
...Dalam tempurung kata sahabat, menolak aku tak bisa, namun diam juga tak mampu menghalau luka. Biarkan kusimpan sendiri semua ini tanpa bicara. Karena kamu Adellia, perempuan yang selalu membingungkan sosok Dionarda dalam mengatur perasaannya....
...🌜🌜🌜🌜🌜...
"Yon, angkat dong! "
Adellia mencengkeram ujung kaosnya. Ya Tuhan, Ia takut. Sosok yang ia kira sudah pergi menghilang, tiba-tiba muncul lagi tanpa permisi. Adellia yang tadinya ingin bernafas lega kembali ketakutan.
Adellia melirik ponselnya, ia menyerah menghubungi Auksa, ujungnya pasti sama, operatorlah yang menjawabnya. Hal kedua yang mampir dipikiran Adellia adalah kedua sahabatnya. Ia cukup waras untuk tak menghubungi Tari, Tari perempuan, ia percaya kalau sahabatnya yang satu itu akan langsung ke sini tanpa berpikir dua kali, namun Adellia khawatir dengan keselamatan gadis itu nantinya.
"Yon,"
Lagi-lagi Adellia menggumamkan nama Dion. Hatinya was-was. Angkat Yon angkat . Batin Adellia tak henti-henti. Sosok dibalik jendela setia mengamatinya. Tajam dan menusuk. Adelia menggigit bibirnya diam-diam, lantas melirik ponselnya lagi. Berdering, apa yang tengah dilakukan Dion? Tak tahukah bahwa dia dalam keadaan genting sekarang ini?
"Kenapa sih lo harus mirip sama dia?"
Adelia tersentak. Ia menatap sosok berpakaian hitam yang kini tengah memiringkan kepala balik menatapnya. Adellia menelan ludahnya kasar.
Apa maksudnya?
Adelia memundurkan posisi duduknya sampai mendekati dinding. Pemuda dibalik jendela kamarnya terkekeh. Menyeramkan!
"Lo takut? "
Adellia diam. Ia sibuk memencet nomor Dion lagi. Yon cepetan dong angkat.
"Hahaha, memang seharusnya lo takut sama gue sih."
"Pergi ! Jangan ganggu gue! "
Pemuda itu membenarkan letak maskernya, lantas memakai kembali topinya. Jari-jarinya mengusap ancaman berupa tinta darah yang berani menjamah jendela kamar Adellia. Adellia bergidik, bulu kuduknya berdiri.
"Jauhi Auksa"
"Enggak! " Sentak Adellia tanpa berpikir. Adelia meraih asal raket nyamuk yang dekat dengan posisinya. Tangannya mengacungkan benda tersebut ke arah si pemuda.
"Pergi! Gue nggak pernah ganggu hidup lo!"
Pemuda tersebut menggeram, dia membuka jendela kamar Adelia lantas masuk tanpa permisi. Adellia mendelik, bagaimana bisa? Bukankah ia sudah menguncinya?
"Pergi! "
"Astaga, lo takut banget ya sama gue?"
Adelia menggigil. Rasa takut mendominasinya. Auksa, tolongin gue. Sosok itu memecahkan tawanya tatkala melihat reaksi Adellia yang ketakutan. Dia marah pada gadis keras kepala yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya . Pemuda itu berjongkok, mencoba mensejajarkan tinggi dengan mangsanya.
"Jauhi dia atau lo gue bikin mati hari ini juga," Ancamnya sembari menarik surai Adelia hingga membuat gadis itu mendongak.
"Gue nggak akan turuti kemauan lo. " Tanggap Adellia masih keras kepala. Pemuda itu mengepalkan satu tangannya.
"Lo mau mati di tangan gue? "
Adellia tersentak kala rambutnya ditarik lebih kuat, ia meringis kesakitan. Rasa ngilu dan berdenyut menyerang kepalanya.
"Jangan! Tolong jangan bunuh gue!"
Adelia berusaha melepaskan tarikan si Pemuda pada rambutnya. Namun tenaga nya kalah banyak dalam hal ini.
"Turutin kemauan gue,"
Adellia menggeleng. Dia tidak bisa meninggalkan Auksa begitu saja. Dia tak yakin bisa melakukan hal itu. Apalagi Adellia sadar kalau dia telah jatuh terlalu dalam dalam pesona Auksa.
Akh!
Adellia menjerit. Nafasnya terasa tersendat. Tangan Adellia segera menggapai lehernya yang ditekan paksa oleh pemuda tersebut. Kedua matanya mendelik .
"Le-lepa-sin gue! " Ucap Adellia tersenggal. Pemuda tersebut tertawa sinis. Sorot kejam terpampang jelas pada bola matanya.
"Lo minta mati? " Adellia berusaha melepaskan lingkaran tangan yang melilit lehernya. Namun bukannya terlepas, ikatan itu malah semakin erat.
"akh! lepas-sin ! sakit!" Adelia menangis, ia merasa tak berdaya , bahkan sekujur tubuhnya mati rasa.
"Stay away from him adel,dia sumber masalah juga buat lo,"
"Gu-e ngg-ak ma-u! Akhhh! "
__ADS_1
"Gue bilang jauhi dia!"
Akh!
Adellia menjerit. Kepalanya serasa ingin meledak. Oksigennya menipis.
"Le-pa-sin gue,"
Pemuda itu tak mengubris. Mungkin kematian Adellia bisa menjadi cara paling tepat untuk meluruskan semuanya. Adellia meraba raket nyamuk yang sempat terlepas dari genggamannya. Lamtas tanpa menunggu lebih lama lagi, ia memukulkan benda tersebut ke kepala orang yang tengah mencekiknya.
Adellia segera memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya tatkala cekalan itu terlepas. Ia lantas berdiri walau masih merasa pusing. Dia harus kabur dari sini. Secepat mungkin!
Namun Adellia tidak sempat melangkahkan kakinya lebih jauh, tangannya lebih dulu ditarik secara paksa. Adellia terduduk ke posisinya semula. Pemuda itu nampak mengusap kepalanya yang mungkin saja berdenyut. Ia geram, pada gadis yang berani membangkang perintahnya. Tangan kekarnya dengan sigap meraih pisau yang berada dalam saku bajunya, lantas mengacungkan benda tersebut kearah leher Adellia yang menangis tersedu. Gadis ini memang layak dimusnahkan.
"Last request!" Ujar si pemuda dengan nada menekan. Adellia terdiam bisu. Badannya terlalu kaku untuk digerakkan.
"Good girl, lo nggak mau permintaan terakhir?"
Pemuda tersebut menaikkan satu alisnya. Air mata Adellia sudah mengalir tanpa ia minta. Pisau tajam benar-benar siap menikamnya saat ini. Adellia menggigit bibirnya. Permintaan terakhir?
"Permintaan terakhir gue? Gu-gue pengen tahu siapa lo."
Pemuda itu bergeming sejenak. Bibir tipisnya yang berada dibalik masker menyungging seringai. Pria itu memang tidak menjawab permintaannya, namun Adellia lekas mengerti.
Dia mengizinkan Adellia untuk mengetahui identitasnya. Adellia meneguk ludahnya kasar, tanganya terulur menyentuh masker yang menutupi bibir dan hidung orang yang akan menjemput ajalnya. Ia Hendak menurunkan masker itu, namun suara gebrakan pintu menarik atensinya.
"Adel! "
Pemuda tersebut dibuat terkejut dengan kehadiran sosok Dion yang tiba-tiba saja muncul. Dia langsung melepas tangan Adelia dari maskernya lantas berlari menuju pintu masuknya tadi. Dion yang tak mau kehilangan jejak, lekas menyusul. Namun ia tak sempat meraihnya . pemuda itu cepat dan lincah.
Sialan!
Dion mengepalkan tangannya. ia merasa gagal melindungi sahabatnya.
.
.
.
Adellia memandangi kertas yang berada dalam genggamannya. Mengenai kertas itu, Dion tiba-tiba saja menemukannya melingkar dalam gagang pisau. Si pria misterius berpakaian hitam sepertinya memang sengaja memberi petunjuk lewat surat ancaman.
Lagi dan lagi Adellia mengamati kata demi kata yang berbaris rapi itu.
Auksa is mine, Adel, until when. You grabbed the person who meant the most to me. Stay away from him, because I won't let you have my power.
                         Bella
Adellia tak mengerti apa yang surat ini maksud, yang jelas hal ini menyangkut tentang Auksanya. Lagi pula, siapa Bella? Ia merasa tak asing dengan nama itu. Beberapa kali pun ia mencoba mengingat, Adellia tak pernah menemukannya.
Apakah Bella dalang di balik tero-teror yang mengganggunya akhir-akhir ini?
Adellia menggeleng, dia sudah melihat dengan kalau sosok yang mengusiknya tadi bukanlah seorang perempuan, melainkan seorang lelaki. Tapi Adellia tidak bisa mengelak kalau bisa saja Bella adalah orang dibalik bergeraknya si pemuda yang menyerang Adellia.
Tok! tok! tok!
Adellia menoleh lantas berdeham kecil tanda mengizinkan si tamu masuk. Gadis itu terkejut ketika didapatinya Auksa dengan kemeja garisnya yang tengah berdiri diambang pintu. Adelia memalingkan wajahnya, ia masih merasa kecewa.
"Gue masuk, "
Adelia tidak menjawab. Ia masih belum siap.
"Mau cerita? "
"Lo telat Sa,"
"Apa yang terjadi?"
"Enggak ada yang terjadi kok. Lo cuma telat datang kesini, padahal gue udah kangen banget lho, " Ujar Adelia memasang senyum. Kedua matanya tidak mampu menatap Auksa.
"Adel, lo nggak perlu bohong. "
Jujur saja, Auksa sudah mengetahui semuanya dari Bi Sumi, juga Dion yang lansung menatapnya penuh amarah tatkala Auksa datang. Auksa merasa kecewa karena Adelia mengelak. Namun ia harus mengerti, Adellia masih butuh waktu untuk memahami semua kejadian yang menimpanya.
"Ekhm! Gue kangennya kecepatan ya?" Tanya Adellia sembari menunduk. Auksa memegang dagu Adellia, membuat gadis itu menatapnya.
__ADS_1
"Kalau kangen kok liatin kasur, lo kangennya sama gue apa sama kasurnya?"
Ujar Auksa tersenyum teduh. Adellia tersentak, senyumnya perlahan terbit menghiasi bibirnya.
"Gue kangennya sama elo lah Sa! Mau peluk boleh? "
Auksa berlagak berpikir, namun beberapa detik kemudian ia lekas mengangguk mengizinkan. Adelia lekas menghambur untuk mendekap Auksa erat.
"Lain kali jangan bohong ya? "
"Gue nggak bohong kok, beneran kangen. "
"Iya, percaya. "
"Adel,"
Adellia berdehem kecil menanggapi panggilan dari kekasihnya. Auksa tersenyum kecil lantas membalas pelukan Adellia tak kalah erat.
"Gue ngerti kalau lo nggak mau ceritain semua ini sekarang Adel.Gue bakal berusaha ngertiin perasaan lo. Lo kagetkan? "
"Nggak papa Adel. Ada gue disini, nggak usah takut, "
"Lo nggak ngangkat telepon gue Sa," Auksa mengangguk walau Adellia tak melihatnya.
"Benar, gue emang enggak ngangkat telepon lo. Tapi ada alasannya, "
"Kenapa? "
"Gue kan udah bilang sama lo kalau lagi ada urusan? Gue sengaja ninggalin ponsel gue di rumah." Adellia mendongak menatap Auksa yang juga tengah menunduk.
"Sa, "
"Hm. "
"Kita ada hubungan resmi kayak gini berapa hari sih? "
"Emangnya kenapa? "
"Jawab dulu! "
"Kayaknya tiga hari,"
Adelia memeluk Auksa lagi. Kepalanya ia sembunyikan di dada Auksa yang bidang.
"Kenapa hm? "
"Baru tiga hari Sa, kok udah ada aja ya orang yang mau rebut lo dari gue? "
Auksa tersentak tatkala mendengar isakan Adellia yang tertahan. Tangan Auksa lantas terangkat untuk membelai rambut gadisnya lembut.
"Sa, dia mau gue jauhin lo. " Gumam Adellia.
"Lo mau? "
"Enggak mau lah ! Lo kira gue bakal setujuin gitu aja? Gue nggak mau jauh-jauh dari lo Sa. Kalau gue mutusin jauhin lo, kita nggak bisa kayak gini lagi."
Auksa terkekeh kecil, ia segera mencubit hidung Adellia gemas.
"Sa,"
"Iya Adel,"
"Jangan bosen ya sama gue? Gue takut lo pergi."
Seharusnya Auksa yang bilang semacam itu kepada Adellia. Ia takut kalau Adellia tiba-tiba saja menghilang seperti senjanya.
Baru sebentar Auksa dikabarkandekat dengan adellia, tapi teror-teror sudah begitu banyak yang bedatangan. Auksa takut Adellia tak betah bersamanya. Cewek mana yang mau dihantui oleh teror tak mengenakkan semacam itu? Auksa mengepalkan tangannya, ia tak bisa terus-terusan membiarkan si peneror berkeliaran dengan leluasa.
"Gue nggak akan pergi Adel. Sekalipun lo yang milih pergi dari gue. Gue bakal tetep kejar lo."
"Bener Sa? Janji? "
"Iya, janji."
Jawab Auksa lirih sembari mengecup puncak kepala Adellia. Senyum Adellia tercetak dibibirnya, ia lantas mendekap Auksa jauh lebih erat.
__ADS_1
"Jangan bohong ya Sa? "
Mana bisa gue bohongin lo Adel? Lo udah sempurna masukin hidup gue. Gue cinta sama lo Del. Batin Auksa sembari menjawab pertanyaan Adellia dengan anggukan. Auksa menghirup wangi gadisnya dalam-dalam. Selepas ini, wangi vanilalah yang akan menjadi candu baginya.