
" Sa, Kamu kenapa ? " Suara Juanda kecil mengaung dalam ruangan. Suasana nampak mencekam, apalagi lampu kamar yang redup semakin mendukung. Auksa, anak berambut sedikit panjang itu menulikan telinganya. Kedua matanya terpejam seiring air yang mengalir membasahi pipi. Dia bahkan tak peduli dengan rasa perih yang menjalari pergelangan tangan kecilnya. Dipikirannya hanya ada satu, ia ingin mati. Dia ingin meninggalkan dunia secepat mungkin.
" Sa! "
Auksa mendorong bahu Juanda yang mendekat. Tangisnya bertambah keras terdengar. Ia begitu membenci sosok anak yang berada di sampingnya saat ini. Dia iri pada Juanda yang selalu disayangi oleh ayahnya.
" Auksa, kamu kenapa dorong Juan? "
Auksa menggeleng. Dia tak mau Juan tahu kalau Dewanta memperlakukan keduanya secara berbeda. Dia tak mau Juanda mengetahui penderitaannya.
" Auksa benci Juan! "
Juanda kecil tersentak. Satu tangannya menggapai Auksa, namun segera ditepis oleh sang empu. Akhir-akhir ini, Auksa memang menghindarinya dan tidak mau lagi bermain bersamanya. Auksa juga menjadi pendiam dan enggan menatapnya ketika ia berbicara.
" Juan kan enggak ada salah sama Auksa. Kenapa benci? "
Auksa menggerang. Juanda tidak akan pernah mengerti apa yang tengah dialaminya. Anak yang selalu dilingkupi oleh kasih sayang tidak akan paham arti dari kosakata menderita.
"Jangan kesini Juan."
Juanda menggeleng. Ia ingin membujuk Auksa entah untuk keberapa kalinya. Dia rindu bermain dengan adiknya lagi. Namun pergerakan Auksa membuat niatnya terhenti. Tanpa takut, Auksa mengarahkan cutter ke lehernya sendiri.
"Auksa! "
"Jangan mendekat Juan. "
Juanda kecil gelagapan dengan apa yang hendak dilakukan oleh adik kecilnya. Dia hendak mendekat, namun rasa takut lebih dulu mendominasi.
"Auksa, jangan lakuin hal kayak gitu. Juan cuma mau ajakin kamu main. Lego kamu nggak pernah buat mainan lagi kan? "
Auksa menangis. Dia bahkan tak sempat memikirkan mainannya. Dia bahkan tidak akan sempat menikmati masa kecilnya dengan memainkan lego favorit nya
"Auksa, "
"Diem Kak Juan! "
Juanda bungkam. Dia tidak tahu apa-apa. Dia berada dalam kebingungan yang seakan tiada ujung. Tindakan dan bentakan Auksa padanya tentu membuat Juan memikirkan hal rumit dalam otak kecilnya.
"Auksa."
Auksa melempar cutter nya sembarang arah. Dia ingin marah, namun ia tidak bisa mengekpresikan kemarahannya
" Jangan kesini, Auksa sama Juan itu beda-"
"Kita sama Auksa. "
"Enggak! Kak Juan sams Auksa nggak pernah sama. Papa nggak pernah merhatiin Auksa lebih dari Kak Juan. "
Kedua alis Juanda menukik. Bukankah yang selalu diajak ayahnya pergi itu Auksa bukan dirinya? Papa selalu menganggap Juanda yang lebih besar sehingga dia dipaksa untuk mengalah. Juanda kecil membuang nafas mencoba mengerti perasaan adiknya.
"Papa selalu merhatiin kamu lebih dari siapapun Sa. "
"Bohong! Papa selalu bedain kita Kak! Papa lebih sayang sama Kakak! "
" Papa lebih sayang sama kamu. "
"Salah! "
"Sa! "
Suara kecil Juanda lagi-lagi bergema di dalam kamar yang minim cahaya. Auksa menghinanya. Ayahnya sudah jelas tak begitu mencintainya. Walaupun dia tak pernah kekurangan kasih sayang seperti anak lainnya , namun ia tahu , Ayahnya bersikap lebih dan lebih kepada adiknya saja. Beliau selalu mengajak Auksa adiknya untuk pergi kemanapun. Memberikan mainan yang Auksa mau. Bahkan menyematkan nama panjang Ayahnya di belakang nama Auksa sebagai Marga. Sedangkan dia? Juanda sering dicela oleh teman-temannya. Kenapa ia berbeda? Ibunya bermarga Alfadiaraga, Auksa pun begitu, sedangkan dia, bagaimana mungkin Dewanta masih menyematkan nama fernadita di belakang namanya. Bukankah itu sudah cukup tak adil untknya? Di umur Juanda yang ke sepuluh saat ini, tentu saja Juanda tahu maksud tersebut. Ayahnya tak mengakuinya sebagai keluarga.
" Sa, seharusnya kamu senang ."
Auksa menangis lagi. Juanda tak akan mengerti.
" Kamu seharusnya senang karena Papa sayang banget sama kamu. "
"Juanda keluar!"
"Apa! Sa, aku yang lebih berhak marah daripada kamu. Aku yang seharusnya nangis karena perlakuan Papa selama ini."
Auksa menggeleng. Tentu saja dia yang lebih layak.
"Aku yang lebih dulu diperlakukan tak sama Auksa! "
"Keluar kak Juan! "
"Kamu bahkan lebih-"
__ADS_1
"Kak Juan-"
"Juan juga berhak marah Sa! Kamu masih kecil jadi aku mencoba menerima perlakuan Papa begitu saja. Aku selalu diam waktu Papa lebih merhatiin kamu dibanding aku. "
"Kakak nggak tahu aku diperlakukan kayak gimana. "
"Juan lebih dari sekedar tahu Sa. Juan lihat sendiri. "
"Kak Juan. "
Juanda berbalik. Sudah cukup! Lain kali dia tak akan bersusah payah membujuk adiknya yang keras kepala itu.
" Terserah kamu Sa. juan nggak akan kembali lagi kesini. "
"Kak-"
Juanda melangkahkan kakinya. Air matanya tumpah.
"Kak Juan-"
Juanda menulikan telinganya. Dia memutar knop pintu tanpa sedikitpun menyesali keputusannya.
"Auksa dipaksa jadi pembunuh Kak, "
Sayangnya Juanda tak mau mempercayainya. Dasar pembual!
Rupanya adiknya sudah pandai berbohong.
"Benar kan? Kakak nggak bakalan percaya kalau aku bilang semua itu, "
Juanda menoleh untuk terakhir kalinya lantas menatap Auksa dengan sorot sinis.
" Papa nggak sejahat itu. "
juanda mengusap wajahnya kasar. Dia sudah mampu menghubungkan semua talinya. Auksa yang ketakutan, Auksa yang mendadak menjadi kaku dan pendiam, serta ayahnya yang begitu kukuh berucap untuk memperbaiki semuanya. Betapa bodohnya dia yang tak menyadari hal itu. Auksa pasti menderita selama ini.
" Emm, jadi-"
Adellia berdehem canggung, hal itu membuat Juanda yang semula fokus pada pemikirannya langsung menoleh. Tepat disampingnya, Adellia duduk dengan posisi yang tak nyaman.
"Gini, jadi lo abangnya Auksa? "
adellia meneguk ludah, jangan berpikir aneh-aneh. Dia memulai percakapan bukan untuk caper tapi untuk menjalin hubungan dengan keluarga Auksa. Dia tak bisa mengajak ngobrol Tante Agatha karena wanita paruh baya itu tengah mondar mandir di depan pintu rawat inap.
"Lah terus ?"
"Auksa bukan adek gue, cuma sodara aja. "
Adellia tertawa patah-patah menanggapi jawaban konyol dari Juanda. Sedangkan pria itu memilih tak mengubris. Dia memilih mengalihkan atensinya ke arah Agatha yang gelisah. Auksa menepati perkataanya yang akan mengajak Adellia ke rumah sakit. Kini cowok itu tengah berada di dalam ruang rawat bersama Om Anta alias Dewanta.
" beluau Tante Agatha kan? "
Juanda berdehem mennaggapi.
"Dia -mama lo, "
Adellia merutuki pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Sialan! dia malu melihat reaksi Juanda yang langsung menaikkan satu alisnya.
"Bukan. "
"O-oh, gitu ya, "
"Dia perempuan hebat yang ngelahirin gue. My Mother. "
Adellia menahan rasa rasa sebal pada wajah kaku Juanda. Dia berusaha menormalkan kembali emosinya, adellia tak mau kalau kesannya akan terlihat buruk di depan Tante Agatha nanti.
"Oh, "
"Lo masih sama Auksa? "
Dahi Adellia terlipat, dia mencoba menelisik maksud dari perkataan Juanda.
"Lo masih pacaran sama Auksa? "
Adellia lekas mengangguk. Jelas masih lah! Orang pacarannya saja baru beberapa hari lalu, resminya sih.
" Emangnya kenapa ? " Juanda menetap Agatha sendu. Bibirnya menyungging senyum kecil.
" Auksa beruntung banget ya." ujarnya Lirih.
__ADS_1
" Dia berhasil dapetin cewek kayak lo, Juga dapetin perhatian dari Papa. "
Adellia memiringkan kepalanya. Satu dua suster melewati keduanya tanpa menoleh. Seakan-akan dunia hanya diisi oleh Adellia dan Juanda saja.
" Ternyata gue nggak bisa ya? Lo suka sama dia? "
" Maksud lo Auksa? "
Juanda mengangguk. Namun kedua bola matanya masih fokus menatap Agatha yang gelisah. Mamanya pasti cemas menunggu Auksa yang masih berada di dalam.
"Iya Juan. Gue suka sama Auksa. Pakai banget. "
Juanda terkekeh miris. Sudahlah. Dia memang tidak berhak berbahagia dari awal.
" Ternyata bener ya Del, sampai kapanpun gue nggak bakalan mampu rebut lo dari Auksa "
" Maksudnya gimana Juan? "
" Meskipun nanti gue berhasil, hati lo pastinya tetap milik dia."
" Nggak usah muter-muter deh ngomongnya, Otak gue nggak nyampe. "
Juanda menggigit bibir bawahnya ragu. Entahlah, dia begitu sadar kalau dirinya mencintai Adellia juga menyayangi gadis itu. Namun, egonya mungkin lebih unggul. Dia tak mau mengakuinya. Lebih tepatnya, dia tak berani. Juanda takut karena perasaannya tak berbalas dan dia harus mendengarnya sendiri. Dia terlalu pengecut untuk sekedar mendengar jawaban dari Adellia nanti.
" Juan, "
Juanda terkekeh, lantas memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Sakit yang dirasanya. Sampai sekarang pun ia masih merasa tak adil. Adiknya memiliki segalanya. Sedangkan dia? Apa yang mampu dimilikinya ?
" Gue punya apa Adel? " Juanda menunduk. dia harus mencoba menerima posisi Auksa walaupun enggan. Auksa itu adiknya, dan tetap akan seperti itu bagaimanapun ia menolak. Darahnya jelas sama, wajah keduanya pun tak jauh berbeda satu sama lain. Apalagi kebenaran yang harus ia gali membuatnya semakin ingin memperbaiki keadaan. Dia tahu, banyak terjadi kesalahpahaman di sini. Namun, dengan kondisi Dewanta yang tak memungkinkan, Juanda tak bisa mengajukan beragam tanya yang bersarang dalam benaknya. Dia harus bersabar. Mungkin, nanti atau kapanpun itu, dia akan mengetahui semuanya tanpa terkecuali.
" Lo punya Auksa. "
Deg!
Namun, dalam kondisi semacam ini, logika dan hatinya berperang sengit. Hatinya masih sulit menerimanya. Auksa bukanlah adiknya, dia hanya seorang musuh yang pantas dijauhi, hama yang pantas diberantas juga benalu yang layak dibuang jauh-jauh. Auksa si perebut, dan Auksa cowok egois yang pernah kenalnya.
" Lo juga masih ada Tante agatha Juan. "
" Gimana dengan lo? " Tanya Juanda refleks. Adellia menoleh, ia menatap Juanda lekat-lekat.
" Gue? "
" Gue punya lo kan? "
Adellia terdiam. Nafasnya tersendat. Entah kenapa dia tak mampu menjawabnya.
" Juan, gue-"
" Sudahlah, lo nggak perlu menjawabnya Adel. Gue tahu siapa yang bakal lo pilih. Mana mungkin lo berpihak ke gue dan dukung posisi gue ? "
"Enggak gitu,"
"Enggak usah ngelak. "
Adellia terbungkam. Dia tak bermaksud menyinggung. Bahkan dia tak mengerti dengan maksud dari posisi yang dikatakan oleh Juanda.
"Adel, "
Adellia menoleh. Kedua netranya bertubruk sapa dengan bola mata berwarna hitam kecoklatan milik Juanda.
" Untuk pertama kalinya, gue mau tanyain hal ini ke lo Del. gue harap lo bisa jawab yang jujur kali ini, karena jawaban lo nanti, akan menjadi penentu dimana gue harus berjuang lagi atau memutuskan buat berhenti. "
"Adel, lo pilih gue atau Auksa? "
"Jangan kayak gitu juan. "
"jawab gue Del! "
Adellia tersentak, begitupun dengan Agatha yang masih berada di depan pintu rawat inap.
" Lo tinggal pilih Adel. "
"Juan, "
Juanda mendekat. Kedua tangannya memegang bahu Adellia erat. Dia harus tahu jawabannya sekarang.
"Choose me or Auksa, Adel, ?"
Bugh!
__ADS_1