
Langit yang tak lagi jernih,
Entah berpura-pura kasihan atau memang berniat ikut bersedih,
Bintang dan seisinya namapak hilang jauh dari jangkauan.
Karna apa?
Mereka memilih pergi karna tak kuasa menahan pedihmu.
Bintang yang memilih diam kala mendengar tangismu.
langit yang memilih diam karena isakanmu
Tersenyumlah,,,
Jangan biarkan semesta menang karna berhasil merobohkanmu.
Percaya,
Karna langit akan tetap ada menjadi sandaran lelah mu.
๐๐๐๐
Adellia tengah menengkurapkan badanya di atas kasur . Di kepalanya tersampir benda semacam topi berbentuk boneka tata. Kedua netranya fokus menonton adegan demi adegan yang terpampang di ponselnya. Dengan cara seperti inilah adellia mampu menghilangkan kesedihanya walau sejenak.
Tok tok tok
kegiatan adellia terhenti, ia melirik pintu lantas kembali sibuk dengan menonton lagi. Ia tak peduli, karna biasanya di jam jam segini bibinya akan masuk mengantas segelas susu putih untuknya.
" masuk aja bi, nggak dikunci kok!"
Ujar adelia tanpa mengalihkan Pandang dari layar ponselnya. Untung saja auksa dengan baik hati menyerahkan ponselnya sewaktu di taman.kalau tidak, mungkin sudah bisa dipastikan adellia uring-uringan sepanjang hari karena tak mampu melihat fanmeet idolanya.
Ceklek
Suara pintu terbuka memasuki kedua lubang telinga Adelia. namun gadis penggila BTS itu masih saja menatap ponselnya penuh minat sampai tak sadar bahwa kasurnya sedikit bergoyang tanda diduduki seseorang .
"Asik amat anak mama. lagi nonton apaan sih?"
Refleks Adelia membeku. perlahan senyumnya memudar dan akhirnya hilang dari bibirnya. Adellia menatap wanita paruh baya yang tengah menetapnya penuh kasih.dadanya berdenyut nyeri.rasa kecewa membuncah tanpa mampu di tahan lagi.
"ngapain anda ke sini? "
Sinta memaksakan senyum, pelan ia mencoba meraih tangan Adelia. namun na'as, lengannya dengan kasar ditepis oleh anak mata wayangnya sendiri.
"Sekali lagi saya tanya, ngapain anda ke sini? "
tanya adelia dengan ekspresi dingin. serta merta sinta menahan air matanya yang memaksa tumpah.
"Mama kangen adel"
Adelia berdecih, jarinya memencet tombol samping ponselnya hingga membuat benda itu mati dalam sekejap.
"gak usah drama deh! basi!"
"Mama kangen banget sama adel, udah beberapa hari ini adellia menghindari mama terus."
Adelia memutar bola matanya, malas ia menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya termasuk bagian kepala.
"jangan ngaco, mama saya udah beberapa minggu ini nggak ada. anda jangan mengaku-ngaku jadi mama saya."
Hati sinta mencelos, tanpa sadar air matanya tak mampu lagi ia tahan. sakit, hal itulah yang kini mendominasi ruang hatinya. jika anaknya saja telah menganggapnya tiada, lantas ia punya siapa ? Jika anak semata wayangnya saja tak mampu menganggap kehadirannya, lantas mengapa ia masih bertahan dan berjuang?
"Adel"
Adelia menutup telinganya di balik selimut. ia memejamkan kedua matanya rapat rapat.
"pergi!!"
Detak jantung sinta terasa berhenti, ia telah mendengar kata-kata itu berulang kali dari mulut Adelia. Dan hal tersebut, tak pernah membuat sinta terbiasa
" Adel, mama.... "
" gue nggak mau denger lagiย ! "
__ADS_1
Sinta menghela nafasnya, ia mengatur aliran udara yang mengalir dari hidungnya ,seolah seolah ada benda berat yang menikam dadanya saat ini. rasa sesak begitu menghimpit.
"tapi adel"
"ck"
Sinta menunduk pilu. Sudahlah, adellia masih marah terhadapnya. Kalau tetap dipaksa,bukan hal baik yang akan terjadi nantinya,
"Ya udah, mama keluar. nanti jangan lupa turun kita makan malam sama-sama"
Adelia bergeming tak bergerak. terpaksa, sinta melangkahkan kakinya menuju daun pintu. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi ia keluar dari kamar anak kesayangannya.
"Maafin mama adel"
ujar sinta lirih sebelum menuruni anak tangga dengan lingkupan rasa bersalah. Adelia yang mendengar suara pintu tertutup bangun dari tidurnya, bohong jika hatinya tak merasa sesak.
" ngapain sih mah, mama harus nyakitin Adel kayak gini. Mama itu jahat tau nggak? "
Adelia memang membenci sinta, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak tega mendengar isakan pedih yang keluar dari bibir mamanya. bagaimanapun sinta adalah sosok wanita yang mengizinkan adelia menatap indahnya dunia juga sekaligus mengecap pahitnya ujian semesta. perlahan, tangis adellia merebak. ia melingkarkan kedua lengannya di lutut,juga menyembunyikan kepala diantaranya. ia benci, sungguh ia benci pada dunia yang selalu saja membuatnya menderita.
Tok tok tok
Kasar, Adelia mengusap kedua matanya yang basah. lantas menatap daun pintu dengan tajam.
" ngapain ke sini lagi sih ?"
Nihil, tak ada jawaban dibalik pintu yang tertutup. Lagi, adelia membenamkan kepala diantara kedua lututnya, lantas ia kembali menumpahkan rasa sakitnya.
Tok tok tok
Lagi lagi adellia tersentak. kini kedua bola matanya mengarah pada jendela besar yang tertutup tirai berwarna biru langit. pelan adellia bangkit dari posisinya, dengan langkah berhati-hati ia menghampiri letak jendela kamarnya.
Tok tok tok
Tidak salah lagi, ketukan itu memang berasal dari jendela kamarnya. dada Adelia berdegup kencang, nafasnya tak lagi terdengar stabil. Adelia mengecek ponselnya yang masih menunjukkan pukul 08.00 malam. Mana ada setan nongolya awal banget?. Pikir Adelia membatin.adellia merinding, tak elak, sedikit ketakutan mampir menghampiri nya.
Tok tok tok
Adelia menahan nafasnya. ia memejamkan matanya rapat-rapat lalu membuka tirai jendela dengan gerakan cepat. kedua mata adellia masih tertutup, berbagai macam bayangan seram mulai muncul dalam ruang pikirnya. Adelia membuka matanya sedikit menyipit, walau nampak buram namun setidaknya masih ada bayangan yang mampu tertangkap retinanya. Gadis berhodiee merah itu mengedarkan pandangannya dari sudut jendela ke sudut lainnya. Namun ia tak menemukan apapun. Kali ini adelia menghembuskan atasnya kasar, ia merasa dipermainkan. perlahan, ia membuka kedua matanya secara sempurna.
"ish!!! Siapa sih yang iseng malam-malam gini? "
Ctak
Reflek Adelia menoleh ke sudut jendela, di sana tertempel kertas kecil berwarna pink.
jelek!
...Adelia mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Dahinya terlihat berkerut penasaran.siapa?kok aneh....
Tok
lucu juga kalok lo lagi mewek kayak gitu. gue jadi susah bedain antara lo sama pantat panci hehehe
Kepala Adelia menoleh lagi, kini di depan matanya berjajar tiga kertas berwarna merah, orange, dan kuning.
jangan nangis. cengeng banget si
lo mah nggak tahu, kalok lo nangis nih ya, teras rumah mendadak kebanjiran. mana asin lagi aernya.
Sejenak Adelia tertawa melihat tulisan di depannya. Lantas adelia beralih ke kertas berwarna kuning disampingnya lagi .
sumpah!
ketawanya pake anggun juga dong woi! tahu nggak kalok tawa lo itu juga nyeremin. persisi kunti yang demen nangsang di pohon beringin komplek sebelah.
"Woi lo ngatain gue!"
Tak ada jawaban, kini malah kertas berwarna kebiruan mampir di samping kertas warna kuning.
jangan sedih, ingus lo keluar tuh
Adelia menyentuh bawah hidungnya. tak ditemuinya ingus yang dijelaskan kalimat dari kertas.
hahaha lo beneran ngecek ingus, polos amat sih.
__ADS_1
" gue nggak apa-apa "
Tok
jangan pura pura kuat, cewek mah gitu, bilangnya nggak ada apa apa, eh ternyata ada apa apa.
Adelia mendengus, refleks ia berujar
" Sotoy lu "
Tok
kok lo tahu kalok gue doyan soto?eak eak. jadi terhura. canda.
eh, lo jangan ngerasa sendiri elah.
karna Kayaknya takdir kita emang sama ,semesta bener bener tahu gimana buat kita menderita.
" Maksud lo apa tentang takdir kita yang sama? "
" nggak usah ngaco! "
Tok
jangan mati dulu. nanti kalok lo mati, nggak bisa dong liatin muka ganteng gue.
Siapa juga yang mau mati. nikah aja belum.
"nggak jelas, pergi aja deh lo dari sini. Ganggu tahu nggak? "
"lagian nih ya lo berasa Jungkook, siapa sih lo! nongol dong,nggak usah pengecut"
Tok
emm, mungkin gue emang kembaranya jongkok, eh jengkok,ishh apaansi? yang penting itulah! ah elah, gimana sih nulisnya
jongkoek ya?
lo nggak perlu tahu siapa gue. anggep aja gue kotak cerita yang baek hati mau nampung cerita lo. kalo mau nangis, nangis aja.
kalok lo mau teriak, teriak aja. tumpahin semuanya ke gue.bahkan kalo lo mau bunuh diri, ayok aja gue ijabahin. gue bakal rekam dari awal sampe akhir. tapi jangan ajakin gue mati,soalnya jodoh gue belum keliatan batang hidungnya hehehe.
besok kapan kapan gue kesini lagi. kalok lo udah siap, lo boleh ceritain semuanya ke gue. eh bts, ganti dong itu celana, pendek amat elah, gue kan jadi galfok
Adelia menutup tirai jendelanya cepat. Namun sebelum itu ,ia sempat memaki sosok yang menghuni jendela kamarnya. Dasar mesum! Adelia masih menggerutu tapi tak elak ia mencari celana panjang dalam lemarinya. lantas memakainya di dalam kamar mandi.
"adel!!! Turun dong sayang, makananya udah siap"
Adellia mendengus, malas Ia membuka pintu kamar mandi lalu memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Adel udah kelanjur kecewa mah. Kalau mama pengen semua baik - baik aja dan nggak semakin buruk,mama cukup biarin adel sendiri sementara waktu. Biar adel tenangin diri, biarin adel mencoba menerima semuanya sedikit demi sedikit, adel butuh waktu,hanya itu,
*******
Angin berhembus pelan, sisa rintik hujan meninggalkan bau tanah basah. Seorang pemuda yang tengah bersembunyi tepat di samping jendela kamar adellia terkekeh kecil. Lucu. Ekspresi adellia yang sebal tampak menggemaskan. Tapi ternyata lebih lucu dengan dirinya sendiri. Ia masih saja melakukan hal tak berguna semacam ini. Dengan orang yang berbeda tapi perlakuan yang sama pedulinya.
Pemuda tersebut mendongak ke arah langit langit yang kini menampakkan beberapa bintang kecil, entah mengapa ia merindukan momen seperti ini, walau ia pun tahu kalau semua itu tak akan mungkin terjadi lagi. Si pria mengayunkan kakinya pelan, menikmati setiap sapuan bayu yang menyentuh wajah tampan nya. Mau diingat beberapa kalipun,ia masih merindukan dia. Sosok cantik yang tak pernah mau pergi membayangi ruang pikirnya. Pemuda itu mendesah kecil, tanganya menggulung lengan baju yang telah kotor karena noda. Darah menempel di mana mana. Bahkan wajahnya yang tampan tak menjadi pengecualian terkena cipratan. Si pria melongokkan kepalanya lagi ke arah jendela kamar adellia, apa yang tengah dilakukan gadis itu di dalam sana? Apakah dia masih menangis? Lantas setelah sadar, pria itu menggeleng, itu bukan urusanya. Tapi entah mengapa sudut hatinya sedikit tercubit. Gadis itu nampak rapuh dan lemah. Takdirnya juga dipermainkan oleh tahta semesta, dan itu terjadi juga kepadanya. Mana mungkin ia membiarkan seorang gadis kecil rapuh yang berpura pura ceria di setiap harinya sendirian sembari berbalut luka? Ah.... Bukan hanya karena hal itu, jujur saja, setiap kali pemuda itu menilik wajah adellia, bayang bayang masa lalunya selalu mampir. Dan ia tak bisa berpura-pura tak peduli lagi. Adellia terlalu mirip,
"kalau gue dibolehin minta sama semesta, gue bakal minta buat ubah takdir gue yang kayak gini"
Si pemuda menunduk. Netranya menatap nanar katana yang berada dalam genggaman tangan kirinya.
"gue mau semesta balikin orang yang gue sayang. Gue pengen dia balikin semua kebahagiaan gue yang udah direnggut"
"tapi gue bisa apa..... "
pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Hatinya berdenyut nyeri. Tidak!! Ia tak mau menangis.
"adellia, lo bisa denger gue di dalam sana? "
Tanyanya sembari mengintip jendela yang telah sempurna tertutup korden biru langit.
"jangan nangis lagi, karna setiap kali lo nangis, bayangan dia selalu mampir tanpa gue minta. "
Ujarnya sembari mendongak pilu. Pikiranya berkelana jauh mengikuti kata hatinya. Sosok perempuan cantik mengisi ilusi.lihatlah!ia kembali mengingat, dan hal itu hanya membuatnya semakin terluka. Tanpa terasa, bulir air mengalir membasahi pipinya. Mau ditanya beberapa kalipun rasa itu masih ada. Rasa peduli, rasa ingin memiliki, rasa cinta, semuanya tanpa terkecuali,ia masih punya, di sudut hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Pemuda itu manggerang kecil, tidak! Dia tak lemah!!
Lantas tanpa berlama lama lagi, pemuda itu meloncat turun,ia tak mau membiarkan hatinya sakit lebihย dari ini. Dia harus kembali,lantas menjernihkan pikiranya dengan beberapa tumpuk berkas berkas pekerjaanya. Yha, ia tak bisa selamanya tetap seperti ini,dia harus percaya kalau senjanya akan segera menghampirinya kembali.