebarkan nafasnya dalam helm, ia tak tahu lagi harus mencari kemana, pemuda tampan itu menepikan motornya lantas membuka helm full facenya gusar.


"lo ke mana sih del?"


Tanyanya kepada dirinya sendiri. Berbagai tempat yang sekiranya pernah gadis itu singgahi sudah ia periksa. Namun nihil, tak sekalipun retinanya menangkap sosok gadis mungil tersebut.


"bisa nggak sih kalau lo mau bolos itu ngajak gue?"


Gerutu dion sembari meraih ponsel dalam sakunya. Kali aja sih adelia mengirimnya pesan.


"mana lo nggak sharelock lagi. gue kan jadi khawatir . "


Monolognya sendiri lantas meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku seragam. ia telah bersiap memakai helmnya untuk melanjutkan perjalanan, namun dering ponsel membuat gerakannya terhenti.


"Assalamualaikum nak dion "       


Dion terkejut, refleks ia menjauhkan ponsel dari telinganya lantas melirik nama yang terpampang dalam panggilan.


"tante masa depan"


"eh waalaikumsalam tan, Ada apa ya?" jawabnya gugup.


"tante cuman mau tanya adelianya ada sama kamu nggak ya?"


" soalnya adel belum pulang, biasanya kan udah ada di rumah jam segini"


Dion menggigit bibirnya bingung. Ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Di lain sisi ia tak mau membuat tante sinta khawatir tapi lain sisinya tak membolehkan ia berbohong.


"eh.. itu, emm, iya tan adelnya lagi sama saya."


"syukur deh kalau gitu"


"adelnya lagi ngapain nak dion"


Dion memejamkan matanya rapat. sekali ia berbohong maka akan merambat kebohongan lainnya.


"lagi makan tan"


"tante boleh ngomong sama adelia nggak?"


" tapi adellia lagi lahap banget makan nya "


" Bentar aja nak dion, tolong bujukin adel biar mau bicara sama tante."


Situasinya semakin rumit. Dion menghembuskan nafasnya berat lantas dengan rasa penyesalan yang besar ia mengatakan satu keputusan.


"iya tan,bentar saya kasihkan dulu "

__ADS_1


"makasih nak dion "


dion tersenyum kecut menanggapi. Selang beberapa menit suara tante sinta terdengar.


"Adel, ponselnya udah ada sama kamu kan?" sekian detik dion tak menjawab sehingga membuat orang di seberang menghela napas.


"Kamu masih nggak mau ngomong sama mama? "


"padahal mama cuma punya kamu sekarang, tolong maafin mama ya nak?"


Di seberang, sinta menarik nafasnya, kasar ia menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir. Sinta melontarkan senyumnya kepada beberapa karyawan butiknya yang menatap cemas ke arahnya. Lamtas ia berdiri dari duduknya, kakinya dengan pelan  menghampiri pintu, berniat memasuki ruang pribadinya.


"Adel, Mama minta maaf ya"


ujar sinta sambil menutup pintu, langkahnya menuju meja kerja lantas ia kembali melanjutkan kata-katanya.


"Mama mohon Adel, maafin mama, mama nggak peduli kalau nantinya kamu bosan dengan ungkapan maaf dari mama. Satu hal yang harus  kalau Mama nggak mau menyerah. Kamu mau kan pelan-pelan buka hati buat mama lagi?"


Pertanyaan sinta tak kunjung mendapat jawaban, sehingga lagi lagi sinta harus mengusap air matanya yang semakin deras.


"Mama minta cerai sama papa juga ada alasannya. Mama nggak mampu lagi pertahanin papa di keluarga kecil kita. Mama juga nggak mau adel, mama nggak mau pisah sama papa kamu.hiks hiks hiks adel, beri mama waktu untuk jelasin semuanya . Mama mohon Adel, Maafin mama ya?"


Sinta tak lagi kunjung mendapat jawaban. Ia tahu tak mudah berada di posisi adelia. apalagi di masanya saat ini yang sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tanya.


"Ya udah, mama tutup dulu teleponnya. hati-hati ya,bilang sama anak dion nanti nganterin kamu pulang jangan malam-malam. I love you sayang. lanjutin makannya, Assalamualaikum"


Tut tut tut


*****


      Sinta menatap ponsel yang berada dalam genggamanya dengan pilu. Ia tahu, menangani seseorang yang terlanjur kecewa memang tak akan mudah.


Tok... Tok. Tok


Sinta berdehem menanggapi, sosok pria gagah berjas hitam membuka pintu pelan, langkahnya mantap menghampiri sinta.


"gue udah dapet tiketnya. "


Ujarnya sembari menyerahkan selarik kertas ke sinta.Sinta menghembuskan nafasnya berat,jarinya memijat kepala yang terasa berdenyut.


"bentar atma"


Wira Atmaraja , sosok pria yang masih peduli terhadapnya, dan selalu setia berada disampingnya. Dia menatap sinta sedih, ia  tahu kalau perempuan di depannya ini tengah rapuh,jadi sebisa mungkin ia ingin jadi tempat paling nyaman untuk sinta dalam mengungkap keluh.


"gimana perceraianya? "


Atmaraja meraih kursi, lantas menyeretnya tepat di samping kursi sinta. Atma menatap sinta dengan penuh, ia menunggu jawaban.


"gue sama dia belum cerai, masih bingung mengurus hak asuh buat adellia"


"lo udah bilang sama anak lo?"


"udah, tapi Adelia menolak, adel masih tak percaya kalau kami akan segera pisah"

__ADS_1


"lo udah jelasin apa yang buat lo milih keputusan ini? "


Sinta terdiam lama, lantas menggeleng pelan. Sontak hal itu membuat atma mangeluarkan nafasnya berat.


"sin, lebih cepat lebih baik"


"lo lebih milih adellia tahu dari mamanya sendiri atau dari orang lain? "


"adel nggak mau dengerin gue"


"lo udah dewasa sin, selesein sekarang, atau masalah akan bertambah rumit kedepanya. "


"adel juga berhak tahu tentang ini"


Sinta menunduk, tak terasa bulir air mata mengalir melewati pipinya. Nafas atmaraja tercekat, seharusnya ia menghibur sinta bukan malah menyalahkanya. Dasar bodoh! Apa yang dilakukannya kali ini!


"sorry sin, gue-"


   Perkataan atma terhenti. Suara isakan sinta mengisi ruangan. Hati atma berdenyut nyeri. Ia tak ingin sinta menangis, apalagi karenanya.


"maafin gue sin, maafin gue"


"enggak atma, lo bener, emang seharusnya masalah ini udah gue ceritain ke adel, tapi gue nggak bisa, adel terlalu benci sama gue. "


"sin"


Ujar atma lirih, sorot sinta sayu penuh luka,ia tak tega. Hatinya terlalu sakit melihat sinta tak berdaya semacam ini.


"gue harus gimana atma?gue harus gimana biar semuanya kelar tanpa ada korban lagi, cukup gue aja, biar gue aja yang sakit, adel nggak perlu tahu."


"tapi dia berhak. Iya kan? Itu kan yang mau lo sampein ke gue?hiks,sayang nya gue nggak bisa. Adel udah kehilangan sosok mama yang baik di hidupnya, kalau gue bongkar alasan dibalik ini, dia juga bakal membenci papanya. Hiks .....hiks, hidup adellia udah hancur, gue nggak mau menambah kehancuran itu. "


"tapi kebenaran tetep bakal terungkap sin"


Elak atma sedikit membentak. Ia tak mau kalau hanya sinta yang terluka. Alve juga harus merasakanya, laki laki tak punya nurani itu juga harus menanggung luka.


"gue tahu! Tapi gue nggak bisa atma! Semua ini terlalu sulit diterima!"sinta berteriak kalap, airmatanya semakin deras merembes turun.


"adellia juga punya hak untuk bahagia,setidaknya kalau gue nggak ada, dia masih punya alve, adel masih punya tempat kembali. "


"tapi lo gimana sin, lo cuman jadi pihak yang disalahkan"


"hiks gue nggak peduli. Asal adellia hidup dengan baik, asal adellia bisa tersenyum sampai saat ini, gue bakal ikhlas lakuin semuanya. Walau ujungnya tetep gue yang dianggap jahat"


"gue..., gue hiks.... Hiks... Hiks"


Atma tak tahan lagi, lantas ia membawa sinta kedalam pelukanya.


Sepertinya masalah ini terlalu berat untuk ditanggung sinta seorang diri. Sinta menangis keras keras, ia ingin mengeluarkan semua bebanya lewat atmaraja. Ia ingin mengungkapkan segala keluh kesahnya pada pria yang tengah memeluknya ini.


"gapapa sin, gapapa, lo boleh menangis sepuas lo kali ini. "


Ujar atma lirih dari dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2