TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Jangan suka sama cewek gue


__ADS_3

...Mencintaimu itu wajar,...


...Namun memilikimu jelas hanya suatu fatamorgana yang enggan menuju kenyataan....


...Adellia......


...Aku memang kerap diam pada semua kejamnya takdir....


...Tapi untuk kali ini, biarkan aku berlari menggapaimu....


...Membawamu pegi dari dia yang mengaku separuh hatimu...


...  ...


...                                           Juanda...


...🌜🌜🌜🌜...


"kamu seharusnya bersyukur--"


Mata auksa berkaca kaca. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. Untungnya, disampingnya ada bella, gadis itu sigap memberi auksa bisikan berisi kata kata menenangkan.


"juanda anaka papa nggak sih!! "


"iya, emang bener kalok juan nggak lebih cerdar dari auksa. Tapi juan darah daging papa juga!! "


Auksa menunduk, hatinya benar benar sakit tak terperi.


"juanda udah diem sewaktu papa nggak sudi beri marga papa ke juan--"


"nggak gitu juan"


"diem pa!! Jangan potong kalimat juan! Juan udah nerima diperlakuin nggak adil kayak gini. Setiap hari yang ada dimata papa cuman auksa doang kan?sampek perusahaan aja papa warisin ke dia! "


"juan nggak mengaharap harta papa, warisan, aset atau apalah itu. Tapi papa juga kudu ngerti, juan anak pertama pa, mereka, rekan papa emng jarang yang tahu kalok juan anak papa karna papa sembunyiin juan. Tepi temen juan tahu, mereka bilang kalok juan anak nggak guna. Juan salah udah dihadirin di keluarga alfadiaraga, karna apa!!? Karna juan nggak bisa lawan adek sialan kayak dia! "


Dewanta maju untuk menenangkan juan dari kemarahanya. Sedang auksa? Jangan tanyakan kondisinya sekarang. Auksa benar benar terluka. Anak sialan? Siapa? Diakah?


"semua itu demi kebaikan kamu juan"


Auksa tertawa dalam hati. Benar,! Semua itu hanya demi kebaikan juan dan bukan  demi dirinya. Juan hanya tak mengerti akan jadi seperti apa dirinya jikalau memegang pt dewanta group ,pria seperti juan mana mau kalau pekerjaan yang sebenarnya ketika berada disana adalah bertahan hidup.


"cih! Alesan"


"juan tenang dulu. Dengerin papa"


"enggak pa! "


Mata juanda memerah, rasa kesalnya memuncak tak terkendali.


"terserah, sekarang juan nggak mau ikut campur urusan papa lagi. Juan bakal buktiin, perusahaan yang juan bangun nantinya, bakal lebih besar dari milik papa, juan bakal buktiin kalok juan bisa sukses tanpa campur tangan papa"


"juan! "


Juanda menulikan telinganya. Bahu auksa bergetar menahan isakan. Bahkan tangisan agatha--mama auksa juga juan, tak sekalipun membuat amarah juanda mereda. Juanda telah memutuskan, mutlak, dan tak ada lagi yang bisa mengubahnya.


"juan"


Juan menghentikan langkahnya. Suara auksa yang sewaktu kecil membuat juanda begitu gembira kini terdengar berbeda. Juanda tak sekalipun sudi menolehkan kepalanya, pemuda itu hanya terdiam bisu, menunggu ucapan yang pakal auksa lontarkan selanjutnya.


"balik juan,bilang sama papa, tarik kata kata lo tadi. "


Juanda bergeming di tempatnya, tangan auksa mencengkeram pergelangan lenganya kuat.


"balik juan, jangan bikin gue ngerasa bersalah lebih dari ini"


Juanda terkekeh. Ditatapnya auksa yang tengah menumpahkan tangis, seragam auksa tampak berantakan, disamping auksa nampak bella yang menunduk.


"lo emang salah sialan, kalok lo nggak hidup, kalo seandainya saja lo nggak lahir, papa bakal lebih perhatian ke gue ketimbang lo"


"lo yang nggak tahu juan, lo nggak tahu apa yang papa lakuin ke gue!!"


Juanda berdecih sinis. Ia menghempas tangan auksa kasar. Rasa muak dan mual menjalas memenuhi iso perutnya.


"jangan munafik sa, lo seneng kan dapetin semuan perhatian papa"


"lo salah! Gue nggak dapetin semua itu"


Juanda menggeram.apa yang dimaksud auksa?! Sudah jelas kalau auksa mendapatkan semua yang diinginkan olehnya.


"gue nggak buta"


"lo emang nggak buta, tapi hati lo udah cukup mati. Lo nggak pernah tahy kalo gue pihak paling menderita disini. "


"hati lo yang mati sa!! Lo nggak pernah liat kondisi gue sekarang ini! Lo kurang apa sih!! Lo udah ada bella, lo udah dapet kasih sayang papa, lo pinter, dan sekarang, lo udah dapetin perusa---"


"cukup juan! Gue nggak pernah harepin perusahaan itu. Gue nggak sudi"auksa menggeram tertahan. Kedua tatapan matanya menajam, tangannya menarik kerah baju juanda dengan kasar.


"asal lo tahu, gue bahkan benci injek kaki gue disana. Gue nggak mau juan!! Gue nggak harepin itu semua! Gue nggak sudi!! "


Juanda melepas cekalan auksa pada kerahnya. Ia terkekeh hambar.


"lo belajar bohong darimana sa? "


"papa, gue diajarin bohong sama dia"tunjuk auksa ke arah dewanta yang terdiam mematung bersama simbah air mata. Kedua matanya memerah, emosinya membludak.


"dia yang ajarin juan"


"brengsek!"


Bugh


Juanda membogem wajah auksa tanpa permisi. Bella yang tepat berada di smping auksa menjerit lantaran terkejut, lantas dengan sigap membantu auksa menyeimbangkan posisinya lagi. Auksa mengusap darah pada ujung bibirnya. Ia menyerigai.


"kanapa? Terkejut? "


"iya!?emang seharusnya lo kaget!


Dia bukan papa yang selalu lo banggain itu! Lo nggak tahukan?! Karna apa?! Ya karna lo nggak pernah rasain ada di posisi gue! "


Auksa meludah, sudut bibirnya terasa perih.


"gue nggak butuh perusahaan itu. Kalaupun bisa, sekalian aja gue minta buat nggak dihadirin di keluarga ini. Gue muak! "


Juanda mengepalkan kedua tanganya, darahnya terasa mendidih. Tentu saja juanda marah, ucapan auksa seperti mengarah untuk menjatuhkan dewanta di matanya.


"apa! Lo mau pukul lagi?! "


"pukul juan! Pukul gue! Buat gue mati sekalian! "


Auksa kalap. Juanda menggeram, ia mendorong auksa kasar lamtas meninggalkan peringatan yang mampau membuat auksa bergeming di tempatnya.


"tunggu gue hancurin perusahaan lo. mulai hari ini, lo bukan adek gue sa.denger,gue benci sama lo sampai kapanpun itu. "

__ADS_1


Auksa menghembuskan nafasnya berat, ingatan itu selalu saja muncul tatkala ia menginjakkan kakinya di PT J group, perusahaan yang di bangun kakaknya tanpa sedikit pun bantuan dari dewanta. Auksa berdehem, ia baru saja mendengar alasan adellia menggelinding di got, dan sumpah demi apa, hal itu terdengar konyol bin ajaib.


"saya mau menjemput adellia"ujarnya  tenang setelah mampu menormalkan ekspresi wajahnya yang teringin sekli tertawa. Juanda menajamkan sorotnya, ia menatap auksa tak suka.


"dia masih kerja"


Hening, biasanya, kalau ada adellia di sekitar auksa dan juanda, pasti ada ada saja tingkah adellia yang membuat dua pemuda itu mengomel dan mengumpat dalam hati. Sayangnya adellia tengah fokus pada tumpukan berkasnya.


"masih jam sekolah"


"saya tahu"


"anda tak berencana untuk membuat adellia dikeluarkan dari sekolah kan?"


"terserah saya. Adellia karyawan saya, dan saya berhak ngatur dia "


Auksa menyeruput kopinya pelan,


"adellia masih punya kewajiban belajar. Dia pelajar bukan karyawan"


"di sekolah adellia memang pelajar, tapi disini dia karyawan saya"


"guru mapel bisa saja mencari adellia pak juanda"


"anda kira saya peduli? Saya butuh adellia sekarang, sudah seharusnya adellia ada disini"


Auksa diam. Auksa yakin kalau juanda yang memaksa adellia kesini. Auksa jelas tahu kalau adellia itu pemalas, tak mungkin cewek kayak adel mau susah susah ngerjain kertas bertumpuk kalau tak didasari oleh paksaan atau ancaman.


"saya nggak mau tahu. Saya mau menjemput adel sekarang, tak sepantasnya anda menolak"


"saya bosnya"


Auks mengangguk, tak usah diberitahupun ia sudah tahu.


"saya pacarnya"


"status anda nggak berguna di sini pak auksa. PT J Group wilayah saya. Nggak etis kalau anda ikut campur urusan saya. "


Auksa mencondongkan tubuhnya, kepalanya miring dengan satu alis naik sebelah.


"oh ya? "auksa memecah tawanya, tawa yang terdengar menyebalkan.


"saya kira anda cukup tahu tengah berhadapan dengan siapa pak juan?PT J group memang sudah berkembang, tapi anda jangan lupa kalau PT dewanta Group lebih dan lebih di atasnya. "


Rahang juanda mengeras, ia tak mampu mengelak apa yang diucapkan auksa karna semua benar adanya.


"kalok saya mau,wusss, perusahaan ini bisa rata dengan tanah dalam beberapa detik"


Juanda memejamkan kedua matanya rapat mengatur emosi. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh auksa yang kedudukanya tak main main.


"anda terlalu berlebihan pak"


Auksa berdiri dari duduknya, bibirnya menyungging senyum miring.


"berlebihan? Hahha"


"adel milik gue juan. Kalo lo nglewati batas dan berniat ambil dia dari gue, gue nggak akan diem aja. "bisik auksa tepat ditelinga juanda.


"gue nggak bodoh. Lo naksir cewek gue kan?"


Ujar auksa menambahkan lantas berbalik berniat pergi.


"lo egois"


Auksa berhenti, juanda berdiri dari duduknya, tatapanya nyalang ke arah  auksa berada.


Auksa melirik adellia sejenak, ah sepertinya ruangan ini kedap suara. Dapat dilihat dari posisi adellia tak tak terusik sama sekali.


"lo yang rebut semuanya dari gue juan"


"lo nggak berubah ya sa, lo masih nggak mau ngalah, lo nggak mau ngaku kalok lo sendiri yang salah. Gue udah pasrah lo dapetin semuanya. Tapi jangan adellia yang lo rebut"


Auksa tertawa sumbang lantas menggeram tertahan.


"rebut adel? Gue? Nggak usah bercanda deh lo. Yang niat mau ambil cewek gue dari gue kan elo. Gue udah bilng kalok adel milik gue,sekalinya milik gue ya tetep punya gue. Jangan ngarep kalau gue bakal ijabahin apa yang lo minta itu"


"ingat juan, sekali lo bergerak, gue juga bakal bertindak, gue nggk akan diem aja kalok udah nyangkut soal adellia"


Ucapnya lantas tanpa permisi meninggalkan juanda yang memukul dinding sembari memanggil namanya keras keras.


Auksa membuka pintu, atensinya beralih ke arah seorang gadis yang tengah menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


"ayok pulang, gue kangen"


******


Ukhhh


Adellia menggerang frustasi. Apa apaan gambar persegi panjang yang menjulang itu?


Adellia menggaruk surainya yang tak gatal, jujur saja ia tak mengerti. Juanda memberinya bertumpuk pekerjaan yang membuat kepala adellia serasa pening.


Adellia melirik roknya yang kotor dengan noda kecoklatan. Andaikata juanda tak menyuruhnya dengan ancaman pasti adellia tak akan berakhir seperti ini.


"dasar adell begoo! Lo nggak bisa pake motor pe'ak"


Adellia menulikan telinga. Ada yang lebih penting dari keselamatanya,yaitu uang yang berada pada dompetnya. Kalau juanda nekat menaikkan utang, mau jadi apa adellia nantinya?


Grep!


Adellia menoleh, gerakanya yang hendak menaiki motor terhenti.


"eh auksa! Lo ngapain? Hayooo bolos kan lo? Astagfirullah nggak baik lho misua, sana masuk masuk. Entar gue laporin mampus lo"


Auksa memutar bola matanya malas. Auksa hanya sedang izin ke kamar mandi, namun di tengah perjalan ia menemukan adellia yang terburu buru.


"mau kemana? "


"nggak kemana mana sa"


"nggak usah bohong"


"caelah ini misua minta gue gampar ya?entar gue jawab. Sekarang diem dulu, gue lagi buru buru"


Ujar adellia lantas melepas cekalan auksa pada lenganya. Adellia memasukkan kunci motor, lantas tanpa basi basi segeraenyalakanya.


"helm? "


"ha? "


"helm nya mana? "


"oh nggk bawa. Gpp, gue udah pro"

__ADS_1


"pake mobil gue "


"nggak mau"


"lo nggak bawa helm adel, bahaya"


"issh lebih bahaya kalok gue deket elo sa. Jantung gue bisa berhenti berdetak karna liatin lo yang ganteng banget"


"nggak usah bercanda. Cepetan turun."


"lo sekhawatir itu ya sama gue? "


Tanya adellia terharu, namun auksa berdecak malas.


"bukan sama lo, tapi sama motor ini. Kalok lo jatoh, bodynya bakalan rusak."


"lo do'ain gue jatoh ?"


"makanya turun. Gue anter, lo mau kemana"


"gue---"


Tring tring tring


Adellia meraih ponsel di kantong seragamnya. Ia lantas berdecih tatkala ditatapnya nama juanda terpampang begitu jelas.


"udah pake motor ini aja"


Putus adellia mutlak. Auksa mendelik, segampang itu?


"adel"


Belum sempat auksa menyelesaikan perkataannya, adellia sudah lebih dulu membawa motor dion pergi.


Ternyata bener kata dion,adellia tak bisa membawa motor. Bukanya tidak tahu, adellia yang lebih mengerti kalau ia tak mahir menggunakan salah satu kendaraan tersebut. Namun keadaan membuatnya nekat.


Hah, adellia mengeluarkan nafasnya berat. Karena kecerobohannya,adellia jadi mengalami kesialan seperti ini. Untungnya ada diarga megan - cowok yang menolongnya sewaktu adellia kecelakaan. Kalau tak ada arga, mungkin saja adellia akan menanggung malu seumur hidup. Bayangkan saja, tubuh adellia yang mungil terjerembab masuk di lubang got, nggak main main lagi baunya, udah gitu, motor dion jalan sendiran sebelum oleng lantas jatuh di tengah jalan. Na'asnya lagi, hal tersebut terjadi karna ada mang-mang bakso yang tiba tiba lewat di tengah jalan raya. Untungnya adellia bertemu oppa-oppa tampan berkulit putih mulus,emmm kalau nggak salah namanya diarga megan,  jika bukan karena bantuannya, adellia tak akan sampai disini sekarang ini. Adellia menumpu dagunya dengan dua telapak tanganya. Seandainya saja ia tak nekad, sudah dipastikan kalau ia akan tetap sehat walafiat tanpa cacat pada baju dan rok sekolahnya.


Ukhh! Menyebalkan!


"ayok pulang, gue kangen"


Eh!!!!kayak kenal ini suara!


"oh, lo mau tetep berduaan disini sama juan"


Adellia menoleh. Eh!  Eh!  Eh!  Kok bisa ini pacar nyasar sampek sini.


"ayok"


Adellia mengerjabkan kedua matanya.


"kemana"


Auksa terkekeh. Tangannya yang semula bersedekap dada beralih mengacak rambut adellia lembut.


"pulang adel. Gue kangen"


Ammpuunn mak!ini auksa habis kejedot pintu apa ya?kenapa manis banget gini! Huhuhu, kasian hati gue.


"masih mau ngelamun nih?"


Adellia berdiri. Punggung tangannya ia tempelkan di dahi auksa.


"sa lo abisin baygon berapa siang siang gini? "


Auksa mendengus, senyumnya yang semula muncul meluntur begitu saja.


"pulang sekarang adel"


"terus ini gimana? "


"nggak usah dipikirin. Gue udah ijinin ke juan"


"beneran sa?! "


Auksa mengangguk, tanganya beralih melepas jas almamater di tubuhnya.


"sini deketan"


Adellia mendekat dengan raut kebingungan. Pelan, auksa melepas jas juanda dari tubuh adellia lantas berganti menyampirkan jas miliknya di bahu cewek itu.


"pake"


"tapi sa"


"pake adel"


Adellia menurut, ia segera memasang jas auksa pada tubuhnya. Wangi musk khas pria menguar memasuki lubang hidungnya.


"lo harus tanggung jawab adel"


Adellia mendongak menatap auksa yang juga tengah menatapnya lekat. Tak elak jantungnya juga berdetak tak kalah kuat.


"kok gue sa? "


Tanya adellia tak mengerti dengan dahi mengerut dalam.


"iya"


"tanggung jawab apaan?? Gue nggak hamilin lo yaa"


Ctak!


Aduh!


"nggak usah ngawur"


"terus apan dong? "


"lo kudu tanggung jawab udah ngrepotin gue"


ujar auksa sembari menoyor kepala adellia.


Auksa berbalik melangkahkan kakinya meninggalkan adellia yang cemberut.


"ish sa! Sakit tauk! "


"mau pulang atau gue tinggal?"


Benar! Auksa tak mungkin mengungkapkan hal yang terjadi sebenarnya, karna tanpa disadarinya lagi, ternyata, dia memupuk beribu peduli terhadap adellia. Adellia harus bertanggung jawab atas perasaanya yang tumbuh tanpa permisi.


"saaaa!! Tungguin! "

__ADS_1


Auksa tak menoleh. Namun, satu garis kecil terpasang di bibirnya tatkala tangan adellia menggengam tanganya. Auksa menyatukan jarinya pada jari jari mungil adellia,hatinya terasa menghangat.


Gue harap lo nggak pergi kayak dia adel.


__ADS_2