TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Kepergian Mama.


__ADS_3

Adellia menatap gundukan tanah yang berada di depannya. Jenazah Sinta sudah dikebumikan, bersama dengan sebongkah rasa bersalahnya, bersama dengan derai air matanya, juga bersama dengan rasa penyesalannya.


" Mama, "


Adellia berujar lirih, satu dua orang telah pergi hingga suasana makam semakin sunyi. Hanya ada dia, Alve, Diana, Ara, Dion, Tari, juga Auksa dan beberapa teman-temannya yang turut hadir.


Namun semuanya sama-sama terdiam bisu. seakan-akan tidak ingin mengusik seseorang yang baru saja menempati kediaman baru. Adellia mengusap air matanya kasar. Dadanya begitu sesak dirasa, nafasnya tersendat. Pikiran dan hatinya juga hancur berkeping-keping. Tidak lagi ia tilik hatinya yang entah bagaimana bentuknya. Adellia bersimpuh di samping Alve. Tangan kanannya dengan lembut mengusap batu nisan berwarna putih.


" Maafin Adel Ma, maafin adel. "Ujar Adellia menunduk dalam-dalam, menyesali perbuatannya yang sering melukai Sinta, memaki kelakuannya yang tak pernah pantas terhadap Mamanya sendiri.


"Seandainya Adel nggak lakuin itu, Mama nggak bakalan pergi kan? Seandainya saja Adellia lebih bersahabat dan dengerin penjelasan Mama, Mama nggak akan tinggalin Adel sejauh ini, Ma, Mama udah lelah ya? " Adellia menangis tersedu-sedu. Dia menatap makan hampa, sedang Tari memeluk Dion dengan Isak tangisnya yang ia tahan sedemikian rupa.


"Mama udah capek tata hati buat nerima Adel lagi ya, sampai Tuhan milih Mama buat ada di surga aja daripada ketemu sama Adel. Tuhan baik banget ya Ma, DIA tahu kalau Mama selalu disakitin kalau ada disini terus. "


Ara yang berada di atas kursi roda dengan Diana yang berdiri di belakangnya, menggenggam gagang kursinya erat. Teman-teman Akusa yang juga turut hadir di pemakaman hanya mampu menunduk dalam.


" Mama mau maafin Adel kan? " Adellia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ya Tuhan, dia tidak yakin bisa bertahan dengan semua ini.


" Ma, kenapa nggak jawab? " Adellia menangis lagi. Air matanya tidak ia biarkan mengering untuk kali ini. Biarkan matanya ikut berbicara, biarkan semesta lekas tahu segala deritanya.


" Mama dengerin Adel kan? Mama dengarkan apa yang Adel ucapin barusan? "


Alve menutup kedua matanya dengan tangan. Apa yang telah diperbuatnya? Kenapa dengan teganya dia memutus ikatan dan membiarkan Sinta pergi dengan begitu mudahnya? Alve menoleh, menatap Adellia - Anak semata wayangnya dengan sorot terluka. Jika saja dia membicarakan semuanya dari awal, memecahkan permasalahan dengan cara baik-baik, semuanya tidak akan sehancur Ini. Adellia juga tidak akan terluka sedemikian rupa, dan ia - Alve lebih tepatnya, tidak akan merasakan luka sedemikian besarnya.


" Adel , "


Sayangnya Adellia memalingkan wajah. Alve menarik nafasnya, benar! dia layak dibenci untuk kesekian kali .


"Sa, sini, aku butuh kamu. "


Lantas, Auksa pun mendekat, kakinya ikut bersimpuh tepat di samping gadisnya.


" Mama bakal senangkan di alam sana? "


Auksa menggangguk menanggapi hal itu, Adellia tersenyum samar, kedua netranya menatap gundukan tanah lagi.


" Ma, kata Auksa Mama seneng banget di sana. Berarti kalau tetap di sini Mama bakal sedih dong, apa karena ada Adellia?"


Auksa menggenggam tangan Adellia erat, menyatukan jari-jarinya pada jari mungil Adrelia, mencoba menyalurkan sepercik kekuatan yang tersisa.


" Ma, " Adellia mendesis, lantas dengan tangan kirinya gadis itu meremas tanah yang menutupi jenazah Mamanya.


"Harusnya Mama ajakin Adel! Bunuh Adel sekalian Ma! Bawa Adel ke sana! "


" Ma! "

__ADS_1


Adellia melempar segenggam tanah tersebut dengan asal. Tangannya yang semula digenggam oleh Auksa beralih memukul gundukan tanah yang berada di depan matanya.


" jangaen siksa Adel kayak gini bisa! "Alve berniat mendekat lagi, namun Adellia lekas menjauh. Sontak saja, Auksa membawa Adellia ke dalam pelukannya. Mengusap surai Adellia begitu lembut. Adellia butuh penopang, dan Auksa, dengan kesadaran penuh, bersedia sebagai sandaran.


" Kamu ngapain Sa ?! "


Sentak Adellia emosi. Dia tidak menyukai tindakan Auksa yang mencoba menahannya. Auksa mengunci pergerakan Adellia yang terus mencoba berontak, tenaga Adellia jelas kalah jauh. Adellia Meraung keras.


" Lepasin aku Sa! Biarin aku marahin Mama Karena Mama udah ninggalin aku lebih dulu. " Auksa menggeleng keras-keras.


" Lepasin! "


" Enggak Adellia. "


" Sa! "


" Diem Adel! Dengan kamu bertingkah kayak gini juga nggak bisa bikin tante Sinta balik lagi. "


" Aku juga nggak mau Mama balik kok. "


"Stop jadi baik-baik saja. Aku tahu kalau kamu lagi sakit Adellia."


Adellia mendorong Auksa, namun Auksa tak mau kalah, ia mengeratkan pelukannya sedemikian rupa.


" Aku nggak apa-apa Sa, "


"Sa-"


" Jangan kayak gini Adel, "


Lirih Auksa sembari membawa Adellia dalam pelukannya lagi. Tak elak, hatinya ikut sakit.


" Ikhlasin tante Sinta ya,"


" Aku nggak bisa Sa, "


" Kamu bisa, cuman butuh waktu. Kamu harus berusaha. "


Adellia meraung, ia memukul dada Auksa keras-keras. Dunia tidak pernah adil dalam menentukan takdirnya. Dia ingin memaki lantas berlari. Dia ingin segera hilang. Kalau bisa, Adellia tak ingin jadi komponen kecil yang dengan mudahnya dimainkan oleh semesta. Dia tak ingin jadi bahan percobaan yang hanya mampu diam layaknya boneka.


" Sa, hiks, Mama udah nggak bisa kembali lagi. "


.


.

__ADS_1


.


Benar, penyesalan memang selalu datang di akhir. Begitu juga yang dirasakan Adellia kali ini. Ia salah, ternyata memang Adelia lah penyebab semesta begitu gemar mempermainkannya. Dia yang terlalu lemah, sehingga mudah diberdaya.


" Adel, " Adellia membisu. Kedua netranya tak pernah fokus. Pikirannya selalu saja berkelana ke sana kemari. Ara membuang nafasnya berat, dia tahu, Adellia merasa begitu terpuruk. Dia juga tahu, Adellia begitu membenci alur hidupnya. Karena - Ara pernah berada di posisi hampir semacam itu. Ketika ayahnya pergi tiba-tiba, ketika ingatannya mendadak musnah, ketika galaksinya tak terlihat dalam radarnya , ketika Diana - Mama Ara, membohonginya dengan dalih demi kebahagiaannya.


Namun lebih sakit lagi ialah ketika dia tahu bahwasanya Alve bukanlah Ayah yang selama ini mengisi hidupnya sedari awal. Alve mempunyai hidupnya sendiri, pria itu memiliki rumah dan istana sendiri dan kebahagiaannya sendiri, tapi laki-laki itu tetap saja mengasihaninya.


Walaupun Alve hanya berpura-pura memjadi Ayahnya, tapi Ara tak pernah merasa dianak tirikan. Alve begitu menyayanginya, lebih dari apapun.


Ara kira dunia hanya mempermainkannya sebatas itu. Dia hendak ikhlas menerimanya, namun niatnya terpaksa terhenti tatkala bayangan Galaxi tidak mampu lagi dia gapai dalam memorinya. Wajah Adellia timbul tenggelam mengisi ruang pikirnya. Bahkan Diana-selaku Ibu yang berada di sampingnya, terpaksa harus bersabar tatkala tiba-tiba saja Ara tak mengenali perawakannya. Dia mengidap penyakit Alzheimer .


Ara mendesah lelah, mencoba membebaskan segala lara hatinya. Mencoba tak peduli bahwa ia juga butuh yang namanya papahan.


" Adel, " Ara menatap langit-langit kamar Adellia, menerawang beberapa memori yang masih tersisa keluar masuk dalam pikirannya.


" Kadangkala gue juga ngerasa sendiri. " Adellia menoleh, netranya menangkap raut sayup Arabella. Wajahnya tampak pucat dengan bibir pecah-pecah. Pipinya tirus, rambutnya juga berantakan tak teratur.


" Gue tahu, Jadi lo memang berat Adel. Tapi, lo juga harus bersyukur, setidaknya masih ada Papa di hidup lo, setidaknya masih ada orang yang lo harepin kehadirannya. Jangan buat dia kecewa Adel. Dia benar-benar nyesel udah nyakitin lo. "


Ujar Ara menatap Adelia. Bibirnya menyungging senyum kecil.


" Papa pria baik. Dia berhak bahagia, bukan sama gue, tapi bahagia sama lo yang merupakan anak kandungnya. Cukup beliau menanggung beban karena gue. "


Adellia bergeming di tempatnya. Tatapannya kosong. Bibirnya bergetar menahan tangis. Adellia tak akan mampu berbahagia dengan diliputi bayangan Sinta. Ara melirik Adellia lagi. Tangannya kini menggenggam erat jemari Adellia.


" Tinggal sedikit lagi Adel, " Ujar Ara begitu lembut, sayangnya Adellia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ara memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Lantas dengan hati mantap, dia menatap Adelia lekat-lekat. Dia harus mengatakannya sekarang juga.


"Adel," Adellia masih terpekur. Seakan tak sudi memperhatikannya barang Sedetik pun.


" Adellia, " Berhasil, Adellia menoleh, menetapnya intens.


" Gue ada permintaan, " Adellia tak menjawab, masih terkejut dengan perkataan tiba-tiba Ara.


" Jika suatu saat, ketika gue udah nyerah, ketika gue udah terlalu lelah, gue mau lo tetap ada di samping gue "


" gue pengen lo tetap jadi adik gue dan temenin gue di saat-saat terakhir. "


"Kasih gue semangat buat bangkit walau di saat-saat itu gue udah nggak ada harapan hidup Adel."


" Adel, " Ara memasang senyum kecil. Lengkungan yang nampak menyakitkan dalam pandangan seorang Adellia.


" Terima Papa di kehidupan lo lagi ya, dan susun kebahagiaan yang tadinya hilang. Tulis lagi lembaran baru di mana gue bukan lagi pengganggu yang cuma bisa jadi beban di hidup lo. "


" Maafin gue Adel, karena gue, lo harus rasain sakit berkali-kali "

__ADS_1


" maafin gue yang nggak mampu jadi kakak yang bisa jagain lo. "


__ADS_2