
Ketidakhadiran nya yang seharusnya kuanggap mlapetaka,
Kini kuklaim sudah biasa.
🌜🌜🌜🌜
Ah,pagi berbeda dan suasana yang tak lagi sama. Tak ada yang mengusiknya, tak ada yang mengutarakan beribu maaf sembari meluncurkan air mata, tak ada lagi yang membuka gorden kamarnya dan menyapanya lembut. Mamanya telah memutuskan pergi dan enggan kembali, adellia telah mengetahuinya segalanya, kehadiran sinta hanya membuatnya semakin membenci.
"adel udah jam tujuh! "
Teriakan alve memecah lamunanya. Iya, setelah kepergian sinta, alve menemani adellia di rumah dari semalam.pria paruh baya itu tetap saja kukuh menjelaskan kalau sinta tak bersalah. Sayangnya adellia telah melihatnya sendiri, penjelasan alve tak berarti untuknya lagi.
"adel!! "
"ck, IYA PA! "
sejenak adellia menilik penampilanya di cermin, tanganya sibuk mengambil ponsel lantas berpose ria.
Asik nih kirim ke auksa.
Batin adellia sembari terkikik geli. Lantas adellia tanpa berlama lama lagi mengirimkan fotonya ke auksa.
Adellia tersenyum kecil, ia bisa menduga, pasti auksa tengah uring-uringan tak jelas karena melihat fotonya terselip di hp milik pria itu.
Ting!
Kan...kan... Kan.... Baru aja adel membatin, eh udah kejadian.
Kok bego sih!?alis Adellia mengerut melihat balasan auksa, mulutnya monyong beberapa senti. Marah sih boleh, tapi nggak usah pake kata kata bego segala dong?!
Adellia berdecak, emang iya sekarang hari jumat? Lantas adellia melirik tanggal yang tertera pada poselnya.
Astagaaa! Jumat beneran nih, mati gue, masuknya kan pagi banget, mana udah jam tujuh lagi.
Batin adellia kelabakan sembari menepuk dahinya keras, ia merutuki kebodohan nya sendiri. Bisa-bisanya ia melupakan hari spesial dimana siswa sma sanjaya bisa menikmati jam pulang lebih awal. Adellia lekas menghampiri lemari lantas meraih seragam pramukanya cepat. Sepertinya ia tak sempat sarapan.
"huhuhu gimana nih, ck pake lupa segala lagi."
Adellia menggigit bibirnya, netranya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit. Ia mempercepat gerakanya memakai seragam, disusul mengenakan sepatu pada kakinya.
Huh!
Akhirnya,
Adellia pun meraih tasnya yang ia lempar asal di atas kasur, ia hendak beranjak berangkat, sejenak ia melirik cermin fullbodynya lagi.
Cekrek
Adellia mengetik cepat,
Adellia berlari kilat menuruni anak tangga ,masa bodoh kalau ia terjatuh nanti, yang terpenting adellia harus terbebas dari jeratan pak joko yang sering memberinya hukuman lari keliling lapangan .
"ayo pah"
Alve tercengang menatap anaknya yang masih mengatur nafas, dua alisnya bertaut.
"sarapan dulu adel"
"nggak sempet papaku yang paling ganteng, keburu telat, ayokk"
Alve mengeluarkan nafasnya pasrah, ia segera meraih kunci mobilnya yang berada tak jauh dari jangkauanya.
"ya udah ayo"
******
"sekarang papa tinggal sama adel kan? "
__ADS_1
Adellia melirik papanya yang sibuk menyetir, bola matanya memancarkan binar harap.
"maaf adel, papa cuman bisa temenin kamu hari ini dulu"
"haa?maksud papa apaan? "
Adellia tak mengerti, hari ini dulu? Maksudnya gimana? Apakah itu artinya alve tak mau menemaninya selamanya seperti yang diharapkan olehnya? Apakah ayahnya masih saja enggan padahal sinta telah pergi meninggalkan nya?
"pa"
Alve menarik nafasnya sejenak. Ia menginjak rem mobilnya pelan.
"maaf adel"
Adellia menatapn ayahnya yang juga tengah menatapnya. Alve menyunggingkan senyumnya kecil.
"papa belum bisa turutin kemauan kamu yang satu itu. Sekolah yang bener ya,"
Ujar alve sembari membuka pintu mobil, adellia menunduk, hatinya terasa teremas kuat.
"ternyata papa nggak ada bedanya ya sama mama"
Alve menghentikan gerakanya. Ia terhenyak,
"mama udah pergi ninggalin adel, sekarang papa juga mau pergi, terus adel sama siapa? "
Alve membalikkan badanya, ia bergeming menatap anaknya yang rapuh.
"maafin papa adel, sekarang ada yang lebih penting dan butuh papa ketimbang kamu"
Adellia terkekeh.
"adellia bukan prioritas nya papa lagi ya? "
"adel nggak boleh bilang kek gitu"
Adellia mengusap air matanya lantas menatap alve.
"papa udah nganggep adel nggak penting"
"suatu saat kamu bakal ngerti adel"
Alve mematung, ia ingin menjelaskan, tapi ia merasa tak berani.
"adel berangkat dulu assalamualaikum "
"astagfirullah, lo nonton drakor sampe jam berapa adel, muka lo kayak lipatan baju gitu"
Teriakan tari mengagetkan Adelia yang tengah melamun. Adelia berdecak terganggu lantas melirik tari sinis.
"hehehe sorry suhu, nggak ngulangin lagi deh "
Adellia berdehem singkat, tanganya memijat kaki yang terasa nyilu karena tadi pagi dihukum pak joko lari lapangan.
"lo ada masalah ya del? "
"enggak tar"
"kan ,bo'ong lagi nih pasti"
Adellia memutar bola matanya malas, lantas menumpukan kepalanya di atas meja dengan tari yang menatapnya penuh selidik.
"ck, gue cuman capek"
Tari meniru posisi adellia, tanganya menepuk pipi cewek itu yang chubby.
"pantesan tambah kurus kering gini, heran gue, capek mulu lo "
Adelia memajukan bibirnya sebal ia menyentil dahi tari tak tanggung-tanggung kerasnya.
"aissh!! Sakit tahu "
"nggak usah ikut campur deh lo"
"lo sih, kalau gue tanya jawabannya capek mulu. Lo capek ya sama pacar lo si auksa? "
__ADS_1
Adelia mendelik garang. tangannya bersiap menggeplak kepala tari sebelum si empu lebih dulu menghindar.
" mulut lo kudu di sekolahin ya Tar "
Tari meringis tak mengelak, tangan kanannya terbuka lebar menampakkan cat barunya di kuku panjangnya.
"auksa emang ganteng Del, tapi kalau gue jadi lo gue nggak bakalan kuat.ganteng iya, tapi romantisnya nol gede, apalagi fansnya bejibun kek air bah, ihhh ngerii"
Adelia mengangguk. Iya sih, bukan satu dua kali Adelia mendapat surat ancaman. namun bodo amat lah, selagi Adelia bahagia , Kenapa harus diladeni.
" Lagian nih Del, "
Tari mendekat dengan pandangan misterius, kalimatnya sengaja dipotong untuk membuat Adelia penasaran.
" kalau lo bosen sama auksa, masih ada Dion tuh yang ngantri. Dion juga ganteng kok , kocak, kece, nggak kalah oke, dan yang paling penting, dia jago jahilin lo"
Plakkk!!
" aduh! Sakit adel! "
Ujar tari sembari mengelus kepalanya yang erdenyut. Tak menyangka saja kalau geplakan adellia bakal sekeras ini.
"gue nggak doyan sama Dion. Playboy kayak gitu mana selevel sama gue"
" jangan salah del, dia masih suci loh. Se-playboy playboy nya Dion, dia nggak pernah selingkuhin cewek."
" dion mana bisa selingkuhin cewek, yang mau sama dia aja jarang "
Ekhemm!!!
Tari dan Adel berbalik bersamaan dengan Dion yang menatapnya nyalang. Cowok itu tengah berdiri menjulang sembari berkacak pinggang.
"Oh jadi ini ya biang kerok yang bikin telinga gue panas sedari tadi. ngapain lo sebut-sebut gue Playboy? "
Tari memasang wajah watadosnya sedang Adelia cekikikan. Tak menyangka saja kalau Dion tiba-tiba akan muncul bak jailangkung.
" denger ya, gue ini orangnya setia. cukup satu cewek "
" cewek aja nggak pernah punya lo"cibir Adelia, Dion mendelik tak terima.
" cuma lagi berjuang aja,bukanya nggak punya"
Adelia memutar bola matanya malas.
"dionya malu tar,takut ketahuan nggak lakunya"
Tari mengangguk menanggapi, mulutnya mengucap komentar.
" ngomong-ngomong , tumben lo ganteng amat yon, mau kondangan ke mana? "
Memang terasa asing tatkala mata Adelia menangkap Dion yang tampak rapi. Dasi yang kerap digunakan sebagai ikat kepala dadakan kini berada di tempatnya. Paalagi ketika melihat seragam Dion yang masuk ke celana tanpa dimarahi.
" gue mah emang dari lahir udah ganteng "
Sombongnya sambil mengibaskan rambut khayalan. Dion menyeret kursi tanpa malu, lalu mendudukinya tempat di samping Tari.
"loh Adel, lo nonton taehyoung lagi sampai larut? "
" suuzon mulu Yon "
"kan lo demen tuh ama yang gituan "
" gue ganti bias. Sukanya sekarang sama Jungkook "
Dion mendengus. Kapan adellia menyukainya kalok idamanya aja spek cowok korea!?
" ganti lagi?yang rendah dikit dong kalau ganti cowok. kayak gue, kan pas, di depan mata, ganteng, pinter, baik hati lagi "
" tidur dulu deh yon baru adellia suka sama lo " tanggap Tari setelah meniru adegan muntah.
" lah mimpi dong "
" itu tahu. "
Jawab Adelia dan tari bebarengan. Dian mengelus dadanya dramatis.
__ADS_1
Sabar Yon, sabar, lo bakal dapet adel kok nanti.
Batin Dion menyemangati.