
Ternyata melupakanmu tidak semudah tatkala aku mencintaimu. Karena di setiap waktu, bayangmu selalu saja hadir mengisi rindu.
🌜🌜🌜🌜
Auksa Legarvan Alfadiaraga, cowok dengan berjuta pesonanya, juga beragam talenta. Sayangnya, kalau kalian memandang wajahnya, hanya ada sorot serius tanpa sedikit tarikan senyum pada bibirnya. Auksa menyugar rambutnya yang basah. Kepalanya berkali-kali memutar adegan tatkala gadis bernama Adelia melanturkan gumaman.
"Aish! Sial, kenapa gue jadi kepikiran sih?" Umpatnya tak habis pikir.
"Kepikiran gue kan lo? Makanya jadi cowok jangan jual mahal."
Auksa memutar bola matanya jengah, perkataan Maganta tak elak membuatnya bergidik.
"Nggak."
"Ngelak terusss."
Auksa menaikkan bahunya acuh. Ia kembali mengingat Adellia dan segala bentuk perkataannya. Ngomong-ngomong Auksa merasa familiar dengan wajah gadis berpipi gembul itu.
"Oi kutub!"
Auksa mengedipkan matanya. Lamunannya buyar karena Maganta Alexander. Auksa berdehem menanggapi, bisa dipastikan, kalimat yang akan didengarnya sehabis ini pasti tak berbobot.
"Ngomong-ngomong, lo jadi berangkat sekolah? Katanya mau bolos?"
Auksa menggeram tertahan. Gara-gara siapa coba?
"Ancaman,"
"Hah! Apaan sa?"
"Ancaman lo"
1 detik
2 detik
3 detik
Maganta menyemburkan tawanya keras- keras. Dia tak menyangka Auksa akan takut dengan ancamannya.
"Pinter juga gue pergunain nama bonyok lo biar lo sekolah,"
Auksa mendengus sebal, kedua netranya menatap Maganya nyalang.
"Sebenernya susah lho Sa gue punya temen kayak lo. Irit banget ngomongnya. Yah, berhubung gue emang dari sananya kayak aritoteles-"
"Nggak usah lanjutin."
"Eh, nggak boleh kayak gitu loh. Seharusnya lo bersyukur gue pinter banget orangnya. Coba kalau gue goblok, nggak punya temen lo."
Auksa memutar bola matanya malas, Maganta selalu saja narsis.
"Nggak ada orang pinter nilai matematikanya cuman dua puluh, "
"Eh, gue udah bilang ya, itu cuman kesalahan teknis."
Auksa memandang Maganta malas. Semua siswa dikelas pasti sudah tahu kalau Maganta adalah murid berperingkat dua dari belakang. Pintar dari mananya coba?
"Nggak percaya lo? Waktu itu pensil gue nggak runcing lagi, lo kan tahu, orang pinter selalu pake pensil yang runcing, gue jadi nggak bersemangat ngerjainnya,"
"Lo tinggal jawab nggak bisa Ta."
"Eits, nggak ada sejarahnya Maganta nyerah. Waktunya aja yang nggak tepat. Pensilnya juga yang nggak oke. Kalau gue niat nih ya, nilai seratus dua bakal gue dapetin Sa,"
"Hm,"
"Wah, lo nggak percaya lagi? Lo raguin gue Sa? Ck, parah! Coba aja ya nanti waktu ulangan, gue buktiin ucapan gue. Eh, kalau seratus dua pengecualian, tapi kalau seratus bisa gue pastiin."
"Gimana? "
Dahi Maganta terlipat, ia masih belum memahami pertanyaan Auksa.
"Gimana apanya? "
"Gimana caranya?"
Maganta meringis, lantas bahunya menyenggol bahu Auksa menggoda.
"Kan ada mas Sasa, contekin lah Sa. "
"Ogah, "
"Lo mau gue langgar janji sebagai lelaki?"
"Lo kan banci,"
Maganta mendelik sengit. Teganya Auksa mengatainya seperti itu.
"Sa, "
"Hem,"
"Lo kan baik,"
"Gue jahat."
"Lo ganteng kan Sa, ayolah, contekin gue, sekali doang kok, besok nggak lagi deh."
"Enggak,"
Maganta mencibir, awas saja kalau Auksa nanti tak mau mencontekinya, asal tahu saja, Maganta sekarang ahli mengancam.
"Lo sudah lupa Sa? "
__ADS_1
"Apa?"
Jawab Auksa sembari mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Nanti gue nggak mau bantuin lo kalau bonyok lo nyari. "
Auksa menggeram tertahan. Maganta berhasil menguji kesabarannya.
"Usaha sendiri. "
"Oh gini cara mainnya. Oke,oke, gue jamin besok lo bakal didatengin sama om Dewan-"
"Iya"
Ujar Auksa cepat. Maganta menyeringai. Kemenangan berada di pihaknya.
"Apa sa?gue nggak denger,"
"Iya gue contekin."
"Nah, gitu lo mas bro, lo harus berperi kehewanan kalok sama gue. Eh salah, maksudnya berperi kemanusiaan."
Tanggap Maganta sumringah.
"Terserah."
"Yeeee ngambek kayak cewek." Cibir Maganta yang melihat auksa nampak abai dan memilih fokus pada ponselnya.
"Eh jadi keinget, soal cewek. Sa, cewek- yang lo ceritain waktu itu,"
Alis auksa berkerut. Oh, dia baru ingat, pantas saja ia merasa familiar dengan cewek bernama Adellia.
"Udah ketemu."
"Beneran mirip ya sama Bella?"
Auksa mengangguk pelan. Dia juga heran, wajah Adellia sekilas nampak mirip dengan Bella.
"Ketemu dimana?"
Auksa diam. Menurutnya, ia tak perlu memberi tahu.
"Oh mungkin dia jodoh lo versi Bella dua."
"Ngaco! "
"Bro, di dunia ini nggak cuman ada satu cewek. Gue nggak mau lo terpuruk terus kayak gini nyariin dia yang nggak pasti."
"Cewek yang kayak Bella cuma satu."
"Gue tahu Sa, tapi ada cewek yang lebih baik dari dia. "
Brak!
"Gue udah bilang sama lo Ta, gue nggak bisa."
"Lo sebenarnya bisa Sa, lo aja yang nggak niat."
Ujar Maganta menepuk bahu Auksa. Auksa bergeming di tempatnya. Benarkah apa yang dikatakan Maganta itu?
"Gue nggak bisa. Dia udah terlalu jauh masukin hidup gue,"
"Lo bisa Sa, makanya lo kudu coba. "
"Nggak Ta, gue nggak mau."
Maganta menghela nafasnya lelah. Auksa memang sekeras kepala itu.
"dengerin gue Sa, dia udah dua tahun pergi tanpa kasih kabar ke lo. Kalian juga udah putus. Lo inget kan, dia udah nentuin jalan dia sendiri. Tapi lo? Sa, jangan terus-terusan kayak gini. Lo pikir bela bakal seneng? Kita juga nggak tahu dia lagi dimana. Lo nunggu sesuatu yang tidak pasti. "
Auksa memejamkan matanya, ia mencoba meresapi setiap kata yang disampaikan Maganta.
"Bro, gue tahu kalok cara lo mencintai dia bikin lo bimbang. Lo ngerasain bahagia sekaligus sedih waktu keinget dia kan? Lepasin Sa, lo juga berhak bahagia. Coba buka hati buat orang lain."
"Makasih Ta, tapi gue belum siap melepas dia. Gue belum tahu alasan dia tiba-tiba pergi."
"And do you want to stay like this?"
Mau tak mau Auksa mengangguk, lagipula belum ada cewek yang mampu memikatnya selain Bella.
Maganta menghela nafasnya. Seperti apapun keputusan Auksa, ia tetap akan mendukungnya. Maganta hanya tak mau Auksa terjebak masa lalu terlalu lama.
"ya udah, tapi gue cuma mau saranin lo -"
"Ukh! Gila, nggak ngode dulu ini panggilan alam."
"Sorry Sa, ceramahnya dilanjut nanti lagi, "
"Yuhuy pak ketu! kalau ada guru , bilangin, Maganta izin dulu, darurat nih yeee! "
Ujar Maganta lantas ngacir meninggalkan Auksa yang hanya menggelengkan kepalanya.
Auksa termenung, sebenarnya ucapan Maganta ada benarnya. Namun Auksa tak yakin, ia tak percaya kalau dirinya mampu membuka hati sedang bayangan Bella masih saja menghantuinya. Auksa meletakkan kepalanya di atas meja.
"Sebenarnya apa alasan lo ninggalin gue Bel. Gue kenal sama lo, nggak mungkin lo udah punya cowok lain dihidup lo kan? "
Flashback.
Auksa menatap gadis cantik didepannya dengan gamang. Jantung Auksa terasa berhenti berdetak. Suara khas air terdengar seperti lagu kesedihan yang menyesakkan.
"Putus? "
Beo Auksa dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Kamu bercanda kan Bel? Ahahaha nggak lucu."
Bella mengulas senyum kecil yang nampak menenangkan. Parasnya bertambah cantik tatkala bersanding bersama langit senja.
"Aku nggak bercanda Sa. "
"bel, kamu udah janji jadi senja kan? kamu nggak lupa kan bel sama janji kita? "
Auksa menggapai tangan Bella, lantas menggenggamnya erat.
"Tarik lagi kata-kata kamu Bella."
Bella terkekeh, setetes air mata nampak bergulir lembut dari sudut matanya.
"Aku serius Sa. Aku enggak bisa bertahan sama langit yang nggak bisa menjanjikan dekapannya. "
Auksa termenung. Tubuhnya mendadak terasa kaku.
"Lepasin aku Sa, ini pilihan yang terbaik."
"Pilihan kayak gini nggak pernah jadi yang terbaik dalam hidup aku Bel,"
"Sa, "
"Bel, kita perbaiki lagi ya, aku akan berusaha lagi jadi pacar yang layak buat kamu. "
Bella menangis keras. Kedua tanganya terkepal disamping tubuhnya.
"Sa, tolong ngertiin keputusan yang aku buat."
"Kamu cuma lagi capek Bel. Aku ngerti kok,"
"Sa, "
"Aku janji Bel, Aku janji buat belajar jadi langit yang lebih baik lagi. Biar aku bisa jadi galaksi kamu."
"Sa! Cukup! "
"Bel-"
"Kamu nggak salah Sa! Kamu udah perlakuin aku baik Banget! kamu sudah iistimewain aku layaknya cewek paling beruntung karena ada disamping kamu. Tapi Sa, aku capek! Aku capek sama hubungan kita yang kayak gini terus! "
"Bel, jangan ngomong kayak gitu,"
"Sa aku udah punya langit lain. "
Ujar Bella melemah. Nafas gadis itu memburu. Sedang Auksa? Jangan tanyakan keadaannya. Tentu saja cowok berbalut jaket navy itu terkejut dengan pengakuan Bella.
"Bel, kamu bohong kan? "
"Enggak Sa, dari awal aku emang nggak suka sama kamu. Kamu yang paksa aku buat pertahanin semua ini Sa. Maaf,"
Ujar Bella lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Nggak papa Bel, kita coba pelan-pelan. Aku bakal berusaha buat kamu jatuh cinta sama aku. "
"Terlambat Sa! Semuanya sudah terlanjur terjadi! "
"Nggak ada kata terlambat Bel, kamu harus percaya,"
"Pergi Sa"
Auksa menggeleng. Ia masih gamang dengan alasan Bella yang tak masuk akal.
"Bel"
"PERGI SA!! "
"enggak."
"Pergi! Oh, lo nggak mau pergi? Kalau gitu biar gue yang pergi dari sini"
Auksa mencekal pergelangan tangan Bella yang hendak berbalik. Dadanya nyeri karena kekasihnya mengganti panggilan dengan lo-gue. Namun Bella lekas menepisnya kasar.
"Gue pergi Sa. Kalau bisa jangan sampe ketemu lagi."
Auksa mengusap wajahnya, bagaimana mungkin ia mencari gadis lain sedang Bella masih saja menghantui langkahnya?
.
.
.
Adellia melepas sealbeltnya pelan. Ada rasa ragu tatkala mobilnya memasuki garasi. Adellia tak berani bertemu Mamanya. Apalagi kalau lagi-lagi sang Mama kembali membahas mengenai pengadilan yang diadakan tadi. Adellia menggelengkan kepalanya, dia tidak perlu memikirkan hal tak penting sekarang. Justru yang perlu ia pikirkan adalah sikap apa yang ia perlihatkan kalau tiba-tiba saja bertemu Mamanya di dalam.
Huft, mau sampai kapan gue kayak gini?Batin hati Adellia lelah.
Adellia juga tak bisa selamanya bersikap kekanakan seperti ini. Seharusnya dia lebih memahami pilihan Mama dan Papanya. Adellia menyandarkan kepalanya diatas kemudi.
"Apa gue ajak ngobrol Mama ya nanti malam? Kali aja Mama mau merubah keputusannya?"
"Ah nggak deh, kan gue lagi marahan," Lanjut Adellia cemberut. Namun Adellia kembali menimang pilihannya.
"Oke deh, fix! Kayaknya ngobrol jadi keputusan yang paling tepat. Semangat Adel, lo bisa."
Adellia keluar dari mobilnya. Selepas ini dia harus memastikan kalau ia akan menerima apapun keputusan Mamanya. Adellia tersenyum kecil. Hatinya mendadak terasa tenang.
Adellia meraih gagang pintu pelan, lantas membukanya sepenuh hati.
Deg!
"Adel!"
__ADS_1