TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Ketahuan


__ADS_3

...Sulit walau kupaksa,...


...Bayang tawamu selalu saja mampir tanpa kupinta....


...Senja......


...Entahuntuk keberapa kalinya aku berbicara....


...Melepasmu ternyata tak segampang kelihatannya....


...🌜🌜🌜🌜...


Pemuda dengan tinggi kisaran  168 cm melepas kacamata hitamnya pelan, dilihat dari segi manapun, ia terlihat tampan, alisnya tebal, hidungnya mancung, bola matanya berwarna hitam kelam, dan ada setitik tahi lalat kecil di di ujung mata kanannya. Aura hangat menguar walau terbilang tipis, orang orang tak akan menyangka kalau sebenarnya pemuda tersebut adalah ketua sebuah organisasi besar yang komplotanya telah merambah ke berbagai negara. Dia juga mempunyai perusahaan gelap yang sampai sekarang masih tersembunyi di balik bayang bayang  salah satu bank terbesar di-indonesia . Pemuda tersebut mengedarkan pandangannya ke segala arah,


Hah, akhirnya ia sampai juga di negaranya berasal.


Batinya sembari menyugar surai bermodel comma hair yang berkibar tertiup angin. Pemuda tersebut menghirup oksigen banyak-banyak, meraup rasa nyaman karena begitu merindukan tanah tempat kelahirannya beserta kenangan tentang gadis yang dicintainya . Bandara Internasional Soekarno Hatta, tempat yang disinggahinya pertama kali, dan untuk tempat yang kedua ia sudah merencanakan  jauh-jauh hari.


"where is my sister ? "


Tanyanya singkat kepada dua orang yang berdiri tepat di belakangnya. satu orang diantaranya melihat arloji dengan tatanan teknologi canggih di pergelangan tanganya. koordinat merah nampak berjalan lambat.


"Nona dalam perjalanan kemari Tuan" ucapnya lugas. Si pemuda menggangguk kecil , gadis itu selalu saja terlambat menyambutnya.


" Bagaimana dengan dia? "


Anak buahnya yang segera mengerti maksud dari pemuda tersebut lantas memencet tombol kecil pada alat di lubang telinganya. Melalui kacamata yang nampak biasa saja, orang tersebut dapat menangkap berbagai informasi. Tentang dia, perempuan cantik yang selalu saja mengusik hati Tuan mudanya beberapa tahun belakangan.


"masih sama tuan"


Pemuda tersebut menarik nafasnya dalam, kepalanya berdenyut ngilu, ia kira dengan jalan mengiklaskan dapat membuat orang yang disayanginya dikerubungi bahagia .Ia salah, seharusnya ia tak meninggalkan perempuan lembut tersebut dan menyerahkan segala cintanya pada kelamnya kesendirian. Pemuda tersebut mengepalkan tangannya erat, ia tak kuasa lagi menahan penyesalan yang memenuhi dadanya.


" bang!! "


Pemuda tersebut tersentak, kepalanya refleks menoleh dan tangannya yang terkepal segera mengendur tanpa dia minta.Disana,gadis cantik dengan turtle neck krem dipadu straight pants coklat dan jaket warna senada tengah melambaikan tanganya riang. Kakinya yang dibalut sepatu kets melangkah menghampiri kakaknya.


"woi, besok-besok ngabarin dulu dong kalok mau balek ke indo. "ujarnya tanpa jeda di sela sela mengatur nafasnya yang bersusulan.


"jangan bilang lo balek kesini karna mau cari dia?"tanyanya dengan nada sinis, tentu saja hal tersebut membuat si pemuda terkekeh,ia menjawil hidung adiknya lembut.


"my sister knows best"


adek gue emang yang paling tahu,ujar pemuda itu, tanganya teranfkat untuk merangkul adiknya yang pendek.


"lo nggak kangen gue bang? "


Ujarnya sarkartis sembari mencubit lengan kakaknya tanpa belas kasihan.


"aduh, masih nggak berubah ya, makin kesini barbar lo malah makin bertambah. "


Ucapannya jelas mengundang delikan ganas dari gadis pendek di sampingnya. Lantas tanpa aba aba gadis itu melayangkan sling bag nya tepat ke wajah orang yang berani mengatainnya.


"udah mending gue jemput lo"


Cibirnya membuat si pemuda terkekeh.


"iya, iya, btw, gimana sama organisasi kita? "


" just the same ,ngebosenin " ujarnya acuh, hal tersebut mengundang tawa keras dari si pemuda.


" lo udah nyelidiki dia? "

__ADS_1


"abang gue yang paling tampan,paling mapan, paling berwawasan, tiap hari gue cuman mentengin muka dia lewat laptop, informasi dia juga yang paling banyak. lo gimana sih bang? kerjaan kita kan bukan cuma ngawasin dia doang "


Si Pemuda mendesah, ia menatap adiknya lekat-lekat.


" lo tahu kan kalau gue sayang banget sama dia? "


" tahu "


"and lo juga sadarkan kalau lo itu cuma bawahan gue juga"


"yes, that one I know too ,tapi ya nggak usah diperjelas lagi dong bang!"


Si Pemuda menepuk Puncak kepala adiknya lembut,


"sebagai anak buah nggak boleh dong protes sama perintah atasanya,lo ngerti? "


Gadis tersebut mencibir namun tetap menggangguk.


" good girl, Minta kunci mobil dong "


"ha? Buat apaan? "


Pemuda itu menyodorkan tangannya dengan ekspresi tengil, si gadis melenguh tertahan.ukh! Dasar tukang perintah.


"nih! "


"Thanks, lovely sister, gue pinjem dulu , soalnya kalau nunggu mobil gue datang bakalan lama "


"Daniel, Albert, antar saudari saya ke hotel terdekat dari sini, Saya mau berjalan jalan sebentar"


Dua orang yang sama-sama berpakaian hitam segera mengangguk takzim,lantas tanpa disuruh dua kali mereka menggiring cewek yang tengah luar biasa kesal dengan langkah dihentakkan keras-keras. Si Pemuda menggeleng kecil, adiknya masih sama seperti dulu, childish and barbaric!


" apa lo juga masih belum berubah? "


*****


Sakit. Sejenak Adelia menekan dadanya yang ngilu. Isakanya terlanjur tak mampu berhenti. Ia menatap ke atas langit miris, langit yang seakan mengejek kerapuhannya. Adelia menggigit bibirnya lantas meraih tas yang masih anteng berada di dalam mobil. Untung saja ia berangkat pagi, Jadi kemungkinan besar tak ada yang akan melihatnya dalam keadaan seperti ini.ah,ternyata secara tak sadar,  bertengar dengan sinta menjadi rutinitasnya setiap hari.


" maafin adel ma "  gumam adellua lirih sepanjang langkahnya menuju kelas. Adellia tak mau jadi anak yang durhaka namun kebenaran terlalu menyakitinya. Kenyataanlah yang membuatnya seperti ini. Mamanya yang berubah membuatnya semakin takut diikuti rasa bersalah .


Brakk!!!


Adelia terjatuh. bibirnya meringis kala berbenturan dengan lantai sekolah. tangisnya pecah. Ia benar-benar dalam mode sensitif hari ini.


" Sorry,gue buru-buru " Adelia mendongak, menatap seorang wanita bercepit rambut lidi hitam di poninya. wanita yang begitu dikenal olehnya. Dada Adelia berdegup. tidak! jangan saat ini,ia benar-benar belum siap menceritakan segalanya.


" Astaga! Adel! "


Tari terkejut, orang yang ditabraknya karena terburu-buru adalah sahabatnya sendiri. Badan tari bergetar. apa yang terjadi dengan adelnya?


Tari berjongkok pelan, mencoba menyemaratakan tingginya dengan sahabatnya . Kedua tangannya  serta merta menangkup pipi Adelia yang berenang air mata.


" lo kenapa? "


Tanyanya kelabakan, keadaan Adelia tak terlihat baik. Wajah kusut penuh air mata, pipi tirus dengan bekas merah, juga siku yang tentunya berdarah akibat terjatuh. Tatapannya juga kosong penuh putus asa. Tari tahu, Adelia di hadapannya sangat menyedihkan.


"gue nggak papa tar" jawab Adelia tersendat-sendat. Tangisnya belum genap mereda. Dadanya juga masih sakit, penyesalan, ketakutan, dan kebencian bersatu mengelilinginya.


Sedang tari, bergeming dalam posisinya. sahabatnya masih saja berpura-pura. ia tak akan pernah percaya tanggapan adellia. Karena apa yang dilihatnya saat ini sudah memberinya jawaban.


Sigap Tari menarik Adelia dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggung Adelia menenangkan. hanya inilah yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


"tar " lirih Adelia terkejut. Tari menggelengkan kepalanya menanggapi .Ia mengeratkan pelukannya, Bukankah tari itu sahabat adellia? tak Bisakah gadis dalam pelukanya ini membagi beban keluh kesah padanya.?


"tar "


"sttt, diem Adel, Gue tahu lo nggak baik-baik aja "


Ujarnya memejamkan mata. suara tari juga nampak bergetar. Sedangkan adellia memecahkan kembali tangisannya. Adellia meremas dadanya yang nyilu, berusaha menahan sakit yang tengah menyerangnya.


"tar, mama tar, hiks"


Adelia menggigit bibirnya, tangannya memeluk tali semakin erat.


"Mama pisahin papa sama gue. Mama usir papa Tar, mama jahat." Adu Adelia tak berhenti, tari terdiam di tempatnya. Tante Sinta? tak mungkin tante Sinta berbuat seperti itu.


" tar gue nggak salah kan kalau bentak mama? gue nggak salah kan tar, huhuhuhu tar, ini bukan gue, gue nggak pernah sakitin mama" isak Adelia lagi. Air mata tari menetes. Adellia begitu rapuh dalam pelukannya.


"tar.. "


"udah adel, udah. Tenangin diri lo dulu baru cerita"


Terang tari kemudian. Tari mendongak berniat menghalangi air matanya yang memaksa merembes. Saat itu ia terkejut,di sana, lebih tepatnya berada dalam jarak kurang lebih 3 m, sosok Dion menatapnya. Tangan laki-laki itu terkepal, rahangnya mengeras tak terkendali .Juga matanya , bola mata  warna coklat terang itu menumpahkan setitik bening air yang tak pernah tari lihat sebelumnya. Sejenak mata mereka bertemu. namun Dion lebih dulu memutus kontak lantas berbalik pergi tanpa meninggalkan sepatah kata .


*****


Auksa memarkirkan motornya lantas melepas helm fullfacenya pelan. Adellia sudah mengetahui kalau dialah yang tadi malam menempel kertas unfaedah di jendela kamar gadis itu. Bukanya apa apa, auksa hanya merasa iba tatkala bayangan bella merangsek masuk setiap kali ia menatap adellia, ia tak bisa menahanya. Adellia dan bella terlalu tampak serupa. Auksa menyugar rambutnya sejenak, sekolah masih sepi, hanya satu dua siswa saja yang nampak melenggang dan berjalan kesana kemari. Jika ia tak merasa malu akibat perbuatanya tadi malam dengan adellia, ia tak perlu repot repot berangkat sepagi ini untuk menghindarinya.


Hah....


Apa yang akan dikatakanya nanti kalau gadis itu mengaju tanya.


Auksa menarik nafasnya dalam dalam, ia memang salah karena secara tak sadar telah memperlakukan adellia layaknya senjanya dulu.


Sa, kalau nanti tiba tiba saja gue nggk kenal sama lo. Jangan pergi ya,lo pernah bilang kan kalau langit nggak akan ninggalin senjanya? Iya kan sa?


Saat itu auksa memang mengangguk mantap menanggapi. Karena berapa kalipun ditanya, ia tetap akan disamping bella, menemani gadis itu bagaimanapun keadaanya. Bella senjanya sekaligus pacarnya, ia memang tak pernah sekalipun berniat meninggalkan tapi tak pernah menyangka kalau pada akhirnya malah dialah yang ditinggalkan.


Bukan gue yang ninggalin lo bel, gue udah berusaha tepatin janji itu, tapi kalau lo yang minta pergi, gue bisa apa.


Auksa memggigit bibirnya, tanganya merogoh kertas warna warni dan sobekan kertas biasa yang memenuhi saku celananya. Auksa menghampiri tempat sampah dengan ragu, lantas membuang kertas kertas itu kedalamnya.


Lo liat kan bel, lo terlalu dalem masukin hati gue sampek gue sekalipun nggak pernah bisa berpaling dari lo.bel,maafin gue karena perlakuin cewek lain kayak gue perlakuin lo dulu.


Ah, salahkan semesta karna telah menjadikan dua gadis nampak sama di matanya. Auksa tak bersalah,bukanya ia hanya korban dari keegoisan bella?


Auksa memang menyadari kalau adellia adalah kekasihnya sekarang, namun auksa tak bisa mengelak, kalau rasa peduli lebih kuat mendominasi. Walau hubungan auksa dan adellia terkesan absurd karena tak ada satu pihak yang menyatakan perasaan, auksa jelas tahu kalau adellia tak semudah itu menganggap hubungan ini sebagai kepura puraan. Apalagi ucapan adellia di perpus telah menjelaskan semuanya, kalau auksalah yang pertama di hidupnya, dan gadis itu begitu takut kalau ada sebersit rasa yang tanpa permisi tumbuh memenuhi rongga hatinya.


Auksa melanjutkan langkahnya yang tertunda, ia harus cepat cepat memasuki kelas sebelum bertemu dengan adellia. Auksa tak mau kembali menganggap adellia sebagai senjanya dahulu. Ia tak ingin kalau perasaanya hanya sebatas kebutaan akan bayang bayangan masa lalu.


"ada gue adel, gue nggk pernah liat lo sebagai orang yang butuh dikasihani. Gue cuma ngerasa nggk guna"


Langkah auksa terhenti. Suara cowok sayup sayup terdengar memasuki lubang telinganya.


"gue mau jadi penenang pertama buat lo del. Gue sedia sodori pundak gue buat elo"


Nafas auksa terasa tercekat. Rasa tak nyaman dan aneh menyerangnya.


Del? Adellianya?!


Auksa lantas mengikuti arah suara dengan matanya, disana, di bawah pohon yang yang rimbun adellianya duduk bersama seorang pria. Ah! Adellianya,?auksa tertawa, secara tak sadar ia menunjukkan kepemilikan lewat kata tersebut.


"makasih karena lo udah berusaha ngertiin gue yon"

__ADS_1


Ujar adellia lirih ,Dionarda yordan, cowok yang ia tahu adalah sahabat adellia dengan berani mengusap air mata gadisnya di depan matanya. Tangan auksa terkepal erat. Tubuh auksa mematung di tempat.


Ia bahkan tak menyadari, kalau tampa disadarinya lagi, rasa peduli terhadap adellia mulai tumbuh menjadi rasa yang berbeda tanpa permisi.


__ADS_2