TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Marah


__ADS_3

Pikiran Adellia kosong, dia kelabakan karena Auksa mengabaikannya sedari tadi. Bahkan cowok yang biasanya menemani Adellia ketika bertemu Agatha, sekarang malah naik ke atas untuk mandi.


" Masak Bunda harus bilang dulu ke Auksa ya biar dia mau bawa kamu ke sini sih? "


Adellia tersentak, lamunannya reflek buyar tatkala mendengar suara lembut Bundanya- Mama Auksa.


"Bunda kan bisa chat sama Adel. "


"Harusnya dia peka dong kalau bundanya kangen terus sama kamu. "


Adellia tersenyum canggung. Bunda Agatha selalu berhasil membuat Adellia merasa nyaman. Kehangatannya tak berbeda jauh dengan Sinta.


" Adel juga kangen terus sama Bunda kok. "


"Masa sih? Kalau beneran kayak gitu harusnya mantu Bunda yang cantik ini datengnya tiap hari dong. "


"Ish Bunda mah, Adellia kan masih sekolah, deket sama UKK lagi. "


jawab Adellia membuat Agatha tertawa. wanita paruh baya itu meraih centong sayur, lantas mencicipi masakannya dengan kedua mata tertutup.


"Makannya cepet lulus biar bisa temenin bunda setiap hari. "


"Bunda lagi kasih kode ya sama Adel?"


"Pinter banget. Mantu siapa sih? "


Puji Agatha mengusap surai Adellia lembut.


"Kasih kode juga dong buat Auksa biar dia tahu. Masak cuma Adel doang, enggak adil. "


Agatha tergelak. Dia mana berani mengusik Auksa yang selalu diam seperti patung itu.


"Tahu enggak Adel, Auksa yang dulu itu bedaaa jauuhhh banget loh sama sekarang."


"kok beda?"


" iya, dia banyak ngomong, aktifnya suka nggak tahu tempat, dan yang lebih menyusahkannya lagi, kalau Papa-nya mau pergi, dia harus ikut. Valid no debat, si Juan sampe harus mengalah setiap hari. "


Adellia menatap Agatha yang tengah menuang lauk pauk ke dalam mangkok berwarna hijau bening. Kecantikannya tidak hilang sedikitpun walau sudah termakan usia. senyumnya pun tidak luntur sedari awal Adellia datang.


"Bukan Auksa kali, "


Elak Adellia sedikit tidak percaya dengan kenyataan itu. Masa Auksa yang terkenal dingin dan tidak tersentuh melakukan hal yang memalukan seperti menggendol Papanya setiap pergi?


" Iya bener. Bunda enggak bohong, sumpah! Mau tahu fakta tersembunyi lagi nggak? Fakta yang kali ini bakalan lebih mengejutkan kamu dari yang sebelumnya. "


Ucap Agatha mengimingi Adellia, mau tidak mau Adellia menggangguk karena terlalu penasaran.


"Apaan tuh Bun? "


"Tapi jangan bilang ke Auksa-nya ya,"


"Ihh Bunda sengaja ya bikin Adellia makin penasaran. "


"Hahaha, deketan sini, Bunda takut kalau Auksa tiba-tiba dengar. Nanti dia marah lagi. "


Adellia menuruti perintah Agatha agar mendekat tanpa curiga sedikitpun. Agatha lekas berbisik lirih di telinga Adellia.


"Auksa paling suka sama Adellia. " Pipi Adellia memerah, dia lekas menjauh dari jangkauan Bundanya.


"Bundaaaa, malu. "


Seru Adellia menutupi pipinya dengan kedua tangan.


"Hahaha, jelas ya anak itu suka banget sama kamu. Lucu gini kok. "


"Bundaaaa, "


"Iya, iya, jangan teriak dong, nanti kalau Auksa nyamperin, bisa mampus Bunda. "


Adellia mendengus, dia malu dengan fakta yang dibeberkan oleh Agatha. Adellia tahu kalau Auksa menyukainya, tetapi dia tidak menyangka kalau Agatha juga sampai mengetahuinya.


"Auksa bukan monster Bun, "


"Memang, tapi dia protektif banget kalau udah nyangkut tentang kamu. "


"Memangnya iya Bun? Auksa yang itu?"


"He'em, Auksanya kamu yang itu. "


Adellia tertawa mendengar jawaban Bundanya yang serius.


"Auksanya Bunda bukan Auksanya Adel, kan Bunda yang udah ngelahirin. "


Jawab Adellia membenarkan. Tangannya meraih mangkok sayur yang disodorkan kearahnya, lantas membawa benda itu menuju meja makan.

__ADS_1


"Sttt, kamu nggak boleh bilang kayak gitu Adel,"


"memangnya kenapa? Kan bener apa yang Adellia bilang barusan. "


"Aduh, nggak boleh Adel. Kalau Auksa denger, dia bakalan marah berminggu - minggu. "


"Ha? "


Dahi Adellia terlipat. dia tidak mengerti.


"Ih iya, anak itu kalau udah bucin jadi sebelas dua belas sama Papanya. Dia, kalau udah milih kamu, ya usah kamu doang. kqamu miliknya dan begitupun sebaliknya. Pokoknya enggak bisa diganggu gugat lagi. "


"Yang bener? "


"He'em! pernah nih yaa, waktu itu pas Bunda lagi jatah nemenin Papa Anta di rumah sakit, Auksa dateng sambil bawa buah. Tapi dia diem mulu, enggak ngelirik apalagi nyapa, biasanya dia cerita tentang kamu ke Bunda, tapi hari itu dia enggak cerita. Pokoknya beda banget, "


"Udah gitu, muka-nya nggak enak dilihat, kayak baju belum disetrika satu bulan. Bunda nanyain nggak dibales, padahal Bunda khawatir. Bahkan si Juan yang biasanya enggak peduli, repot-repot nyapa Auksa walau berujung dicuekin juga. "


"Ya ampun kasihan, "


Tanggap Adellia membayangkan bos kutubnya diabaikan oleh adiknya sendiri. Dia ingin tertawa namun sungkan karena ada Agatha.


"Terus Bun? "


Tanya Adellia lagi sembari menaruh mangkok yang dipegangnya. Agatha meraih tiga roti tawar lantas mengolesinya dengan selai nanas, sejenak, dia melirik ke atas demi menilik kondisi.


"Bunda kira Auksa bakal kayak gitu seharian penuh, tapi Bunda salah. Baru setengah hari, Auksa udah mulai mau bicara sarna Bunda. "


"Keren, Bunda emang yang terbaik."


Puji Adellia membuat Agatha tersenyum bangga.


"Emangnya bunda lakuin apa sampai bisa buat Auksa ngomong lagi? "


"Waktu itu Bunda tanya gini, Auksanya Mama kenapa? Kalau ada masalah cerita aja, Mama bakal coba ikut bantuin. Kamu tahu apa jawaban anak itu Adel? "


Adellia menggelengkan kepalanya karena benar-benar tidak tahu.


"Sejak kapan jadi Auksanya Mama? Auksa cuma milik Adellia tahu, enggak bisa diganti lagi. "


"noh, dijawab gitu. Lupa dia sama mama-nya sendiri. Mana mukanya kaku banget lagi."


Adellia tertawa keras. Benar-benar ciri khas seorang Auksa.


"Selepas ngucapin itu, dia baru mau ceritain masalahnya ke Bunda. Katanya dia khawatir karena Adelnya lagi sedih. "


"Enggak usah didengerin. Mama suka bohong. "


"Eh? "


Auksa yang baru saja mandi lekas menggeser kursi untuk tempat duduknya. Cowok itu tanpa permisi langsung mencomot roti tawar di tangan Agatha, lantas melahapnya santai.


"Auksa udah selesai mandinya? "


Tanya Adellia canggung, pasalnya Auksa masih marah terhadapnya.


"Hem. "


Tanggap Auksa singkat lalu mengaluhkan atensinya ke arah Agatha.


"Mama kalau mau pulang dulu enggak papa kok, "


Agatha yang hendak duduk langsung menghentikan pergerakannya.


"Loh memangnya kenapa? Kamu udah mau ke Apart lagi? "


"Entar Papa nungguin. "


Oh gitu, batin Agatha bernafas lega. Dia kira Auksa mendengar semuanya sehingga merasa tidak nyaman terhadapnya.


"Tadi Mama udah bilang kok ke Papa kalau kamu sama Adel mau mampir ke rumah. Dia udah ngijinin. "


Auksa menggangguk, lalu melirik Adellia lagi.


"Makan, habis ini aku anterin."


Agatha menatap anaknya dan calon mantunya bergantian. Seperti ada aura permusuhan diantara keduanya.


"Kalian lagi marahan ya? "


Pertanyaan Agatha sukses menghentikan pergerakan Adellia yang sudah bersiap menyendok nasi. Adellia sontak dilanda bingung mencari jawaban.


"Iya,"


Adellia tersentak, kedua netranya sontak menyorot ke arah Auksa.

__ADS_1


"Sa, "


Peringatnya pelan. Adellia tidak mau Agatha sampai mengetahui permasalahannya.


"Kenapa? Emang bener kan? "


Adellia menghembuskan nafasnya, padahal dia sudah meminta maaf kepada Auksa. berkali-kali malahan, tapi cowok itu tetap saja marah, walaupun masih peduli sih.


"Aku kan udah minta maaf sama kamu Sa,"


Auksa berdecak lirih. Dia tidak suka melihat raut Adellia saat ini, tapi dia tambah tidak menyukai Adellia yang semena-mena. Kalau terus dia biarkan, bisa-bisa Adellia berpaling darinya.


"Kalian ada masalah apa sih? "


Tanya Agatha menyela. Adellia menunduk tidak bisa menjawab.


"Sa, kenapa kamu marah sama mantu Mama?"


"Mama tanya aja sama mantu kesayangan Mama itu, "


" Maafin aku ya Sa, aku yang salah,"


" Memang, "


" Aku lakuin semua itu enggak disengaja Sa. Dia yang paksa aku buat ikut, aku enggak berniat seling-"


Grekk


Auksa tiba-tiba berdiri hendak beranjak pergi. Untungnya Agatha yang berada lebih dekat dengan Auksa lekas menggeleng melarang. Auksa mengusap wajahnya lelah, kedua netranya langsung tertuju ke arah Adellia yang murung.


"Enggak usah jelasin bagian yang itu. Aku udah bosen karena denger Berkali-kali. "


Adellia ikut berdiri sembari mendonggakkan kepala menatap Auksa. Kedua matanya berkaca menahan tangis.


"Terus kenapa kamu belum maafin aku sampai sekarang Sa? "


"Aku udah berusaha jelasin semuanya lho ke kamu biar kamu ngerti. "


"iyqa bener, kenapa Sa? "


Sela Agatha mengangguk.


"Aku juga udah ceritain sedetail mungkin kronologinya. "


"Kamu kok tega banget sih perlakuin anak orang kayak gitu Sa, "


Tanggap Agatha lagi sembari melahap roti yang tadi diolesnya. Padahal dia tidak tahu asal muasal masalahnya.


"Aku harus lakuin apa lagi biar kamu maafin aku sih Sa? Apa kesalahan aku sebesar itu sampai kamu cuekin aku sampai kayak gini? "


"Maafin aja lah Sa, mau kamu jadi pemain Indosuer yang kena azab? "


"Maa, "


Peringat Auksa membuat Agatha langsung terdiam ditempatnya. Auksa menatap Adellia serius, dia harus mengajari Adellia agar tidak sembarangan menanggapi ajakan para cowok. Jujur, Auksa cemburu melihat Adellia yang tadi pagi malah datang kesekolah bersama cowok asing, padahal Auksa sudah capek-capek menjemputnya.


" Renungin kesalahan kamu Adel, "


Adellia menunduk sedih mendengar hal itu. Sedangkan Agatha langsung berdiri menghampiri adellia.


"Sa, beritahu Adellia apa kesalahannya biar dia bisa berusaha perbaiki. kamu buat dia takut Sa, "


Bela Agatha mengusap lengan Adellia menenangkan.


"Auksa udah besar Ma, biarin Auksa urus masalah Auksa sendiri. "


"Mama juga enggak perlu belain Adellia terus biar dia bisa cari tahu kesalahannya sendiri. "


"tapi-"


"Ma, "


Agatha membuang nafasnya berat. Benar! Tidak selamanya dia bisa ikut campur mengenai urusan anaknya. Auksa bukan anak kecil lagi, pastinya dia bisa menyelesaikan permasalahan-nya sendiri.


" Kalau udah gini Mama jadi nggak bisa apa-apa dong, "


Ujar Agatha membuat Adellia mendongak. Agatha menepuk puncak kepala Adellia sekali lantas meraih tas jinjingnya di atas meja.


" Hari ini acara makannya dihentikan dulu. "


Adellia mencekal pergelangan tangan Agatha yang hendak pergi. Dia takut ditinggal bersama Auksa di rumah ini.


"Enggak papa sayang. Selesaikan masalah kamu sama Auksa. Enggak udah takut, Auksa nggak bakal gigit kamu kok. "


Tenang Agatha melepas cekalan Adellia lantas melirik anak keduanya yang berdiri mematung.

__ADS_1


"Mama percaya sama kamu Sa. Selesaikan Masalah kamu dan Adellia dengan bijak. Jangan sampai menyesal karrna ambil. keputusan yang salah. "


__ADS_2