TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Makan diluar


__ADS_3

...🌜🌜🌜🌜...


...Aku yang bodoh!...


...Baru beberapa hari aku memutuskan percaya...


...Namun, kamu tiba tiba datang memutus asa....


...Papa......


...Dia siapa?...


...🌜🌜🌜🌜...


Dion merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mulutnya Diam seribu bahasa, dia memang tampak tertidur seakan tengah menyelami alam mimpi ,  padahal yang terjadi sebenarnya ialah tengah merasai rasa sakit yang menikam dadanya. Rasa memiliki yang hanya berujung ilusi, dan rasa cinta yang tak pernah tersampaikan lewat kata-kata. Dion mengeluarkan nafasnya berat, perlahan Ia membuka matanya lantas memiringkan tubuhnya ke kanan. Dion tersenyum kecil, foto Adelia, Dion dan tari tampak tertangkap retinanya. Foto tersebut berdiri tegak di atas meja nakasnya,di sampingnya lagi ada pajangan sepeda kayu, lampu tidur, fotonya dengan Adel waktu di mall, di atap gedung, juga fotonya dengan tari waktu membeli pakaian. Dion tak tahu kapan rasa persahabatannya untuk Adelia berubah menjadi rasa cinta, yang pasti, rasa itu benar adanya, muncul tanpa permisi.


" seandainya, gue ungkapin perasaan gue ke lo , apa lo bakal tinggalin auksa dan milih gue Adel ?"


Tanya Dion pada foto Adelia yang tengah memperagakan posisi menembak dengan dion di belakangnya.



" atau lo malah marah sama gue, terus ngejauh pergi ninggalin semua hal yang pernah kita lalui? "


Ujarnya menahan nyeri di sudut hatinya,


" Adel"


" gue harus kayak gimana biar lo liat gue sebagai seorang cowok bukan sahabat lo doang? "


Dion mengusap wajahnya kasar, ia baru tahu kalau rasa cinta bukan hanya memberinya rasa bahagia saja, tapi juga rasa yang teramat sangat menyiksa . Posisinya yang hanya dirancang untuk diam saja membuatnya harus mengalah sebelum berjuang. Ia terlalu takut kalau Adelia akan meninggalkannya, tapi Dion juga tak terima kalau Adelia memilih bersama auksa. Dion menatap foto Adelia lagi,bayang-bayangnya merangsek ke dalam pikirannya tanpa permisi. Adelia yang cantik, Adelia yang menggemaskan sewaktu marah, dan adellia yang selalu saja menggembungkan pipinya tatkala kesal,membuat Dion terkekeh tanpa sadar. Dada dion berdenyut ngilu, sayangnya, Dion tak mampu memiliki Adelia untuk dirinya sendiri.


Tring!


Dion tersentak, ia segera meraih ponsel yang berada tepat di samping bantalnya.


"yon! Suer lo bakal nggak nyangka banget soal apa yang gue temuin kali ini "


Dahi Dion terlipat, alisnya mengerut dalam mendengar penuturan teman tongkrongannya. Billy


" Maksud lo apaan? "


Tanya Dion karena tak tahu apa yang temannya maksud.


"bentar bentar, gue cabut dulu dari sini. soalnya terlalu berisik "


Dion mengangguk walau ia tahu kalau Billy tentu saja tak melihatnya.


"semua ini tentang orang yang pengen lo cari tahu."


"auksa? "


"right bro. Dia bukan orang biasa "


Refleks Dion menegakkan duduknya dari posisi tidurnya, pikirannya terpecah belah.


" lo temuin infonya? "


" Ya begitulah "


Jawab billy ambigu, ia tak akan menceritakan ke Dion kalau dia juga teramat penasaran dengan sosok auksa. Sosok misterius penuh rahasia, juga dingin tak tersentuh seakan menyembunyikan berbagai hal  dari bola matanya. Billy juga sudah berusaha mencari latar belakang auksa, tapi ia tak menemukan hal itu. Seakan-akan memang sengaja ditutupi. Yang ia tahu,  auksa adalah ketua basket yang digilai banyak cewek, tersangka dari pembunuhan Leonarda yang akhirnya terpaksa ditutup karena tak menemukan hasilnya, juga anak dari pengusaha kaya raya dewanta rios alfadiaraga.tapi informasi kali ini!!ck, dia benar-benar tak menyangkanya,


"kok bisa? lo dapet dari mana Bil? "


Pertanyaan Dion membuat bibirnya mengatup. ia sudah bilang kan kalau tak akan menceritakannya ke Dion, lebih tepatnya ia malu karena setelah dion berkata ingin mengetahui info mengenai auksa lebih dalam, sepulang sekolah, billy langsung bergegas menemui pamannya, detektif yang diakui keberadaannya sejak beberapa tahun silam karena berhasil menangkap pencuri yang mengambil barang bersejarah museum negara. Penutura


"cuman nyari-nyari "


" Lo pikir gue percaya? "


" Yang penting kan gue dapet hasilnya"


" apa yang lo temuin bil? "


Sejenak, Billy terdiam seakan memang sengaja membuat Dion semakin penasaran.


"kayaknya lo nggak bisa dapetin Adel deh, saingan lo nggak kacangan, lo tahu si auksa, ternyata dia bukan hanya anak dari dewanta rios Alfadiaraga,dia pewaris sah PT dewanta group bro. Perusahaan gede itu dipegang sama auksa sendiri. Bayangkan dion, kita yang cuma remahan roti mana mampu nandingin"


Ujar billy menggebu, Dion tercenggang di tempatnya,berarti kalau bukan sebagai chief executive officer (CEO), auksa bisa jadi menempati posisi presiden perusahaan. Tidak mungkin! Posisi itu terlalu tinggi untuk ditempati anak yang baru berumur sekitar 18 tahun.


" lo nggak percaya kan? gue juga nggak percaya tadinya, sampai paman gue bilang kalau, ups"


Sial! Secara tak sadar ,billy telah membocorkan kalau ia mendapat semua info itu dari pamannya.


" Paman lo bilang apa? "


Billy mendengus kecewa, tak ada gunanya lagi ia menyembunyikan semuanya.


"  Dia pernah sewa paman Sam buat nyelidikin berkasnya yang tiba-tiba kecuri"


" auksa sewa paman lo yang detektif terkenal itu? "kaget Dion membelalakkan matanya.


" Iya, paman nggak begitu kenal dengan auksa tapi dia paham dengan keluarga Alfadiaraga. Keluarga itu benar-benar susah diselidikin, padahal sebagai detektif, paman punya insting kalau mereka nggak beres. Tapi seberapa pun paman menggali, dia hanya menemukan semua kelebihan yang dimiliki mereka. "


Diseberang, billy menggerutu, padahal kalau dia lebih jeli sedikit saja, dia bisa menemukan info kalau bapak legarvan itu sebenernya adalah auksa. Auksa legarvan alfadiaraga, bukankah sudah jelas, bodohnya billy, dia hanya terpaku pada sosok dewanta rios yang sakit sakittan, sehingga tak menilik berita yang lainnya.


" Siapa yang nyuri berkas? "tanya Dion tiba-tiba membuat Billy mengerutkan alisnya di seberang sana.


"setau gue sih sekretarisnya sendiri, gue nggak begitu tahu namanya siapa karena Paman juga menutup mulutnya perihal pria tersebut."


" lo nyerah aja deh bro ,dilain adellia emang nggak ada rasa sama lo, si auksa juga nggak bakal biarin ceweknya beralih ke lo "


Dion terbungkam. Nafasnya tercekat. kalau sudah begini ia harus bagaimana? Dion bukan pengecut, Dion tak masalah kalau dia harus berhadapan dengan auksa. Tapi persahabatannya dengan Adelia? dia yang tak kuat kalau harus menanggung kebencian cewek itu. Mengenai PT dewanta group ,hah, siapa yang nggak tahu perusahaan tsb, perusahaan gede yang punya kurang lebih 9000 properti yang menyebar di 139 negara, kapitalisasi pemasaran yang diraihnya juga nggak main-main,bersaing dengan auksa sama saja nyari mati. Namun dion tak mampu mengelak perasaanya lagi.

__ADS_1


"lo nggak lupa kan soal apa yang cowok itu ucapin tempo hari lalu. She is Mine, gue aja yang cuma dengar dari lo bisa paham, auksa udah cinta sama adelia, dia nekanin kalau Adelia milik dia seorang "


Dion meremas ponselnya, Bagaimana bisa ia menyerah sebelum berjuang dengan begitu saja?


"yon "


" gue cinta sama dia "


" Adelia sahabat lo Yon"


" emang kenapa? Emang nggak boleh ya kalau gue suka Adel, bill , gue juga cowok, gue nyaman sama dia "


Billy menghembuskan napasnya berat, dua tahun satu tongkrongan dengan Dion membuatnya mengerti, Dion mencintai Adelia yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.


"ternyata emang bener ya yon kalau cinta itu buta dan tuliiiii, tak melihat tak mendengar, adelnya kelanjur dihatiii, mana bisa dipungkiriii, yoooon, gini yaa, gue tahu, cinta Emang Fitrah dari Allah subhanahu wa ta'ala ,tapi lo kudu coba  sedikit-sedikit lupain dia, kalau lo kukuh tetep pertahanin, lo bisa rusak rumah tangga orang lain, jujur aja Yon , gue nggak pernah rela kalau temen gue jadi pelopor, eh pelapor, pelakor ya kayaknya, eh nggak tahu lah pokoknya itu"


" pengen tonjok lo bill, tangan gue gatal banget sumpah "


" Sorry bro, alhamdulillahnya kita lagi LDR "


"si sontoloyo, ldr an segala"


"lo bakal kalah lawan auksa "


" lo temen gue nggak sih! "


" maapin gue bro, bukannya gue mau berkhianat, Gue cuman mau jadi orang jujur yang katanya bakalan mujur,auksa lebih ganteng dari pada lo,itu beneran realita tanpa dipleset plesetin"


" gue sledeng beneran lo, gue samperin sekarang mau? "


"ehehhe, jangan atuh  "ujar billy membuat dion mendengus sebal.


" lo kan juga lihat sendiri Yon, Adelia kayaknya cinta banget sama auksa "


"lo nggak bisa paksain sebuah rasa bro. lo harus ikhlasin Adelia gimanapun caranya. Tapi kalau lo masih kukuh buat tetap berjuang, ya silahkan, gue nggak maksain lo buat langsung berhenti,gue tahu kalau berhenti mencintai itu bukan perkara yang mudah. Satu yang harus lo inget, keputusan Adelia yang paling penting, lo nggak boleh egois "


Terdengar suara riuh di seberang telepon. Nampaknya  billy tengah berbincang-bincang dengan yang lainnya.


" udah dulu Yon, geng Rajawali buat ulah lagi. Semoga persoalan lo sama Adelia cepet selesai. Lo labil banget kalau udah ngurusin soal cinta "


Dion berdehem menanggapi. Kata-kata Billy terngiang memasuki telinganya.


" jangan galau kelamaan Yon"


" iya "jawabnya malas.


" Dionarda Yordan "


Dion tersentak, suara ini, ia begitu mengenalinya. Sepertinya ponsel Billy  beralih pemilik.


" gue harap dalam waktu singkat ,lo bisa segera mutusin  mau gabung atau nggak. Kemampuan lo ngatur strategi nggak bisa gue sepelein gitu aja "


" maafin gue Bang "


" bukan gegara Adelia bang, gue cuman ngerasa nggak layak aja "


" lo nggak mau cewek itu benci sama lo kan ,kalau lo mutusin gabung "


Dion terdiam bisu. Sejenak,orang di seberang sana terdengar memberi perintah.


" Terserah lo Yon, Gue cuman nggak mau lo jadi bayang-bayang aja. Lo harus segera gue resmiin, lo orang penting, sudah seharusnya kalau lo ada di garis terdepan. Untuk kali ini, lo bisa cuti dulu. Biar gue yang atasi sebagai ketua "


"Tapi Bang "


"gue tahu lo sedang patah hati karena kejadian tadi sore Yon "ujar cowok di seberang sana sembari memecah tawa. nafas Dion terhenti, Ia jadi mengingatnya kembali.


" Selesaiin masalah hati lo itu dulu. kalau lo udah siap gabung, lo bisa hubungin gue kapanpun itu "


Dion menghembuskan napasnya berat, ia merasa tak enak.


" Thanks Bang "


Tanpa ada jawaban, telepon terputus secara sepihak. Dion mmelempar ponselnya asal,lantas merebahkan tubuhnya lagi, sial!adellia Benar-benar ahli dalam memporak-porandakan hatinya. Tadi sore dion melihatnya sendiri,Adelia dan auksa tengah berpelukan diiringi suara hujan yang bersusulan. Mereka bahkan tak sekalipun menyadari kalau tatapan Dion mengarah begitu lekat.


" Adel, maafin gue karena udah lancang cinta sama lo "


Ujar Dion lirih sembari merasai berbagai macam rasa yang menyerang hatinya.


Apa gue harus nyerah Adel buat dapetin lo?


*****


"kenapa itu muka? "


Adelia memalingkan wajahnya, bibirnya maju beberapa senti. Ia Bahkan tak mau menatap auksa yang tampak tampan sepulang dari pergi.


" kenapa ?"


Adellia mencibir, cowok di belakangnya masih saja tak peka-peka. Ia kan masih sebal dengan wanita suruhan auksa yang memaksa mengganti pakaiannya.


"Pikir aja sendiri"


Ujar Adelia asal. Auksa memutar bola matanya . Jelas sekali ia bukan cenayang yang mampu menebak perasaan Adelia. Auksa menyandarkan tubuhnya di kursi panjang dengan lelah, ia masih ingat, kalau Candra yang disangka dalang dibalik teror Adelia, masih juga tak mau mengaku. Tebakan auksa tak pernah salah, apalagi di surat yang diberi jari tangan terdapat bunga kamboja lambang si pemilik usaha besar hitam tersebut.


"auksa "


Belum lagi Adelia melanjutkan perkataannya, suara handphone yang  memecah suasana. Telepon siapa yang berdering ? Adellia menolehkan kepalanya kesana kemari, Tak lama kemudian ia merasakan saku hoodie pinjamannya bergetar, sigap Adelia meraih ponselnya lantas memencet tombol hijau tempat di layarnya.


"hallo"


"hmm, iya"


"iya gapapa pa, adel lagi dirumah tari kok, belajar kelompok, kemungkinnan bisa nginep"

__ADS_1


Jawab adellia tak peduli dengan raut auksa yang tak terbaca.


"bener, nggak usah dipikirin pa, adel udah maafiin papa, semuanya emang salah adel karena nggak mau ngerti"


"ha? Papa ada urusan? "


"oh ya udah gapapa"


"night too pa"


Adel menghembuskan nafasnya kasar lantas meletakkan ponselnya asal. Alve ayahnya tak menjelaskan urusannya tentang apa, atau mengenai apa.


"mau keluar?"


Adelia menoleh, kedua netranya menetap auksa yang tengah meneguk minumannya dengan pandangan menuju layar TV.


" ngapain? "


"gue lagi pengen makan di luar "


Mata Adelia berbinar. Lantas lengannya meraih jaket auksa dan tanpa malu memakainya .


" Ayo sa gue ikut " auksa mengangguk. Tanpa aba-aba pria itu mengamit tangan Adelia mengajaknya berdiri. Namun belum sempat melangkah,  auksa menatap pakaian adellia yang nampak aneh.


"Lo beneran mau pakai baju kayak gitu? "


Adelia mengangguk , masih pada rasa antusiasnya.


" Lepas dulu jaket gue, lo mirip ondel-ondel,ini Jakarta bukannya kutub " Adelia memutar bola matanya, memang benar ini Jakarta. namun berada di samping auksa harus punya kehangatan ekstra.


"ishhh, Biarin dong "


" malu-maluin "


Haa?


"lo bilang apaan sa!? "


"makanya lepas dulu jaketnya, ck, "


Adellia menggeleng, pokoknya ia tak mau melepasnya. Ia lantas menyeret auksa untuk segera beranjak pergi,


"ayook sa, keburu malem"


Auksa mendesah, ia mencoba bersabar, mungkin nanti ia akan berpura pura memperlakukan adellia sebagai pembantu nya saja biar nggak nanggung malu.


"ya udah ayo"


Adellia berjingrak tak jelas, kaki mungilnya lantas berlari meninggalkan auksa, tanpa sadar, sudut bibir auksa tertarik ke atas, adellia, gadis yang mampu mengembalikan lagi semua rasa yang telah mati akibat kepergian bella si senja.


*****


" bentar ara"


Adelia tersentak, pendengarannya tak salahkan? Adelia mencoba mengabaikan suara yang mirip Alve ayahnya. Perlu diketahui kalau dirinya tengah berada di toko kecil seberang jalan. Adellia tahu kalu kemungkinan besok jadwalnya datang bulan.


Jangan tanyakan auksa ada di mana. Jelas sekali cowok itu tak mau menemaninya masuk membeli pembalut. Ingatkan Adelia kalau sehabis ini ya harus menceramahi auksa yang tak perhatian.


"papa, ara maunya yang ini"


" sama mama kan nggak boleh "


Deg!


Adelia terhenyak. Dadanya berdentum cepat. Enggak ! ini bukan suara ayahnya kan? . Adelia menggeleng, kembali mencoba sibuk memilih beberapa pembalut berbagai macam gambar.


"ma, Ara mau beli minuman ini, masak nggak boleh"


" nggak boleh ara, kamu harus minum sama makan yang sehat-sehat, "


Adelia menghembuskan nafasnya. benar, tak mungkin ayahnya berada di sini.


"ara marah nih"


"eh kok gitu, nanti papa ajakin jalan-jalan deh biar Ara nggak marah "


Cukup! Adelia tak mampu menahan rasa penasarannya lagi. Gadis dengan hoodie berlapis jaket itu berbalik, kedua matanya menangkap sosok yang benar-benar dikenal olehnya. walaupun Alve tengah memunggunginya, Adelia tahu, Ia begitu paham postur tubuh ayahnya.


" Papa lagi survei minimarket ini ya, kok tumben Pa? buat iklan? "


Alve berbalik, jelas terlihat kalau pria paruh baya itu terkejut. Dia tak menyangka kalau gadis di belakangnya adalah anaknya sendiri. Tepat di samping Alve, berdiri seorang wanita paruh baya juga gadis cantik berkursi roda di genggamannya. Keduanya menatap Adelia bingung.


"ekhem! Enggak Adel, papa cuman lagi jalan-jalan "


Adelia menaikkan satu alisnya heran. Pasalnya tadi Alve berpamitan untuk tak pulang ke rumah karena ada urusan. Bahkan Adelia sempat bertanya ke ayahnya mau ke mana. Dia kira ,ayahnya Ada urusan ke luar negeri sehingga tak sempat pulang dan hanya mampu meminta maaf lewat telepon.


" jalan-jalan? Adel kira papa mau ke mana gitu, soalnya papa aneh sih, pamitnya nggak bisa pulang beberapa hari ke depan "


Alve gelagapan. Bagaimana ia menanggapi ucapan sarkas anaknya?


" Bukan gitu Adel. urusan Papa ada di sini "


"hah! , kok sampai minta maaf nggak bisa balik kalau deket. "


"itu---"


" Papa , dia siapa "


Alve terdiam, kemejanya ditarik gadis di sampingnya. Gadis berkursiroda yang ia panggil Ara. sedangkan Adel, ia hanya mampu mematung. Bukankah seharusnya dia yang bertanya seperti itu? Papa ?, Siapa gadis itu ? kenapa dia menyebut Papa adellia sebagai papanya juga?.


"ara dia...... "


Saat itulah dunia adellia terasa runtuh hancur tak bersisa. Bolehkah ia memilih mati dan meniti jalan surga. Bolehkah ia meninggalkan dunia yang hanya memberinya rasa lara. hari ini dia tahu, kesalahan terbesarnya ialah membiarkan sinta pergi bersama rasa kecewanya yang membludak.

__ADS_1


__ADS_2