TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Kecup pipi


__ADS_3

" Dadah, "


Adellia melambaikan tangannya ke arah Auksa dengan binar ceria. Auksa menghembuskan nafasnya berat, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, mau tidak mau sekarang Auksa harus berpisah dengan Adellia.


"Dadah, "


Ujar Adellia lagi untuk kesekian kalinya. Auksa masih diam tidak bergerak. Hatinya masih enggan mrninggalkan Adellia.


" Ya allah Sa, aku sampe cape nih lambai-lambai mulu. "


Gerutu Adellia sebal, pasalnya dia sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Perasaannya memanglah sedikit membaik karena kehadiran Auksa, namun masih ada srcuil perasaan sedih tatkala bayangan Sinta kembali muncul dalan ruang pikirnya.


" Sana pulang, "


Usir Adellia sedikit memaksa. Namun Auksa masih saja diam tak bergerak bagaikan batu, tentu saja hal itu membuat adellia mendengus kesal bin sebal


" Sudah malam Sasa sayang, pulang ya, aku udah capek, mau bobok dulu biar besok bisa jalan lagi. "


Ucap Adellia memperjelas. Auksa mengerucutkan bibirnya tanpa sadar, lantas menormalkan kembal ekspresinya tatkala menangkap Adellia yang menatapnya aneh.


" Sa, "


" Masih kangen. "


Adellia tersentak, dia tidak salah dengar kan? Adellia menahan senyumnya yang hendak mengembang, Astaga, lucunya Auksa.


"Apa Sa, kangen? "


Goda Adellia membuat telinga Auksa memerah. Auksa memasang helmnya buru-buru. Bisa hancur harga dirinya nanti.


" Eitss mau kemana? Katanya kangen, nggak mau peluk dulu nih. "


Auksa memalingkan wajahnya, tentu saja dia mau. Tapi rasa malu yang menjamahnya lebih besar dari keinginannya, lebih baik Auksa segera enyah saja sebelum adellia ngelunjak terlalu jauh.


" Kangennya bo'ongan ya, ?"


" Kata siapa? "


Balas Auksa refleks membuat Adellia tergelak, Auksa mengutuk mulutnya dalam hati, sialan, bisa-bisa Adellia menggodanya sampai dia tua nanti.


" utututu, ternyata Auksa masih kangen berat ya sama Adellia. Tiap hari ketemu aja kangennya sampe kayak gini, gimana jadinya kalau kamu lulus? "


Seloroh Adellia sembari menggelayuti lengan Auksa manja. Auksa membuang nafasnya berat. Jadi tambah malas pulang kan dia-nya


" Geli Adel, "


" Ilih, malu tapi mau kan? "


Auksa meringis tak bisa mengelak, Adellia tertawa lantas memeluk Auksa erat.


"Nih aku kasih cadangan baterai biar nggak lemes gegara kangen. "


Auksa melebarkan senyum, hatinya menghangat tanpa permisi.


"Aku peka banget kan sebagai pacar? "


Auksa membalas pelukan Adellia lembut, satu tangannya mengusap surai gadis itu penuh sayang.

__ADS_1


" Cieee yang jadi bucin akut, "


Auksa tak menampik perkataan Adellia. Dia malah merasa senang dikatakan seperti itu oleh gadisnya sendiri.


" Memangnya nggak boleh ya? Kan aku jadi bucin-nya kamu."


Jawab Auksa membuat Adellia bertambah keras tertawa. Dia masih tidak menyangka bisa meluluhkan es batu jebolan kutub utara yang biasanya cuma diam bak patung monumen. Auksa yang sekarang telah berubah, cowok itu menjadi lebih hangat dan perhatian terhadapnya.


" Nah, sekarang baterainya udah penuh kan? karena aku udah mau istirahat buat ngisi daya lagi, kamu juga harus pulang biar nggak kehabisan energi. "


Ujar Adellia sembari melepas pelukannya dengan Auksa. Auksa membuang nafasnya kecewa, dia masih tidak mau pergi. Auksa takut Adellia akan bersedih seperti tadi pagi.


" Pulang ya Sa, aku beneran cape nih, pengen istirahat. "


Ucap Adellia membuat Auksa mau tidak mau


menggangguk tak iklas. Kalau Adellia saja sudah bilang seperti itu, Auksa jadi hatus menerimanya. Apalagi sorot mata Adellia jelas sekali menunjukkn kelelahan.


" Ya udah kalau gitu, kalau aku udah pulang nanti, jangan nangis dulu, pokoknya kalau nggak ada aku kamu nggak boleh sedih."


Peringat Auksa sembari menghidupkan motornya.


" Kok gitu, "


Protes Adellia tidak terima. Kan sedih nggak bisa diatur waktunya, bener kan? Kalau mau sedih terus nangis masa harus ditunda dulu.


" Aku nggak mau kamu sedih sendirian Adellia."


"Malah aneh dong Sa kalau sedihnya bareng-bareng. "


Padahal niat Auksa bilang seperti itu karena dia benar-benar khawatir. Auksa tidak mau Adellia menanggung sakit sendirian tanpa sandaran. Auksa hadir sebagai penguat cewek itu nantinya. Dia menjadi kekasih Adellia juga bukan untuk pajangan semata.


" Adel, "


" Hehehe iya iya, aku ngerti kok, udah ah sana, entar kalau ada apa-apa aku kabarin. "


Ujar Adellia membuat Auksa sedikit lega.


"Bener ya, "


" Iya sayang. "


jawab Adellia lembut, hal itu tentu saja membuat hati Auksa berdesir aneh.


" Ya udah aku pulang. "


"Iya sana. "


"pulang ya. "


"iya Sa, cepetan dong. "


"Aku pulang beneran nih. "


Adellia menghembuskan nafasnya lelah. Ternyata Auksa lrbih nyebelin kalau berubah jadi bucin akut.


" Mau sampai kapan kamu bilang kayak gitu, cepet pulang sana. Males aku liatnya. "

__ADS_1


Auksa tertawa renyah, tangannya mengacak surai Adellia.


"Tidur yang nyenyak, jangan lupa mimpi-in aku. Eh salamin buat Bi Sumi juga, Auksa kangen digodain. "


Adellia refleks menabok Auksa keras, bibirnya mengerucut lucu.


" Oh ternyata kamu udah berencana mau selingkuhin aku ya Sa, "


Auksa tergelak, mana bisa dia segera pulang kalau Adellia saja selucu ini. Lagian Bi Sumi juga bukan tipe - nya


" Enggak sayang, aku kan cuma bercanda. "


"Jangan bercanda lagi. "


Larang Adellia sembari berbalik hendak berlalu pergi. Auksa lekas menahan lengan gadis itu.


" Bentaran, "


Tahan Auksa membuat Adellia sebal bukan main.


" Mau apa lagi? "


"Sini deketan. "


Adellia mendekat dengan gestur malas, Perlu diketahui, Auksa tebgah sekuat tenaga menahan tangannya agar tak mencubit pipi Adellia yang menggembung itu.


"Kenapa? "


Tanya Adellia ketus tatkala berhasil berada dalam jarak dekat di samping Auksadia jadi sedikit malas dengan pacarnya karena cowok itu mengungkit bi Sumi. Auksa menaikkan sedikit helmnya agar bibirnya l terlihat, lantas tanpa permisi mencium pipi Adellia sekilas.


"Penutup buat hari ini. Aku pulang dulu ya, Assalamualaikum. "


Selepas mengucapkan hal tersebut, Auksa lekas menjalankan motornya meninggalkan Pekarangan rumah Adellia. Adellia menyentuh pipinya dengan pandangan kosong.


Sepertinya dia tengah bermimpi karena terlalu bahagia.


"Ya ampun, apaan tadi? "


"Astaga Auksa cium gue duluan, "


" Ini beneran? "


"Hehehe, masak sih, "


Adellia menepuk pipinya keras, kali saja dia memang tengah bermimpi. Namun selintas bayangan Auksa yang mencium pipinya kembali muncul, pipi Adellia bersemu merah, badannya panas dingin.


"Astaga! Demi apa! "


"Berarti ini gue beneran di cium kan? "


Tanya Adellia mesam-mesem sendiri. Jantungnya sampai berdetak abnormal. Tangannya juga masih mengusap pipi yang tadinya dicium oleh Auksa.


"Aaaaaaa, Auksa! lo kok manis banget sih, pengen karungin kan. "


Gemas Adellia sembari berjingkrak tak jelas. Adellia berlari measuki rumahnya, lantas berteriak bak toa dalam masjid tatkala pintu rumah terbuka menampilkan Bi Sumi.


"Bi sumi! siapin karung cepetan, mau Adel bawa kesekolah besok pagi. "

__ADS_1


__ADS_2