
Ternyata semesta begitu gemar mempermainkanku. Entah untuk ke berapa kalinya, aku pasrah akan kepalsuannya.
Lagi dan Lagi.......
Aku memilih menghadapi semua ini sendiri
Dengan kamu yang berdiri semu bagai ilusi
🌜🌜🌜🌜
Nafas menderu keluar bersusulan dari lubang hidungnya. Adelia alexa agantara, entah keberanian dari mana Ia memutuskan untuk kabur dari kantor Juanda. Adelia menekan dadanya yang terasa berdentum, tak elak, ia merasa sedikit takut.
"Gila nekat banget gue!"
Refleks Adelia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menepuk-nepuk mulut itu tanpa perasaan. Ia benar-benar tak menyangka akan seberani itu. Adelia merapatkan tubuhnya pada dinding ,pelan kepalanya melongok ke arah jalanan di depan sana.
Kosong
Adelia menghembuskan nafasnya lega, sepertinya Juanda takkan mengejarnya. Sontak, Adelia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
" eh...... Bodoh banget sih gue, kok malah sembunyi di sini sih "
" bau banget lagi "
Gang kotor menyambut retinanya, tembok tinggi tampak menjulang dengan tempat sampah di kedua sisinya. Adelia menutup hidungnya sambil menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi tak biasa.
Drap drap drap drap
Nyatanya Adelia tak bisa bernafas dengan lega lebih lama lagi, karena suara dalam kaki yang terdengar tergesa membuat Adelia kembali mengabaikan pemandangan di sekitarnya ,mampus! Jangan bilang kalau suara itu berasal dari Juanda yang menyusulnya, atau mungkin berasal dari Reza dan juga anak-anak buahnya Adelia mengintip jalanan dengan takut-takut, dirapatkan lagi itu punya ke tembok. Jujur, ya tak siap jika harus dimarahi oleh Reza disertai berbagai macam umpatan. Bayangan dengan postur tubuh tegak semakin terlihat, Adelia refleks menutup kedua matanya rapat-rapat bersiap akan kemungkinan terburuk. Ia merapalkan beberapa doa dengan mulutnya ,tangan saling bertaut menekan dada. Tuhan, selamatkan Adelia untuk kali ini.
BRUKKK
Adelia berjengit kaget. kepalanya terasa ngilu karena seperti terbentur benda yang keras. Adellia membuka kedua matanya pelan-pelan, bukannya reza seperti di bayangannya, namun lelaki tampan berbalut seragam batik SMA Sanjaya menyambut retina. Adelia yang merasa familiar mencoba memilah ingatan di ruang pikirnya. Hampir saja ia memekik Jika saja lelaki di depannya tak sigap membungkam bibirnya dengan tangan kekarnya. Panuwijaja!!!!
Terlihat panu menatapnya dengan tatapan tajam. Seakan-akan, menyuruh Adelia untuk segera diam
Drap drap drap
Derap kaki bersusulan kembali menyapa telinga Adelia. kali ini suara kaki tersebut terdengar lebih banyak, pelan, Adelia melongokkan kepalanya dari pundak sang pria. segerombol orang mungkin 8 dengan pakaian tertutup tengah terlihat mencari-cari. Adelia semakin merapatkan tubuhnya ke arah panu yang masih saja membungkam mulutnya. kepala Adelia refleks bersembunyi.
   pemuda yang kini tengah berada tepat di depan adellia juga menunduk, ia tak mau ketahuan, jika ia tahu kalau nasibnya akan seperti ini, lebih baik ia berdiam diri di kelas sembari memperhatikan pelajaran dari bu diana, auksaa legarvan alfadiaraga.
yha, dia auksa, auksa menahan nafas, tak tahu kenapa, dadanya terasa berdentum cepat. Bukan karena adanya orang yang tengah mencari keberadaannya, namun karena gadis yang tengah merapatkan tubuh ke arahnya. gadis itu nampak ketakutan dan gemetaran. entah apa yang dipikirkan gadis di depannya ini,auksa benar benar tak tahu. Pelan, ia menatap adellia dalam jarak dekat. bulu mata yang lentik, hidung mancung ,juga bibir tipis menggoda. Sungguh cantik tanpa cela macam bella senjanya.
Tangan auksa terangkat hendak menyentuh wajah Adelia, namun sebuah suara membuatnya bersiaga.
"oh di sini ternyata "
Refleks, auksa berbalik, tangan kirinya memeluk adelia berniat merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. bagaimanapun, ia yang telah membuat si gadis dalam bahaya dan dia yang akan bertanggung jawab.
" lihat ,siapa gadis cantik itu "
Gigi auksa Bergemeretuk, dadanya bertambah keras mendobrak, rahangnya mengeras tanpa diminta. Adelia yang telah membuka matanya, menatap auksa bingung. jelas-jelas orang yang berpakaian tertutup itu bukanlah anak buah Juanda, apalagi suruhan reza untuk mencarinya yang tengah kabur. Orang itu sungguh menyeramkan,tampak sebelah pisau mengkilat teracung ke arah dirinya bersama auksa. Adelia meremas baju auksa berusaha meredam rasa takut, apalagi ketika ditatapnya tujuh orang lainnya yang juga membawa benda tajam.
Auksa menatap orang berpakaian tertutup itu tajam. Salahnya lah yang termakan pesan palsu, sungguh tak mungkin jika bella mengkontaknya lagi, sungguh bodoh dia yang dengan nekatnya mencari alamat yang tertera pada pesan tersebut dan berakhir di gedung tua terbengkalai. itu jebakan, ia tahu kebenarannya ketika tiba-tiba segerombolan orang menghadang langkahnya. Ia begitu lalai sampai masih berekspektasi senja masih mengharap kehadirannya.
" apa yang lo mau "
Orang dengan tatapan mata tajam, tumbuh tinggi juga kekar,menatap auksa merendahkan. Sekali lihat pun auksa sudah tahu, di pasti bos dari segerombolan orang ini. Orang itu tertawa keras sampai anak buahnya juga menyusul tawa. Auksa dengan posisi jongkoknya mengeratkan pelukan. Sedangkan Adelia tak mampu lagi menahan ketakutannya.
" jangan bercanda, Gue tahu lo mesti ngerti apa yang gue mau "
Ujar sang pria setelah tawanya terhenti, auksa menggeram marah, tangan kanannya berganti mengacungkan sebilah pisau yang tak tahu dapat dari mana.
" jangan bertele-tele "
Perkataan auksa kembali dijawab oleh sang pria. seakan mengejek, ia meminta anak buahnya untuk segera menyusul tawanya lagi.
" gue mau nyawa lo "
Auksa mendesis sinis, ia meludah kasar. Sigap auksa berdiri menantang,tatapanya menajam bak elang,
"kayaknya gadis manis Itu boleh juga"
Auksa menggeram, ia tak suka kalimat itu. tangan kirinya mengepal tak terima, dan tanpa aba-aba ia menonjok laki-laki bermasker hitam di depannya. Perasaan marah dan kesal bergumul dalam hatinya membuat tekadnya semakin bulat untuk segera menghabisi pria di depannya ini. sang pria yang tak siap dengan serangan tiba-tiba hanya mampu menghindar. namun menghindar bukanlah pilihan yang paling tepat karena setelahnya auksa bersama keganasannya berhasil menusukan pisau tepat ke pundak sebelah kiri miliknya. refleks pria itu mengaduh. Ia segera menggerakkan tangannya seolah memberi aba-aba pada anak buah yang dari tadi telah memasang posisi. ketujuh orang yang mengerti maksud tersebut sigap bersiap mengepung auksa. Auksa sempat melirik Adelia menyuruhnya bersembunyi.cewek itu tak boleh terluka. Ini masalahnya, dan jangan sampai ada yang terlibat lebih jauh dibandingkan dirinya.
  Gadis bersuarai gelombang itu langsung berlari menghampiri tempat sampah dan bersembunyi di belakangnya. ditatapnya auksa yang tengah bertarung. gerakan auksa begitu lincah, ia sigap menangkis juga menyerang. hingga hanya dalam beberapa menit kemudian, ia mampu merobohkan empat orang pria dan disusul dua orang pria lainnya. Auksa terlihat menyerigai, ia menatap satu orang yang tersisa dengan lapar. sigap, auksa mengacungkan pisaunya dan segera disusul beberapa bogeman tiada henti. si pria gesit menghindari serangan, suara pisau yang saling beradu terdengar bergema di gang. Adelia menetap auksa ngeri, juga beberapa orang yang tak sadarkan diri. bahkan berkali-kali auksa menginjak salah satu anggota badan orang yang terkapar tak berdaya di bawah kakinya seakan-akan orang itu adalah sampah,ia benar-benar tak peduli. fokusnya hanya satu, menumpas lawan lalu menyelamatkan gadis yang disuruhnya bersembunyi.
Jlebbbb
Auksa berhasil menusukkan pisaunya ke leher si pria, membuat si empu seketika rubuh dengan darah yang memuncrat deras. Adelia refleks menutup mulutnya ketika ia hendak berteriak. cowok tampan di depan sana benar-benar mengerikan. pemikiran itulah yang pertama kali muncul dalam pikirannya.
Namun pemikiran itu tak bertahan lama ketika matanya menangkap bayangan seorang pria yang mengacungkan pisaunya bersiap menikam auksa. auksa yang tak tahu menahu dan tak menyadari kehadirannya malah dengan santai mengusap tangan yang ternoda darah dengan kain. ia malah sibuk menatap mayat di depannya.
Mata Adelia membulat ketika dilihatnya si pria sudah mengangkat tangan dengan pisau tajam di genggamannya, refleks Adelia berteriak membuat auksa sontak menoleh.
Terlambat,
Auksa yang lalai dan tak menyadari bahwa masih ada satu orang lagi yang tersisa, membuatnya mendapatkan satu tusukan. Auksa terbatuk darah, lantas mengumpat dengan sekencang-kencangnya. Auksa mengepalkan tangan untuk membalas ,namun aksi adelia yang tiba tiba membuat kedua matanya melotot. Adelia dengan berani memukul si pria dengan kayu.si pria terhuyung lalu jatuh tak sadarkan diri.berani banget ni cewek.
Sejenak auksa terkekeh, namun ia segera berhenti ketika dilihatnya adelia yang tengah menangis dengan lutut bertumpu tanah . gadis itu termangu menatap tangannya sendiri. Auksa segera mengerti,lantas tanpa mampu di tahan lagi ia merengkuh adelia dalam dekapannya ,sambil berbisik kalau semuanya akan baik-baik saja.
*****
Hanya tembok putih yang terpampang sejauh mata memandang pria dengan jas hitam juga kemeja berwarna putihnya sibuk mengetik di atas papan keyboard. Beberapa kali kedua alisnya nampak bertaut namun kembali lagi seperti semula. nafas pria itu berhembus pelan dan teratur. pelan pria itu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. lantas menatap map biru di atas mejanya dengan pandangan menerawang. Apa yang sulit coba dengan kertas-kertas di atas mejanya ini? Bukannya ia dengan murah hati memberikan berkas yang paling mudah dikerjakan karyawan tingkat abal-abal macam Adelia. lagi-lagi juanda menghela nafasnya, tingkah adelia yang menurutnya lucu melintas cepat di dalam ruang pikirnya. refleks senyum kecil yang jarang mampir di bibirnya terbit tanpa diminta.
Yha, diam-diam yang mengawasi gerak-gerik Adelia di layar monitornya. Adelia yang menggerutu, memaki map sambil menunjuk kertas dengan ganas, juga adelia yang menendang meja dengan ekspresi kesal. ia melihat semuanya tanpa terkecuali, bahkan Juanda menangkap basah Adelia yang kabur karena pekerjaan yang ditimpakan olehnya.
Menarik, kata itulah yang pertama mampir di pikirannya waktu wajah adelia melintas. Tak ada gadis lain selain adelia yang dengan berani melalaikan tugas darinya apalagi nekat kabur dari pengawasannya. Juanda mengetukkan jari tengahnya berirama di atas meja. bunyi ketukan begitu mendominasi ruangan. di gambarnya wajah adelia dalam ruang pikirnya, gadis pertama yang berhasil menarik perhatiannya.
*****
Shhhhh...
Suara ringisan terdengar membuat nyilu telinga, refleks adelia menarik tangannya dari perut si pemuda yang bajunya telah disingkal. Luka yang amat mengerikan nampak membayangi netranya . Pelan adelia kembali menyentuhkan kapasnya di luka tersebut namun lagi lagi si pemuda meringis membuatnya berdecak kesal.
" bisa diam nggak? gue lagi konsen nih"
si pemuda menaikkan bibirnya samar lalu kembali mendinginkan ekspresinya.
" sakit "
Adelia memutar bola matanya malas.
" dasar panu! Tusuk orang aja nggak kira-kira, giliran diobatin manjanya minta ampun. lebay "
sekuat tenaga auksa menahan tawa ,ia menatap gadis yang mengobatinya dengan teliti. rambut cepol Adelia tampak berantakan dengan anak rambut yang berlarian kala Adelia menarik dan mengeluarkan nafasnya. Entah mengapa tiba-tiba saja auksa merasa gemas menggoda gadis di depannya ini.
" Lo gak hati-hati teken lukanya . masih basah juga "
__ADS_1
Adelia kembali berdecak. sengaja ia menekan luka auksa keras ,kali ini ringisan auksa keluar tanpa kepura-puraan. Auksa memejamkan kedua matanya ,rasa perih dan ngilu benar-benar menyatu.
" gue panggilin ambulans ya Biar lo dibawa ke rumah sakit "
Refleks kedua mata auksa terbuka, tangannya menahan lengan Adelia yang hendak menekan nomor.
" Lo maunya gimana sih, luka gede gini harusnya segera ditangani. Kalau infeksi gimana? Gue tadi udah diem ya waktu bilang jangan hubungi polisi, Please deh, gue nggak mau lo tiba-tiba mati terus jadi arwah gentayangan. Ngapain juga sih lo harus nglarang gue panggil polisi. posisi kita gawat banget tahu nggak? "
Auksa mendengus kasar, refleks ia membuang pandangannya dari Adelia.
" lo nggak perlu tahu "
" gue khawatir bego!!! "
Tajam auksa menatap Adelia, gadis berambut cepol berantakan itu berganti menatap auksa geram bercampur gemas.
"diem"
"Gue cuman nggak mau berurusan sama yang namanya polisi. di mana-mana biasanya polisi datangnya telat, terus kita keduluan celaka. "
Adelia menatap auksa tak habis pikir.
" setidaknya polisi bisa cari tahu siapa dalang dibalik kejahatan itu "
"gue bisa sendiri"
Adelia kembali berdecak. ia meraih kapas bersih untuk melanjutkan kegiatannya mengurus luka auksa yang sempat tertunda. sejenak matanya menatap luka yang menggangga dengan ekspresi ngeri.
" gue nggak bisa diem begini. gue nggak mau kejadian mengerikan seperti tadi terulang "
Ujar adellia sambil mengganti kapas dengan yang bersih. tangannya cekatan mengelap darah yang masih saja merembes.
"gue mau panggil polisi biar cepat selesai urusannya"
Ujar Adelia lirih. Auksa menatap adellia tertegun,ia tahu bahwa Kejadian ini baru pertama kali dialami gadis berhoody Army di depannya ini. pasti ia sangat ketakutan.
" gue nggak mau kalau situasinya bertambah rumit "
Adelia menghembuskan nafasnya kasar mencoba mengalah. tangannya kini telah berganti membalut luka auksa dengan perban. hanya itulah tindakan yang mampu dilakukannya, ia menyesal pernah menolak tawaran dion untuk gabung di ekstra PMR.
" panu, "
" gue bukan panu "
"lha terus siapa dong?terserah gue mau panggil lo apa, salah lo sendiri lah nggak kasih tahu "
Pertanyaan sekaligus pernyataan adelia yang tiba-tiba seperti itu sontak membuat alis mengkerut. Ia menatap gadis cantik yang kini tengah menepuk kedua tangannya pertanda telah selesai mengobati lukanya. sekilas ia melirik perut yang telah rapi diperban lalu menatap adelia dengan ekspresi heran.
"lo beneran nggak tahu nama gue? "
Bukanya sombong, namun auksa mengakui keterkenalanya, pertanyaan adellia jelas membuat auksa berpikir serius, sepertinya adellia bukanlah manusia, jika pun iya, adellia jelas bukan makhluk normal karena tak mengenalnya.
"Idih berasa artis, "
"siapa ? "
"lo lah!? "
Sewot adellia sebal, auksa memutar bola mata. ,emang artis, batin auksa menimpali.
"oh iya lupa"
Adellia menepuk dahinya keras keras, lantas menarik nafasnya dalam.
adellia menoleh, ia menatap auksa yang terkejut dengan aksinya barusan dengan ekspresi tak peduli.
"baju lo bolong, takut khilaf guenya"
Tentu saja auksa beristighfar dalam hati. Bibirnya menipis menahan umpatan, bisa bisanya adellia memikirkan hal semacam itu.
Belum sempat auksa menyelesaikan pemikiranya, sebuah teriakan kembali bergema.
"BAJU YANG APAAN!! YANG JELAS ATUH NON!! JANGAN AMBIGU! "
Fix!!adellia dan pembantunya nggak ada yang waras.
"BAJU BERSIH BIK, PUNYA PAPA YANG MASIH ADA DI SINI, SEKALIAN AIR ANGET!! "
"YANG DICUCI PAKE MESIN CUCI ATAU PAKE SABUN EKONOMI! "
yaelah? Pake nanya kayak gini segala.
"TERSERAH BI SUMI AJA LAH, ADELNYA NGIKUT. "
"YA UDAH, BENTAR, BIBIK LAGI PUP, LIMA MENIT LAGI ON THE WAY"
"WOOKEYYY!!! LEWAT LIMA MENIT POTONG GAJI!!"
" NON ADEL CURANG!! "
adellia tertawa renyah. Rasain tuh!!keburu buru kan sekarang?. Auksa menghela nafas, sepertinya, berbicara sambil berteriak sudah menjadi tradisi di rumah ini. dan jujur saja auksa merasa terganggu.
"kenapa lo bisa terlibat sama orang orang tadi? "
Auksa mengalihkan atensinya. Lantas menatap gadis cantik yang tengah duduk manis di sampingnya.
"nggak tahu"
"lo buat onar ya? "
"enak aja"seloroh auksa refleks, orang orang itulah yang mencari masalah terhadapnya.
"lah, padahal orang yang tadi aja kayak dendam banget sama lo. Nggak mungkin lah kalau lo nggak tahu inti permasalahanya"
"lo buat masalah apaan?"
"kepo"
"cuman nanya"
"sama aja"
Adellia mencibir, terserah lah, lagipula adellia hanya penasaran saja,kalau cowok di sampingnya tak mau menjawab, adellia juga tak punya hak untuk terus memaksa.
"non adel! "
Tiba tiba saja bi sumi nongol, di tanganya kananya tersampir beberapa baju,sedangkan tangan kirinya menenteng ember hitam berisi air yang masih terlihat mengepul.
"pas lima menit, nggak dipotong gajinya kan non?"
__ADS_1
Tanya bi sumi di sela sela nafasnya yang memburu, adellia menahan tawanya, perasaan baru tiga menit.
"aduh capek banget lari lari, tulang bibik jadi tambah ngilu kan. Gegara non adel sih"
Dengan tak tahu malunya bi sumi menyempil di antara adellia dan auksa. Ember yang semula berada di tanganya berpindah jadi di lantai. Wanita paruh baya itu menyenderkan badan nya pada punggung kursi seakan akan begitu kelelahan.
"entar kalok bibik encok lagi non harus tanggung jawab. Pokoknya dapet pijet gratis mbok sumiri,nih baju bapak"
"enak aja,nggak mau lah"
Tolak adellia, ia meraih beberapa baju yang di bawa bi sumi, lantas memilahnya dari satu satu.
"yang item aja deh bik, yang laen bawa ke dalam lagi. Aer angetnya mana? "
"tuuuh"
Bi sumi mengedikkan dagunya ke arah ember di atas lantai. Tentu saja kedua mata adellia membulat. Bercanda nih bi sumi.
"buat minum bi bukan buat mandi.gimana sih bi sumi"
"yeee kok nyalahin bibik sih. Non adelnya yang nggak jelas. Ya udah untuk sekarang minumnya pake itu dulu, besok besok bibik bawain yang lain"
"durhaka! Masak majikan disuruh minum kek gituan"
"hehehe kan non adel belum pernah coba. Dijamin segerrrr"
"tampol nih bi"
Bi sumi hanya menyengir lebar.
"cepet ambilin lagi, jus jambu dua"
"nggak suka jus jambu"
Sahut auksa tanpa aba aba. Hal itu jelas membuat bi sumi terkejut, karena sedari tadi kehadiran auksa tertutupi rasa lelahnya. Lebih tepatnya, bi sumi tak tahu kalau sedari tadi ada cowok disamping majikanya.
"ASTAGFIRULLAH, INI SETAN DATANG DARI MANA. "
Auksa menutup kedua telinganya dengan mata yang menyorot bi sumi tajam , bisa nggak sih ngomongnya nggk pake teriak!
"temen adel bi, namanya panu widjaja "
Kedua alis bi sumi menyatu. Nggak salah emang? Cakep gini masak namanya panu.
"gue bukan panu"
"ya udah jamur"
"kan elo"
"ngajak berantem ni bocah"
Bi sumi lekas menengahi. Bisa bisa hancur ini rumah kalau majikanya ngamuk.
"bentar bentar, singal bi sumi masih 2G. ini beneran temen non adel? "
Adellia mengangguk kecil.
"yang cakep ini temen non adel?"
"iya"
Bi sumi menatap tak percaya lantas ia berganti menatap cowok di samping kananya.
"mata aden normal kan?nggak burem? Jangan mau sama non adel, sama bibi aja deh yang lebih bohay"
Adellia bersiap menampol, tapi bi sumi lekas memperbaiki ucapanya.
"selowww,selowww,canda doang. Ya udah jadi gini, ekhemmm, ini pacar non adel kan? "
Adellia menghembuskan nafasnya kasar.
"enggak bi"
"nggak salah nih maksudnya?"
"enggak bibiku Tersayang "
"hayooo neng adel udah berani ya"
"akh!!! Pengen tendang bi sumi tapi takut dosa"
Pekik adellia sembari menarik surainya frustasi.
"nggak papa non, nanti bibik bilangin ke nyonya sekalian"
"adel udah bilang itu cuman temen, mending ambilin minum aja deh, ganggu"
Ujar adellia, ia menarik bi sumi yang masih nampak malas malasan, kalau di biarkan, bi sumi bisa kelewatan nantinya.
"yakdoohh, mau berduaan nih yeee"
Adellia menggeram, dengan paksa ia mendorong punggung bi sumi agar segera menjauh.
"husss hussss, pergi, "
"cepetan siapin minum, adel mau anter panh ke kamar mandi buat ganti baju"
Bi sumi terkikik. Entah apa yang mampir di kepala wanita paruh baya itu, yang pasti terlihat mencurigakan.
"awas non, jangan macam macam loh, di kamar mandi banyak setanya, takut keblabasan nanti"
"nggak bakalan bi sumi. Sana cepet pergi, mau nih adel beneran potong gajinya? "
"sedikit sedikit potong gaji. "
"makanya cepetan"
Bi sumi mendengus, namun tetap tak menolak untuk segera pergi. Lantas adellia menatap auksa, ia melempar baju hitam ke arah cowok itu.
"gue anterin"
Auksa mengangguk mengerti tanpa dijelaskan.ia mengikuti langkah adellia dari belakang.
"sorry, pembantu rumah gue emang kadang kadang suka ......"
"MAS KASEP ATI ATI, NON ADEL SUKA GANAS LOH"
"BI SUMIIII!!! AWAS AJA NANTI!! "
__ADS_1
seru adellia sembari menutup dua pipinya yang memerah.
Sialan, bi sumi ngelucunya suka nggak tahu tempat