TAHTA SEMESTA

TAHTA SEMESTA
Ada Juan


__ADS_3

Bukan aku yang pertama kali kau hampiri. Karena kamu dengan teganya mengklaim dia sebagai penggenggam hati.


Maaf...


Jangan paksa aku menganggap rasa ini sebagai mati.


Walau kupahami sendiri,


akan kubiarkan dia tumbuh tanpa kamu disini.


🌜🌜🌜🌜


Adellia mengerang frustasi. Gadis bersurai gelombang itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Baru saja sembuh, Kini ia dipaksa untuk menyelesaikan kertas laporan yang terbilang banyak. Didepan matanya terpampang  map berwarna biru. Adellia membuka map tersebut, lagi dan lagi Adelia menggerutu. Disana, terpampang diagram dengan berbagai macam tinggi. Ada juga penjelasan rumit mengenai produk baru dengan perkiraan hasil yang akan diperoleh perusahaan J Group. Bola mata Adelia mengelilingi  setiap sudut ruangan. Tembok bercat putih dengan jendela besar yang menampilkan jalanan kota Jakarta menyambut retinanya.


Adellia benar-benar tidak menyangka kalau masa mudanya akan berakhir seperti ini.


Flashback.


Sinar matahari mengusik mimpi yang tengah dijelajah oleh gadis mungil berseragam putih abu. Kedua matanya yang tertutup semakin ia rapatkan. Keningnya juga nampak terlipat karena terganggu.


Eughh,


Adellia membuka kedua matanya. Sejenak ia menyipit untuk menyesuaikan cahaya.


Eh kok udah pagi? Gue tidurnya berapa jam?


Refleks, Adellia menempelkan telapak tangannya ke kening. Suhunya sudah kembali normal. Adelia menghembuskan nafasnya lega. DIa tidak mengira kalau akan pingsan di sekolah. Apalagi harus menabrak seorang cowok yang tak ia tahu pasti siapa namanya. kedua bola mata Adelia menyapu ruangan, lantas berhenti ketika ditangkapnya kertas kecil di atas meja yang tertindih bubur di sampingnya.


Adelia meraih kertas itu.



Tulisan tangan Dion yang tak ada bedanya dengan ceker ayam membuat Adellia terkekeh. Disimpannya kertas tersebut di bawah bantal, lalu dengan pelan ia meraih bubur ayam yang masih terasa hangat di atas meja. Baru saja satu suapan hampir menyentuh lidahnya, suara ketukan yang tiba-tiba membuatnya berhenti. Bibir Adelia mengerucut, sebal karena acara makan buburnya terganggu.


"Non ada yang nyariin."


Suara Bisumi membuat Adelia meletakkan piringnya dengan setengah hati. Ia heran dengan kehadiran sang pembantu rumah tangga itu, pasalnya sekitar tiga hari yang lalu Bisumi izin pulang kampung ke halamannya.


" Iya Bi, otw nih!"


Adellia bangkit dari duduknya, siapa sih yang mengganggu waktu istirahatnya?


Adellia mendengkus lantas membuka pintu dengan pelan, sosok Bi Sumi nanpak menyengir lebar. Tahu saja kalau ia begitu merasa terganggu.


"Hehehe maap atuh non. Tamunya kasep pisan, bibik kan jadi grogi,"


"Nggak sempet ngusir deh."


Lanjut Bi Sumi sepelan mungkin.Adellia berdecak kecil.


"Siapa bi? "


"Enggak tahu Non," Jawab Bi Sumi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Emang enggak ditanyain dulu? "


"Yah, Non aja nggak bilang kok, "


"Ish, gimana sih Bi Sumi!"


"Ck ya udah, bibik siapin camilan sama minuman dulu aja, Adel mau ganti baju."


Adellia bersiap menutup pintu, tapi Bi Sumi lebih dulu menahannya.


"Apalagi Bibik? "


"Kok saya sih Non yang nyiapin minum. Nggak mau ah, malu."


"Astaganaganaga  Bi Sumii, inget umur Bi, udah kepala dua."


"Ganteng banget Non Adel, kayak akang Manurios. Bibiknya nggak kuat."


"Apaan nggak kuat segala. Sana ah Bi,"


"Aaaaaah, nggak mau Non Adel. Non Adel aja lah yang nyiapin, nanti Bibi temenin, sumpah!"


"Ihh Bibi, yang majikan siapa sih?"


Bi Sumi menunjuk Adellia tak ikhlas. Senyum Adellia mengembang, sontak hal itu membuat Bi Sumi bersiaga.


"Kan, jadi yang tugas bawa minum buat tamu siapa? "


"Bibik."


"Nah pinter, sana Bik, cepetan, keburu lumutan itu tamu. Adel mau ganti baju dulu."


Ujar Adellia lantas menutup pintunya sebelum Bi Sumi berhasil Menahanya lagi. Adellia bersorak girang, pasti Bi Sumi tengah menggerutu sepanjang jalan.


"SEMANGAT BI SUMI, BENTAR, NANTI ADELNYA NYUSUL."


Adellia melangkah mendekati almari, diraihnya hoodie hijau army untuk mengganti seragamnya yang telah kusut. Sejenak, ia mengamati penampilannya di depan cermin. Bibirnya masih saja nampak pucat, Adellia mengoles lipbalm tipis di atas bibirnya lalu segera beranjak membuka pintu kamar dan menuruni tangga dengan tergesa.

__ADS_1


    Dilihatnya dua pemuda yang tengah duduk memunggunginya. Sontak, dahi Adellia terlipat.


Siapa coba?


Untuk ukuran teman sekolah, kayaknya baju yang dikenakan tamunya formal. Apa mungkin teman ayahnya?


"Eh itu Non Adel."


Refleks, dua pemuda yang tak ia ketahui namanya menoleh ke arahnya. Adelia terdiam. Tak elak, dadanya berdentum abnormal. Kedua matanya pun membola.


Kok bisa si kutub tahu rumah gue?


Adelia mencoba melangkahkan kakinya dengan ekspresi santai, tak Ia perlihatkan keterkejutan yang mampir tanpa permisi. Lantas, Adelia pun duduk tepat di seberang kedua pemuda itu. Matanya memicing menatap satu sosok pria yang tengah bersedekap dada .


"Ngapain ke rumah gue?"


Satu alis si pria yang tak lain adalah Juanda naik. Ia tidak mengira kalau pertanyaan itulah yang pertama kali muncul di bibir Adelia.


"Jangan pura-pura lupa." Adelia memutar bola matanya jengah. Ia berganti menatap orang yang tengah menyandarkan punggungnya santai di samping Juanda.


"Lo nguntit gue ya Za? " Sontak Reza menatap Adelia tak percaya.


" Ya kali gue nguntit elo! Nggak doyan, noh tanya si kutub dapat alamat rumah lo dari mana? "


"Nggak perlu tahu."


Belum sempat Adelia bertanya,  Juanda sudah lebih dahulu berkata dingin. Adelia menarik nafasnya, ia heran dengan sikap Juanda yang selalu saja kaku.


"Gue sakit."


Juanda menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap Adelia penuh teliti.


"Nggak ngurus."


"Ishh, gue masih lemes pengen tidur. "


"Jangan ngelak, nggak ada orang sakit pakai celana sependek itu."


Adelia menatap Juanda nyalang. Ia meraih bantal kursi lalu diletakkan di atas pahanya.


"Jangan lihat! "


"Gak nafsu."


Adelia mendengkus, nafasnya keluar kasar.


"Mau lo apaan sih? "


Jawaban singkat Juanda membuat Adelia menahan amarahnya. Tak tahukah kalau ia masih lapar dan belum mengisi perutnya walau sesuap?


"Lo gila, gue habis sakit tahu! Masih lemes. Baru aja mau ngisi tenaga lo malah dateng. Sekarang lo minta gue kerja?"


Juanda malah menaikkan kedua bahunya tak peduli. Lantas bangkit dari kursi yang didudukinya.


" Siap-siap gue tunggu di mobil."


Juanda melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban dari Adellia. Dia meninggalkan Adelia yang masih menatapnya tidak terima.


"Ish sebel gue!"


.


.


.



Auksa menatap pesan di ponselnya dengan tatapan kosong, pikirannya berkelana jauh. Bella, Akankah Bella senjanya? Kata tidak mungkin bergelayut mesra dalam hatinya, Ia tak percaya senjanya mengirim pesan. Bukannya senja telah memilih opsi pergi dan mengabaikan rasanya? Bukannya Gawdis itu memilih meninggalkan ia bersama balutan luka?


Apa yang dilakukan gadis itu kepadanya kali ini? Akankah Bella ingin menumbuhkan harapan semu dan benih palsu pada hatinya lagi? Auksa mengusap wajahnya kasar. Tidak! Ia tak mau terpedaya untuk kesekian kali.


"Lo kenapa sa? "


Auksa reflek Menoleh, Maganta menatapnya penuh tanda tanya. Ia menatap sahabatnya yang tampak penasaran, Maganta tak boleh tahu mengenai hal ini. Bisa-bisa cowok itu bakal merecokinya dengan berbagai macam ceramah.


"Sttt Sa! " Auksa menulikan telinganya, diam-diam menyimpan ponselnya kembali ke laci meja lantas berpura-pura fokus memperhatikan pelajaran di depan.


"Sa"


"Maganta! Kamu nggak merhatiin Ibu ya dari tadi?! "  Suara cempreng Bu Diana sontak membuat Maganta gelagapan, ia lupa kalau yang dihadapinya sekarang ini sebelas duabelas dengan harimau kebun binatang. Maganta meneguk ludahnya keras. Mampus!


"Maganta Alexander!!! "


"Eh i-iya Bu!"


"Maju! Jawab pertanyaan di depan papan tulis! "


Maganta jelas mendelik. Apa-apaan! Mana mungkin dia bisa menjawab persoalan rumit didepan sana. Persoalan utang dengan bendahara kelas saja ia malas menghitung.


"Nggak bisa dong Bu, saya daritadi fokus merhatiin depan loh,"

__ADS_1


"Jangan banyak ngeles kamu, Ibu liat kamu merhatiin temen kamu yang satu itu sedari tadi."


"fitnah! Ibu lebih menarik dari temen saya. Mau disodorin cewek manapun di mata saya tetep Bu Diana yang paling kece. Apalagi disodorin cowok kayak Auksa, saya nggak doyan. Mana mungkin saya berpaling Bu, nggak usah cemburu dong."


Sontak, jawaban absurd Maganta mengundang gelak tawa semua siswa. Bu Diana menggeram, wanita paruh baya itu tanpa aba-aba melempar penghapus papan tulis tepat mengenai kepala Maganta.


"Adoi! sakit banget sampe jantung."


Pekik Maganta sembari memegang dadanya dramatis . Bu Diana mamutar bola mata, dia sudah paham dengan tingkah anak didiknya.


"Mau maju atau keluar dari kelas saya! "


Maganta mencibir. Ia melirik Auksa seakan mengatakan kalau semua ini terjadi gegara cowok itu. Auksa menatap Maganta mengejek, salah siapa malah menganggunya?


"Maju!"


"Tapi Bu,"


"CEPET MAJU MAGANTA. IBU BUATIN SURAT KE ORANG TUA KAMU BIAR DIPANGGIL KEMARI NANTI."


"Dasar macan."


"BILANG SEKALI LAGI, IBU GAMPAR LOH KAMU!"


"Iya deh iya."


Ujar Maganta malas lantas bangkit dari posisi duduknya. Tapi siapa sangka Auksa malah ikut berdiri disampingnya.


"Kamu ngapain? Mau temenin Maganta berdiri? "


Maganta bersorak senang tatkala mendapati Auksa meliriknya sekilas. Tidak ia kira ternyata Auksa begitu mempedulikanya.


"Saya mau ijin ke UKS Bu,"


Jderr!


Maganta melongo. Harapannya langsung pupus, nyatanya Auksa tetap saja bukan sahabat yang mau menemaninya disaat suka dan duka, seperti sekarang ini.


"Kamu sakit?"


Auksa mengangguk lemas, Maganta menatap Auksa tak percaya. Padahal baru beberapa detik lalu Auksa menatapnya mengejek.


"Bo'ong bu, bo'ong!"


"Maganta, ngapain kamu masih disitu! Sini cepet! Bawa kursi kamu sekalian!"


"Ibu pilih kasih ah, sama Auksa aja alus banget, sama Maganta mencak mencak. "


"Auksa kan beda, dia ganteng kamu enggak!"


Ucapan Bu Diana lagi-lagi membuat kelas Maganta riuh dengan tawa. Maganta mencibir. Dia menyeret kursinya setengah ikhlas sembari melototi Auksa yang masih saja berlagak lemas.


"Boleh Bu? "


"Iya boleh, nanti habis ini pelajaran Pak Danu kan? Sejarah Indonesia? Nanti Ibu ijinin sekalian. Kamu istirahat baik-baik disana. "


"KAN! KAN! Nggak bisa gini dong bu! Wah, nggak adil,"


"Diem kamu, "


"Saya kurang apaan sih di mata Bu diana? Putih mulus gini loh kulitnya. Udah Ganteng juga dari sananya."


"Enggak usah kebanyakan ngoceh kayak burung beo. Putihnya Auksa nggak ngebosenin, dia bening semriwing, kalau kamu putihnya bikin merinding. "


"Cepet jongkok, atau mau saya tambah lagi hukumanya?"


Maganta menggembungkan pipinya sebal. Lantas ia segera berjongkok, kedua tangannya mengangkat kursi di atas kepala.


"Kayak gitu terus sampe pelajaran Ibu selesai"


"Tap-"


"Gerak dikit Ibu tambah hukuman kamu. Sekalipun itu cuman bibir yang lagi kedutan."


Astagfirullahaladzim, sabar Maganta, sabar! Maganta menipiskan bibir menahan umpatan, nggak papa, cuman dua jam kedepan kok. Tenang maganta dalam hatinya.


"Perlu Ibu anterin ke UKS? "


Maganta menoleh menatap Auksa malas. Dunia memang milik si tampan.


"Enggak usah Bu, saya bisa sendiri."


Ujar Auksa lantas berjalan pelan meninggalkan kelas diiringi tatapan Maganta yang terus saja menghujam.


Awas aja lo Sa, gue bu-


Belum sampai Maganta menyelesaikan umpatanya, suara Bu Diana lebih dulu menginterupsi.


"Maganta! Saya tambah lagi hukuman kamu di jam istirahat nanti. Bola mata kamu gerak- gerak!"


Astaga! Ini guru punya dendam kesumat apaan sih sama gue? Jerit Maganta dalam hati. Dosa nggak kalau tendang guru sendiri sampai planet seberang?

__ADS_1


__ADS_2