TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Nggak mau putus


__ADS_3

Auksa Legarvan Alfadiaraga, lelaki dengan beribu kemisteriusannya. Mengenalnya Itu anugerah, dia lemah namun tak mudah mengalah. Auksa Legarvan, lelaki yang kuputuskan untuk ditinggalkan, padahal ada sebongkah rasa yang enggan merelakan.


Adellia mengernyit. Kertas putih lecek menyempil antara lembar LKS sejarahnya. Seingatnya, Ia tak pernah membuat puisi seromantis ini.


Hem, Auksa Legarvan ya? Lantas siapa lagi kalau bukan dirinya yang membuatnya? Tidak mungkin fans Auksa yang membludak itu mau repot-repot menyempilkan puisi di buku LKS nya.


"Sttt Tar! "


Tari menoleh, gadis itu cemberut, mungkin merasa terganggu karena aksi menjahili Dion mendadak tertunda.


"Apa?"


Jawabnya Ketus bercampur kesal.


"Lo yang sisipin ini ke buku gue Tar? " Mata Tari memicing, menelusuri bait demi bait kalimat yang semakin membuat kedua alisnya menukik.


"Gue? " Adellia mengangguk namun Tari lekas menggeleng. Mana sempat dirinya membuat puisi untuk orang lain, padahal puisi untuk pacarnya saja tak selesai-selesai.


"Enggak sempet buat gituan gue Del, lo kan tahu gue bukam cewek yang doyan puisi. dapat satu baris aja syukurnya Masya Allah, "


"Terus siapa dong? " Tanya Adellia lagi. Sesekali melirik guru yang masih fokus mengajar.


"Si Dion mungkin, diakan nilai Indo mantap mulu kerjaannya. Iya kan Yon? Lo buat gituan buat Adellia? "


Ujar Tari sembari menyenggol tangan Dion yang tengah menulis. Dion berdecak, dia merasa terusik. Daritadi Tari terus saja mengganggunya.


"Apa?" Sahut Dion setengah hati.


"Lo buat kayak gituan buat Adel?"


"Enggak. Udah. Jangan ganggu! Gue lagi nulis."


"Ah Dion mah nggak asik,"


Adellia memutar bola matanya. Dia tak akan melanjutkan sesi pertanyaannya kalau Tari sudah sok-sokan bertingkah manja.


"Yon, lo ngambek? "


Tanya Tari lagi-lagi menyenggol lengan Dion. Pria itu berdecak malas, ia segera memundurkan wajah Tari yang tengah menatapnya dari dekat.


"Nggak usah nempel-nempel, "


"emangnya nggak boleh ya, kan kita udah pacaran kemaren? "


"Lah, kalian berdua udah pacaran? "


pertanyaan adellia membuat tari dan dion mematung, tari menoleh dengan gerakan kaku.


"Udah dong, telat banget ya lo Adel."


jawab Tari berlagak bangga. Dia tak mau mengingat kejadian yang membuat Dion dan dirinya terpaksa menjalin hubungan seperti ini.


"lo kan nggak cerita ke gue tar, "


"emang iya del? "


"ish lo mah. katanya mau kasih tahu gue duluan kalau udah jadian. "


tari mengepalkan tangannya lantas mengendurkannya kembali. Dia mencoba memasang senyum.


"biasa adel. Masih malu gue. " jawab tari sekuat mungkin. Adellia mengerutkan alisnya namun tetap mengangguk.


"padahal tari yang gue kenal nggak pernah punya malu. "


Tari tergagap, namun lekas menetralkan ekspresinya kembali.


"emm, kayaknya gue kebelet pipis deh."


"kok tiba-tiba sa-"


"Bu rina, "


wanita cantik yang merasa namanya dipanggil menghentikan aktivitasnya menulis. kepalanya menoleh menatap seorang siswi yang tengah mengacungkan tangan.


"iya tari, ada apa?"


"saya mau izin kebelakang."


"oh silahkan. Jangan mampir kemana - mana ya. "


" iya bu, makasih. "


jawab tari lantas segera berdiri sambil berlalu meninggalkan kelas. Dion melirik adellia sejenak lalu kembali fokus pada tulisannya.


"ada yang kalian sembunyiin ya dari gue? "


dion terdiam pura-pura tak mendengar. Adellia menghembuskan nafasnya berat lantas kembali fokus pada sederet tulisan yang berada di atas mejanya.


siapa?


.


.


.


Telinga Auksa berdenging. Kedua matanya mendadak buram. Dia sudah tidak mau percaya. Kehadiran senja dahulu telah berhasil membekasinya dengan luka. Ia tak mau Bella kembali seperti pemikirannya sebelum adanya Adellia. Auksa menyandarkan tubuh pada punggung kursi dengan sarat lelah hingga membuat Maganta menoleh penasaran.


" Kenapa bro? Muka lo kusut amat." ujar Maganta di antara kesibukannya bermain game. Auksa menghembuskan nafasnya kasar, Ia butuh Adellia sekarang.


" Rahasia. Lo nggak perlu tahu,"


Maganta berdecih sinis sebelum kembali fokus pada layar ponselnya. Auksa memejamkan matanya, ia sudah tak mempunyai rasa pada Bella. Tapi ia takut, bagaimana kalau tiba-tiba saja Bella hadir dan merusak hubungannya dengan Adellia? Auksa mendesis, bayangan pesan dengan nomor asing memenuhi pikirannya. Berkelebat cepat tanpa permisi.


Aku senja,


Sebaris kata yang dahulu menghias langitmu.

__ADS_1


Aku senja.


Pendendam ulung karena perbuatanmu.


Aku senja.


Campuran warna yang masih saja mengharapkanmu,


Bolehkah aku minta pada mu si pemilik biru,


Aku masih menginginkan dekapanmu.


Aku masih menginginkan hangat lingkupanmu.


Jadi,


Kembalilah!


Buat senja membuang setumpuk pilu.


"Hoi balok es!"


Auksa diam, pikirannya masih menerawang jauh, hingga membuat maganta mendengus kesal.


"Itu cewek lo bukan sih? "


Pertanyaan Maganta sukses membuat emosi Auksa menyurut, pria itu tak jadi memarahi sahabatnya yang cerewet. Alis Auksa menukik. Kedua matanya kini beralih menatap pintu kelas yang terbuka. Suasana luar tampak lenggang karena jam pelajaran masih berlangsung.


"Enggak lihat,"


"Tadi beneran loh gue lihat, gue paham bener kok sama tuh cewek."


"Paham? "


Maganta gelagapan. Tatapan Auksa menghunusnya teramat tajam, tentu saja hal tersebut membuat Maganta mendadak diserang grogi.


"E.. Bukan gitu Sa, itu loh, anu, ck, jadi gini... "


Maganta menepuk bibirnya gemas.


"Dasar bege! ngomong apaan sih gue? Pokoknya nggak seperti apa yang lo pikirin."


"Emang gue mikir apaan?"


Jawab Auksa sambil mengeluarkan ponselnya dari saku. Jarinya mengetik balasan untuk nomor tanpa nama.


^^^085***^^^


^^^jangan ganggu gue Bel. ✅^^^


"Ya lo mikir apaan, "


"Heh! lo kira gue sempet mikirin lo yang nggak jelas gini? " Sambut Auksa membuat Maganta sebal bukan main.


"Asem lo, makin hari makin pinter aja ngajak geludnya, "


Maganta berdecak demi menanggapi perkataan Auksa yang tanpa beban itu. Dia memalingkan wajahnya untuk menenangkan emosi, namun yang ditemukannya adalah sekelebat postur kecil. yang meewati depan kelasnya lagi.


"Noh, noh, mata gue emang nggak sliwer Sa, cewek lo lewat lagi. "


"Sana samperin ah, ini gue beneran loh nggak bohong, "


"Mager. "


"Sa-"


Ting!


Auksa melirik ponselnya. Ia kira balasan dari pesannya yang akan muncul. Namun ia salah, nama kerdil nampak terpampang pada layar ponselnya. Auksa manaikkan satu alisnya. Tumben, biasanya kan Adellia tidak mengirim pesan pada jam-jam seperti ini.




Auksa memalingkan wajahnya. Mendadak saja dia merasa malu.


"Astaga Auksa, lo kebelet BAB ya? muka lo unik amat. "


"Diem, "


Ujar Auksa pedas. Maganta mencibir, kepalanya mencoba melongok untuk mengintip pesan yang dikirim Adellia kepada temannya ini.


"Emangnya Adel chat apaan sih kelo sampai lo malu kayak gini? "


Auksa mendorong kepala Maganta yang hendak mendekat. Sebisa mungkin dia mennyingkirkan ponselnya dari sahabatnya yang satu itu.


"Sa, pelit amat."


"Nggak usah kepo. "


Maganta mendesis sebal, ia segera mengalihkan atensinya ke game yang berada dalam pomselnya.


"Terserah lo deh Sa, "





"Sa! kamu nalak aku! "


auksa berjengit kaget. tak terkecuali maganta dan beberapa siswa yang menempati kelas. tak mau ketinggalan berita, sontak saja seluruh siswa mengeluarkan ponselnya. merekam. wajah adellia yang merah padam karena marah, juga auksa yang berlagak tak peduli.


"ulangi sa. kamu bilang apa? "


auksa berlagak tuli, dengan santainya pria itu membereskan buku yang berserakan di atas mejanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


"sa, ulangi. "


auksa menatap adellia serius. satu tangannya menumpu kepala dengan seringai terpasang pada wajahnya.


"ya udah, putus. "


"gampang banget ya kamu bilang kayak gitu ke aku. "


"iya, emangnya kenapa? kan cuma bilang pu-tus. "


tekannya di akhir kata putus. adellia menekuk wajahnya. ia tak menyangka kalau auksa akan memintanya putus secepat ini.


"baru kemarin loh sa kita jadian. kamu beneran minta putus sekarang? "


Auksa mengangguk. tangannya kini sibuk memasukkan buku dan alat tulus kedalam. tasnya.


"sa, kamu kok jahat banget sih,"


"makanya masuk kelas. "


"aku kan udah bilang nggak mau. kamu putusin aku gegara masalah sepele kayak gini? sa, pikirin lagi dong. kamu nggak beneran putusin aku kan? "


ujar adellia dengan mata berkaca-kaca. auksa melirik sejenak, namun ekas mengalihkan pandangannya.


"nggak ada yang perlu dipikirin lagi. "


"huaaaa! sa! tari lagi dong kata-katanya. huaaa, nggak mau putus, "


auksa menahan tawanya, lantas segera menegakkan posisi nya menjadi berdiri. tangannya yang bebas merangkul adellia lembut.


" enggak usah pake nangis. "


"huaaaa! jahat banget sumpah. "


Auksa tergelak. bahkan dia tak menyadari kalau tawanya membuat beberapa siswi limbung dan para siswa mendadak tidak percaya diri. bisik-bisik kagum terdengar namun tak membuat auksa mengalihkan atensinya dati adellia.


"huhuhu, nggak mau putus. "


"utututu, nggak mau putus yaa? tapi pengennya aku putus, gimana dong."


"tuh kan, Maganta! temen lo nih nyebelin banget. "


Auksa mencubit pipi adellia gemas, tentu saja membuat si empu meringis kecil.


"gemesin banget sih adelnya auksa. makanya jangan salah ambil keputusan dong. "


"ish, kamu bohongin aku ya? "


"enggak."


"tuh kan! kamu minta putus beneran huaaaa! "


"stt enggak gitu, maksud aku itu, ya udah. aku samperin kamu aja, chattannya diputus dulu."


adellia mengusap air matanya. tangannya mencubit pinggang auksa sebal.


"kamu nggak jelas ih, "


"sakit sayang, jangan cubit gitu dong. makanya kalau ada apa-apa itu dilihat dulu lebih cermat biar tahu maksudnya gimana. "


"udah aku liat jelas-jelas kok. "


"bohong pasti. kalau udah dilihat kan seharusnya kamu ngerti dong maksud ketikan dari aku. "


"kamu kan yang salah sa. lain kali kalau ngetik jangan singkat banget. aku mana ngerti. "


auksa mencubit hidung adellia lantas mengamit tangan gadis itu lembut.


"ya udah ayo, jadi nggak bolosnya? "


adellia mengangguk dengan wajah yang masih cemberut karena sebal. Auksa terkekeh kecil, kakinya yang hendak melangkah terhenti karena tingkah adellia yang lucu.


"senyum dulu dong. "


"ish! "


"kalau nggak senyum nggak jadi aku temenin loh. "


"malu sa, "


"cuma senyum kenapa malu? kamu pakai baju kan? "


"nyebelin banget. "


"ayo sekarang senyum, "


" iya iya, nih, udah kan? sekarang ayo cepetan."


"yang ikhlas adellia, "


"kamu kok jadi rewel gini sih! "


"mau nggak? "


adellia mendengus keras namun tetap menuruti perintah auksa.


"nah kan cantik kalau kayak gitu. ya udah ayok. "


ujar auksa sembari mengamit tangan adellia lantas meninggalkan kelas yang mendadak hening.


"adellia cantik ya gentong, "


maganta menoleh menatap ucup dengan tatapan malas. Apalagi yang dipikirkan bocah norak di belakangnya ini?


"Mau ngapain lo? "


"kayaknya hidup gue bakal lebih bermakna deh kalau gue gebet dia, si auksa yang garangnya kayak singa aja bisa berubah jadi kucing jinak."

__ADS_1


"silahkan aja cup kalau lo berani. gue pastiin, sebelum lo dapetin adellia dari auksa, nyawa lo lebih dulu pergi ninggalin dunia. "


__ADS_2