TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Baikan.


__ADS_3

Canggung, sudah dua jam berjalan tanpa pembicaraan. Masing-masing pihak hanya saling diam tidak ada yang berniat memulai.


"Ekhm, "


Adellia berdehem, walaupun Auksa memang dingin, sikapnya yang kali ini menakutinya. Apalagi Adellia sudah terlanjur nyaman dengan sifat Auksa yang lembut hanya padanya.


"Kata Bunda, besok kita harus udah baikan Sa,"


Mulai Adellia lirih sembari melirik kearah Auksa yang tampak acuh bersama ponselnya.


"Mama enggak tahu masalah kita. "


Tanggap Auksa singkat. Adellia tidak bisa menampiknya karena memang seperti itu kenyataannya.


"Tapi Sa, aku enggak enak sama Bunda kalau kita marahan terus. "


"Nanti Bunda kepikiran. "


"Kamu enggak enak sama Bunda doang? Memangnya enggak merasa bersalah sama aku? "


"Sa, aku udah minta maaf kan? "


Jelas Adellia lagi. Auksa menaruh handpone nya kasar. Kedua netranya menyorot Adellia tajam.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu Adel? "


"Maaf Sa, "


"Renungin kesalahan apa yang kamu perbuat hari ini. Asal kamu tahu, kata maaf doang enggak bakal bisa menyelesaikan masalah diantara kita. "


Tanggap Auksa membuat Adellia menunduk. Auksa tidak mau Adellia melakukan hal yang sama lagi. Dia takut kehilangan, berhadapan dengan Juan saja sudah membuatnya was-was, apalagi harus nambah saingan, jangan sampai dia dibuat pusing karena masalah itu. Auksa akui kalau Adellia terlalu mempesona untuk begitu saja diabaikan, dia yakin, banyak cowok diluaran sana yang sangat ingin berada diposisinya.Tapi Auksa tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi, dia tidak ingin posisinya dilengserkan begitu saja.


"Aku bingung mau pake cara apa lagi biar kamu enggak diemin aku Sa. Aku udah minta maaf, udah aku coba jelasin juga, tapi kamu tetep marah sama aku. "


Adellia semakin menundukkan kepalanya. Auksa tercenggang, dia memang berniat untuk memperlakukan Adellia lebih tegas agar cewek itu mengerti tentang posisinya di hidup Adellia saat ini. Auksa adalah kekasih Adellia, dia punya kuasa penuh untuk memberi izin atau pun sebaliknya. Namun melihat Adellia yang begitu sedih membuat hatinya ngilu.


"Kamu udah bosan sama aku ya? Makanya kamu bawa-bawa kejadian hari ini buat alasan biar kamu bisa menjauh. Kalau emang kayak gitu, kamu bisa bilang langsung ke aku Sa, enggak perlu pake alibi segala. "


Sumpah demi apapun, auksa tidak berniat seperti itu. Menjauh dari Adellia adalah mimpi buruk yang tidak pernah masuk dalam buku list nya. Auksa bahkan tidak berani membayangkan hal itu.


"Apa yang buat kamu bosan sama aku? "


Auksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa semua cewek memang diciptakan penuh prasangka seperti Adellia-nya saat ini?


"Aku terlalu kekanakan ya buat kamu? "


"Atau karena aku enggak secantik Kak Bella yang selalu kamu sebut-sebut itu?"


Auksa refleks menggeleng , Adellia selalu cantik dimatanya.


"Oh, jangan-jangan karena aku enggak pantes jadi pelangi kamu? "

__ADS_1


"Kalau kamu bawa Kak Bella sebagai tolak ukur, enggak perlu melihat pun aku juga udah tahu Sa, aku kalah. "


"Semua ini enggak ada kaitannya dengan Bella Adel, "


"Oh, enggak ya? Berarti karena emang sedari awal kamu enggak suka sama aku. Kamu jadiin aku pelarian kan dari masa lalu kamu? "


"Maafin aku Sa, kalau kamu emang udah capek sama aku, aku enggak bakal paksa kamu buat pertahanin hubungan ini lagi. "


"Hubungan kita enggak sehat, aku berjuang sendirian."


"Kamu ngomong apaan sih Adel? " Sentak Auksa tanpa sadar sudah berdiri dari posisi duduknya. Tangan Auksa mencengkeram bahu Adellia erat.


" Aku cuma penghalang kan buat kamu sama Kak Bella? "


"Adel! "


Adellia menutup kedua matanya tatkala mendengar suara Auksa yang naik beberapa oktaf. Auksa mengatur nafasnya yang memburu, dia tidak pernah menjadikan Adellia sebagai bahan pelarian, bahkan sedari awal dia berusaha mengabaikan Adellia karena dia takut akan menyamakan gadis itu dengan si senja. Ajaibnya, Adellia dan segala tingkahnya berhasil meluluhkan tembok yang dibangun Auksa dengan susah payah. Adellia sukses mengajarinya mengiklaskan, gadis itu berhasil membawa Auksa bangit lagi dari masa lalunya. Dan berkat Adellia juga, Auksa bisa melupakan Bella.


Adellia terisak, dia takut melihat Auksa. Auksa tidak pernah membentaknya sampai seperti ini.


"Maafin aku Sa, "


Lirih Adellia di sela isak tangisnya. Auksa mengusap wajahnya kasar lantas duduk tepat di samping Adellia.


"Lihat aku Adel, "


Adellia tetap diam dalam posisinya, rasa takut masih menguasainya begitu besar. Tubuhnya bahkan masih bergetar akibat terkejut.


Ujar Auksa lembut lantas menggapai dagu Adellia agar cewek itu menatapnya.


"Adellia, buka mata kamu. Please, "


Adellia masih tidak menurut, Auksa membuang nafasnya berat, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini pada akhirnya.


"Adel, "


"Ada satu hal yang harus kamu tahu, tapi kamu harus lihat aku dulu. "


Ujar Auksa membuat Adellia mau tidak mau membuka matanya pelan, kedua netranya langsung berseterobok dengan bola mata Auksa yang dalam menghipnotis. Auksa tersenyum tipis, tangannya mengusap pipi Adellia penuh sayang.


"Enggak ada istilah Bella lagi di hidup aku Adellia. Hanya ada kamu, "


Adellia termenung, tatapan Auksa benar-benar menelannya terlalu dalam.


" Kehadiran-nya sudah lama menghilang semenjak kamu datang. Aku udah enggak bertumpu pada Bella lagi Adel, karena pusat rotasi aku yang sekarang ada disini. "


Ucap Auksa sembari menunjuk dahi Adellia dengan jari telunjuknya.


"Ada di nyonya Adellia Alexa Agantara. Pacar aku yang paling cantik sekaligus pelangi yang berhasil mengganti posisi senja di hati aku. Semburat warna yang bikin aku enggak bisa berpaling lagi. "


Adellia menahan senyumnya yang hendak merekah di bibirnya. Lantas mengapa Auksa marah padanya kalau memang seperti itu?

__ADS_1


"Terus kenapa kamu marah sama aku Sa? "


"Karena aku enggak mau kehilangan kamu Adel. "


"Membayangkan kamu jauh dari aku saja aku enggak bisa, apalagi harus kehilangan kamu nantinya? Aku enggak suka lihat kamu sama cowok lain selain aku, aku takut kamu bakal pergi kayak Bella. "


Adellia tersentak, sorot mata Auksa yang teduh tidak menunjukkan sedikitpun kebohongan.


"Aku enggak mau kehilangan lagi Adel, "


Sontak saja, Adellia meraih tangan Auksa yang semula berada dipipinya, lantas menggenggamnya lembut.


"Aku enggak bakal berpaling dari kamu Sa, aku udah pernah bilang kan, mau seganteng apapun cowok itu, mau sekaya apapun dia, kalau dia bukan kamu, aku enggak bakalan suka sama dia. "


"Lagian, aku kan enggak buta buat ngenalin yang mana pacar aku. "


Tambah Adellia bercanda, Auksa tersenyum mendengar hal itu. Tangannya mengacak surai Adellia lantas merapikannya dengan lembut.


"Aku sayang sama kamu Adel, "


Senyum Adellia merekah, dia lekas memeluk Auksa lebih erat.


"Aku lebih sayang sama kamu Auksa. Saaayaang banget, segede semesta yang suka permainin kita, segede jagad raya, pokoknya gede banget sampai enggak ada yang bisa nandingin rasa sayang aku ke kamu. "


Auksa tertawa keras, dia mengecup puncak kepala Adellia.


"Rasa sayang aku lebih gede lagi dari itu, Enggak terbatas. Enggak bisa disamain sama apapun. "


Adellia tertawa ceria, dia lebih suka Auksa yang seperti ini.


"Eh ngomong-ngomong kamu udah maafin aku kan Sa? "


Tanya Adellia sembari mendongakkan kepalanya. Dia baru ingin perihal paling penting dari keromantisan nya saat ini.


"Iya, udah. "


"Yeeeey, aku pamerin ah ke Bunda karena udah berhasil jinakin anaknya. "


"Dasar anak Bunda. "


"Hish biarin wlek, iri bilang bos. "


Ujar Adellia yang sontak membuat Auksa tergelak, Adellia memeluk Auksa-nya lagi. Dia tidak meminta sesuatu hal yang besar, dia hanya ingin mempertahankan kebahagiaannya bersama Auksa, dia hanya ingin memiliki sebagian dari komponen dunia yang berwujud dalam Auksa saat ini. Hanya sesederhana itu.


Apa tuhan bisa mengabulkannya?


Adellia tersenyum kecil, hatinya merasa gelisah entah karena apa, dia merasa tidak tenang.


Semoga semesta enggak lihat kebahagiaan kita kali ini Sa, biar kita bisa pertahanin hal ini lebih lama lagi.


Batin Adellia dalam hati sembari menyembunyikan kepalanya di dada Auksa.

__ADS_1


__ADS_2