TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Gelinding di got


__ADS_3

...Kamu lagi?...


...🌜🌜🌜🌜...


"papa menanyakan anda"


Mulai juanda setelah beberapa menit lamanya terdiam bisu. Suasana canggung bercampur tegang yang menguar memenuhi kantor membuat reza hanya mampu berdiri kaku. Auksa menolehkan kepalanya ke kanan, disana, tepat beberapa meter jauhnya, ada adellia yang tengah fokus meneliti bertumpuk kertas di atas meja.


"saya kemari bukan buat denger semua omong kosong itu pak juanda. Anda pasti tahu. "


Ujar auksa setelah mengalihkan atensinya lagi ke arah juanda yang tengah menyeruput secangkir kopi.


"saya sekedar memberitahu"


Auksa menyandarkan punggungnya, kaki kirinya ia tumpukan di atas kaki sebelah kanan, kedua tanganya bersidekap dada.


"saya nggak butuh "


Juanda memejamkan kedua matanya rapat menahan emosi, ia hanya ingin memberitahu auksa bahwa dewanta teramat merindukan anak itu. Bahkn setip kali juanda berkunjung, dewanta tak pernah menanyakan keadaanya, dan malah melempar tanya dimana auksa berada--hal yang membuat juanda begitu benci terhadap adiknya sendiri. Dewanta tak pernah mempedulikanya, di mata papannya, hanya ada auksa dan auksa.


"dia kenapa? "


"siapa? "


Lagi dan lagi auksa menolehkan kepalanya ke arah seorang gadis yang fokus pada dokumen. Lapisan kaca bening yang menjadi batasan tak menyamarkan dahinya yang terlipat begitu dalam. Sesekali bibirnya mengerucut, lantas jari jarinya menggaruk surainnya yang tak lagi rapi.


"oh, jatuh"


Jawab juanda setelah tahu siapa yang dimaksud oleh auksa. Auksa tersentak.jatuh?,seharusnya ia sudah mengira apa yang terjadi, dilihat dari manapun kondisi adellia tak nampak baik baik saja, sepatunya yang kotor, rambutnya yang acak acakkan, ujung roknya yang penuh bercak tanah,ck,entah jatuh dimana cewek ceroboh semacam adellia,


"gelinding di got katanya"


Hah!? Jawaban macam apa itu?gelinding di got?! Pfttttttt


Auksa menggigit bibir menahan tawa, alis juanda menukik, menurutnya wajah auksa yang tak biasa nampak begitu aneh.


"anda kenapa? "


Auksa berdehem. Sial! Dia tak sengaja memasang ekspresi konyol gegara adellia.


"kok bisa? "


Juanda menghela nafasnya berat, ia kembali mengingat cerita absurd adellia.


Flashback



Plak!


Adoii!


"sukurin!yeee,akhirnya gue menang"

__ADS_1


Adellia menatap dion malas sembari mengusap uncak kepalanya yang berdenyut nyilu, lantas tangan kirinya memasukkan ponsel ke tempatnya semula.


"nggak adil, gue lagi nggak fokus. Ulang ulang"


"nggak mau kalah, maunya digoyang, nggak mau kalah maunya digoyang"cibir dion mengganti lirik nggak mau pulang maunya digoyang.


Adellia mengerucutkan bibirnya sebal.


"gue nggak kalah ya"


"nyenyenye, dasar si tukang nggak sportif"


"gue sportif,"


"nggak percaya,nyatanya lo nggak ngakuin kalok gue menang"


"lo kan curang yon"


"suuzon mulu lo perkedel. Nggak lah, lo tadi ngajuin gunting gue batu. Kalah telak, nggak usah ngeyel "


Adellia berkacak pinggang, netranya menyorot dion sengit.


"liatin tangan lo"


Dion memasang ekspresi was was, ia serta merta langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya.


"mau apa? "


"pinjemin dulu. Nggak usah overthinking deh"


"wahh kebohongan besar besaran nih. Nggak fair, nggak fair"


Dion mengerutkan kedua alisnya tak mengerti, sedang adellia mengendus telapak tangan dion sembari meneliti. Dion bergidik, tak sadar ia langsung menarik tanganya dari adellia, sehingga membuat cewek itu tersentak.


"geli tahu del, lo ngapain elah?"


Adellia menggelengkan kepalanya misterius, cewek itu berdecak tak habis pikir.


"astagfirullah yon,lo pinter banget ya bo'ongin gue, tangan lo bentuk kertas gitu lo sebut batu! Lo kira gue anak sd hah! Nggak bisa, permainnanya harus diulang sedari awal, yang kalah kudu nraktir boba di bobaya "


"kertas gimana maksudnya adel"


Gemas dion, adellia menyeret tangan dion lantas membukanya lebar lebar.


"liat nih liat, tangan lo bentuknya kertas gini"


Dion mendesis.


"emang bener ini bentuk kertas, kalok ini batu, kalok ini gunting"


Jelas dion memperagakan tanganya membentuk gunting sama kertas. Adellia menepuk kepalanya.


"pak aristoteles menangis liat generasi sekarang, apalagi yang kayak elo, tangan sama batu aja lo nggk bisa bedain. Lo masuk sekolah sini lewat jalur apaan yon?ilmu hitam yaaa? "

__ADS_1


"enak aja, nggak usah kebanyakan ngeles deh adel. Kalok kalah ya udah kalah"


"nggak bisa"


"sekali doang adelll, gue udah ngakuin kalah sepuluh kali, lo cuman sekali aja susah amat"


"gue kan beneran menang"


"sama, sekarang gue menang"


"nggak mau, cewek kan nggak pernah kalah yon, "


"beda konsep adel, bedaaaa"


"samaaa"


"bedaaa"


"samaaa yon"


"astaga, beda adel, b-e-d-a, bedaaaa, "


Adellia berujar saaamaaa untuk kesekian kalinya sembari mencubit perut dion sebal. Dion mengaduh, pedas gila!


Ting!


Adellia mencibir, kedua matanya menatap dion galak. Tanganya meraih ponsel di dalam sakunya.



"neoneun michyeoss-eo"


Pekik adellia mengumpati si pengirim pesan. Adellia menipiskan bibirnya, sialan! Ganti rugi tanpa bunga aja nggak tahu lunasnya kapan, ini kok malah ditambah tambah segala.



"nggak waras!!!"


Adellia mengalihkan atensinya dari ponsel ke arah dion yang kebingungan.tangan adellia mencengkeram bahu dion erat, tatapanya fokus menatap sahabatnya itu.


"lo temen gue kan yon? "


"lo kenapa del? "


"jawab dulu, lo temen gue kan yon? "


"iya"


Adellia tersenyum smirk lantas merogoh salu seragam dion tanpa permisi.


"makasih, gue pinjem dulu, nanti janji deh gue balikin lagi"


Ujar adellia menyambar tas berbandul army nya, lalu mengacir meninggalkan dion yang melongo. Dion mengerjabkan kedua matanya, sialan! Bisa bisanya dia grogi di saat saat seperti ini.

__ADS_1


"dasar adell begoo! Lo nggak bisa pake motor pe'ak"


__ADS_2